Digital Strategist Itu Biasanya Ngapain Aja Sih Kalau Lagi Internetan?

Sep, lo tu ngapain sih tiap kali kemana mana bawa laptop?
Harus banget ya gadget-an terus tiap kali pergi?
Kerjaan lo sebenernya apaan sih, Sep?


Aku sediiihhh, aku sediiiiiih dengan pertanyaan ini wkwkwk. Meskipun sedih, aku cukup senang mendengarnya dari teman-teman yang penasaran dengan apa pekerjaanku. Yes, meskipun kadang sebel juga kalau digreseni, aku tetap saja cinta sama mereka. Sebab, dengan mereka bertanya demikian, artinya mereka perhatian sama aku. Iya, mereka berarti memperhatikan kegiatanku, to? Buktinya mereka sampai nanyain aku sebenarnya itu ngapain aja kegiatannya. Aih, seneng deh ada yang merhatiin hahahha. (dasar jombloooooo)

Jadi nih, banyak banget yang suka nanya Septi tu ngapain sih kegiatannya sampai bisa jalan-jalan terus padahal nggak kerja wkwk. Ya Allah ini beneran deh bukan omongan yang enak banget hahah. Aku kerja kok kerja, tetapi online as a digital strategist. Jadi, aku itu kerjanya bisa di mana aja selama ada internet dan laptop. Sama aaa satu lagi, colokan! Wakaka bravo!

Emangnya, Sep, kalau pas lagi open laptop dan internetan ngapain aja, sih?

Biar nggak salah paham, biar nggak ada yang ngira aku doing something, aku jelasin ya sedikit demi sedikit. Seorang digital strategist itu adalah anggota bagian dari digital marketing. Tugasnya ngapain? Tugasnya riset konten, analisis konten, terus baru deh buat planning. Jadi, setiap kali aku internetan, ya pasti minimal semenit dua menit ngerjain konten plan. Minimal, monitoring kerjaan klien gitu hehehehe.

Kok bisa sih, Sep dapat klien terus?

Alhamdulillah, sejak resign dari ex kantor Semarang jadi makin banyak klien. Alhamdulillahnya lagi, sudah nggak perlu jemput bola. Maksudnnya, sekarang kliennya yang dateng ke aku, bukan aku yang nyari. Jackpot pokoknya. Dan ini bisa terjadi karena doa ibu. Lah, kok bisa? Iya, karena ibuku nggak ridho aku kerja di Jakarta (lagi dan lagi), makanya ibu mungkin doain aku biar tetap di Semarang dengan kerjaan apapun.

Emangnya kerja freelance tu gimana sih, Sep?

Kerja freelance itu kerja  lepas. Kerja yang nggak harus ngantor, tapi tetep harus selesaikan project dari klien sesuai brief. Emang bisa gitu kerja tanpa ketemu dan koordinasi langsung? Alhamdulillah selama ini kerja selalu bisa begitu. Dan inilah kelebihannya kerja di dunia digital, semuanya serba digital. Selama ada internet mah semuanya aman-aman aja hehehe.

Sudah berapa lama jadi freelancer, Sep?


Kalau dihitung total sih sudah lama sekali, ya. Sejak aku SMK, saat masih putih abu-abu. Iya, sekitaran 5 tahun yang lalu. Tetapi, saat itu masih nyambi statusnya alias double job, fulltime dan freelance. Kalau fulltime freelance-nya baru satu dua tahun belakangan ini, sih. Dan ini udah full freelance banget. Jadi, 24 jam-ku dedicated untuk laptop dan smartphone tersayang. Pantes aja jomblo yeu, kan? XD

Jadi ya kalau ditanya tentang internet sehat itu kayak gimana, ya aku bakalan jawab:

internet sehat itu, adalah internet yang bisa membuatmu jadi semakin tahu banyak hal
baik itu yang membuatmu jadi makin kaya ilmu, kaya uang, dan kaya akan informasi
sebab, internet itu sesuai yang pasif, yang mana kalau bukan aku yang mengendalikan diriku sendiri, ya aku sendiri yang akan terima akibatnya. Dan bilamana internet itu tidak kupergunakan dengan baik, aku yang akan kena imbasnya.

