Dwi Septia

content specialist | dream catcher | digital strategist

Tak Hanya Kopi, Kedai Kopi Mukidi Menjual Keramahan yang Tak Bisa Dibeli dengan Uang

5 comments
Kalau bicara kopi, aku kalah, deh. Meski nggak ngerti-ngerti banget soal proses pengolahan biji kopi, kalau udah diajakin nongkrong dengan iming-iming kopi, pasti udah pengen iyain aja. Anaknya emang semurah itu, sih hahahaha. Nggak deng nggak, tergantung juga ngopinya di mana dan sama siapa. (((siapa juga yang mau ngajakin ngopi XD)


Aku tidak ingat betul sejak kapan aku suka menyeduh kopi. Aku hanya ingat bahwa memang sedari kecil, aku selalu meminum kopi Bapak yang dibuatkan Ibu di dapur. Sejak saat itu, Ibu selalu membuatkan dua gelas kopi, satu untukku dan satu untuk Bapak. Iya, saking sukanya yang awalnya aku minum seteguk dua teguk bisa berubah menjadi bergelas-gelas. Se-addict itu sejak dulu.


Hanya bedanya, kalau dulu aku bisa minum kopi apa saja alias kopi sachet dengan tingkat kemanisan yang luar biasa dan kini aku terbiasa meminum kopi tanpa gula. Pahit? Ah, nggak juga. Soalnya minumnya pakai rasa, dinikmati sepenuh hati.

Kalau terhitung sejak usia SD aku meminum kopi, maka sudah lebih dari 10 tahun aku menjadi penikmat biji yang identik dengan hewan luwak ini. Hingga dua tahun terakhir ini aku mengenal dunia per-single origin-an yang ada di Indonesia. Iya, biji-biji kopi sachet yang selama ini aku minum ternyata bukan apa-apa bila dibandingkan dengan kenikmatan biji kopi asli dari berbagai daerah di Indonesia.

Aku sudah mencicipi beberapa biji dengan metode tubruk, v60, atau siphon di beberapa kafe. Beberapa menjadi favorit and worth to try. Kopi Mukidi Temanggung salah satunya.

Awalnya Mau ke Yogyakarta, Tetapi Godaan Kopi Memang Selalu Sulit Untuk Diabai Begitu Saja


Punya teman laki itu emang susah, ya. Kalau ngajakin jalan suka dadakan. Eh, ya nggak juga deng, akunya juga free ya jadilah korban ajakan karena teman-temannya dia lagi sibuk kerja. Iya, ini lagi ngomongin Mas Bagus Pulung Vandeka, temen yang ketemu di kantin SMP 1 Semarang sewaktu ada urusan di sana. Dua tahun kenal dia aku nggak banyak komunikasi. Yes, pertemuan kami ya sebatas kenalan, ngobrol, save nomor, udah.

Paling ya kalau pas kebetulan dia cuti dari kerjanya di Kalimantan kita kadang makan bareng sambil cerita-cerita. Dan kali ini, Mas Bagus pengen jalan-jalan, katanya. Tujuannya ke Yogyakarta, mau apa? Ya, ngopi. But, at first we look at the time, nggak mungkin kalau menempuh Yogyakarta - Semarang PP dalam jangka waktu yang sangat singkat. That was really impossible rasanya.


Di tengah perjalanan lalu kami memutuskan untuk beralih ke Ambarawa, nggak tahu deh mau nemu apa yang jelas jalan aja dulu. Lalu, ada yang nyeletuk kalau ada Kopi Mukidi Temanggung yang katanya enak dan rekomen untuk dicoba. Yah, namanya juga Septi, kalau dengar tentang kopi enak ya gasssss aja. Tanpa pikir panjang, mobil yang kami tumpangi mengarah ke jalan menuju Temanggung.

