Photo by: Unsplash - @Arjunsyah_ Beberapa waktu yang lalu, aku dihadapkan pada suatu statement , yakni: Menjadi spesialist itu me...

Photo by: Unsplash - @Arjunsyah_

Beberapa waktu yang lalu, aku dihadapkan pada suatu statement, yakni:

Menjadi spesialist itu memang penting, tetapi akan lebih baik bila kita bisa menjadi seorang generalist.
Well, noted. I'm trying so hard to understanding this statement while other of my friend said this kind of sentences to me:

Sudah, kamu itu cukup jadi penulis saja. Jangan merambah ke dunia lain yang "bukan kamu." Beri kesempatan orang lain untuk unggul di bidang lain, seperti apa yang sudah kamu dapatkan saat ini. Beri mereka kesempatan yang sama untuk bertumbuh sepertimu.
I'm not trying do defense all the things I get.
Actually, after I hear the statement, it really made me suck in the deep though. Tahu alasannya? Ada kontradiksi yang menarik dari dua statement yang muncul dari dua kepala yang berbeda.

See, dua kepala yang artinya adalah ada perbedaaan perspektif yang memengaruhi tentang pandangan-pandangan seseorang terhadap sesuatu atau seseorang yang lain.

Being An Ambitious Person is Kinda Sucks


Honestly, aku terjebak dalam insecurity lingkungan yang selalu menekanku tak tidak habis-habisnya "mengataiku" bahwa aku adalah seseorang yang terlalu ambisius. Yes, u read it well. Septi is an ambitious girl. Seseorang yang penuh dengan ambisi dan teramat sangat visioner. But hey! Jangan dikira menjadi seseorang yang ambisius itu semenyenangkan itu. Ada banyak hal yang membuatku takut untuk tetap menjadi diriku sendiri akibat terlalu banyak di sekitarku yang bilang, bahwa:

Jangan terlalu menggebu-gebu jadi cewek, nanti cowok pada takut deketin, lho.
Jangan pinter-pinter, kasian nanti pada nggak bisa ngimbangin, lho.
Mbok ya jadi orang tuh yang biasa-biasa aja biar yang mau ngajak temenan nggak takut kalah pinter sama kamu. 
And so many statement like this yang buat aku jadi bener-bener mikir sekadar cuma nanya ke diri sendiri, "Memangnya salah ya kalau aku pengen pinter?" "Memangnya salah ya kalau aku ingin unggul dalam satu bidang?" "Memangnya salah ya kalau punya visi misi buat masa depan?" "Memangnya salah ya menjadi seorang cewek yang penuh dengan ambisi?" 

I'm getting tired of this dan akhirnya memutuskan untuk, baiklah, aku akan menjadi biasa saja demi bisa hidup dengan tenang dan tidak tersiksa dengan judgement yang terlalu banyak dari lingkungan di sekitarku.

---

And Now Life Dragging Me To Contradiction Perspective

Sebut saja, rekan kerjaku terang-terangan bilang bahwa being spesialist is good, but it better for me if I can be a generalist too. It drag me into the feeling like "WHAT THE KIND OF THIS SITUATION?" Setelah bertahun-tahun aku bersusah payah untuk, baiklah, aku harus menyadari bahwa aku punya kapasitas untuk tidak menganggap bahwa aku bisa di semua hal dan semua bisa. Sebab, ada orang lain yang lebih bisa untuk menguasai hal tersebut dan dia pekerjaan itu lebih efektif jika bukan aku yang handle.

Entah mengapa aku merasa ada yang salah, pada diriku mungkin. Ada pemikiran yang menjebakku pada lingkaran berpikir bahwa

Setiap orang itu terlahir menjadi perfeksionis dengan standar masing-masing yang mereka buat dan mereka jalani untuk diri sendiri atau untuk segala sesuatu yang berhubungan dengan dia.

No, ini tidak sama dengan "Lah, berarti kamu nggak bisa terima masukan, dong?" Bukan! Bukan itu maksudnya... Tapi, lebih ke andai memang kita dipaksa untuk menjadi seorang generalis, lalu kita menguasai berbagai bidang sedangkan kita bekerja sama dengan orang-orang yang lebih ekspert di bidang tersebut, yang terjadi bukan malah kita jadi belajar hal baru, melainkan kita jadi buang-buang waktu karena sebenarnya kita unggul di bidang lain, tetapi kita memaksa diri kita untuk ada di kondisi yang kita tidak bisa, namun memaksa diri kita untuk bisa. Hanya untuk sekadar mendapat predikat bahwa: Kita bisa melakukan apapun. 

Aku merasa bahwa menyelesaikan pekerjaan bukan hanya sekadar "menyelesaikan pekerjaan", melainkan seharusnya bisa memberikan value, impact atau perubahan yang bisa membuat kita menjadi spesialist yang nggak cuma sekadar punya title.

