Jumat, 24 Maret 2017

Jutaan Jiwa Penduduk Somalia Terancam Kelaparan, Mari Bergerak bersama ACT!

Hidup di Negara yang aman dan tidak pernah merasakan ketegangan serius (kecuali dalam urusan politik) adalah salah satu bentuk rezeki yang harus disyukuri. Saat sumber daya tersedia dengan begitu melimpahnya; air bersih, tanah luas, udara bersih dan pemukiman yang masih layak. Pun, begitu banyak hasil alam untuk dimakan tanpa harus repot-repot memakan makanan tak layak makan saat sedang benar-benar kelaparan.

Tapi bagi mereka yang hidup di Somalia, salah satu negara yang terletak di Afrika harus berjuang untuk bisa bertahan hidup dari kelaparan. Tepat tanggal 19 dan 20 Maret 2017 lalu, setidaknya ada 26 orang meninggal di Somalia karena kelaparan. Dan 50% dari populasi penduduk di Somalia saat ini tengah mengalami kekurangan makanan dan gizi.

Belum lagi musim kemarau panjang yang terjadi di Somalia menyebabkan negara ini mengalami kekeringan yang luar biasa. Alhasil, begitu banyak hewan ternak tewas dan sungai-sungai yang ada di Somalia mengering. Rakyat Somalia pun kini tengah dilanda krisis air bersih karena sumur-sumur di sekitar kota tersebut juga ikut mengering.

Source: Google Images
Ket: Hewan ternak mati karena kemarau berkepanjangan


Source: Google Images

Tidak mudah untuk bisa  membangun sumur di kota Jubaland (salah satu kota yang dilanda krisis di Somalia). Lembaga Kemanusiaan ACT mencatat butuh sekitar 1.8 miliar dana hanya untuk bisa membuat satu sumur. Oleh karena itu, kini warga Jubaland harus segera melakukan perjalanan ke Mogadishu, ibukota Somalia dengan menggunakan keledai dan bus untuk mencari perlindungan.

Fenomena El Nino


Kondisi yang dialami oleh masyarakat Somalia disebut dengan fenomena El Nino. Adalah suatu fenomena perubahan iklim secara global yang diakibatkan oleh memanasnya suhu di permukaan air laut passifik tepatnya di bagian timur. Dan daerah Timur dan Selatan Benua Afrika yang paling terkena dampak kekeringan olehnya.

Fenomena El Nino - Source Image: Google

PBB Mencatat Somalia Resmi Tercatat Sebagai Negara dengan Status Bencana Kelaparan


Sejak tahun 2011, status bencana kelaparan sudah resmi ditetapkan oleh PBB. Kondisi kekeringan yang terjadi di Somalia ternyata juga dialami oleh 3 negara yang ada di sekitarnya, yaitu Negara Sudan Selatan, Nigeria, serta Yaman.

Bahkan, kondisi kelaparan di Somalia sudah tidak bisa lagi dikendalikan. Begitu minimnya makanan, hingga satu dengan yang lain harus saling berebut untuk bisa makan. Tidak perlu enak, bisa makan saja bagi mereka sudah sangat lebih dari cukup.

Source : Google Images

Sebagai bentuk aksi kemanusiaan, salah satu lembaga kemanusiaan asal Indonesia, Aksi Cepat Tanggap (ACT) melakukan penggalangan dana bernama #FoodForSomalia sejak 2011. Tujuan dari program #FoodForSomalia ini adalah untuk menghimpun dana kemanusiaan dari seluruh umat untuk dibelikan makanan agar bisa dikirimkan ke warga Somalia.

Saat ini, Tim kemanusiaan ACT telah menjadi pembuka jalur untuk para aktivis yang ingin menyalurkan bantuan ke Negeri Somalia. Dan kita, masih memiliki kesempatan untuk ikut menyalurkan bantuan makanan ke Somalia melalui rekening berikut:

Bank BNI/BNI Syariah 66-00000-120
Bank Syariah Mandiri 777-778-9777
Bank Mandiri 128-000-4793-136
Atas nama Yayasan Aksi Cepat Tanggap

Andaikan kamu tergerak untuk  menjadi aktivis dan relawan bersama ACT, guys. Cek langsung ke http://act.id untuk informasi selengkapnya. Di sana, kamu bisa ikut menjadi bagian dari relawan yang ikut berjuang untuk bisa menyalurkan makanan ke Somalia.

Karena hakikat menjadi manusia adalah tentang membantu sesama, maka adalah wajib bagi kita untuk ikut mengulurkan tangan untuk saudara kita di Somalia. Karena Somalia adalah saudara dan saudara kita ada di Somalia.

