Kamis, 28 Juli 2016

Jangan Cuma Jadi Orang Pintar!

“Apa hebatnya jadi lulusan luar negeri?” — Yansen Kamto, Chief Executive, Kibar
Ahh, dunia terlalu naif untuk menerima celetukan ini. Pasti akan ada yang mencibir “jangan sirik, deh karena lo gabisa sekolah di luar negeri,” atau mungkin “setidaknya gue bisa lolos dapet beasiswa kesana, itu artinya gue lebih unggul daripada elo, bro!”. NO!!. Gue nulis ini dari awal karena pasti akan ada yang salah tangkap dan mengira gue iri dengan para lulusan luar negeri.
Enggak! Sama sekali nggak ada sedikitpun dalam benak gue rasa iri atau dengki karena gue bukan lulusan luar negeri. Boro-boro deh sekolah ke luar negeri. Bisa sarjana tanpa harus kerja keras banting tulang aja rasanya mustahil buat gue. Gue cuma lulusan SMK yang bukan lulusan sarjana apalagi sarjana di luar negeri.
Hasil gambar untuk toga wisuda sarjana
Gue pernah kuliah, nggak lama. Cuma satu semester, dan buat gue itu cukup. Kenapa? Ya karena gue cuma mampu bayar dalam waktu satu semester itu. Tapi itu nggak bikin gue jadi manusia yang terus menyalahkan nasib. Gue selalu cari koneksi, celah apapun yang bisa gue masuki sehingga gue bisa belajar sesuatu yang baru.
Temuilah orang baru, maka kamu akan mendapatkan pengalaman baru yang tak bisa kau tukar dengan apapun itu ~
Ini adalah kalimat yang paling asyik yang gue suka pas gue ngerasa hidup gue rasanya ya, gitu-gitu aja. Oke, back to the topic! Kenapa gue harus fokus dengan pertanyaan “apa hebatnya jadi lulusan luar negeri?” Toh gue juga bukan anak lulusan kampus yang punyatittle sarjana atau master yang mungkin lebih lo anggap pantes untuk ngomong kayak gini.
Hasil gambar untuk toga wisuda sarjana
For the first time, gue ketemu sama Koh Yansen di kantor Kibar. Cuma 15 menit mungkin. Nggak lama, kok. Tapi gue nggak nyangka ternyata ada juga yang appreciate sama lulusan SMK. Ya, I feel this guy are so different. Apalagi pas Koh Yansen bilang, “gue justru lebih mengapresiasi anak SMK daripada lulusan luar negeri,”
“Alasannya?”
“Gue lulusan luar negeri. Tapi justru gue malu kalo gue nggak bisa berkontribusi buat bangsa Indonesia.”
Buat gue, kalimat ini tu nampol banget. Bahkan untuk sekelas yang cuma lulusan SMK kayak gue. Gue jadi mikir, iye juga, ya. Selama ini emangnya gue udah kasih apa buat Indonesia? Gue aja yang asli pribumi, lahir dan besar di sini, belom bisa bikin Indonesia bangga punya warga kayak gue gini. Terus, apa dong yang bisa gue banggain setelah gue lulus dari sekolah yang selalu meng elu-elukan “SMK BISA!”.
Oke, gue pertegas lagi, ya. Tulisan ini bukan khususon sarjana luar negeri lho, ya! Tapi lebih ke anak bangsa yang katanya punya banyak kompetensi. Kayaknya, sebelum ngelamar ke perusahaan atau bikin startup, gue sama elo harus banget nanya kayak gini sama diri kita sendiri:
Bisa apa lo, sampe lo berani nyuruh seluruh dunia pay attentionbuat elo?
Hmm, cuma satu pertanyaan, sih. Tapi kalau dipikir-pikir, ini pertanyaan berat, lho. Gue nggak akan nyalahin sekolah dan sistem di dalamnya, kok. Ini semua adalah tergantung dari sumber daya manusianya sendiri. Ya, kita-kita ini. Sama seperti quote berikut, nih!
“Sekolahpun keliru bila ia tidak tahu diri bahwa peranannya tidak seperti yang diduga selama ini. Ia bukan penentu gagal tidaknya seorang anak. Ia tak berhak menjadi perumus masa depan.”― Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 2
Jadi, bangga masuk ke sekolah favorit itu, bukan prestasi. Itu, justru jadi tantangan buat elo untuk bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan menginspirasi. Lo butuh banget bisa jadi public figure yang notabene-nya tahu kenapa 2×2 itu empat. Bukan hanya sekadar tahu hasil kalo 2×2 itu, ya pasti jawabannya empat. We called this case, process! Jangan sampai deh kita pakai ilmu “pokoknya”.
Yaaa, pokoknya gitu.
Yaaa, pokoknya jawabannya itu.
Yaaa, pokoknya dari sononya udah begitu.
Please guys, be wise! Kita hidup nggak lagi di jaman batu tapi di jaman serba modern. Lo, kalo ngomong salah dikit, salah pergaulan dikit, bisa-bisa jadi terkenal, loh. Eits, ini gue nggak lagi nyinggung ABG sebelah yang lagi booming karena prestasi *eh kelakuannya di medsos, kok. Beneran!
Gue cuma mau ngingetin aja, sih. ABG sebelah itu, cewek berprestasi dan cukup populer lho dari daerah asalnya. Oranngtuanya, menaruh harapan besar sama doi untuk jadi cewek yang bisa meraih cita-citanya dan tentu saja sukses di masa depan. Tapi sayangnya, gadis ABG ini harus terima konsekuensi karena doi nggak bisa jalanin amanah tersebut. Alhasil, ya gini, deh. Dunia maya rame cuma karena menyorot status doi yang entah. Gue aja nggak begitu ngerti apa menariknya bahas topik si ABG itu.
Hasil gambar untuk toga wisuda sarjana
Gue cuma pengen belajar dan ngingetin ke diri gue sendiri. Lo pinter aja tu nggak cukup kalo lo nggak punya attitude yang baik. Lo pinter aja tu nggak cukup, kalo lo nggak cukup bisa berkontribusi di lingkungan sekitar elo. Minimal ya, orang merasakan kepintaran dan manfaat dari diri lo.
In the end, gue minta maaf kalo ada yang tersinggung. But, ini murni nggak buat nyindir siapapun. Ini, justru sindiran keras buat gue yang sampai sekarang ini masih belum bisa ngapa-ngapain. So, mumpung masih muda dan masih banyak kesempatan untuk bisa berkarya, yuk, ikut menjadi bagian dari 1000 StartUp Digital!


