Dwi Septia

content specialist | dream catcher | digital strategist

Review Film: Memahami Bhinneka Tunggal Ika dalam Film Lima

24 comments

"aku juga lahir dari rahim mama, mba. Terus kenapa bisa mbak halal dan aku haram?"


Pembuka film Lima terlalu menarik. Bahkan, sebelum aku menonton film ini, salah seorang kawan di Instagram mengirimkan Direct Message kepadaku yang berbunyi: "Sep, lo nonton film Lima, deh. Ada scene yang pas gue lihat, gue keinget sama lo." Kira-kira begitu, katanya.

Aku tertarik, penasaran. Apa yang membuat Lima begitu menarik? Tapi, rasa penasaranku tidak lama. Aku segera menonton dengan kak Kinanti. Impulsif, seperti biasa tiba-tiba saja dari bandara terus pengen nonton aja gitu. Hahahaha

Dan selama beberapa menit disajikan pembuka film Lima, langsung "DAMN!!" Beneran bikin mikir dong filmya. Asem aja baru pertama mulai udah bikin seorang Septi mikir.


Keberagaman Agama dalam Keluarga


Fara, Adi dan Aryo adalah kakak beradik yang tinggal bersama kedua orang tuanya yang berkeyakinan berbeda. Menjadi Fara dan Menjadi Aryo ternyata membuat hubungan mereka rumit. Puncaknya adalah ketika mama mereka meninggal dan mereka harus berdebat tentang cara pemakaman mamanya dengan keyakinan dua agama yang berbeda.

Then, why this story is really related with my life? Some of you may know, but please let me tell you guys again that aku hidup di keluarga dengan agama yang berbeda. Dan ini membuatku kembali berpikir hal yang sama soal pemakaman. Apakah aku akan melalui hal yang sama kelak, atau tidak? Kuharap tidak. Sebab aku ingin semuanya menjadi satu, tanpa perdebatan dan semuanya berjalan dengan lancar.

Sulitnya Menjadi Pribadi dengan Rasa Empati


Aku tidak mengerti bagaimana rasanya menjadi Adi yang bisa diam saja diperlakukan oleh teman-temannya. Ketika temannya berkata "pantesan nyokap lo mati cepet, lo tiap hari nyetel musik itu-itu mulu." Oh, man. Sakit beneran kalo ini bener-bener kejadian di masa sekarang. Mungkin, kalo aku jadi Adi, akan berbeda sikapku ke mereka yang nggak punya rasa empati.

Apa susahnya sih berempati kepada teman yang baru saja kehilangan ibunya? Ditinggal mati lho ini, bukan ditinggal pergi. Apa susahnya mengerti kondisi kehilangan atas seseorang?

Dua Nahkoda dalam Satu Kapal


Aku juga pernah mengalaminya. Mengarungi kapal dengan dua nahkoda di dalamnya. Hasilnya, jangan tanya! Sewaktu kapal oleng dan dalam masa sulit, dua nahkoda yang diharapkan bisa memberikan dua solusi, yang ada malah berkutat dengan masing-masing pikiran dari sang nahkoda. Dan tentu, tidak mungkin dalam satu kapal ada dua keputusan, bukan? Salah satunya tentu akan kalah.

Ego manusia memang tinggi. Selalu ingin menang dari yang lainnya. Dan seringkali, manusia dengan ego yang tak tertahankan mengintimidasi yang lainnya dengan merasa bahwa dirinyalah yang paling superior. Keberagaman pikiran tidak lagi ada. Musyawarah? Apalagi. Semuanya terasa begitu semu dan palsu. Apa-apa yang menurut pikiran baik akan membawa ke pikiran lain bahwa milik orang lain bukan yang terbaik. Entah. Mungkin memang kebebasan berpikir yang dilindungi hanya sebatas dalam undang-undang saja, bukan dalam pelaksanaan.

RAS Masih Menjadi Masalah yang Serius di Indonesia


Pribumi dan non pribumi masih menjadi masalah yang serius di Indonesia. Perbedaan RAS, suku, agama, budaya masih menjadi momok yang tidak ada habisnya. Ketika syarat untuk menjadi wakil Indonesia harus warga asli, sedangkan jelas keturunan lain punya kemampuan lebih membuat saya mengiyakan ketika Fara bilang "pantes aja Indonesia nggak maju-maju."

