Pernah nggak sih, kamu kepikiran buat main kemana gitu dan rasanya harus banget?
Ini aku, beberapa waktu lalu. Pengennnn banget rasanya main ke gunung dan spesifik main ke Joglo Dopang.
Pernah nggak sih, kamu kepikiran buat main kemana gitu dan rasanya harus banget?
Ini aku, beberapa waktu lalu. Pengennnn banget rasanya main ke gunung dan spesifik main ke Joglo Dopang.
Bicara tentang dunia anak-anak memang nggak pernah ada habisnya. Sewaktu pulang ke rumah Ibu di Semarang, kami berkeliling naik motor dan mendapati bahwa lapangan tempat mie ayam favorit kami berubah bentuk menjadi taman bermain atau outdoor playground yang isinya banyak mainan untuk naka-anak.
Dari kejauhan, tampak warna warni jalan lapangan yang membuat lapangan begitu hidup. Saat mendekat, kami dibuat terpukau dengan salah satu proyek Pemerintah untuk masyarakat umum ini. Anak-anak tanpa ragu meminta untuk berhenti dan diberi waktu agar bisa main sebentar di taman baru.
Kami dimanjakan dengan desain warna warni yang menyatu dengan irama alam dan teriakan anak-anak yang tengah menikmati satu demi persatu mainan yang ada di taman. Suamiku tiba-tiba menghilang, ternyata sejauh mata memandang, ia mengitari lapangan untuk melakukan kardio tipis-tipis dengan berjalan sembari menunggu anak-anak selesai.
Sulungku ikut berputar dengan bapaknya. Sedangkan si kecil tengah asyik main brakiasi bersama teman-teman barunya. Aku? Sibuk video calling dengan mbak-mbakku yang ada di Kudus dan Tangerang.
Sebelum gelap, kami bergegas pulang. Mumpung adzan maghrib belum berkumandang. Aku lantas meminta suamiku berputar untuk melihat nama dari taman yang menemani sore hari kami tadi. Hahaha lucu ya, kami belok tetapi tidak tahu namanya.
Setelah akhirnya berputar dan berhenti, kami membaca: Taman Garot.
"Ohhhh, namanya Taman Garot. Tapi, artinya apa, ya?"
Entahlah... Kami pun tak tahu. Yang kami tahu, adanya taman terbuka ini membuat kami masyarakat umum punya banyak referensi untuk mengajak anak bermain di luar lapangan yang tidak hanya baik untuk motorik kasar mereka karena harus bergerak, tetapi juga bagus untuk tubuh mereka karena saat kami mengajaknya di pagi hari, anak-anak bisa terkena vitamin D yang baik untuk pertumbuhan tulang dan gigi mereka.
Setidaknya, kalian akan menemukan 1 brakiasi besar yang lengkap dengan jaring-jaring, ayunan dan perosotan warna-warni yang menarik bagi anak-anak. Ada juga tong untuk bermain terowongan ala-ala petak umpet anak-anak.
Jalan setapak pun dilapisi dengan karet agar kaki pengunjung tidak sesakit itu saat sedang berjalan pagi atau sore sambil olahraga tipis-tipis. Di ujung, berderet space yang sepertinya disediakan untuk warung-warung yang bisa berjualan di sekitar taman. Desain yang sepertinya diharapkan ke depannya bisa membantu memutar ekonomi warga. Kali ini, aku bisa bilang program pemerintah cukup keren hihi ~
Lokasi taman garot terbilang ada di Semarang selatan ke timur. Di daerah jalan nangka, lebih tepatnya bisa cek lokasinya di sini: Lokasi Taman Garot Semarang
Selamat main sama keluarga, ya!
Salam,
Dwi Septia
Bukan anak-anak namanya kalau nggak minta main ke Playground. Betul atau betul? Hihi ~
Dan yap, libur lebaran kali ini bukan liburan ke kota mana yang ingin disambangi anak-anak, melainkan playground mana nih yang bisa didatangi untuk bisa menghabiskan energi mereka selama liburan ini.
Dulu, setiap kali mau ngajak liburan anak-anak ke playground cukup bingung karena di Kudus belum ada playground yang proper tempatnya untuk menghabiskan 2 energi anak perempuanku yang aktifnya masya Allah beneran bikin bapak ibunya kewalahan hihi.
Alhamdulillah, per lebaran 2026 ini, ada playground baru bernama The Nice Playland Kudus yang baru saja buka di lebaran pertama dan biidznillah kami bisa mengajak anak-anak untuk main ke sana.