Simply way, let me said that done the task is not only about say to the world that "I'VE BEEN DONE THIS TASK," but I feeel I have to say "I'm done with this, I am doing this because of....... and after this i'm gonna doing...... for a better result."

Seperti yang aku percaya dan tanamkan pada diri sendiri bahwa melakukan kesalahan itu tidak sesederhana trial and error, tetapi adalah tentang trial and measure. Apakah kesalahan yang kita lakukan menjadikan kita sebagai seseorang yang lebih berkembang atau justru menjadikan kita sebagai seseorang yang penuh dengan makian karena terlalu memaksakan keadaan?

Silakan menjawab dengan perspektif masing-masing.

Salam.

Flashback Jakarta, 2015 Aku menantang diriku sendiri untuk bisa menjadi bagian dari salah satu digital creative agency yang pe...



Flashback
Jakarta, 2015

Aku menantang diriku sendiri untuk bisa menjadi bagian dari salah satu digital creative agency yang pernah mendapatkan best agency of the year di Jakarta. Alasannya sederhana, aku ingin mematahkan stereotipe bahwa anak SMK itu nggak akan bisa kerja kantoran di Jakarta karena background pendidikan yang cuma sampai pada sekolah menengah alias bukan sarjana. Iya, aku cuman lulusan SMK komputer yang bahkan nggak paham kalau disuruh ngulangin pelajaran itu lagi HAHAHA emang dasar gadungan ya aku ini :D

Aku yang keras kepala dan nggak suka diremehkan lantas menantang diriku sendiri untuk bisa ke Jakarta dengan uang pas-pasan dan bekal seadanya. Numpang nginep di kosan teman sampai kecopetan HP pun pernah aku alami hanya demi bisa membuktikan bahwa Jakarta tidak sekeras itu untuk anak sekolah menengah sepertiku.

But, hey! Jakarta keras bung.
Hari dimana aku interview dan kehilangan handphone-ku, aku bertemu dengan salah seorang pelamar yang dari perawakannya sudah jauh lebih dewasa dariku. Waktu itu aku masih berusia 20 tahun. Waks! Masih sangat muda ya ternyata.. Sekarang juga masih muda, kok! Muehehehe :))

Back to the topic
Aku masih ingat betul ketika mas-mas pelamar (sebut saja begitu) ngobrol denganku, kira-kira seperti ini:

"dari mana, Mba?""saya dari Semarang, mas.""wah, jauh sekali ya Semarang. Lulusan kampus UND**, ya?""Oh, enggak kok, mas. Saya cuma lulusan SMK.""Hah, jauh-jauh dari Semarang dan cuma lulusan SMK? Memang bisa ya mba masuk kantor sini?" "Hahahaha, bismillah aja, mas. Emang masnya lulusan mana?""Oh, saya baru S2 di ....... dan sudah berpengalaman sebagai content writer selama 7 tahun di perusahaan X.""Waaa hebat. Keren dong, ya. Punya blog?""Ada, dong di www.xxxx.blogspot.com""Woh, masih blogspot ya, mas?""Emang mba ngerti blog? Punya emang?""Ada, mas di www.dwiseptia.com :)"
Daebak! Aku minder bukan main ketika diajak ngobrol. Tapi di sisi lain, aku semakin tertantang untuk menunjukkan kepada semesta bahwa aku nggak harus jadi sarjana dulu untuk bisa dapat kesempatan bergabung ke perusahaan yang aku impikan sejak lama, yaitu bekerja di Jakarta.

Singkat cerita, ketika aku dipanggil keruang interview, aku bertemu dengan senior content, manager dan HRD perusahaan. Guess what??!! Managerku bilang "Septi, sebenarnya saya mau test Septi nulis, tapi lihat blog Septi saya yakin banget pasti Septi cinta banget sama nulis, kan?" Aku tersipu sekaligus bersyukur telah mengenal dunia blogging saat aku tengah duduk di bangku SMK.

Dan, aku diterima karena aku seorang blogger dan suka nulis di blog! Awwwww... Sebagai syarat wajib, aku diminta untuk menuliskan kisah sederhana sebagai syarat sah interview siang itu. Aku lantas memiliki jabatan sebagai content writer di perusahaan di Jakarta pada hari dimana aku interview tanpa harus menunggu sampai 2 minggu hingga 1 bulan karena aku seorang blogger. I'm proud of being blogger! ^^


Jakarta mengenalkanku pada banyak hal tentang dunia kepenulisan yang aku alpa di dalamnya. Aku belajar banyak hal baru semenjak bergabung menjadi bagian dari tim konten. Aku belajar tentang bagaimana memilih dan memilah istilah yang tepat, bagaimana menulis singkat rapi atau menulis panjang tetapi tidak bertele-tele dan bagaimana membuat pembaca jatuh cinta dengan karakter tulisan kita. Yaaa, kayak yang kalian baca sekarang ini gengs! Heheu :) Kalian jatuh cinta nggak sama tulisanku? Ah elah genit amat ini bocah HAHAHA