Yuk, ringankan, doakan. Ada begitu banyak cara untuk bisa berbagi kebaikan. Salah satunya adalah dengan membagikan informasi ini agar semakin banyak yang tahu dan semakin banyak yang berbagi kebaikan. Mari, panjangkan dan ringankan tangan kita untuk bisa membantu sesama. Jazakumullahu khairan katsiran ^^

Selasa, 14 Maret 2017

Pantai Ujung Genteng, Pantai Paling Juara Buat Lihat Sunrise Terbaik

Kalau disuruh ngebayangin feel-nya pas lagi di Pantai Ujung Genteng, duh... Nyerah abis, deh. Kalah telak. Tempat ini adalah tempat di mana aku bisa dapat best sunrise selama aku jalan-jalan. Bahkan, di gunung pun masih kurang greget dibandingkan ini. Best sunrise momen kalau pas di merapi ya waktu itu karena ada bule ciuman sih. Jadi, kek dapet feelnya aja. Lebih dari itu, biasa aja. Tapi kalau yang di Ujung Genteng ini, duh, bang ini bagus banget Masya Allah. 

Menjadi yang pertama terbaring karena rasa lelah yang luar biasa memang sedikit menyebalkan. Mungkin, karena saat yang lain masih bisa asyiq main ABC lima dasar di teras depan, aku sudah tidak tahan dengan badanku yang minta diistirahatkan. Singkat cerita, aku tidur. Aku tidak ingat betul pukul berapa aku sudah tidak sadar di atas kasur. Aku hanya tahu bahwa aku tidur dan lelap untuk beberapa saat sebelum alarm-ku berbunyi pukul 3 pagi.

Alarm pertama ku skip karena memang belum waktunya aku bangun. Untuk kedua kalinya alarm-ku berbunyi sekitar pukul 3.30 Kak uti membangunkanku. Aku mengiyakan. Masih mengantuk, aku kemudian bangun, duduk dan terlelap dalam posisi duduk. Hingga alarm ketiga pukul 4.15 aku baru mulai benar-benar bangun untuk mengambil wudhu. Yang lain masih tidur, lelap sekali. Wajar, perjalanan 13 jam menuju ciletuh, sukabumi membuat kami kehabisan tenaga dan waktu untuk beristirahat.

Lepas shalat subuh, aku keluar ke teras. Duduk di bangku dan masih tak percaya aku sekarang ada di sini. Baru kali ini rasanya merasakan perjalanan sejauh ini dengan motor. Dan bersyukurnya ada teman-teman yang mau diajak menggila di atas motor. Hah! Couldn't believe sih kalau ini hahahah. Makasih, gengs!!

Matahari Pagi Masih Belum Menampakkan Diri


Aku baru menyadari bahwa penginapan kami menghadap ke sebelah Barat yang mana artinya, hanya sunset yang akan kami dapat, bukan surise. Ah, terlambat menyadari membuatku sedikit menyalahkan diri sendiri. Deburan ombak yang bisu semakin membuat diriku merasa bersalah hingga muncul pertanyaan dalam diri, "ini benar-benar pantai? kok tenang sekali, ya?"

Aku mulai gelisah. Rasanya jauh-jauh ke sini kalau nggak dapet sunrise kan sayang. Aku mulai beranjak dari bangku dan berjalan melihat sekeliling. Dan benar saja, matahari dari ufuk timur mulai menampakkan dirinya. Aku masuk ke penginapan dan memberitahu Uti dan Dhika. Lalu, seketika aku mengajak mereka untuk menuju pantai timur dengan motor. Dimaz? Sudah berusaha kami bangunkan, tetapi ia lebih memilih kasur daripada kami XD.





Kami beranjak bertiga dengan motor. Dan, Masya Allah, matahari mulai naik, dan deburan ombak menjadi backsound terindah pagi ini.  Perahu kayu yang berjajar rapi di pinggir pantai pun seakan menjadi properti pelengkap lukisan Tuhan pagi itu. Indah sekali. Ini adalah sunrise terbaik di hidupku.

Kami bertiga berpisah. Aku asyik sendiri mengambil angle terbaik, pun dengan Uti. Aku sesekali membiarkan kakiku basah oleh air laut yang seolah ingin mengajakku menari dengannya. Haaaa rasanya ingin kembali ke masa itu sambil bersandar dibahumu *loh *eh *salahfokus.

Sayangnya, penginapan di pinggir pantai Ujung Genteng ini tergolong mahal. Dengan bentuk bangunan dan fasilitas yang pas-pasan, penginapan di sini termasuk sangat mahal bila dibandingkan dengan Yogyakarta. But, what'd u expect? Kita berempat sudah nggak punya pilihan lain untuk mendirikan tenda atau pulang dalam keadaan minim cahaya :").

Well then, again i wanna tell you that:

Sunrise Terbaik ada di Pantai Ujung Genteng, Ciletuh, Sukabumi
Jadi, kalau kalian ada rencana backpacking, travelling atau honeymoon bisa deh jadiin tempat ini sebagai tujuan. Nggak bakalan nyesel. Karena di sini sunset dan sunrise dapet dua-duanya. Oh ya, kalau kesini siap-siap basah, ya. Sayang jauh-jauh kalau nggak sasmpai basah. Bahkan, kalau boleh naik perahu dan ikut nyebrang sama nelayan, kek nya aku nggak bakalan nolak sih weheheheh..