Dengan bermodal maps, kami menuju ke arah rumah Pak Mukidi yang katanya memiliki kedai kopi di rumahnya dengan view gunung Sindoro Sumbing. Sepanjang perjalanan udah bayangin tuh gimana rasanya ngopi sambil lihat view gunung wakakak anaknya emang sehalu itu. Nggak tahu kenapa, bayangin kopi dan nyium aroma kopi itu bisa jadi treatment semenyenangkan itu.

Terjebak Hujan Sesaat Sebelum Sampai ke Rumah Pak Mukidi


Tujuh menit sebelum sampai ke Rumah Kopi Mukidi aku dan mas Bagus terjebak hujan deras di mobil. Dalam perjalanan menuju rumah Pak Mukidi, kami terjebak pada jalan setapak yang kebetulan sepi dan tak ada seorang pun yang bisa kami tanyai. Hingga kami tak tahu harus berbelok ke gang mana, sebab maps sudah mengatakan bahwa kami telah sampai.




Kami terjebak di halaman rumah warga. Sepersekian jam kami terjebak karena salah satu di antara kami tidak ada yang membawa payung. Akhirnya, karena hujan tak jua berhenti, kami memutuskan untuk berlari di bawah hujan menuju rumah Pak Mukidi berbekal arahan dari warga. Oh ya, tak lupa mobil kami titipkan kepada sang pemilik rumah. Tata krama tetap harus nomor satu, tjoy!

Untungnya aku memakai jaket parasit, jadi aku tak terlalu basah. yo mung anyep sithik, sih XD. Aku membawa kamera, biasa buat gaya-gayaan hahaha. Ngga deng, emang mau foto sama Pak Mukidi :) sama kopinya yang terkenal juga. Penasaran soalnya sama kedai yang terletak agak nylempit di kampung itu.


Disambut Ramah oleh Barista Wanita Kedai Kopi Mukidi

What? Barista cewek?
Iya, aku juga sempat terkejut begitu masuk ke kedai yang juga sekaligus rumah dari Pak Mukidi tersebut. Sederhana sekali, tetapi terasa kehangatan dan keramahannya saat menerima kami berdua. Tak ada pengunjung saat itu, hanya kami berdua dan dua barista yang aku lupa namanya siapa hahaha maafkaannn. Lalu, dari pintu samping dapur pembuatan kopi, Pak Mukidi muncul menyambut kami berdua.



Ramah dan murah senyum. Mungkin ini kata yang tepat untuk menggambarkan bagaimana sosok Pak Mukidi. Kami berkenalan, sambil mencicipi house blend khas ala Rumah Kopi Mukidi. Seperti biasa, aku pesan dengan metode V60, sedangkan Mas Bagus pesan dengan metode tubruk. Sambil menunggu kopi dibuat, kami mengobrol dengan Pak Mukidi. Tentang sejarah kedai, pengolahan biji, hingga pemberdayaan petani kopi di Temanggung. Indahnya dunia ~

Pak Mukidi menceritakan kepadaku tentang bagaimana cara mengolah biji kopi. Dengan metode apa rasa kopi dimunculkan. Aku juga belajar banyak tentang bagaimana cara bersikap ramah kepada pelanggan. Tentang tidak meninggikan ego saat bertemu orang baru.
Ada banyak racikan kopi yang Beliau ciptakan, dan semuanya nikmat. Bahkan, menikmati tahu goreng dan pisang nugget pun terasa istimewa di sini.
Iya, semuanya bisa terjadi karena keramahan yang diciptakan oleh Pak Mukidi.
Dan sebab inilah, aku ingin kembali.

Obrolan bersama Pak Mukidi terasa begitu hangat. Lebih-lebih saat aku dan Mas Bagus diizinkan naik ke lantai dua, menikmati udara gunung yang terasa begitu sejuk. Andai ada meja dan kursi tertata di sana kala itu, mungkin aku akan sedikit lebih lama bersantai. Menikmati sepoi angin yang membelai manja tubuhku.