But, seriously! Jakarta teach me a lot of things. I'm feeling like I'm the new one. Lebih dari apa yang aku bayangkan, aku jadi mengerti tentang dunia periklanan yang teramat sangat dekat dengan dunia kepenulisan. Satu yang nggak bisa aku lupa adalah ketika managerku bilang "Konten itu cuma dasar, pengembangannya banyak sekali. Jadi, kalau Septi mau benar-benar jadi hebat, Septi harus jadi penulis hebat dulu." Well noted, mas! I've been do it and here I am right now :)

Setelah memahami tentang dasar-dasar kepenulisan dengan caci maki sebagai makanan sehari-hari, aku dihadapkan pada dunia Search Engine Optimisation, Search Engine Marketing, Social Media Management dan Digital Marketing alias dunia periklanan yang sejak dulu kala aku idam-idamkan. Yup, aku mengincar posisi ini sejak lama. Aku belajar dengan otodidak demi bisa duduk di kursi panas dan menjabat sebagai seorang Digital Ads Specialist. Uwuwuwuw rasanya kayak naik roller coaster ternyata menjadi seorang pengiklan yang mengelola konten klien untuk bahan iklan demi bisa meningkatkan awareness, reach, engagement dan impression. Duuuuhhh ini istilah emang bikin pusing :)



Time flies..
Ibuku memintaku untuk kembali ke Semarang. Dan bagiku tidak mudah untuk kembali dari perantauan ke tempat asal yang tidak jauh lebih maju dari Jakarta. Sedih, depresi dan tentu saja bingung harus menjadi seperti apa. Tapi bersyukur, aku sudah mengantongi cukup ilmu untuk bisa membuatku menjadi seseorang yang cukup bisa berdikari dengan profesiku, yaitu menjadi seorang blogger dan digital nomaden. Euuuhh istilahnya aneh-aneh banget, ya! Hahaha maapkeun. Dunia digital marketing memang sungguh bikin pusing tujuh keliling :))

People Change..
Ada beda dari Semarang dan Jakarta. It feels like Jakarta beat drive me crazy and Semarang make me crazy because I can't doing anything here. Oh God! I'm feeling so down live back to Semarang. Aku beradaptasi setengah mati, sebab biasanya di Jakarta hidupku penuh tekanan, aku dipaksa untuk bisa hidup dengan pace yang luar biasa cepat, waktu yang hampir tiada liburnya dan tentu saja lingkungan yang membuatku harus bisa menguasai banyak hal karena aku tidak akan menjadi siapa-siapa jika aku tidak menguasai apa-apa.

Tapi, Semarang membuatku menjadi seseorang yang lebih santai untuk bisa menikmati hidup. Bebas dari hiruk pikuk kota yang macet, orang-orang yang 24 jam hidupnya di jalan dan tentu saja Semarang tidak membuatku tertekan akan istilah-istilah aneh dalam dunia digital marketing ini. Eheu ternyata semua kota memang punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing ya :))

Digital Improve..
Digital yang kukenal dulu dan sekarang berbeda. Aku sungguh seperti terseret arus dan harus bertahan demi bisa berenang ke tepian *halah drama HAHAHAHA. Aku mengenal digital sebagai tempat dimana personal branding dibentuk, portfolio disampaikan tanpa harus bertatap muka dan tentu saja membangun sosialisasi lewat social media tanpa harus saling tahu dalam dunia nyata.

It's time to challenge myself to be a better me. Sebagai manusia yang cinta dengan tantangan aku menantang diriku sendiri untuk bisa belajar lebih dan lebih dan lebih lagi sampai akhirnya aku memutuskan untuk menjadi seorang freelancer alias digital nomaden, yaitu orang yang bisa bekerja di berbeda tempat. Yesss, bekerja dimanapun, masuk ke bidang apapun untuk bisa mengerti segala macam hal dan bertemu dengan orang dengan berbagai macam bentuk. Yeah, please let me introduce myself that I'm a content creator. Someone who create content in any way. 


Punya basic sebagai seorang blogger tidak lantas membuat pekerjaan sebagai content creator lebih mudah. Heeeyyyyyy!! Ngeblog itu nggak cuma sekadar nulis, apalagi jadi content creator :))))
Kadang suka gemas sama teman-teman yang menganggap bahwa pekerjaan sebagai seorang content writer, copy writer, advertiser dan content creator itu cuma sebatas NULIS DOANG. Yaiyasih cuma nulis, tapi nulis itu juga butuh skill alias nggak bisa sembarangan nulis :))

Apalagi, setelah memutuskan menjadi seorang digital nomaden alias orang yang kerjanya pindah-pindah, aku jadi punya tuntutan kepada diriku sendiri untuk bisa bekerja secara mandiri dimanapun dengan laptop yang harus selalu on setiap waktu karena aku harus siap kapanpun klien atau partner kerjaku membutuhkanku.