Salam,
Jakarta Pusat
dari Seseorang yang rindu dengan suasana pantai

Kamis, 09 Maret 2017

Travelling Naik Mobil Katanya Boros, Siapa Takut?

Setiap kali jalan sama teman-teman aku pasti lebih prefer untuk naik motor daripada naik mobil. Alasanya? Klasik! Aku dan yang lain nggak mau over budget karena bensin pasti bakalan ngorot banget di kantong weheheheh. Yes, bisa dibilang aku adalah orang yang suka banget travelling pakai motor. Biarpun memang tingkat capeknya luar biasa, tapi ada tingkat keiritan yang nggak bisa dipungkiri hahahahha.

Tapi seiring dengan bertambahnya waktu ternyata aku tidak sekuat dulu *halah. Travelling dengan waktu singkat itu menyita tenaga habis-habisan. Dan akhirnya, beberapa waktu lalu ketika aku ke Yogyakarta, temanku mengajakku untuk naik mobil saja. Supaya aku bisa istirahat di mobil sambil sesekali tidur tanpa memikirkan pekerjaan. FYI, aku selalu bawa pekerjaan setiap kali jalan-jalan. Kebayang banget kan capeknya nggak cuma di fisik tapi juga di pikiran. Yah, namanya juga tanggung jawab, ya nggak? :)

Selama perjalanan dari bandara Adi Sutjipto Yogyakarta hingga ke daerah Hutan Pinus Imogiri, nggak ada ceritanya mampir pom bensin untuk isi bahan bakar. Aku penasaran dan akhirnya nanya ke teman aku, "loh mas, nggak ke pom?" "ngapain? mau istirahat? kan di mobil bisa," katanya. "Lah, emangnya nggak isi bensin po? Bensinnya masih?" "wahahah masihhh masih bisa buat muter-muter Yogya ini, nduk," jawabnya ringan. Dalam hati aku sih masih nggak percaya, ini kok mobil ya irit banget padahal kan udah jauh ini jarak yang ditempuh. Tapi kok ya nggak habis-habis gini bensinnya. Aku lalu melanjutkan tidurku.

Jalan jalan ke ciletuh

Dari Hutan Pinus Imogiri ke Kalibiru, Purworejo mobil yang kami tumpangi masih belum mampir minum ke pom bensin. Wah, mulai mencurigakan ini mobil. Persis setelah sampai di Desa Wisata Kalibiru aku langsung turun dan cek mobil jenis apa yang sedang aku tumpangi bersama kawan-kawan. Dan ternyata eh ternyata mobilnya temanku ini Nissan Grand Livina, mobil yang dari dulu jadi impianku kalau-kalau nanti aku sudah ada rejeki untuk beli. Aamiin-in dulu ah :)

Mobil yang menurutku punya desain yang elegan ini ternyata juga masuk dalam kategori mobil irit. Siapa sih yang nggak mau punya mobil irit? Apalagi untuk yang hobi jalan-jalan kayak aku, mobil ini pantes banget untuk dijadikan pilihan sebagai 'teman perjalanan' biar nggak keseringan minta minum dan rewel di jalan. Setelah tahu bahwa mobil yang kami tumpangi adalah Nissan Grand Livina si mobil irit, cus dong ke Google cari tahu informasi lengkapnya seputar mobil ini. Dan taraaa ini dia spesifikasinya yang bisa teman-teman jadikan pertimbangan kali-kali teman-teman mau beli mobil jugak :)

Interior dan Eksterior Mobil yang Mewah dan Menawan


Dari luar, mobil yang kami tumpangi ini memiliki desain yang mewah namun tetap elegan. Dengan spoiler panjang yang mengikuti bodi dengan satu garisan tajam berlapis chrome ditambah frame logo Nissan, mobil ini tampak mengagumkan. Bodi belakangnya pun di desain dengan sangat kokoh dengan side bodi molding yang mampu meminimalisir terjadinya penyok pada mobil irit Nissan Grand Livina.

Nissan Grand Livina Interior Mewah
image source: google


Masuk ke sisi interior mobil, kamu dibawa pada pemandangan sisi kabin yang tetap elegan tetapi tetap mewah dan berkelas. Desain kursinya pun ergonomis, cocok untuk dibawa travelling ke tempat yang jauh. Pada bagian joknya pun dilapisi dengan jahitan benang yang berwarna kontras bak mobil mewah papan atas. Kan kalau di dalam mobil jadi berasa orang penting gitu naik mobil bagus :))

Oh ya guys, si Nissan Grand Livina ini juga memiliki desain bodi yang stylish, lho! Dengan demikian, mobil irit ini memiliki dimensi yang luas pada bagian interiornya. Muat banyak deh, pokoknya! Meskipun bodi MPVnya memanjang, mobil ini tetap mudah dikendarai meski medan jalan yang berkelok-kelok, lho. Soalnya, Nissan Grand Livina si mobil irit memiliki sumbu roda 2600mm dan turning radius 5.5m. Kece, kan?