Salah satu yang membuat kami tertarik selain karena ada wahana baru adalah tiket masuk The Nice Playland yang cukup hanya dengan 25.000 saja per orang. Ini termasuk murah karena tiket main ke playground yang sering kami jumpai minimal di harga 50-ribu per anak itupun masih harus tambah kaos kaki. Belum lagi kalau playground-nya masuk ke mall. Waduh, bisa over budget hihi mamak kan perhitungan yaaa harap maklum hehehe ~
Nah, karena kami berempat kami habis sekitar 100ribu untuk tiket masuk saja. Di sini kami akan mendapatkan tiket saja dan melewati petugas ticket checking. Kemudian, kami akan bebas menelusuri seluruh playground yang di dalamnya ada 80+ mainan, mini zoo, kantin dan kolam renang anak yang seru abis!
Mau cari mainan apa aja di sini ada. Mulai dari komedi putar, ayunan ala dufan tapi versi pendek, trampolin, kuda-kudaan, scooter, brakiasi, sampai main di kolam renang 2 versi wahana di atas air dengan air hangat dan versi air dingin pakai balon capybara besar. Pokoknya memanjakan anak-anak banget, deh hihihi....
Sebagaimana normalnya anak-anak, terutama anak kami yang energinya nggak pernah habis, rasa-rasanya The Nice Playland Kudus ini adalah pilihan yang tepat karena memang dengan 25.000 anak-anak bis amain sepuasnya tanpa dibatasi waktu. Super banget nggak, tuh! Bahkan, banyak juga kok orang tua yang ikut main karena memang seasyik itu wahananya.
Akupun main rainbow slide sama suami dan anak-anak, ayunan muter dan beberapa mainan lain yang bisa kami naikin hihihi. Beneran se-seru itu, sih. Saking serunya, suami sampai mual, pusing sampai tepar hahahaha! Umur mungkin ya, mainan se-seru itu malah bikin orang tua jadi pusing. Meanwhile, anaknya masih happy main sampai basah kuyup dan nggak kenal cakep. Saking asyiknya main, sampai di akhir jam tutup hahaha menyala anakku! 🔥🔥🔥🔥
Menurutku dengan 25.000 sangat worth it sih, kalau bahasa Semarang-nya tuh cucuklah yaa main ke sini sepuasnya dengan harga tersebut sampai bener-bener puas. Soalnya emang seluas ituuuu bahkan ada area toddleer dan anak di bawah 3 tahun yang butuh play safe alias tempat main aman juga. Nah, Kalau kamu mau juga ajak main anak-anak dan keluarga, boleh banget, ya!
The Nice Playland Kudus buka Senin-Minggu jam 9 pagi - set 6 sore. Lumayan lamaaa kan hihi. Aku tim berangkat habis ashar, biar bisa ajak anak pulang dengan alasan "tuuuhhh udah disuruh pulang karena mau tutup" hihihi mamak-mamak gamau pusing banget ya akuuu hahaha...
Sekian review singkat setelah kami main di The Nice Playland Kudus. Rasanya super seruuuuuu dan mungkin kami akan ke sana lagi kalau anak-anak butuh melampiaskan energinya hihihi. Jadi, kamu tertarik mau cobain juga sama anak-anak nggak nih, kira-kira?
Salam,
Dwi Septia
Kamu kalau punya rumah, pengennya dimana?Aku? Semarang lah hehe. Deket sama bandara dan stasiun.Misal, Kudus aja gimana?Hmm, kenapa?Biar nggak pening sama macetnya ibukota hehe ~
Ini obrolan rumah tangga kami saat membayangkan dimana kami akan tinggal dan menetap ketika suatu saat nanti ada rezeki punya rumah sendiri. Sampai akhirnya, aku sepakat untuk tinggal di Kudus dengan niat sami'na wa'aato'na alias manut sama suami biar dapet ridhonya suami hehe.
Rumah kami saat ini ada di desa yang menurutku masih gelap dan jauh dari ingar bingar kota. Tapi, tidak sejauh itu juga. Hanya butuh sekitar 10-15 menit dari pusat kota Kudus untuk mencapai rumah tinggal kami.