Selain itu, aku juga harus punya kemampuan yang nggak cuma sekadar nulis. Aku dituntut untuk bisa fotografi, videografi, editing foto dan video, desain grafis sampai harus bikin sketch atau typography ala ala untuk bisa mendukung segala sesuatu yang bisa menjadikan kontenku makin kece dan ciamik.

Yaaahhhh for the sake of content I have to be a good content creator too, right? Simple, kenapa harus bisa semuanya? Karena ngrepotin orang lain itu nggak gampang, belum lagi kalau yang direpotin pas nggak bisa. Duh, pokoknya jadi content creator itu nggak bisa bergantung sama orang lain. Belum lagi idealisme diri yang kadang gede banget. Uh! Minimal kalau mau jadi content creator itu menguasai basic dari berbagai macam hal, deh pokoknya heheu :))

That's why, biarpun nggak professional banget, setidaknya aku bisa membuat produksi kontenku semakin kaya dengan beragam jenis konten, seperti tulisan, foto, video, atau sekadar desain infografis apa adanya mueheheh yang penting nggak kosongan aja! :))

Pernah nggak sih punya pengalaman yang super duper mengesalkan saat laptopan? Yes, tiba-tiba laptop force close padahal banyak file yang belum disimpan! Nyesek beb :") Sedihnya nggak ketulungan kalau sampai harus mengulangi segala sesuatu dari awal. Aku selalu halu punya laptop yang dibekali dengan processor AMD APU A10-8700P dan GPU AMD Radeon R6 M340DX 2GB.

Boro-boro force close, kalau laptopnya sudah dilengkapi dengan processor ciamik tersebut nge-lag aja udah nggak mungkin banget hahahaha. Prosesornya aja bisa buat main gaming. Kebayang kan kalau cuma buat software content creator macam rentetan keluarga Adobe mah keciiiillll. Apalagi buat nonton film atau video? Wuuuhhhhhh jangan salahhhh bisa wuswuswus ini mah.. Enteng pisaaannnn :))


Cuma aku suka parno kalau laptop bagus itu biasanya berat dan bikin capek kalau dibawa kemana-mana alias nggak bisa menunjang mobilitasku yang luar biasa kayak belut kepanasan ini heheu. Iyak! Anaknya nggak bisa diem banget buset dah hahahaha. Pagi dimana, siang dimana, sore dimana, malam dimana, hari ini dimana, besok dimana, lusa ehhh udah pindah kota lagi. Emang dasar cacing kepanasan! Heheheu :))

Makanya aku punya angan-angan banget bisa punya laptop yang slim, desainnya kece dan hmmm harus bikin aku ngerasa prestige karena laptopnya membuat setiap pasang mata jatuh cinta. Cieeeee ah ini obrolannya kemana-mana banget yah hahaha. Jadi kebayang sama desain ASUS X555 seriesyang luar biasa menggoda kannnn hmmmm...


Ya gimana dong, nggak cuma unggul di performa, laptop ASUS X555 nggak cuma unggul di performa dan desain yang nyaris sempurna. Laptop ini bahkan punya keyboard yang terbuat dari alumunium dan bisa menyerap panas. Nah loh, makin betah laptopan nggak tuh ceunah!!! Belum lagi, baterai laptop ASUS X555 ini non removable yang artinya nggak ada tuh laptopnya benjol karena ada bagian baterai yang menonjol terlihat dan kadang justru mengganggu. Ringkas banget, kan?

ASUS X555 punya baterai jenis Li-Polimer yang daya tahannya 2,5 kali lebih kuat dibandingkan baterai Li-Ion Silinder. Bahkan setelah diisi ulang hingga ratusan kali, baterai ini tetap dapat menyimpan sampai 80% dari original kapasitasnya. Kita nggak sering cari colokan deh kalo mau kerja.

Parahnya, si ASUS X555 series ini baterainya adalah jenis Li-Polimer yang tahannya bisa 2.5 kali lipat lebih kuat dibandingkan dengan baterai Li-Ion Silinder di pasaran. Nggak ada ceritanya nyari colokan pas lagi nongkrong-nongkrong cantik deh pokoknya! :))

Gokilnya lagi, Asus X55 ini sudah dilengkapi dengan teknologi IceCool yang dirancang untuk mengatasi overheat yang biasa menyerang laptop pada umumnya. Teknologi ini mampu menjaga temperatur notebook di antara 28-35 derajat. Suatu suhu yang bahkan lebih rendah dari suhu yang dihasilkan oleh tubuh manusia. Kebayang kan nyamannya bisa berduaan dengan laptop berlama-lama tanpa takut laptop jadi panas atau overheat? :))

Detailnya performanya bisa dicek di gambar di bawah ini ya, gengs!