Dapur Pacu yang Andal dan Super Tangguh


Si mobil irit Nissan Grand Livina ini ternyata juga telah dilengkapi dengan mesin baru dengan kode HR15DE berkapasitas 1.5 L konfigurasi 4 silinder 16 valve berteknologi DOHC dengan Twin Dual Injector dan VTC menghasilkan power maksimal sebesar 109 PS. So, tenaga yang dikeluarkan oleh mesin mobil irit Nissan Grand Livina ini mampu menghasilkan akselerasi yang penuh percaya diri.

Dasbor Nissan Grand Livina
image source: google

Bahkan, dengan kombinasi Dual Injector serta Twin VTC ( Intake serta Exhaust) mobil ini mampu meningkatkan efisiensi pembakaran bahan bakar yang mampu lebih hemat 13% dibanding dengan generasi pertamanya. Jadiiiii ini to yang bisa bikin mobil irit, asyik ya ternyata kalau jalan-jalan pakai mobil irit. Jadi bisa kemana-mana dueh tanpa takut kantong jebol :))  

Berkendara Tidak Hanya Aman, Tetapi Juga Nyaman


Si mobil irit Nissan Grand Livina ini juga memiliki fitur Dual SRS air bags yang mampu melindungi pengemudi serta penumpang pada bagian depan ketika terjadi kecelakaan. Itung-itung jaga-jagalah kalau misalkan di jalan terjadi apa-apa gituuu. Lalu pada sektor pengereman, Nissan Grand Livina  ini juga dibekali kombinasi pengereman antara ABS+EDB+SA pada semua varian kecuali semua varian SV.

Kombinasi fitur pengereman tersebut akan membuat pengereman lebih stabil dan menyesuakan kekuatan pada rem belakang serta akan mencegah roda terkunci pada saat melakukan pengereman mendadak pada kecepatan tinggi dalam kondisi yang panik yang akan memberikan kekuatan tambahan untuk menghentikan laju kendaran dan memungkinkan pengemudi Nissan Grand Livina untuk mengarahkan setir ke arah yang lebih aman. Aaak kok jadi tambah pengen yaaa ~

Oh ya, kekuatan Grand Livina sudah terbukti loh, guys dalam "Tantangan 7 Liter" untuk menempuh Bandung - Jakarta melalui tol cipularang. Dalam tantangan kali ini Presiden Direktur Nissan Motor Indonesia Antonio “Toti” Zara menyatakan, “Efisiensi bahan bakar sangatlah penting untuk keberlangsungan lingkungan, dan itulah yang menjadi salah satu gambaran visi Nissan Intelligent Mobility untuk mewujudkan zero emission. Hal ini untuk mengedukasi para peserta mulai mengenal teknik eco-driving.

tantangan 7 liter nissan grand livina


Jadi, ceritanya si mobil irit Nissan Grand Livina ini digunakan oleh peserta untuk menempuh perjalanan Bandung-Jakarta melalui Tol Cipularang di akhir pekan untuk memberikan gambaran secara langsung kemampuan Nissan Grand Livina sebagai mobil MPV keluarga dengan efisiensi BBM yang baik. Sebelumnya, setiap unit Nissan Grand Livina telah diisi dengan 7 liter BBM. Rekor konsumsi BBM paling efisien tercatat sebesar 30,3 km per liter berdasarkan angka tertinggi pada Multi Information Display (MID) yang sebelumnya juga telah diatur ulang di awal keberangkatan. Dan peserta yang terjebak macet mempraktekkan eco-driving.

Awalnya nggak percaya sih akunya, ternyata setelah mencoba dan membuktikan ternyata Nissan Grand Livina memang asli irit banget, guys! Buat kalian yang juga memang hobi melakukan perjalanan dengan mobil, penting bagi kalian untuk mengetahui tentang teknik eco-driving.

Jadi guys, eco-driving merupakan teknik berkendara dengan menggunakan prinsip dasar defensive driving dan safety driving agar tercapai tujuan utamanya yaitu berkendara dengan efisien. Nah, selain efisien, dengan menerapkan teknik eco-driving saat berkendara juga menguntungkan kamu, guys karena ini akan membuat mobil yang kamu kendarai jadi hemat BBM. Daaaaaaaannnnnnnnnnn kita juga bisa ikut menyelamatkan lingkungan karena teknik eco-driving ikut andil dalam mengurangi tingkat polusi udara dan tentunya ramah lingkungan. Keren banget, ya!

Tuh kan guys, kalau pakai Nissan Grand Livina itu paket lengkap banget! Kurang apalagi coba? Sudah mewah dan menawan, aman, nyaman, irit pula! Paket lengkap, dah! Nggak percaya? Kuy, buktikan sendiri pengalaman berkendara irit dengan Nissan Grand Livina!

Selasa, 07 Maret 2017

Menyapa Sisa Matahari Terbenam di Pinggiran Pantai Ujung Genteng

Siapa yang tidak suka dengan sunset? Aku yakin hampir tidak ada yang tidak menyukai sunset di dunia ini. Kalaupun ada, ini pasti soal kenangan tentang sunset bersama seseorang yang tidak lagi bisa menemani momen sunset bersama. Ah, basi! Hahahahahaha.