Sayangnya, cuaca sedang dingin-dinginnya dan kebetulan belum ada atap di balkon lantai dua. Ini artinya, kami berdua harus kembali ke lantai satu. Menghangatkan diri dengan obrolan santai bersama Pak Mukidi.

Pak Mukidi Mengolah Kopinya Sendiri dengan Penuh Cinta


Kalau di kota-kota seringkali aku menjumpai mesin penggiling kopi dan mesin untuk mengolah kopi secara modern, maka berbeda dengan di sini. Aku hanya menjumpai alat-alat sederhana milik Pak Mukidi yang seringkali beliau gunakan untuk meracik kopi. Apa itu bisa memengaruhi rasa? Tentu saja, iya.

Dan Pak Mukidi membuktikan bahwa dengan cinta, rasa kopi yang diolah dengan alat sederhana bisa menciptakan rasa yang luar biasa nikmatnya. Kenikmatan secangkir kopi tidak bisa dinilai hanya dari alatnya saja, kan? Aku bahkan tak melihat banyak pegawai di sini. Seadanya saja. Tapi justru itu yang membuat tempat ini semakin menarik.



Aku bisa melihat langsung biji-biji kopi yang masih setengah kering atau dalam proses pengolahan. Aku juga bisa melihat stiker bertuliskan Kopi Mukidi tengah disusun, digunting, dan dirapikan sebelum akhirnya ditempel ke bungkus-bungkus kopi siap jual. Duh, jadi pengen balik ke sana segera. Btw, aku nulis ini sambil bikin Kopi Mukidi yang aku beli dalam kemasan, lho.

Oh ya, satu hal yang perlu di highlight:

Kalau biasanya rasa kopi di kedai berbeda dengan kopi yang kita buat di rumah padahal kita menggunakan biji yang sama, berbeda dengan kopi milik Pak Mukidi.
Kamu akan bisa merasakan sensasi ngopi di cangkir berbeda dan suasana yang berbeda, namun dengan cita rasa kopi yang sama.
Nikmat sungguh ~

How to Get There?


Cara untuk bisa sampai ke Rumah Pak Mukidi cukup mudah. Cukup cari di maps, lokasi "Rumah Kopi Mukidi" dan turn on navigation. Ikutin aja terus sampai mbak-mbak Maps bilang "Anda sudah sampai di tujuan." Hahahaha

Dusun Jambon, Gandurejo, Bulu, Gandurejo, Bulu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah 56253
www.kopimukidi.com
0877-1905-2174

Aku akan ke sana lagi. Mungkin besok, atau lusa, atau di lain waktu. Tapi pasti, aku akan ke sana lagi menikmati seduhan kopi khas ala kebun yang diolah Pak Mukidi sembari bercengrama dan merasakan kehangatan bersama Pak Mukidi.

Kamu kalau butuh temen buat ngopi, bilang, ya. Aku bakalan seneng banget kalau ada yang mau ngajakin ngopi ke sana lagi :)) 
Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

5 komentar:

  1. Aaaaak...jadi pengen ke rumah Pak Mukidi lagiii. Dulu aku kesana tempatnya masih lebih sederhana lagi, trus elum ada baristanya. Jadi aku menikmati kopi racikan tangan pak Mukidi sendiri. Ayo Sept, kesana lagi yuuuk sekalian ke Posong

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayok mbaaa ayoookkk ke sana lagi hahah, Kopinya enaakkk XD

      Hapus
  2. Tempat ngopi yang full of breathtaking view. Anyway aku menyesal kenapa cuma bawa pulang special blendnya satu doang 😢

    BalasHapus
  3. pas kesana belum ada tempat ngopinya. kopinya memang enak dan cerita serunya jadi sering lupa sama waktu.

    BalasHapus

Halo!

Terima kasih telah membaca blog www.dwiseptia.com. Semoga konten yang ada di blog ini bisa menginspirasi. Doakan saya bisa produksi konten yang lebih baik, ya!
Oh, ya kalau ada rekues konten silakan tulis di kolom komentar, ya! ^^