I know that memang kalau kita ingin mempertahankan Indonesia dengan putra-putri kita. But, can we just being an objective person? Kemampuan untuk mewakili Indonesia di mata dunia itu bukan perkara sempit. Yang hanya untuk nampang saja. Tapi memang untuk pulang dengan membawa juara, membawa nama Indonesia di kancah dunia.

And what I learnt from this movie is, masih ada orang-orang yang baik, masih ada orang jujur, masih ada orang obyektif yang mau melihat permasalahan seperti ini menjadi masalah yang perlu dipertimbangkan. Hingga akhirnya, berkat memperjuangkan kejujuran dan keadilan, Fara bisa membawa putra pribumi dan non pribumi untuk mewakili Indonesia.

Seriously, ini film mikir banget. Quite simple buat made us being a stupid person kalau kita nggak mau mikirin setiap detailnya. Sedari awal aku masih bertanya-tanya mengapa bioskop sepi. Aku jadi ingat ketika sedang menonton film Istirahatlah Kata-kata.

Baca Juga: Istirahatlah Kata-Kata, Dokumentasi Sejarah yang Penuh dengan Makna

Film ini juga peminatnya hanya orang-orang yang memang cinta dengan dunia sastra. Sebab memang pesan moral yang disampaikan berat. Dan orang memang menonton film untuk mencari hiburan. Tapi entah, aku bersyukur masih bisa melihat dunia dari film-film seperti ini. Aku jadi bisa membuka mata dan hati sedikit lebih lebar untuk bisa menyadari bahwa dunia itu luas. Dunia itu memiliki banyak sisi yang tak kita tahu.

Hukum Hanya Berlaku Bagi Rakyat Tidak Mampu


Masih ingat dengan kisah nenek yang harus dibawa ke meja hijau hanya karena mengambil biji kakao? Film lima kembali merangkum kisah ini. Dan kembali, disajikan dengan jelas bahwa hukum selalu membuat pelaku yang tidak mampu merasa dirinya semakin hina. Sedangkan mereka yang punya kekuasaan akan dengan otomatis menang, mereka akan secara otomatis memiliki kuasa penuh atas hidup orang lain yang punya kemampuan di bawahnya.

Miris. Pantas aja Indonesia nggak maju-maju. Lawong hukumnmya saja begitu ya, to?

Semoga semakin banyak film Indonesia yang bisa membuka mata penikmat film tentang luasnya dunia dan luasnya manusia yang tak terbatas.

Salam,
Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

24 komentar:

  1. Jujur saja, aku jarang nonton film indonesia. Jdi mesti dapat rekomendasi dulu agar nonton film indonesia..hehehe

    Film kayak gini memang pasarnya di indonesia ga banyak. Ga bakal berjubel antrinya dan bangku-bangkunya kosong.

    Jadi ingat film Cin(t)a (film jadul) yang bercerita tentang agama dan ras di indonesia. Tapi sayanh ga lolos sensor :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaak film Cin(t)a itu bangus banget padahal. One of my favourite film anyway. Aku suka setiap kali annisa bilang "kenapa Tuhan nyptain kita beda-beda, kalau Tuhan hanya pengen disembah dengan cara yang sama?" Its deep.

      Hapus
    2. Trus ada scene pas si Cina ngajak anisa nikah dan pindah agama. tapi si Anisa cuma bilang "Yakin sama aku? Tuhan aja aku khianatin, apalagi loe".

      Hapus
    3. Beneerrr aku juga sukak. Pun ketika scene Cinta bilang
      "cuma Tuhan yang ngerti gimana rasanya jadi gue"
      Aku nonton berkali kali aja nggak bosen sama jalan ceritanya. Keren banget

      Hapus
    4. Aku udah lama ga nonton sih. Tapi masih ingat beberapa dialognya :D

      Hapus
    5. Sama wkwkwk aku terakhir ntnt juga udh berapa taun kemarin sih

      Hapus
  2. Aku tertarik banget nonton film LIMA ini karena kemaren kemaren banyak yang bahas juha di timeline twitter. Kebetulan aku juga suka sama konflik yang ditonjolkan di film ini yang related banget sama kehidupan zaman now
    Tapi teteup aja belom sempet nonton sampe sekarang :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Buruan nonton sebelum turun layar hahaha, peminat filmya sepi :( khawatir kalo nggak akan lama tayang di bioskop