Ibaratnya, internet itu pisau dan semua orang bisa pakai pisau
Bedanya, yang satu buat motong bawang dan sayuran
yang satu buat bunuh orang
tergantung tangan masing-masing

Pokoknya, baik baik deh sama internet. Bersyukur banget bisa hidup di zaman digital kayak gini. Aku jadi bisa kemana-mana tanpa harus terikat dengan satu kantor dan bisa belajar  banyak study case yang bisa bikin aku semakin ciamik Insya Allah. Ciamik dengan karya yang semakin dikenal banyak orang. Karyanya mungkin nggak terlihat secara kasat mata, tetapi setidaknya orang tahu bahwa ada brand yang terbantu karena aku hihi.

Jadi inget sama mba Dewi Rieka dan mba Prananingrum yang udah hits banget sama karya-karya mereka hahha. Aku pengen kayak mereka gitu, yang satu punya buku Anak Kos Dodol yang hits banget. Akunya masih gini-gini aja. Padahal ya internet selalu on setiap waktu. Ahhhhh, semoga saja suatu saat aku bisa deh nerbitin buku sendiri hehehe.

Menikmati Sajak Indah Sapardi dalam Film Hujan Bulan Juni

Aku ingin menjadi Pingkan yang hidup berhujankan puisi. 
Aku ingin menjadi Pingkan yang membuat Sarwono beku
Lalu menyalurkannya dalam bait kata bernada.

Lagi, aku dibuat jatuh cinta oleh film Indonesia. Bukan, bukan karena latar ceritanya, bukan pemeran utamanya, bukan pula alur ceritanya. Aku jatuh cinta pada Sarwono. Sosok Sarwono yang apa adanya. Tanpa banyak bicara, menyampaikan rasa dalam kata dan bisa membuat Pingkan jatuh cinta di pelukannya, tanpa paksa.


96 menitku dibuat jatuh cinta betul pada rangkaian kata demi kata film "Hujan Bulan Juni". Awalnya aku sempat meragukan Adipati Dolken saat akan memerankan sosok Sarwono. Mungkin akan aneh dan penjiwaannya kurang. Karakternya kurang pas untuk seorang seniman yang digambarkan Sarwono. Tetapi, memang nyatanya, sosok Sarwono tak butuh diperankan oleh seorang yang neko-neko. Sarwono punya jiwanya sendiri pada siapapun yang berusaha memerankan sosoknya.

Bagaimana mungkin seseorang ingin mengurai benang dari sapu tangan yang telah ditenunnya sendiri?

Aku tidak tahu persis apa yang dirasakan oleh Eyang Sapardi saat membuat satu bait puisi ini. Aku menikmatinya. Seperti ada magis dalam tiap bait bait yang Beliau tulis. Aku jatuh cinta semudah itu pada puisi karya Eyang Sapardi.

Peran Pingkan dan Sarwono



Aku merasa Adipati sukses menjiwai karakter Sarwono yang cenderung sederhana dan memang pantas untuk dicinta. Aku suka sekali bagaimana Adipati memerankan cara cemburunya Sarwono yang 'unik'. Aku suka cara Sarwono mencintai Pingkan, yang diperankan oleh Velove. Dari mereka aku justru belajar bahwa percaya itu penting. Dan jarak itu tidak berarti apa-apa. Sebab, cinta tahu di mana hatinya berada.



Scene ketika Sarwono menyisipkan puisi pada Pingkan selalu jadi favorit. Aku selalu suka setiap bagian itu. Caranya, sederhana, namun romantis luar biasa. Aku mendamba laki-laki seperti itu. Meski ada yang bilang bahwa punya pasangan romantis itu membosankan karena hanya dihujani kata-kata, aku merasa sebaliknya. Bagiku, memiliki pasangan romantis itu suatu anugerah. Sebab, aku tipikal orang yang tidak terlalu suka banyak bicara. Aku, lebih suka menuliskannya dalam kata-kata. Dan membuat pembaca berimajinasi secara bebas. Hidup dalam imajinasinya sendiri.

Puisi Sapardi, Sederhana, Tapi Begitu Sempurna



Ah ~
Jika harus mengeja
Aku tidak tahu harus berbuat apa
Yang aku tahu
Aku jatuh cinta
Pada Hujan Bulan Juni
Pada puisi
Pada peran
Para karakter
dan Pada Eyang Sapardi ~

Aku tidak bisa menjadi kritikus film kali ini. Andai aku bisa berdiri dan melakukan standing applause, mungkin itu yang akan aku lakukan. Sayangnya, aku tidak mungkin melakukannya di bioskop, bukan? Andai saja aku bisa, aku pasti akan melakukannya. Sungguh, aku akan melakukannya.