Tunjukkin kalo lo adalah anak muda yang punya spirit untuk mewujudkan potensi Indonesia menjadi The Digital Energy of Asia di tahun 2020 dengan mencetak 1000 startup yang menjadi solusi atas berbagai masalah dengan memanfaatkan teknologi digital!

This article originally written by me also published in Ziliun.

Minggu, 17 Juli 2016

Baiti Jannati: Menemukan Surga di Rumah Sendiri

Baiti, jannati


Pernah dengan istilah ini? Iya, rumahku, surgaku. Seseorang mengajarkanku beberapa waktu yang lalu tentang ini. Istilah yang terasa begitu merdu jika ia yang mengatakan. Katanya,

"seberapapun jauh kamu pergi, rumah adalah tempat terbaik untuk kamu kembali karena di sana ada surga yang tidak bisa kamu tukar dengan apapun kondisinya,"

Aku tertegun, terdiam beberapa saat, tak berkutik.

"Bagaimana bisa, rumah yang kita tinggali menjadi surga kita di dunia? Surga, yang belum pernah kurasa indah sejak aku lahir hingga dewasa," kataku.

Ia tersenyum, menjelaskan. Rumahmu, yang Allah beri untukmu, Ibumu yang Allah jadikan malaikat duniamu, keluargamu yang Allah jadikan keluarga pertamamu, adalah surga yang tak terbayarkan nilainya.

Surga yang mengajarkanmu tentang bagaimana kamu seharusnya tidak menangis ketika apa yang kau inginkan tak jua kau dapatkan meski kau telah berjuang mati-matian, dari Ibumu.

Surga yang mengajarkanmu bahwa ketika ada yang melukaimu, kamu harus percaya ada rumah yang selalu menerima dan menghapus segala lukamu, dari keluargamu.

Surga yang mengajarkanmui tentang cinta pertama yang harus kau temukan saat kau beranjak dewasa nanti, dari Ayahmu.


Mungkin, tidak semua orang merasa menemukan surga di rumah.
Tapi kau harus ingat bahwa tanpa Ibumu,
kamu tidak akan bisa hidup dibawah naungan kasih sayang seseorang yang benar-benar tulus.
Seseorang yang telah merelakan 9bulan10hari-nya membawa beban kemanapun ia pergi.
Ibu, yang mampu memberikanmu rasa percaya bahkan ketika semua orang tidak meletakkan kepercayaannya kepadamu.
Dan yang paling penting, Ibumu selalu menyisipkan doanya untukmu meski kamu tidak tahu.
Dan tentu, doa terbaik yang ia panjatkan adalah yang terbaik untuk hidupmu.

Apa ada oranglain yang berdoa setulus itu selain Ibumu sendiri?

Rumahku, surgaku.


Saat kau tak punya cukup uang untuk jajan, rumah selalu menyediakan makanan bahkan ketika kamu memilih pergi jajan dengan temanmu saat kamu punya cukup uang.
Saat kau tak punya tempat untuk tidur, rumah selalu punya ruang untuk kau jadikan tempat agar kau bisa beristirahat dengan nyenyak dari lelahnya aktivitas seharianmu.