Bisa dibilang, aku cukup shock ketika tinggal di desa karena memang jam setelah maghrib, di sini sudah tutup dan sepi. Bada isya, hampir kami tak pernah keluar rumah karena memang segelap itu. Tapi ini menurutku ya hehe karena aku terbiasa tinggal di Semarang yang bahkan setiap pulang jam 11 atau 12 malam pun jalanan masih ramai, Sedangkan di sini, untuk pulang saja kami harus melewati jalanan yang gelap karena memang masih sawah dan kebun mayoritas hehe.
Pelan-pelan, Kudus menjelma bak ibukota. Banyak sekali kafe bertebaran di kota ini. Aku sampai bisa menyebutnya kota seribu kafe saking banyaknya kafe dan tinggal pilih hari ini mau nongkrong di mana. Sampai akhirnya aku merasa bahwa kota ini benar-benar bak metropolitan ketika brand seperti Kopi Kenangan, Dominoz Pizza, hingga Fore sudah masuk ke kota ini.
Bagi warga ibukota Jakarta atau Semarang, mungkin ini biasa saja. Tapi, bagi warga Kudus ini sesuatu yang wah sekaligus kabar baik bagi perantau sepertiku yang memang bukan warga asli sini dan rindu dengan hiruk pikuk kota besar dengan segala gemerlapnya.
Bahkan, satu persatu mulai banyak bisnis di Kudus yang buka 24 jam penuh. Gokil hehehe ~
Sebagai anak kota, aku senang sekali dengan perubahan ini, meskipun akhirnya yaaaa byeee slow living hihihihi karena Kudus mulai macet setiap malam di beberapa titik terutama di kota dan membuat perjalanan gabut kami yang sekadar muter-muter sama anak-anak terasa panjang dan melelahkan wkwk.
Hadirnya kafe 24 jam dan brand seperti Fore membuatku mengingat momen perjuangan ketika sedang merantau di ibukota sendirian. Rasanya, nyes di hati. Seperti banyak sekali kenangan yang ingin sekali kuulang. Mengejar bus trans Jakarta, berdempetan di KRL, duduk di circle K atau lawson, nongkrong di indomaret point sepulang kerja atau sekadar cari jalan tikus untuk bisa sampai ke kos dari kantor yang letaknya di dekat Grand Indonesia.
Pasalnya, setelah tinggal di Kudus aku merasa seperti sepi. Tak tahu harus berteman ke mana dan dengan sapa. Yaaa meskipun aku sudah menjadi seorang ibu yang mungkin sudah bukan waktunya lagi untuk beredar bak kutu loncat, tetapi aku perrnah membayangkan tetap bisa produktif dan bertemu dengan komunitas baru untuk menjaga otakku agar tidak tumpul.
Dan, duduk di Fore bersama suamiku yang menjadi teman baikku saat ini, membuatku ingin berlama-lama melamun sembari melihat lalu lalang manusia datang dan pergi dengan kesibukan mereka masing-masing. Lalu, menyadari bahw ternyata aku adalah individu yang suka menyendiri. Hanya saja, sering mencari keramaian agar aku tak terlihat kesepian hihi ~~
Kalau kamu, tipe yang seperti apa? Lebih suka sepi atau duduk di tempat ramai?
Salam,
Dwi Septia
Ngapain sih jadi relawan?
Udahlah capek tenaga, waktu, harus keluar uang pula.
Seperti mengulang sejarah, aku kembali bergabung menjadi relawan Kelas Inspirasi Pati. Tapi kali ini, perjalanannya terasa beda dan tidak sesederhana dahulu kala. Aku yang dulu masih 20 tahunan bergabung masih punya banyak tenaga. Bahkan Kelas Inspirasi jadi salah satu escape-ku untuk bisa menambah jejaring yang lebih luas dengan mengenal banyak teman baru dari berbagai macam kota dan daerah yang mungkin asing.
Tahun 2017, adalah kali pertamaku bergabung menjadi Relawan Kelas Inspirasi Semarang. Saat itu, aku mendapatkan rombel sekolah di SDN Nyatnyono yang ada di Ungaran. Energiku masih sangat besar saat itu. Karena selepasnya, aku rutin ikut kelas inspirasi selanjutnya. Setidaknya, aku pernah bergabung menjadi relawan Kelas Inspirasi Blora, Klaten, Kudus, Yogyakarta, dan Surabaya.