Sunset, jingga dan senja adalah kolaborasi sederhana yang mampu mendistorsi magis warna lalu sampai ke hati para penikmatnya. Aku, adalah salah satu pecinta sunset. Biasanya, aku mencarinya di pinggir pantai, di puncak gunung, di kebun teh. Istimewanya, sunset selalu muncul dimanapun, bahkan ketika diri sedang tak ingin menikmatinya. Tetapi selalu berhasil membawa diri yang terjebak nostalgia untuk terhipnotis sekian detik lalu lupa tentang kenangan yang menyisakan lara. Halah ini tulisan apa sih? Wkwkwkw

Menuju pantai ujung genteng, kami berempat memacu kecepatan sepeda motor sebisa kami. Nggak deng, cuma Dhika dan Dimaz yang berusaha ngebut. Aku sama Uti mah cuma duduk dan pasrah kapan kita akan sampai. Sekitar 30 menit menuju lokasi, langit jingga telah menyambut kami dengan sukacita. Diantara pepohonan kelapa dan kebun di pinggir jalan, matahari mulai meminta kami bergegas. "Ayo!," katanya meminta kami untuk cepat sampai.

Tapi kami bisa apa? Jarak kami terlalu jauh untuk bisa merengkuhnya. Selama di jalan, aku menghela napass berkali-kali, mencoba menikmati dan mengabadikan dengan lensa mataku. Indah sekali, sungguh. Andai kalian di sana guys, pasti kalian udah nggak ngerti lagi mau ngomong apa selain Masya Allah. Beneran deh!

Menghampiri Sisa Sunset di Pinggir Pantai


Sekitar setengah tujuh malam, akhirnya kami sampai. Rombongan berpisah. Aku dan Dhika di sudut kiri, sedangkan Dimaz dan Uti di sudut kanan. Aku tahu rasanya jadi Dhika, mungkin sedikit kesal. Sejak di jalanan aku memintanya untuk bergegas, sedangkan diri ini nggak tahu diri kalau nyupir itu capek, woy. hahahah Maaf ya, Dhikaaa XD.

Aku langsung turun dari motor dan berlari ke pinggir, mencoba catch momen sisa sisa matahari senja. Duh, sudah ketinggalan! Batinku mulai kesal. Tetapi itu, senja selalu istimewa, dengan atau tanpamu ia tetap menantiku meski hanya menyisakan sedikit saja pesonanya. Saat langit tak lagi jingga, aku hanya bisa duduk menikmati sisa-sisa keindahannya sendirian.

Nggak terlalu dapat feel indahnya matahari terbenam di sini. Tapi, cakep kok lumayanlah jadi obat capek selama perjalanan menuju ke sini. Jadi, yaaa worth it nggak worth it, sih :))

matahari terbenam di pinggiran pantai ujung genteng


Ya, aku memang pergi bersama rombongan. Tapi, kalau udah ngomongin catch momen, duh jangan sampai deketin aku, deh yang ada nanti aku cuekin. Aku suka sekali sendirian soalnya. Boleh kalau mau nemenin, tapi kalau mau ngobrol, ya siap-siap aja kalau aku nggak liat kamu, ya! ^^

Ada ingin yang membuatku untuk kembali ke sini suatu hari nanti. Kapan dan entah dengan siapa, tetapi sungguh aku ingin sekali datang ke sini sekali lagi menikmati sunset yang menawan di bibir pantai sambil bersandar pada bahu yang bidang. Euh, galau abeeezzz... Dah ah dah, kalau kalian mau ke sana guys, kalian cukup liat maps aja! *anakmapsbangetsoalnya* hahahah


Got this view after act like running man! Menuju 16km dan kecewa, lalu berbalik menuju 44km dengan penuh perjuangan. Menembus hujan, meyakinkan diri bahwa di depan langit cerah menanti. Dari ujung ke ujung, sampe mabok di jalan, ilang-ilangan dan hampir menyerah. Berunding di masjid sambil istirahat, memutuskan untuk berbalik arah dan cari homestay. Kesal, marah, kecewa dan semuanya udah pasang muka lelah. Dunno what to do, nanggung banget tapi udah capek. Akhirnya, setengah 6 nekat menuju pantai dengan segala resiko. Mendung masih pekat, tapi masih kalah kuat dengan tekat. Di jalan, pemandangan sunset, garis senja sudah terlihat begitu indah. Tak sabar rasanya. Dhika dan Dimaz menambah kecepatan demi kami agar bisa menikmati sunset di pinggir pantai. And taraaa, sisa sunset masih menunggu kami dan ini adalah hadiah kekecewaan kami dari pantai sebelumnya. Masya Allah 😍😍
Sebuah kiriman dibagikan oleh Dwi Septia (@septsepptt) pada