Boro boro mengeja, aku membacanya saja sudah dibuat lupa akan dunia. Aku dibuat jatuh cinta tiada habisnya. Aku tidak sedang melebih-lebihkan. Ini apa adanya. Aku suka setiap puisi yang ada di layar. Baik yang tertulis, atau yang dibaca secara puitis. Itu saja.

Aku tidak berekspektasi apapun selama menonton ini. Dan ternyata, aku merasa lebih baik. Dibuat jatuh cinta tanpa harus menanggalkan harapan-harapan ternyata membuatku lebih bisa menikmati film Hujan Bulan Juni. 8 dari 10 aku beri untuk film ini. Aku suka dengan plotting cerita, percakapan, pembawaan karakter dan semua latar yang ada dalam film ini. Aku, jatuh cinta ❤❤❤.

Kata-kata Sarwono Kepada Pingkan


Aku tidak takut kepada Beni, Aku takut pada Katsuo. Dua tahun kau akan bersama dia, Pingkan
Kau kan bisa melarangku pergi ke Jepang. Cukup itu
Aku tidak ingin menghalangimu ke Jepang, itu mimpimu. Kamu menginginkannya. Dan aku tidak ingin menjadi penghalang atas mimpimu.

*Scene di Jepang*
"Aku mau kirim kabar ke Sarwono," kata Pingkan pada Katsuo
Katsuo kecewa. Raut mukanya berubah. Padahal Katsuo itu sempurna. Tapi, aku suka ketika Pingkan berkata:
Sar, kamu memang dari Katsuo. Kamu sudah menang. Katsuo justru merasa kalah sebelum berperang, sebab, aku tidak henti memikirkanmu bahkan saat hadirmu tidak ada di dekatku. Katsuo kalah, Sar. Kamu memang justru tanpa hadir.

Terima kasih Eyang Sapardi, telah menjadi seorang Eyang yang kaya akan karya. Terima kasih telah menjadi seseorang yang menginspirasi, terima kasih telah melahirkan rangkaian kata kata yang membuatku jatuh cinta pada dunia sastra.

Terima kasih pula untuk mas Dedy Sudartoyo yang mau menemani menonton film Hujan Bulan Juni di bioskop beberapa waktu lalu. Aku bahagiaaa bisa menonton ini. Serta, untuk mas Haris Prabowo, terima kasih atas buku kumpulan puisi Hujan Bulan Juni sebagai hadiah khusus bersayarat yang diberikan untukku. Terima kasih karena mau menuruti adikmu yang banyak maunya ini :)

Terakhir,
Aku ingin menjadi Pingkan yang menemukan rumahnya di Sarwono,
yang meletakkan hatinya pada Sarwono,
yang tidak pernah kesepian sebab Sarwono selalu ada, di hati Pingkan

Salam,

3 Hal Tentang Rumah dan Kenyamanan yang Diberikan Olehnya

"Sebab rumah tidak harus selalu berwujud tempat,
Kadang ia berupa seseorang."

Rumah selama ini selalu identik dengan gedung, bentuk fisik dan bangunan yang di dalamnya ada seseorang yang tinggal atau ditinggali oleh seseorang. Padahal, rumah bukan hanya tentang tempat. Sebab, rumah bisa jadi adalah seseorang itu sendiri. Seseorang itu bisa membuat  kita berlama lama, betah bersama dengannya dan waktu seakan berputar lebih cepat saat kita bersama orang tersebut. Hm, baper baper XD. Ini bukan sekadar tentang pasangan lho, ya. Meskipun pasangan bukan cuma pacar sih, tapi Septi mau meluruskan bahwa postingan ini adalah postingan #antibaperbaperclub hihihi.

Bagi aku sendiri, rumah itu bisa di mana saja, bisa siapa saja dan bisa berupa apa saja, Aku selalu mendeskripsikan rumah sepaket dengan kenyamanan yang ada di dalamnya. Rumah itu biasanya bisa membuatku lupa akan masalah dan orang-orang biang kerok di dalamnya. Dan biasanya, rumah-rumah itu bisa membuatku nyaman pas lagi penat-penatnya. Rumah-rumah itu adalah:

Masjid, Tempat di mana Aku Bisa Berkeluh Kesah


Selain tempat ibadah, bagiku, masjid adalah rumah di mana aku bisa berkeluh kesah atas lelah. Saking suka ngerasa nyamannya sama masjid, aku sampai punya masjid favorit, lho. Namanya Salman, iya, Masjid Salman yang ada di wilayah kampus Institut Teknologi Bandung.