Bisa dibilang, ini laptop impian content creator banget banget banget, sih! Mau diajak nulis hayuk, mau diajak bikin desain hayuuukkk, mau diajak olah digital foto hayuuukkk, mau diajak edit video dan render video ya hayuuuukkk. Pokoknya semuanya hayuuukkk dah!!! Udah paket lengkap pake telor ini mah bisa nulis, ngedit dan olah konten dalam satu perangkat. Yang penting, entengnya itu lhooo bikin cintak!!! Bisa dibawa-kemana mana, tapi tetap bisa diandalkan kapanpun tanpa takut berat dan bikin nggak nyaman heheu.

Anyway gengs, kalian kalau penasaran bisa lihat-lihat Asus X555 ini d Tokopedia, lho! Karena eh karena si ASUS X555 juga dijual di Tokopedia! Asyik kaaann bisa review dulu sebelum beli dan jangan lupakan baca testimoni dan review tentang ASUS X555 ini yaaa. Dijamin kalian yang nggak pengen beli jadi pengen beli dan yang pengen beli jadi tambah nggak tahan buat beli sekarang juga! Ya gimana dong, bagus banget sih barangnyaaa heheu :))


Ini nih yang nggak boleh ketinggalan! KAMERA! Yes, as a content creator kamera harus banget aku bawa kemana-mana. Setiap kali aku menuju suatu tempat barangkali untuk jalan-jalan atau memang khusus untuk take foto aku selalu menyiapkan jepretan terbaik. Tapi yaa kadang memang hasil tidak sesuai ekspektasi kan, ya? HAHAHA

Makanya aku butuh laptop canggih buat membantu aku olah digital foto agar hasilnya makin bagus dan makin siap untuk diunggah ke blog atau social mediaku. Heheu, hidup di sosial media harus sempurna, bukan? Dan Laptop ASUS X555 akan membantu mewujudkanku menjadi sesempurna itu karena kemampuannya yang luar biasa mumpuni bagi content creator sepertiku :))



Last but not least, I always admire a content creator di bidang apapun itu. Bagiku, jadi content creator itu nggak gampang dan bisa jadi bagian mereka itu such a gift, sih karena nggak semua orang bisa mengerjakan banyak hal dalam waktu yang bersamaan. Repot beb kalau nggak bisa bagi pikiran dan waktu dalam satu waktu. Apalagi kalau deadline menyerang. Euuuhhh jangan ditanya pusingnya heheu!

Aku paling seneng sama content creator yang bisa menciptakan desain dan video. Aku nggak bisa soalnyaaa huhu, nggak pernah bisa bikin desain semaksimal yang mereka bikin :") Pokoknya content creator itu emang juarakkk!!! Btw, kalau sambil ngerjain jangan lupa siapkan cemilan biar nggak bosen, ya! Menghadapi deadline juga butuh tenaga bruh!!! HAHAHAHA

Salah satu proses content creator - sketch gambar dan menemukan ide sebelum akhirnya memvisualisasikan ide tersebut ke dalam gambar yang lebih matang


Tapi tenang, kalau sudah pakai ASUS X555 mah semuanya jadi bereeeeessssss ~


Mau deadline lagi kenceng-kencengnya, semuanya bakalan aman. Laptop X555 kan udah ciamik banget dilengkapi dengan baterai jenis Li-Polimer, Teknologi IceCool, dan Prosesor AMD®Quadcore A10 yang mantap banget untuk mendukung kegiatan content creator yang nggak jauh-jauh dari dunia blogging, editing gambar, rendering video, dan membuat infografis untuk kebutuhan content masa kini.

Jadi kapan kamu punya laptop ASUS X555? :))

Salam,

yang kamu cari yang kamu butuhkan yang kamu inginkan untuk ada menemani pagi, siang, malammu menemani sehat hingga sakitmu ...



yang kamu cari
yang kamu butuhkan
yang kamu inginkan untuk ada
menemani pagi, siang, malammu
menemani sehat hingga sakitmu
menemani luang dan sibukmu

barangkali bukan aku
yang tangannya ingin kamu genggam
yang malamnya ingin kamu bahagiakan
yang bersamanya kamu rasa surga begitu dekat adanya

barangkali bukan aku
yang pantas mendapatkan seutuhnya kamu
yang akan kamu bagi senang dan sedihmu
yang jikalau kamu butuh, namanya akan kamu panggil untuk pertama kali

iya, barangkali memang bukan aku
orang yang akan kamu peluk saat kamu resah
orang yang kamu kecup setiap kali kamu beranjak tidur
orang yang akan kamu ajak berdiskusi tentang lelahnya hari yang kamu jalani

barangkali memang bukan aku...

“Ini, untukmu” katamu sambil memberiku sepucuk ilalang dalam perjalanan pulang menuju basecamp. Aku menerimanya dengan tersenyum. ...


“Ini, untukmu” katamu sambil memberiku sepucuk ilalang dalam perjalanan pulang menuju basecamp.
Aku menerimanya dengan tersenyum. Sambil memutar-mutar ilalang itu, kamu berkata, “aku mungkin tak seromantis laki-laki lain yang memberikan bunga kepadamu setiap waktu. Tapi aku akan memberikan apa-apa yang ada dalam diriku yang orang lain bahkan belum tentu kepikiran untuk memberikan itu kepada seseorang yang ia cinta.”

