Menjelajah dan Menikmati Sejuknya Kota Malang Selama dalam 26 Jam

"Aku merasa menemukan tempat labuhan kedua setelah Bandung.
Malang, menjadi kota yang bisa membuat hatiku tertinggal dan ingin kembali mengeksplorasi keindahan alamnya yang membuatku ingin tetap tinggal lebih lama."

Bicara tentang Malang, sama dengan bicara tentang impian. Sudah sejak lama aku mendambakan untuk bisa menjejakkan kaki di kota yang terletak di Jawa Timur ini. Tidak ada sebab yang pasti mengapa aku ingin ke kota yang terkenal akan buah apelnya ini. Aku hanya tahu bahwa kota ini masuk sebagai salah satu destinasi wajib yang membuatku harus bisa menyambanginya suatu saat.

Siapa yang bisa mengira dan memprediksi kapan kakimu akan sampai ke tujuan yang ingin kamu capai jika bukan Allah? Adalah aku yang masih belum percaya bahwa aku baru saja pulang dari Kota Malang. Berawal dari percakapan absurd dengan salah seorang teman SMPku, Fajri ketika aku tengah mengambil izin untuk istirahat karena sakit.

Stress membuatku menjadi pribadi yang boros


Terus terang saja, menjadi pribadi yang stress itu teramat sangat tidak menyenangkan. Bayangkan saja bila setiap kali stress aku harus mencari pelarian menuju tempat terbuka, alam yang entah di mana. Dan ini terjadi ketika tensiku ada di garis 90/60 dan aku harus menelan 4 obat berbeda untuk meredam rasa sakitku.

"Jri, Jogja asik kali, ya.."
"Em, Malang yuk.."

Sesingkat itu ajakannya dan gilanya aku, aku mengiyakan ajakan tersebut. Bagaimana tidak? Malang itu lebih dari sekadar destinasi impian. Malang adalah suatu kewajiban bagiku. Bromo, terutama. Ya, jika bukan karena Bromo, mungkin aku tidak akan pernah memasukkan Malang ke dalam list-ku. Hahahaha...

Tidak ada komentar

Halo!

Terima kasih telah membaca blog www.dwiseptia.com. Semoga konten yang ada di blog ini bisa menginspirasi. Doakan saya bisa produksi konten yang lebih baik, ya!
Oh, ya kalau ada rekues konten silakan tulis di kolom komentar, ya! ^^