Aku pertama kali tahu masjid ini ketika dulu aku tes di ITB. Kala itu, travelku mengantarku ke sini, sedangkan aku dan temanku masih belum tahu ke mana kami harus pergi dan di mana kami harus tinggal. Hingga akhirnya, saat melaksanakan shalat dhuhur, aku akhirnya menginjakkan kaki di Salman, ITB. Masya Allah, dari sekian masjid yang pernah aku sambangi, ini adalah masjid terluarbiasa yang pernah aku tahu.

Bangunan arsitekturnya sederhana sekali dan ketika masuk di dalam suasananya luar biasa tenang. Ditambah lagi, banyak sekali jamaah yang tadarus selepas shalat. Duh, auranya itu lho bikin susah move on. Dan sampai hari ini, aku punya impian bisa melaksanakan akad nikah di sana ehehehe. Asik kali ya bisa akad di sana, pasti kerasa banget sakralnya. Eh, tapi di mana aja akad nikah berlangsung pasti sakral deng ehehehe.


Dan belakangan ini aku lagi naksir banget sama masjid di hutan mangrove, Pantai Indah Kapuk. Untuk ukuran tempat wisata, di sini masjidnya dabes banget nget nget!!! Arsitekturnya mirip, dari kayu gitu dan ini ngingetin banget sama masjid Salman. Adem banget rasanya. Bedanya, di sini sepi. Biar gitu, masjid ini sukses bikin aku ga bisa muvon dari ITB. Yang ada makin cinta deh sama Masjid Salman hehehehe. Kalo nggak percaya, tengok aja deh, tengok!

Teman-teman yang Selalu Support


Someone reliable.

Mungkin ini lebih tepat untuk menyebut orang-orang yang selalu support di hidup aku, upside down dan lika-liku hidup yang kadang bikin nyerah nggak mau lanjut. Orang-orang ini bisa berupa orang tua, teman-teman, dosen dan siapapun yang selalu support kapanpun dan di manapun aku berada. Orang-orang ini selalu percaya bahwa apapun yang aku lakukan itu memang tidak selalu benar, tetapi itu yang menjadikan aku menjadi pribadi lebih baik seperti saat ini.



Saat merasa penat di rumah, aku biasanya menjadikan mereka pelampiasan. Entah dengan hanya bertemu dan bercanda tawa hingga bercerita panjang lebar. Saat aku merasa jenuh dengan pekerjaan, kadang orang rumah, ibu bisa menjadi seseorang yang membuat rumah tampak lebih baik. Meski tak bisa bercerita panjang lebar dengan beliau, setidaknya dengan memandang ibu, semuanya bisa tampak menjadi baik-baik saja. Aku, masih punya Beliau alhamdulillah.

Alam Semesta dan Isinya

Yang tahu aku, pasti paham banget kalau aku anaknya nggak bisa diem alias jalan melulu. Ya ke gunung lah, ke pantai lah atau ke mana aja lah yang alam-alam gitu. Udah paham banget deh kalau aku ini sebangsa belut berbentuk manusia saking hobinya jalan-jalan dan nomaden abis bisa sampai pindah kota.


Emang nggak tau kenapa, buat aku jalan-jalan ke alam terbuka itu healing banget. Bisa banget bikin stress ilang yaaaahhh meskipun juga begitu balik malah stress lagi, sih. Tapi, paling tidak ada rumah yang bisa membuatku nyaman. Yaaa, di alam terbuka itu. Aku merasa nyaman dengan melihat hamparan pemandangan dan segala deburan ombak di pantai yang berirama. Dan yang demikian itu membuatku merasa seperti di rumah. Tenang, lepas dan bebas dari segala masalah.

Namun, harapanku untuk rumah impianku tetaplah sama, yaitu harus mengandung unsur-unsur tersebut ataukah memang dekat dan bisa menjangkau 3 hal di atas. Karena semegah apapun rumah, akan sangat percuma bila tidak ada kenyamanan yang diberikan di dalamnya, bukan?

Ah, jadi inget kawan dari grup Gandjel Rel mba Archa Bella dan mba Dian Nafi yang juga arsitek hih. Mereka ini sudah berpengalaman mendesain interior rumah. Ah, jadi flashback kan karena dulu pengen jadi arsitek biar bisa bangun rumah sendiri hehehe. Semoga semoga semoga bisa jadi arsitek beneran dengan nikah sama arsitek *eh hahaha..

Salam,