Sudahkah kau syukuri itu?

Iya, rumahku, surgaku. Jangan pernah kau tukar hal itu dengan apapun. Jangan pernah kau tukar nilai ini meski kelak engkau telah bertemu dengan seorang tambatan hatimu. Jangan pernah lupa, darimana asalmu, siapa yang ada bersamamu dalam masa sulitmu, siapa yang ada untukmu saat kau tak punya apa-apa. Sekalipun jangan.


Kelak, dalam perjalanan kamu akan menemukan tempat untuk singgah, tempat yang mungkin kau jadikan labuhan terakhirmu untuk pulang. Tapi sungguh, jangan lupakan darimana kamu berasal. Ajarkan pula keluargamu tentang hal itu. Tentang bagaimana kita seharusnya bersikap pada surga kita meski kita juga punya tanggungjawab untuk bisa membangun surga baru bersama orang yang baru pula nanti.

Karena apa yang kau tanam adalah apa yang kau petik. Jikalau kamu tak cukup bisa memuliakan rumahmu sendiri, bagaimana bisa kau merasakan aura surga padanya? Bukankah surga itu bisa kau dapat sejauh mana kau bisa bersyukur atas apa yang kau punya? Dan ingat, jikalau kau tak bisa memuliakan surga yang telah kau dapat, jangan pernah berharap bisa membangun surga yang indah, kelak bersama keluargamu.

Bagaimana bisa kau membangun surga yang indah jikalau kau tak bisa mensyukuri segala surga yang telah kau dapat sebelumnya?


Semoga kelak, tambatan hatimu cukup mengerti bagaimana seharusnya baiti jannati itu. Aamiin

Jakarta Pusat,
17 Juli 2016 

Kalo Cuman Bergantung Sama IPK dan Kuliah di Universitas Ternama, Yakin Masa Depan Terjamin?

Sore itu, semuanya resah menanti IPK yang tak kunjung memberikan kelegaan pada para penanti IPK. Beberapa terlihat begitu canggung, kikuk, dan panik. Sedangkan beberapa masih asyik dengan gadget, tetap bercanda dengan yang lain seolah-olah IPK bukanlah sebuah dilema. Hingga salah satu dari kami memulai menyeletuk, “Kamu mah enak, pinter, IPK sudah pasti tinggi,”.
“Iya, tuh, coba kalau kamu jadi kami pasti sudah panik nggak karuan nunggu IPK”, timpa seorang yang lain.
Aku tersenyum, terus mendengarkan musik yang mengalun melalui headset-ku. Lalu, tiba-tiba salah seorang diantara kami nyeletuk tajam. Katanya,
"Cuma orang yang nggak punya masa depan yang bergantung sama IPK".
Kami semua tetiba hening, saling berpandangan.
“Maksudnya, Pak?”.
Serentak kami menanyakan hal yang sama. Ia, seorang dosen yang merangkap sebagai kaprodi jurusan kemudian hanya menjawab dengan senyum meledek.
“Yaaa, kalau kamu kuliah cuma buat IPK ya buat apa? Kuliah itu soal proses.”
“Aku, dulu malah pas sidang skripsi dapetnya dibawah rata-rata. Bayangin aja, aku asdos, tugas selalu kelar. Eh, sidang dapet C. Piye perasaanmu?”
Kami masih bungkam.
“Aku sih nggak apa-apa, temen-temen yang panik. Kata mereka, aku yang asdos saja cuman dapet nilai C, gimana dengan mereka?” lanjutnya.