Kalau dari Sukabumi kota jaraknya sekitar 50an kilometer gitu, sih. Mayan lah bikin pegal tangan, pundak, dan backbone behehehehe. Tapi, kalau kalian memang ingin membuktikan indahnya matahari terbenam di Sukabumi, Pantai Ujung Genteng juaranya! ^^

Membayar 13 Jam Perjalanan dengan Pemandangan Ciamik di Kawasan Ciletuh Geopark

Semua orang sangat suka melakukan perjalanan, tetapi tidak banyak yang berani untuk mengambil resiko pergi ke luar kota hingga ke luar provinsi untuk datang ke tempat yang belum pernah didatangi sebelumnya. Let’s say, biasanya akan lebih mudah dan praktis untuk ikut bergabung dengan rombongan yang memang memiliki tujuan yang sama, lalu menyewa mobil atau bus mini. Sisanya, akan lebih memilih paket wisata untuk mempermudah iten mereka. Aku adalah orang tipe keduanya. It depend  on budget dan teman perjalananku.

But, in reality. Aku suka sekali berkelana dengan motor pribadi. Bukan anak motor juga sih, tetapi aku sangat-sangat menikmati perjalanan dengan motor. Dunno why, mungkin karena aku lebih suka menikmati proses. Dengan motor, aku bisa menentukan catatan perjalanananku sendiri. Aku tidak terikat dengan jam travel yang mengejar lokasi, pun tak merasa berat sebelah dengan keputusan rombongan yang tak jarang menimbulkan salah paham atau kekecewaan di tengah jalan.




Tidak hanya satu dua saja, hampir semua teman-temanku yang pernah kuajak untuk travelling naik motor PP selalu menolak. Aku gila, katanya. Capek lah, jauh lah, pegal lah dan many reasons lainnya yang bikin aku jadi malas untuk colek-colek ketika aku ingin melepas penat. Apalagi sejak di Jakarta, rasanya semakin sulit menemukan siapa yang bisa untuk diajak mbolang bareng ke luar kota hingga ke luar propinsi naik motor. Karena memang gilak sih, selain memakan waktu, naik motor memang akan sangat memakan tenaga.   

Sudah sejak lama sebenarnya aku ingin memijakkan kaki di Sukabumi. Hanya saja memang masih belumt ahu tentang bagainmana caranya dan akan dengan siapa pada akhirnya aku akan melakukan perjalnaan bersama. Aku adalah seseorang yang memiliki bnayak tujuan, tetapi seringkali lebih menyukai sesuatu yang bisa tanpa direncanakan. Karena sesuatu yang terlalu lama direncanakan kemudian gagal akan memberikan efek kekecewaan yang teramat sangat menyakitkan. Jadi, kalau ada rencana main sama aku, pastikan bahwa rencana itu sudah fix dan matang; bukan sekadar angan-angan belaka,

Perjalanan Perdana ke Sukabumi Setelah Satu Tahun di Jakarta


Satu tahun, aku menunggu sampai pada akhirnya tiba momen di mana ada yang mau untuk diajak pergi ke Sukabumi. Ciletuh tepatnya. Sebuah geopark yang memang menarik hati ini berhasil membuatku dan Dimaz pada awalnya tertarik untuk bisa sampai ke sana. And here we go, kami berdua akhirnya sampai di Sukabumi, tepatnya di Ciletuh Geopark. Nggak deng, berempat karena ada Uti dan Dhika juga, temen kantor yang dua-duanya anak asli betawi Cuma yang satu based di Jakarta dan yang satu di Bogor. Kenapa mereka? Panjang ceritanya. Nggak akan kelar pula dalam satu artikel panjang ini jadiiii lupakan hahaha.

Malam ini, di pinggir pantai Ujung Genteng akhirnya kami berempat bisa duduk bersama saling bercerita setelah menempuh perjalanan panjang dari Jakarta ke Sukabumi naik motor. Sekitar 13 jam lamanya kami bergelut dengan macet, hujan, traffic padat di jalur utama Bogor ke Sukabumi dengan truk tronton akhirnya kami sampai di Ciletuh Geopark. Tidak mudah bagi kami untuk bisa sampai di titik ini. Dibalik perjalanan panjang ini menyimpan banyak suka duka yang membahagiakan juga sangat menjengkelkan.





Rasa lelah yang terbayarkan ketika pertama kali sampai di Bukit Panenjoan. Kami berempat bisa melihat hamparan hijau yang luas dan sejuk sekali. Udara memang panas, tetapi rasanya membayar lelah dengan pemandangan dari atas bukit panenjoan adalah bonus yang luar biasa healing banget. Bersyukur sekali bisa diberikan kekuatan untuk sampai di lokasi. Padahal, sejak awal kami ragu apakah kami akan sampai atau akan menyerah di tengah jalan.

Mulai dari iten yang berantakan, jadwal yang mundur karena hujan sampai kondisi jalanan yang membuat kami harus berhenti sering-sering. Lebih parah, kondisi fisik yang ditempa oleh hujan setiap malam membuat masing-masing dari diri kami tumbang. Memang nggak bersamaan sih, tetapi tetap saja ketika satu tumbang yang lain harus menyesuaikan dan jadilah timeline jadi mundur!



