Tentang apa yang terjadi pada diri kita esok, kita tak akan pernah benar-benar tahu, kan?
Pagi itu, aku masih bermanja meminta untuk dibawa ke gunung oleh suamiku. Setelah mengantar anak-anak ke sekolah, aku meminta suamiku membawaku menikmati udara segar di Rahtawu, salah satu daerah di Kudus yang masih asri dan menenangkan. Di suatu desa yang letaknya 45-60 menit dari kota yang jalanannya masih banyak yang tak rata.
Hari masih pagi dan kami masih menikmati hari-hari bersama. Kami menuju Joglo Dopang di kawasan Rahtawu yang ternyata tutup dan melanjutkan perjalanan ke kafe Seribu Batu Semliro. Sebuah kafe di atas gunung yang punya pemandangan menakjubkan dan tak ternilai.
Di kafe ini, awalnya hanya ada kami berdua. Kami memesan kopi arabica dan robusta, indomie goreng dan bakso goreng. Di bawah pohon yang rindang, kami duduk berbincang dan menertawakan hidup kami yang selalu ada saja hal menarik di dalamnya. Alhamdulillah.
Sepulang dari Seribu Batu Semliro, kami masih mencari bubuk kopi untuk dibawa pulang. Sambil berbincang ke petani kopi yang sedang menjemur biji kopi di halaman, kami tak menemukan satu dua bungkus kopi untuk dibawa pulang. Namun, setelah turun beberapa puluh meter, kami akhirnya menemukan penjual kopi rahtawu yang menyediakan bubuk kopi dalam gramasi yang bermacam-macam.
100 gram, 250 gram, 500 gram dan 1 kilogram.
Mulai dari light roast, medium roast hingga dark roast semauanya ada di warung kecil ini. Aku membawa pulang kopi dark roast 250 gram untuk menikmatinya di rumah karna aku memang sesuka itu dengan aroma dan rasa kopi yang bahkan rasanya tak tertelan untuk beberapa orang karena terlalu pahit.
Sepulangnya dari Rahtawu, perasaan senang dan bahagia masih lekat. Rasa dari segelas kafein pun masih terasa jelas di sela-sela lidah. Sampai hari Minggu pagi tiba, kami masih berdua berjalan-jalan di kawasan taman Oasis dekat rumah kami.
Sesampainya di Rumah, Tiba-tiba Kepala Berputar tak Karuan
Saat naik motor akan pulang, tiba-tiba kepalaku rasanya berputar. Mungkin, aku terlalu lelah karena rute jalan baruku bersama suamiku. Kami masih sempat makan lentog, meski rasanya ingin sekali terkapar. Setelah itu kami pulang dan aku masih sempat memasak dan menyuapi anak-anak sarapan.
Lalu,
"mas, aku izin istirahat sebentar, ya. Kepalaku rasanya berputar."
Waktu baru menunjukkan pukul 10. Aku mendadak ingin memejamkan mata karena tak kuat dengan tubuhku yang mulai menggigil. Aku terpejam tak berdaya sembari anak-anak menonton TV di akhir minggu. Aku tertatih untuk bangun dan ternyata setelah dicek, demamku 39.3 derajat. Kepalaku yang awalnya hanya pusing dan sedikit berputar, justru terasa semakin hebat dan tak tertahankan.
Janji Bersama Kawan pun Dibatalkan
Hari ahad itu, kami sudah ada janji temu dengan teman-teman kami di kafe untuk sekadar life update. Tapi hingga ashar tiba, kondisiku tak kunjung membaik dan justru semakin parah. Rasa-rasanya badanku justru terasa melayang dan entah susah didefinisikan. Terasa menggigil dan sakit di tulang dan aku merasa sangat tak sehat.
Aku sudah siap, suami siap dan anak-anak pun sudah siap. Kami hampir menuju kafe, tetapi anak-anak meminta untuk diajak ke warung soto dulu karena mereka belum sempat makan siang. Kami pun akhirnya ke warung soto dan aku yang tak kuat meminta untuk pulang segera karena sepanjang perjalanan kami menggigil hebat.
Selama di jalan, aku hanya bisa memejamkan mata dan menahan agar tubuhku tak menggigil dan semakin parah. Suamiku telah memintaku untuk bersegera ke rumah sakit, tetapi aku menolak karena pasti akan berantakan jika memang benar aku harus dirawat ke IGD.