Dan ingatanku berhenti ketika virus Covid-19 mulai menyerang. Saat semua kegiatan terbatas bahkan terhenti, salah satu yang hilang dariku adalah kebebasan bergerak. Semuanya seperti selesai. Salah satunya adalah kegiatan Kelas Inspirasi yang vakum begitu lamanya. Aku sampai lupa detail siapa saja yang pernah aku temui di masa lalu, sampai aku mengingat nama mereka yang fotonya masih tersimpan rapi di folderku pun rasanya begitu sulit hehe maafkan.
"Kok kayak gini sih, perpusnya? Kecil banget dan nggak nyaman banget."
Ini adalah testimoni jujurku ketika datang kali pertama ke Perpustakaan Daerah, Kudus. Sebagai warga yang sering datang ke Perpustakaan di Semarang, Perpustakaan di Kudus jadi rujukan kami untuk bisa membaca buku, mencari referensi atau sekadar membuka Wi-Fi gratis sambil mengerjakan beberapa pekerjaan
Dan karena kekecewaan itu, kami berhenti datang ke Perpusda Kudus, sampai akhirnya di awal tahun 2026 ada peresmian gedung baru Perpustakaan Kudus, Jawa Tengah. Sempat meng-underestimate, tetapi kali ini rombaknya besar-besaran.
Hari ini, 2/2 2026 aku dan suamiku pergi ke Perpustakaan Kudus yang ada di Wergu atau di dekat Gelanggang Olahraga (GOR) Kudus. Sempat bingung karena lokasinya berbeda, tetapi ternyata hanya terpaut beberapa puluh meter saja ke depan, Perpustakaan Kudus sudah bisa ditemukan.
Selayaknya gedung baru, perpustakaan Kudus tertata rapi dan apik. Dengen ventilasi yang lebar, sehingga cahaya terang dari luas masuk dan membuat ruang perpustakaan semakin apik. Meja-meja yang ada, rata-rata adalah sharing table atau meja yang biasa digunakan sebagai meja bersama untuk semua pengunjung. Cara ini sebenarnya efektif untuk melebarkan networking, sayangnya entah mengapa sharing table justru menjadi jarak antar satu pengunjung dan pengunjung lainnya.
Seringkali merasa asing dan kikuk untuk duduk di meja yang sama sampai membuat meja besar hanya dihuni sebagai 2-3-4 orang saja dan sebagian yang lain lebih memilih untuk duduk tanpa meja. Oh ya, koneksi Wi-Fi di sini GRATIS dan bisa diakses oleh semua pengunjung umum, mulai dari anak-anak, remaja, hingga dewasa.
Awal mula masuk ke parkirannya, impresi pertama adalah "wah, sekarang parkirannya luas sekali dan terbuka." Mobil dan motor bisa masuk ke dalamnya tanpa perlu berdesak-desakan. Kami sampai di gedung D, sekilas info, ada 4 gedung di seluruh area perpustakaan Kudus yakni gedung A-B-C-D.
Gedung A difungsikan untuk gedung referensi, gedung B untuk ruang mini teather dan ruang podcast, gedung C untuk ruang baca umum dan gedung D untuk perpustakaan anak. Dan setiap gedung di perpustakaan dihubungkan dengan lorong yang juga estetik. Bagus banget pokoknya hihihi ~
Karena baru kali pertama, kami sampai di gedung A yang ternyata adalah gedung referensi. Pantas saja, ruangannya sepi dan rapi. Seperti sebagaimana gedung referensi di perpustakaan Semarang, di sana pun gedung referensi sepi, tetapi banyak sekali meja untuk mereka yang ingin mengerjakan tugas akhir, skripsi atau pekerjaan di perpustakaan.
Ada begitu banyak buku bacaan, mulai dari buku novel, buku fantasi, buku sejarah-sosial-politik-agama dan buku-buku lain. yang menarik dari perpusda ini adalah ada rak buku khusus buku braile, artinya teman-teman difabel pun bisa menikmati buku bacaan yang ada di Perpusda Kudus.
Aku membaca novel dan buku kontemplasi sembari sesekali menengok laptop dan menonton drama korea. Oh ya, di sini juga banyak colokan jadi kalau kamu bawa laptop, ipad, dll nggak perlu kehabisan daya, ya!
Jujur, aku takjub dengan perubahan perpustakaan Kudus yang benar-benar 180 derajat ini. Semoga perubahan ini bisa mengajak dan meningkatkan literasi warga Kudus di semua usia yang tidak hanya bisa mengajak orang-orang untuk membaca, tetapi juga menemukan ruang untuk berkarya.