Aku senyum-senyum sendiri. Masih memutar-mutar ilalangku, aku meletakkannya pada tas carrier yang kugendong di belakang. Kuletakkan pelan-pelan agak tak rusak – agar sesampainya di rumah bisa kuabadikan di tengah-tengah buku-ku dan menyimpannya sebagai kenang-kenangan darimu.

Mas tahu? Apa-apa dalam diri mas mungkin bukan biasa saja bagi mas. Tapi, tidak bagiku. Apa-apa dari diri mas itu tidak ternilai harganya. Aku tidak pernah bisa membayar serupiahpun gelak tawa yang mas ciptakan untuk bisa membuatku kembali baik-baik saja ketika dunia begitu kejam kepadaku.

Aku tidak pernah mengerti bagaimana menghadapai diriku sendiri yang mudah sekali tantrum - marah - kecewa berlebihan dan terlalu banyak mau. Tapi mas bisa. Mas bisa melakukannya dengan baik disaat aku sedang dalam kondisi tidak baik.

Ilalangnya layu, bunga-bunganya pudar. Aku lupa bahwa ilalang bukan bunga yang bisa disimpan. Tapi aku janji, kenangan ilalang dalam perjalanan menuju pulang itu akan selalu kujadikan kenangan yang menyenangkan – yang tak semua pasangan bisa mendapatkan kesempatan yang sama seperti aku.

Terima kasih, mas. 

Gn. Andong, Magelang – 4 Agustus 2018

Apa impian terbesarmu dalam hidup? Akan selalu ada impian yang benar-benar menjadikan kita menjadi pemimpi dalam waktu yang lama. Aka...


Apa impian terbesarmu dalam hidup?

Akan selalu ada impian yang benar-benar menjadikan kita menjadi pemimpi dalam waktu yang lama. Akan selalu ada hal yang membuat kita lebih teguh untuk bersujud, sambil mengurai air mata dan membiarkan lantai basah karena sesenggukan yang tak berkesudahan.
Akan selalu ada hal-hal yang membuat diri kita bersabar lebih lama, meski kita tidak tahu sampai kapan batas sabar sebetulnya.

Sebagai pejuang nikah muda, aku selalu membayangkan momen dimana aku bisa menemukan pangeran berkuda putihku dan bersiap bergegas bersamanya menjemput restu dari orang tuaku. Sebab, baktiku akan berpindah kepadanya.

Namun, ada dua hal dalam hidup ini yang begitu ingin aku rasakan. Satu kali dalam seumur hidup yang tidak akan aku lupakan, satu hal dalam hidup yang akan membuatku tidak akan pernah lupa.


  1. Shalat berjamaah dengan Bapak, dan
  2. Dinikahkan oleh Bapak

Mungkin kalian mengira ini sederhana, tetapi tidak buatku. Lahir di tengah-tengah keluarga dengan latar belakang agama yang berbeda membuatku harus siap dan ikhlas untuk tidak merasakan kedua hal tersebut.

Aku selalu membayangkan betapa indahnya menjadi seorang makmum atas Bapak, bersama Ibu dan Mas Rio, kakak kandungku. Bagiku, pemandangan keluarga yang berjamaah, bapak dan anak terutama -- adalah pemandangan yang mahal buatku. Pemandangan yang tidak akan pernah cukup untuk membuatku bersyukur karena telah diizinkan untuk merasakan lewat mata dan hatiku secara langsung. Bahkan, menuliskannya saja sudah membuat jantungku berdebar dan kantung mataku penuh akan air.

Setidaknya hatiku tidak mati ~


Terlahir menjadi anak bungsu dari keluarga berkecukupan dan hanya punya 1 kakak, membuatku mau tidak mau dan suka tidak suka harus menjadi pribadi yang tanggung. Sebab, sejak kecil aku dan kakak terbiasa untuk bekerja agar bisa tetap jajan di sekolah dan tidak memberatkan orang tua kami.

Kakakku terbiasa membantu di bengkel, sedangkan aku membantu berjualan makaroni di sekolah dan berlanjut menjadi admin warnet. Setiap hari, kami jarang bertemu. Apa hubungannya dengan Bapak?Tidak ada. Hanya saja, kesibukan kami yang menyita waktu membuat masing-masing dari diri kami terlalu asyik di luar dan kembali ke rumah dalam kondisi yang lelah dna tidak mungkin untuk bercengkrama.

Boro-boro ngobrol, berpapasan muka saja jarang sekali. Artinya? Aku yang berharap bisa menjadi makmum atas kakakku pun harus rela untuk mengubur impianku dalam-dalam. Cukuplah aku diberi nikmat untuk bisa bersujud sendiri di lima waktuku meski dalam lubuk hati masih ingin merasakan bagaimana surganya bisa berjamaah bersama bapak atau masku sendiri.