Sore itu, aku hanya bisa memejam dan kuminta suamiku membatalkan janji temu bersaama teman-teman. Suamiku mulai khawatir karena demamku yang tak kunjung turun dan aku yang tak terlihat membaik. Kemudian suamiku pun membekamku dengan harapan aku bisa membaik setelah dibekam.
Qadarullah wamaa sya'afa'ala...
Bekam telah selesai, tapi kepalaku rasanya masih berputar hebat dan akupun masih lemas bukan main. Aku masih belum bisa beranjak dari kasur selain untuk solat saja. Hingga malam tiba, suamiku mencarikanku obat dan makan untuk anak-anak sedangkan aku masih tak berdaya.
Akhirnya, IGD Menyambutku
Long short story, aku yang masih bergelut dengan anakku yang sedang mimisan harus terus berusaha kuat bolak-balik rumah sakit untuk memastikan kondisi anakku baik-baik saja. Hingga akhirnya di hari Rabu, setelah aku sok kuat dengan kondisi badan yang hanya bisa terkapar itu, aku memutuskan untuk ke rumah sakit dan langsung menuju IGD.
Selasa malam, aku sudah mencoba ke IGD, tetapi kondisi IGD yang penuh sungguh membuatku ingin berusaha tetap kuat saja. Namun, apa daya ternyata rasanya antara hidup dan mati. Rabu, aku menuju RS Sarkies dan penuh, lalu ke RS Loekmono Hadi dan penuh juga. Akhirnya kami pasrah dan menuju RS Kartika Husada dan hanya kamar kelas 3 tersedia di sana.
Aku yang sudah pasrah akhirnya terbaring di kamar IGD. Suntikan infus dan jarum yang digunakan untuk mengambil darah sampel laboratorium pun tak terasa menyakitkan. Demamku yang stabil di 39 derajat lebih itu jauh lebih menyakitkan saat itu. Dokter IGD pun terheran melihat kondisiku yang seperti telat dibawa ke rumah sakit.
Dokter kira, aku hanya demam. Tapi ternyata, cukup kompleks. Demam yang tinggi, tubuh yang terasa melayang dan menggigil, batuk yang menggigil, napas yang tersengal-engal, perut yang terasa sakit di area lambung dan hati.
Paracetamol dan antibiotik dimasukkan ke tubuhku melalui cairan infus. Perlahan-lahan, demamku turun dan rasa menggigil di tubuhku mulai pudar. Aku mulai didorong di kursi roda dan dipindahkan ke kemar kelas nomor 3.
Aku akhirnya bisa terbaring dengan tenang, meski di kepala yang terpikirkan hanya anak-anak di rumah----yang satu sedang sakit dan yang satunya tipe yang harus dekat dengan orang tuanya. Selama terbaring, aku hanya merenungi mengapa hari ini bisa terjadi. Rasa-rasanya seperti tak mungkin seorang Septi yang terbiasa dengan jam kejar tayangnya terbaring lemah di rumah sakit.
Pasrah dengan Jarum-Jarum Suntik
Di IGD, aku pasrah. Jarum-jarum suntik tak terasa lebih menyakitkan daripada demam dan ngilu di sekujur tubuhku. Aku dengan pandangan yang kabur hanya bisa bersyukur akhirnya ada paracetamol cair yang segera membuat suhu tubuhku turun perlahan dan mengusir dingin yang membuatku menggigil tak karuan.
Setelah dicek oleh dokter IGD, aku dipindahkan ke kamar kelas 3 yang tersedia saking penuhnya kamar di rumah sakit. Aku lalu didorong dengan kursi roda dan diantarkan ke tempat tidurku. Masih nge-fly dan terasa aneh karena ada di rumah sakit. Tapi ternyata, aku beneran sakit hahahahha ~
Hari itu, perawat bolak balik menyuntikkan infus dan paracetamol berkala seolah aku benar-benar butuh penanganan penting. Masih nge-lag, sampai akhirnya dokter IGD bilang bahwa aku terlalu banyak menelan obat dan membuat 'hati'ku sakit. Literally.
Hasil lab dibacakan oleh Dokter spesialis penyakit dalam. Entah atas dasar apa aku harus dirujuk ke dokter penyakit dalam sampai akhirnya dokter membacakan hasil bahwa aku kena tipes dan radang lambung. Selain itu, aku juga kena ISPA yang membuat sesak napas. Tapi yang lebih mengejutkan, ada peradangan pada hati dan membuatku harus melakukan Ultrasonografi (USG) untuk mengecek lebih lanjut kondisi hati yang sebenarnya.