      Hapus
  3. Aku suka film apapun itu yang bagus ntah film indonesia maupun barat. Untuk film Lima,saya sih belum nonton. Tapi,saat baca review film di blog kakak emang terjadi di Negara kita. Dimana perbedaan agama selalu jadi kendala,apalagi keluarga besar saya juga banyak agama. Miris sebenarnya kalau hanya beda agama yang dijadikan patokan untuk berselisih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyo kak Dev. Di Indonesia RAS masih jadi isu pemecah belah yang utama. Entah apa yang bisa menyatukan Indonesia sampai sekarang

      Hapus
  4. Belum sempat nonton filmnya dan jadi makin penasaran setelah baca reviewnya. Film seperti ini memang menarik & layak ditonton sih. Makna dan pesannya ternyata dekat sekali dengan beragam hal yang sering terjadi di kehidupan kita.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener kak. Film ini mengamalkan 5 nilai Pancasila. Coba nonton deh :)

      Hapus
  5. "Sulitnya Menjadi Pribadi dengan Rasa Empati"...aku langsung speechless. Serasa diingatkan untuk memikirkan perasaan orang lain. Jleb lah istilahnya.

    Nunggu ada di platform legal deh, jadi pengen nonton soalnya...padahal udah gak ada di bioskop.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha iya kak, pas scene bullying kena banget. Manusia tuh emang egonya tinggi banget nggak mau ngerti orang lain

      Hapus
  6. Waaa Mba ternyata penggemar film juga. Aku pun nonton film ini beberapa waktu lalu. Film ini cukup berhasil menarik penonton di Semarang. Beberapa jam tayang selalu full, bahkan saya yg beli tiket pake mtix pun sempet ga kebagian. Saya sependapat dengan apa yg Mba sampaikan mengenai film ini. Tapi mungkin ada beberapa hal yg menurut saya agak kurang greget. Mungkin karena ekspektasi terlalu tinggi pas ngeliat nama-nama sutradaranya. Meskipun demikian film ini bisa menyampaikan pemahaman akan Pancasila dengan baik dan mudah dimengerti sih. Bravo film Indonesia!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, di Semarang pas aku nonton sepi banget peminatnya kak malahan. Memang segmentasinya untuk Semarang yang kurang pas atau gimana aku juga kurang paham deh

      Hapus
  7. Aku jarang banget nonton film indo, suka sayang soalnya bakalan diputer di tv. Tapi liat review ini kok jadi pengen nonton ya, semoga waktunya masih sempet buat nonton, huhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Udah turun layar kak. Film begini ga akan lama nangkring di bioskop. Mayan susah peminatnya

      Hapus
  8. Ini nih film yang kemaren temen juga nyaranin lihat...
    bagus ya klo baca reviewnya... coba ada nobar sih sekalian diskusi gitu.
    jauh2 naik kereta pun gak masalah deh :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahahah andai ada nobar ya mba. Coba mba olip bikin deh biar nanti aku bisa ikutan hihihi

      Hapus
  9. Bingung mau komen apa? Yg jelas aku orangnya kalau nonton film selalu menikmati apapun jalan ceritanya. Haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahah, tipe semua boleh ya mba wkwkw

      Hapus
  10. Aq suka smw film yg menurut aq bagus dan yg pasti memang ada pesan moralnya, bukan sekedar ketawa2 yg mngkin memang bisa dijadikan sbg hiburan bagi beberapa orang.

    Sayangnya banyak masyarakat yg under estimate bgt sma film2 Indonesia. Padahal Indonesia punya bnyak film2 yg bagus, yg ga cuma modal artisnya aja.

    Tapi Sayangnya lagi aq ga sempet nonton film ini..

    Hiks..

    Btw thx reviewnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. tergantung kapan nontonnnya juga sih mba. kadang emang yang dicari yang entertainnya aja. kadang ada yang pengen nyari film berbobot hahaha.

      kapan2 kalo ada film beginian babat aja mba, ga akan lama di layar lebar soalnya wkwkw

      Hapus

Halo!

Terima kasih telah membaca blog www.dwiseptia.com. Semoga konten yang ada di blog ini bisa menginspirasi. Doakan saya bisa produksi konten yang lebih baik, ya!
Oh, ya kalau ada rekues konten silakan tulis di kolom komentar, ya! ^^