Menjelang Dewasa . . . 

Menjelang dewasa -- melawati masa remaja yang peniuh dengan suka cita, masih ada harap yang tersimpan begitu rapat dari lubuk hati terdalam.

Impian sederhana yang ketidakmungkinan untuk mewujudkannya melebihi apapun yang aku inginkan, setidaknya untuk saat ini.

Dinikahkan Oleh Bapak dengan Beliau sebagai Waliku


Kalian tidak akan mengerti bagaimana sesaknya dada ini menyimpan impian sederhana ini dalam jangka waktu yang lama. Sejak aku mengerti bahwa menikah butuh wali, hingga aku menyadari bahwa suatu hari disaat hari itu tiba, aku tidak bisa mendapati Bapak memberikan restu atas laki-laki pilihanku sebab Beliau bukan waliku.

Bagaimana rasanya patah hati, mungkin tidak akan sesakit dan sepedih ini.

Sujudku Mungkin Kurang Lama


Hingga waktu yang terlah terlewatkan dan air mata yang telah kuhabiskan tak jua mmebuatku pada akhirnya mendapati apa yang kuinginkan dan kucita-citakan.

Sujudku Mungkin Kurang Lama


Sampai-sampai aku harus menjadi seseorang -- gadis yang lagi-lagi harus mengubur impiannya dalam-dalam karena memang memaksakan kehendak bukanlah sesuatu yang pantas dalam kasus ini.

Benarkah demikian adanya?

NS: Menuliskannya sambil menahan air mata, sambil membayangkan betapa indahnya pernikahan teman-teman yang didalamnya ada restu dari walinya yang tidak lain dan tidak bukan adalah Bapaknya sendiri.

Salam,

"biar pendek, puncak Gunung Andong selalu menawan untuk para pendaki..." Gimana gimana, setuju nggak saja kuot terbijaq a...

"biar pendek, puncak Gunung Andong selalu menawan untuk para pendaki..."



Gimana gimana, setuju nggak saja kuot terbijaq ala Septi? wqwqwq. Jian tenan ya kalau bikin kuot sok sokan bijaq padahal serampangan HAHAHAHA. Padahal naik gunung pendek buat gaya-gayaan , tapi gayanya sok-sokan selangit wkwkw ya Allah maap maap kalo nyebelin intronya HAHAHA.

I've gotta so many problem and it really made me feeling so lost. Ngerasa kayak nggak guna karena terus-terusan nyalahin diri sendiri dan berakibat fatal sampai kena insecurities syndrome. Nggak enak banget beneran. Sedih!!!

Terus gimana?

Sebelum melanjutkan chapter kali ini, lemme tell you guys a quote, first:

"don't judge every process if you really never know the real condition of people u judge."

Sebuah tamparan datang dan memporak-porandakan hidupku. Ini parah, sih. Secuek ini bisa kena insecurities syndrome itu parah-rah-rah. Siapa yang parah? Semuanya. Either yang ngejudge sembarangan atau aku yang kena judge dan akhirnya nyalahin diri sendiri nggak ada habisnya. Lalu jadi merenung, aku pernah kayak gini ke orang lain juga nggak, ya? Ya Allah, kalau pernah rasanya pengen minta maaf udah pernah kejam banget...

Oke, singkat kata.. Gara-gara kejadian simple yang berdampak besar ke hidupku itu, aku jadi linglung bukan main -- diajak ngomong nggak fokus, kerjaan jadi typo semua (maklum, anak konten mainnya ngetik-ngetik muluuukkk), pulang jadi malem terus, di jalan bawaanya ngelamun, and many things! Saking nggak pernahnya sekacau ini gara-gara orang luar, ada dong yang nanya "hah, Septi bisa stress? Gila siiihhhhhhhh seorang secuek Septi aja bisa begini."

HAHAHAHAHA

INSECURITIES can beat everyone, dude ~


Berkali-kali cari solusi. Solat, ngaji itu sudah pasti. Pikiran melayang-layang, tapi kewajiban nggak boleh sampai terlewatkan. Bedanya, fokusnya agak kepecah. Bawannya emosional banget -- mo nangis, tantrum bukan main dan sekacau itu. Semua orang kena efeknya -- komunikasi nggak lancar, nggak enak diajak diskusi, jadi penyendiri dan yaah begitulah :(

Dan alam selalu memanggilku ~

Aku nggak tahu sih, tapi apapun, kapanpun kalau pikiran lagi cupet, ati lagi senep (eh maap ini bahasa campur-campur wkwk), aku selalu keluar, cari angin, cari suasana biar enakan. Dan gunung, selalu jadi pelarian. Gunung atau air terjun -- yah, kemanapun asal aku bisa ke alam bebas. Yhaaaaaa begitulah anak rimba hidupnya di alam syekali wqwq.