Terakhir yang melegakan hati, perpustakaan Kudus punya mushola yang luas, bersih dan nyaman. Mungkin karena masih baru, tetapi aku berharap para warga bisa menjaga mushola dan keseluruhan perpustakaan Kudus agar tetap seperti ini meski sudah bertahun-tahun ke depan agar generasi setelah ini juga bisa menikmati indahnya membaca buku di ruang perpustakaan Kudus.
Soon sih, mau banget ajak anak-anak ke sini untuk mengenalkan mereka ke dunia yang lebih luas melalui bahan buku bacaan yang lebih bervariatif. Akhir kata, terima kasih pemerintah Kudus yang sudah mau membenahi perpustakaan Kudus menjadi ruang baca dan berkarya untuk kami warga Kudus yang seringkali ingin menikmati dunia dengan cara yang berbeda tetapi terjebak di ruang yang itu-itu saja.
Salam,
Dwi Septia
"Play is the Highest form of Research"
Albert Einstein
Sejak tinggal dan pindah di Kudus, jujur agak clueless setiap anak minta diajakin main ke playground. Di kota kecil ini, playgroundnya juga kecil kayak cuma seukuran ruko aja gitu dan yaa mainannya pun terbatas di mandi bola, perosotan kecil dan mainan role play sederhana hihi.
Jadi kasian ke anak, mikir keras mau dibawa kemana biar anak-anak nggak bosen gitu hehe. Alhamdulillahnya, Kudus itu dekat dengan Semarang dan kebetulan rumah ibu juga di Semarang. Jadi, main ke playground masih ada opsi main ke rumah nenek sekaligus ngajakin anak main ke playground.
Respons pertama kali ketika anak-anak sampai di Funtophia adalah berteriak kegirangan. Bagaimana tidak, sudah lama mereka tidak bertemu dengan lahan bermain mereka di playground. Dan seperti dapat hadiah, mereka langsung bingung mau main yang mana dulu karena area playground yang luas terhampar di depan mereka.
Si kakak langsung mencari wahana ekstrim, flying fox dan perosotan tinggi. Sedangkan adik berlari ke tempat mandi bola dan meriam bola yang masih bisa ia gapai. Maklum, selain masih kecil tingkat keberanian kakak adik ini memang beda hehehe.
Bapak Ibu kemanaa? Tentu saja duduk, mengamati dan menunggu di bibir playground sambil berbincang.
Harga tiket masuk ke Funtophia di Queen City Mall berkisar antara 125.000 - 150.000, tapi itu kalau beli langsung, ya. Alhamdulillah kemarin waktu pesan di Tiktok aku cuma bayar 150.000 untuk 2 orang anak + 2 pendamping hihi masya Allah murah sekali. harusnya bayar 200ribuan, tetapi aku ada voucher tambahan jadi hanya bayar 150ribu saja hehe. Daaaan harga yang aku bayar udah include sama gokart-nya. Seru banget, kan. Bisa main sepuasnya plus main gokart tanpa harus bayar mahal.
Saking luasnya funtophia, yang bisa main bukan hanya anak-anak, tetapi juga kami orang tua. Awal masuk ke funtophia, anak-anak akan mendapatkan gelang sebagai tanda bahwa kami telah membayar tiket di awal. 1 anak diperbolehkan didampingi oleh 1 pendamping. Jadi, kalau anaknya 2, bapak ibu bisa masuk bersama mengawasi anak-anak main.
Setelah itu, kami menuju ke lantai 2 terlebih dahulu untuk naik kereta dan masuk ke ruang immersive undersea. Vibes di dalam ruangan ini, seperti sedang ada di bawah laut dengan pemandangan ikan paus, kura-kura besar dan aneka terumbu karang. Eits, tapi ini nggak beneran di bawah laut, ya. Ini cuma layar besar hihi. Tapi, cukup kok buat dokumentasi dan foto-foto untuk arsip penyimpanan.
Setelah puas di lantai 2, kami membiarkan anak-anak main di playground sepuasnya. Mulai dari mandi bola, meriam bola, perosotan ban, panjat tebing, flying fox, trampoline, main role play sampai main Gokart hihi. Seruuu banget! Masya Allah ~
Buat kamu yang mau main juga di Funtophia, cek langsung deh tag lokasi yang ada di TikTok-ku. Kalau pakai voucher TikTok, harganya lebih murah.
Anyway, lokasi Funtophia ada di Queen City Mall Lantai 6, yah!
Copyright © Dwi Septia. Designed by Personal Blog