Ada yang marah-marah karena iten mundur, ada yang bad mood karena nggak sampai-sampai, ada yang bete karena lokasi nggak sesuai dan masih banyak hal dibalik cerita ini. Cerita bahagianya mana? Banyak kok! Mulai dari mampir kebun teh terus foto-foto dan video-video nggak jelas sampai kami semua lupa kalo urat malu kami harusnya dijaga, bukan dipermalukan di Instagram! Hahahahahahah

Perisapan Sewa Tenda hingga Sewa Motor dari Luar Kota


Sebelum hari H, tepatnya H-7 kami mempersiapkan sewa motor hingga tenda yang akan kami pakai untuk menginap di pinggir pantai/curug di Sukabumi. Banyak drama dibalik peminjaman motor dari yang unitnya ada tiba-tiba nggak ada hingga jam pengantaran mundur begitu saja di hari H. Kezel abis! Karena hal ini pula di grup oejalanku sempat saling marah dan kesal.




Sampai di lokasi, di Pantai Palangpang  kami mengalami kekecewaan tingkat berat! Enambelas kilometer yang kami tempuh tidak membuahkan hasil kepuasan atau kebanggaan bisa sampai di TKP. Sedih dan kecewa, jelas.  Sebab, awal pantai ini dituju adalah karena kami ingin melanjutkan ngecamp di Puncak Darma. Sayangnya, kondisi pantai yang super duper buruk membuat kami segera beranjak dari lokasi dan mengejar pantai di wilayah lain yang jaraknya  sekitar 49 kilometer. Wew, kan?!

Bertemu dan Hilang dengan Tim Ciletuh


Believe it or not, meski berangkat bersama-sama, aku dan teman-teman sering berpisah. Entah itu karena sebab rute jalan yang asing, gagal nyalip truk tronton, hingga harus istirahat berkali-kali karena fisik yang tak lagi mumpuni. Entahlah. Kami akan saling tanya di grup WhatsApp ketika sudah merasa bahwa kami hilang terlalu jauh. Kemudian salling tunggu di titik lokasi. Lalu, melanjutkan perjalanan ke tujuan selanjutnya. Begitu hingga pulang.

Tiga hari dua malam, bersama Uti, Dhika dan Dimaz. Menjadi pribadi yang nekat dengan segala tekat yang melekat pada diri. Melawan rasa kantuk yang luar biasa karena waktu tidur di hari pertama terampas penuh dan di hari kedua hanya mendapatkan sisa saja. Luar biasa!

Rasa Lelah yang Terbayarkan Setelah Sampai di Rumah


Jakarta, 5 Maret 2017. Kami berempat sampai di Jakarta dengan selamat. Sekitar pukul setengah sebelas which is mean that 13 jam lagi waktu perjalanan yang kami tempuh dari Ciletuh ke Jakarta. Capek? Jangan ditanya! Aku saja sudah berkali-kali ketiduran di motor. Sempat  muntah pagi-pagi. Kak Uti juga sempat tepar saat perjalanan ke Pantai Ujung Genteng. Dimaz dan Dhika yang harus mencuri waktu tidur karena menjadi driver full membuat mereka harus merelakan waktu tidur mereka.


Di akhir tujuan, stasiun karet kami berpisah. Kak Uti pulang, aku dan Dimaz ke tempat cuci motor dan Dhika masih harus menempuh perjalanan panjang ke Bogor (lagi) untuk pulang dengan barang bawaan yang berat. Ah, thanks gengs!!! ^^

Jakarta, 6 Maret 2017 – 00.00 WIB
Septi

Senin, 06 Maret 2017

Menikmati Hamparan Pemandangan dari Atas Bukit Panenjoan, Ciletuh Geopark

Sekitar setengah sebelas siang, Aku, Dimaz, Uti dan Dhika sampai di Bukit Panenjoan. Destinasi pertama yang kami tuju setelah membiarkan punggung dan pantat kami beradu dengan jok motor yang semakin terasa keras dan menyakitkan. Tepat setelah memarkir motor, kami beranjak ke gardu pandang yang menghadap hamparan pemandangan Sukabumi dari atas. Masya Allah.


Tidak ada satupun dari kami yang tidak memuji keindahan alam ini. Dari sebelah kiri, terdapat tebing yang berdiri kokoh menghadapkan wajahnya ke arah sawah dan hutan-hutan di bawah. Indah sekali. Sungguh merasa terhormat bisa disambut dengan keindahan alam yang sangat menakjubkan ini.

Tepat di depan mata, pemandangan hijau terbentang begitu indahnya. Tebing, sawah, kebun dan hutan melebur menjadi satu keindahan yang tidak bisa dideskripsikan hanya dengan kata-kata. Bahkan kamera pun tak sanggup mengabadikan indahnya lebih dari yang kedua mata kami lihat secara langsung.