Aku memutuskan untuk pergi ke Gunung Andong, gunung yang tidak terlalu jauh dari rumahku. Butuh waktu sekitar 2 jam untuk bisa sampai ke basecamp Gunung Andong dengan mengendariai motor. Nggak terlalu jauh, tapi nggak dekat juga, sih. Tapi aku senang akhirnya bisa ke gunung.

Aku berangkat dari Semarang sekitar pukul 11 malam. Iya, malem banget. Soalnya sekarang anak kantoran yang mana nggak bisa capcus kapan aja kek biasanya. Hahahah cieee anak kantoran :)))). Dan epicnya, aku mau naik gunung nggak punya peralatan. Hmm, as always sewa sewa dan sewa. Tapi, kali ini nggak HAHAHAHAH. Punya bos yang punya hobi muncak really help me. Aku ditawari minjem peralatan karena dia punya banyak. Duh, bikin bahagiak ternyata punya bos yang suka daki jugak hwehwehhweeee :)))

Jadi, hampir semua peralatan, kayak tenda, kompor, nesting, headlamp, matras minjem semua wkwkwk. Plusnyaaa, dipinjemin tas jugak! Ini anak nggak modal banget ya aku hahahahha. Tapi aku punya tas, matras dan headlamp juga kok hahaha. Kompor sama nestingnya yang emang belum punya. Someday lah beli beli beli XD

Naik Andong via Sawit


Jadi, ada 3 jalur untuk naik ke puncak Andong, yaitu via Sawit, via Gogik dan 1 lagi aku lupa hahahaha. Terakhir naik itu via Gogik pas sama Reza dan Anggit DAN NYASARRRR hahahahaha. Tulisannya bisa di baca di sini:


Lalu, aku memutuskan untuk naik via sawit karena sedikit trauma bakalan nyasar lagi wqwqwq. Anaknya lemah sekali yha XD. Singkat cerita, aku sampai di basecamp sekitar pukul 00.30 WIB. Sudah dini hari dan gunung sedang dingin-dinginnya. Eh, nggak gunung juga, semuanya sedang dingin-dinginnya parah ketika aku memutuskan untuk naik gunung saat itu.

Hampir semua basecamp penuh. Padahal, aku naik Sabtu pagi, bukan Minggu pagi. padat, meskipun nggak se crowded kalau Hari Minggu, sih. Dan aku memutuskan untuk masuk ke basecamp dan leyeh-leyeh menghangatkan badan sejenak sebelum memulai perjalanan.

Pukul 2 pagi, aku memutuskan untuk naik karena aku sadar betul aku akan ngantuk di jalan dan tidur selama pendakian. Yas, aku punya kebiasaan tidur di tengah-tengah perjalanan. Kalau ngantuk, aku biasanya take a break, nyender, terus merem gitu aja. Hampir nggak pernah nggak tidur kalau pendakian sih, selalu saja begitu hahaha padahal dingin banget. Tapi dinginnya kalah sama ngantuk meskipun kebangunnya gara-gara kedinginan juga *eh gimana hahahaha..

Butuh waktu sekitar hampir 3 jam untuk bisa sampai ke puncak. Ini sudah plus istirahat dan tidur dengan beban di pundak. Yaaaa kalau nggak bawa tas dan jalan terus bisa lah 1,5 - 2 jam sampai ke puncak. Nggak terlalu jauh, kok. Medannya pun masih okay buat pemula. Makanya, banyak banget yang ke gunung Andong mengingat puncaknya dekat dan medannya mudah.

Sunrise, Aku Padamu!


Kamu tahu apa yang menyenangkan dari perjalanan? Prosesnya! Iya, proses perjalanan untuk bisa sampai ke puncak itu selalu menyenangkan. Mendengarkan adzan subuh yang menggema bersaut-sautan, melihat gemerlap lampu desa dari kejauhan, menyaksikan seribu bintang tepat di atas kepala kita. Semuanya, terasa sempurna. Menuliskannya saja bisa membuatku tergila-gila. Bayangan itu masih nyata terpampang di kepalaku.

Makin ke puncak, makin indah. Tentu saja, melihat sunrise yang menampakkan dirinya perlahan dari balik gunung tetangga sungguh tak terbayarkan dengan apapun jua. Bohong kalau nggak puas setelah sampai puncak meski harus berlelah-lelah. Semuanya terasa terbayar lunas. Legaaaa banget rasanya Masya Allah lihat pemandangan seindah itu setelah berjuang mengalahkan diri sendiri.

Pada akhirnya, yang perlu kita taklukan adalah diri sendiri, bukan? Bukan orang lain, bukan pendaki lain, bukan medan yang kita tapaki, bukan pula rencana-rencana yang telah kita susun sedemikian rupa.

Di puncak aku tersenyum, melihat matahari menampakkan dirinya begitu manis -- tersenyum begitu apa adanya dan membuat kami semua, para pendaki, jatuh cinta :)