Tiba-Tiba Kursi Roda Mendatangiku dan Aku Dibawa dengan Ambulance
Aku paham sih, selalu saja ada yang mengejutkan dalam hidup. Tapi, naik ambulance? Boro-boro kepikiran. Sejak kecil, setiap ke masjid dan harus melewati mobil ambulance kosong saja aku selalu merinding parah dan berlari karena takut ada sesuatu yang mengintip dari dalamnya. Tapi kali ini, aku didatangi dengan perawat untuk diajak USG, tetapi anehnya aku diminta untuk membawa seluruh barang berhargaku, seperti dompet dan HP.
Kaget! Tentu saja.
Kalau memang hanya USG, mengapa harus sampai membawa dompet dan HP? Kenapa nggak ditinggal saja? Lalu, aku dibawa dengan menggunakan kursi roda oleh perawat yang juga orang asing bagiku. Yes, hari itu aku sendirian karena suami sedang pulang menjaga anak-anak kami. Dan momen dimana aku tidak sedang bersama suami, aku dibawa masuk ke ambulance!
Lah, loh, eh? Aku kan nggak kenapa-kenapa. Kenapa harus sampai ambulance?
Aku dengan kebingunganku duduk di bangku belakang ambulance. Alhamdulillah, tidak sendirian, tetapi bersama dengan pasien lain yang didampingi oleh ayahnya. Sepanjang perjalanan, aku menahan sakit di tengah kebingunganku yang harus ke Rumah Sakit Mardi Rahayu yang lokasinya ada di perbatasan Kudus-Demak. Sambil mendengar dan melihat perhatian dari sang ayah ke anaknya, aku memegang infusku sendiri dan sok sibuk memotret selang infus agar tidak terlihat kagok.
Sesampainya di RS Mardi Rahayu, aku kembali didorong perawat ke ruang Radiologi untuk mengantri USG. Di sini, rasanya bingung dan hanya bisa menyibukkan diri karena di satu sisi aku butuh ditemani tapi di sisi yang lain aku paham betul bahwa suamiku harus mendampingi anak-anak di rumah dan beliau pun pasti bingung karena tidak bisa ada di samping istrinya.
Pasien-pasien berdatangan. Semakin banyak dan banyak. Mereka semua datang bersama wali, kecuali aku muehehe. Saking sendiriannya, sampai data rumah sakit pun mencatat bahwa wali untukku adlah diriku sendiri. Menyedihkan sekali ya hehehe ~
Hasil USG yang Mencengangkan
Alhamdulillah 'alaa kulli hal.
Berkali-kali menghela napas ketika dokter bilang ada 'kerusakan pada hati' dan pembesaran pada limpa (pankreas) selain radang lambung, tipes dan ISPA. Pantas saja hari itu rasanya seperti melayang-layang. Kaki rasanya tak menyentuh bumi. Berjalan dengan pandangan kabur dan napas rasanya berat sekali. Pun, saking lemasnya sampai pasrah bagaimana jika ternyata semua IGD penuh karena memang kondisinya selemah itu.
Di satu sisi lega karena diagnosa sudah keluar, namun di sisi yang lain sedih karena harus menghadapi fakta bahwa aku yang masih 30 tahunan ini ternyata mendapati hasil screening kesehatan yang sekompleks itu dan proses menjalani tesnya pun karena memang sudah terlanjur sakit. Bukan karena melakukan medical check up secara mandiri. Qadarullah wamaa sya'a fa'ala.
Karena hasilnya yang kompleks, setelah tes darah dan USG, aku masih diminta untuk tes urin lanjutan. Tapi, aku tidak melakukannya karena anak-anak di rumah sakit dan mimisan dan aku harus pulang. Karena ibu mana yang bisa meninggalkan anaknya sakit dan merintih di rumah?
Akhir cerita, akupun pulang paksa dan meminta suamiku menandatangani formulir persetujuan bahwa rumah sakit tidak akan bertanggung jawab bilamana ada yang terjadi kepada pasien setelah pasien minta untuk pulang secara paksa.
Semoga kalian sehat-sehat, ya.
Salam,
Dwi Septia