 “Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya…”(Q.S. AlAnbiya [21] :30)

Sungguh, Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya. Dan rugilah barang siapa yang masih ragu bahwa dunia dan seisinya ini sudah ditata sedemikian rupa hingga saat ini manusia masih bisa menikmatinya. 

Untuk bisa sampai ke Bukit Panenjoan, kami melewati rute yang diarahkan oleh Google Maps dibantu dengan plang di jalanan. Sepasrah itu, nyasar atau nggak itu urusan belakangan. Karena kami hanya punya satu tujuan untuk bisa sampai ke Geopark Ciletuh. Dan alhamdulillah, everything was perfect!





Sebagai gen millenials yang memang nggak bis jauh dari media sosial, masing-masing dari kami langsung mengeluarkan smartphone untuk mengabadikan atau membuat story di Instagram. Bukan karena tidak bisa menikmati waktu, tetapi dengan cara ini kami menunjukkan pada dunia tentang kebahagiaan yang kami rasakan ketika kami sampai di lokasi.

Gardu Pandang Bukit Panenjoan

Sebenarnya di Bukit Panenjoan sudah terlihat jelas hamparan pemandangan alam yang mengagumkan. Tetapi, untuk yang kurang puas tempat ini juga menyediakan beragam gardu pandang sekitar 3 meteran yang bisa kalian nikmati. Kalian bisa naik tangga dan menikmati Bukit Panenjoan dari titik tertinggi gardu pandang. Kalau aku sih nggak berani, soalnya cemen sama ketinggian XD.




Seingatku, hanya aku dan Dimaz yang gagal naik. Uti, apalagi Dhika berani naik sampai ke atas dan membuat kami berdua terlihat kecil sekali karena cemen. Tetapi, usut punya usut, Dimaz akhirnya berhasil naik sampai titik paling atas meski hanya sebentar. Ah, aku kalah! Tapi  tak apalah, toh aku juga nggak rugi. Daripada aku naik terus pingsan di atas kan berabe yak XD.

Parkiran Luas dan Homestay Tersedia Lengkap

Tempat ini tidak hanya bisa dinikmati dengan motor, guys. Di Bukit Panenjoan terdapat parkiran yang teramat sangat luas dan pilihan homestay yang lumayan untuk kalian yang datang bersama rombongan dan ingin bermalam di sini. Biayanya per malam tergantung ukuran penginapannya, berkirar antara 250-500 per penginapan. Meski terkesan mahal, tapi begitu membuka pintu, kalian akan dihadapkan langsung pada hamparan alam hijau yang tak bisa dipuji hanya dengan kata-kata. Sejuk sekali!


Kata masnya yang jaga, setiap weekend seminimal-minimalnya ada sekitar 150-250 orang yang datang ke Bukit Panenjoan. Kalau pas weekdays paling 50an saja. Oh ya, kami berempat termasuk beruntung karena datang di lokasi saat masih sepi. Alias, masih belum terjebak di dalam kerumunan pengunjung yang maunya foto ala ala. Tepat setelah kami beranjak, rombongan baru datang. Merasa beruntunglah kami hahahaha...

Di bagian depan, ada semacam kantin berbentuk rumah. Kalian bisa pesan makanan di sini, guys. Nggak cuma da mie rebus, kok. Ada telur dadar, sayur kangkung, ayam dan lauk-lauk lainnya. Kalau aku, cuma makan mi. Maklum, rada ribet anaknya kalau makan pilih-pilih. Harganya lumayan mahal, tapi untuk rasanya worth it, kok. Kemarin kami makan 2 nasi, 2 mie telur, kangkung dan 3 telur dadar habis 74 ribu. Ini murah apa mahal, yak? XD

Buat kalian yang mau shalat juga nggak perlu khawatir. Ada mushala di sudut sebelah kanan parkiran. Lumayan besar, untuk bisa menampung yang ingin shalat berjamaah di Bukit Panenjoan. Apalagi kalau dateng sama rombongan dan mau shalat berjamaah. Udah beres dah!

Tiket Masuk Bukit Panenjoan Murah

Oh ya, berapa harga tiketnya? Murah! Hanya cukup 5ribu untuk perorang! Murah banget, kan? Bahkan, kami termasuk nggak tahu diri karena kami dan barang-barang kami beristirahat di tempat masnya yang jaga. Pun, kami numpang ngecharge smartphone, powerbank dan baterai kamera. Mungkin ada sekitar 6 buah stop kontak dan semuanya GRATIS alias nggak kena charge.

Kami juga sempat isirahat (baca: tidur) di sofa untuk beberapa menit. Itung-itung charge energi lah untuk menempuh perjalanan selanjutnya. Rencananya, setelah dari Bukit Panenjoan kami mau ke Pantai Palangpang yang jauhnya sekitar 16km dari sini. Lumayan juga kan jaraknya? Hahahaha

Bukit Panenjoan, nggak bisa lagi deskripsiin indahnya tempat ini. Hopefully bisa ke sini lagi lah someday ^^

Jakarta Pusat, 6 Maret 2017

Septi