Dosen saya ini agak unik. Meski hanya mendapatkan nilai C dan punya kesempatan untuk memperbaikinya, beliau menolak dan menantang balik penguji skripsinya. Katanya,
“Saya nggak perlu perbaiki nilai, saya akan buktikan kalau dengan nilai C ini, saya bisa buktikan ke kalian semua kalau saya bisa jadi orang!”
Sebagai salah seorang dosen terbaik di kampus, beliau selalu mengajarkan mahasiswanya untuk selalu rajin dan rajin melihat kesempatan. Belajar, katanya nggak harus di kampus. Makanya, beliau suka banget ngasih tugas ke lapangan. Beliau dulunya kuliah di Jurusan Ilmu Tanah, tapi sekarang menjadi dosen Ilmu Komunikasi. Selain menjadi seorang jurnalis, beliau juga menjadi praktisi komunikasi!
Dalam setiap kesempatan, beliau selalu bilang ke saya betapa pentingnya mencoba setiap kesempatan.
Mau sukses atau gagal, yang penting itu berani nyoba dulu!
Saya lalu berpikir bahwa kuliah itu bukan soal ambil jurusan apa, di universitas mana, atau berapa IPK ketika lulus kelak. Kuliah, buat saya lebih ke ‘apa yang akan didapatkan setelah menjadi almamater’? Bukankah lebih baik kuliah di kampus biasa saja tapi bisa menjadi seseorang yang luar biasa dan bermanfaat buat banyak orang daripada kuliah di tempat ternama tapi begitu lulus ya ‘gitu-gitu aja’.
Memang banyak yang menunjukkan bahwa universitas ternama itu punya kredibilitas tinggi. Bahkan, nggak bisa dipungkiri bahwa hal itulah yang pada akhirnya membuat kita ingin masuk ke universitas tersebut. Sudah terjamin kredibilitasnya, tho?
Tapi ya itu, satu hal yang nggak boleh banget luput dari tujuan kita adalah, kita kuliah bukan hanya untuk hari ini, tapi untuk masa depan yang lebih baik. Masa depan kita sendiri, dan juga masa depan orang lain yang akan kita rubah jadi lebih baik.
Karena kalau nanti sukses, orang nggak akan lagi peduli dengan elo lulus dari kampus mana, elo jurusan apa, dan mereka juga nggak akan tanya berapa IPK elo. Is it right?
So, sekarang tanya deh sama diri kalian masing-masing. Sudah sejauh mana kalian peduli dengan masa  depan kalian sendiri?

Jakarta Pusat,
Throwback when I was a college student

Kamis, 14 Juli 2016

Kata Siapa, “Lo Harus Jadi Sarjana Kalau Lo Mau Sukses” ?

"Kalo lo besar nanti, lo mau jadi apa?" Pertanyaan ini mungkin sudah tak asing lagi bagi kita yang sudah beranjak dewasa. Mau jadi arsitek, desainer, penulis, atau apapun itu pasti bakalan lo jawab dengan lantang ketika lo masih kecil. Yes, keberanian terbesar lo adalah ketika lo masih kecil dan masih bau kencur.  I don't know why, but actually ketika lo beranjak dewasa lo akan semakin realistis bahwa nggak semua hal yang lo pengen bisa jadi kenyataan.
Bahkan, seperti yang kita tahu makin dewasa, lo akan makin sadar bahwa dunia nggak butuh mimpi-mimpi lo jadi kenyataan. Dunia cuma butuh lo bisa terima tentang pahit manisnya kenyataan hidup. Dan lo akan sadar bahwa ekspektasi yang lo cita-citakan sejak dulu nggak akan berarti apa-apa. Jadi, lo mau apa?
Nggak bisa dipungkiri di jaman sekarang kalo lo bukan lulusan sarjana, lo bakalan menjumpai pertanyaan yang mungkin sedikit menyakitkan untuk di dengar. Saat lo ada di dunia kerja dan lo termasuk sukses di sana. Lo bakalan menerima pertanyaan-pertanyaan sempit seperti, “Lo lulusan kampus mana?” atau “Lo pas kuliah ambil jurusan apa?” “Hah? Lo cuma lulusan SMK?” See? Dunia sesempit itu memandang lo. Padahal, tidak semua sarjana itu bisa lebih baik dari diri lo dan tidak semua lulusan SMA/SMK/Sederajat itu lebih rendah dari lo.
And then, where’s the point?
Bayangkan saja bila terlalu banyak orang-orang dalam kotak yang berpikir bahwa memiliki titel sarjana itu segalanya, maka negara ini akan dipenuhi dengan manusia-manusia yang kerdil akan pemikiran bahwa pendidikan harus S1. Yes, akan banyak pengangguran yang bertebaran di luar sana bila hanya mengedepankan lulusan sarjana saja. Memang kenyataannya, saat ini pun banyak sekali sarjana yang juga menganggur dan tidak semuanya bekerja. Tapi, coba perhatikan ibukota, Jakarta.


Sebagai ibukota negara Indonesia, Jakarta menjadi kota metropolitan yang mendoktrin seluruh masyarakat dari Sabang sampai Merauke memiliki pikiran sama yaitu kalo lo hidup di Jakarta, maka nasib lo akan berubah. Well, sebagai anak rantau baru di Jakarta gue mengamati hal ini dengan seksama. Hampir seluruh perusahaan besar di Jakarta hanya mempersilakan sarjana berpengalaman untuk bergabung di company mereka. Disini, gue pengen bilang bahwa itu semua nggak adil! Kenapa?



First, nggak semua orang yang nggak kuliah karena mereka bodoh. Beberapa diantara mereka punya hasrat yang sangat tinggi tapi sayangnya mereka terkendala biaya. Kedua, ada yang pernah masuk bangku kuliah dan merasakan bahwa kuliah itu nggak worth it. Why? Karena nggak semua dosen itu mengajar karena mereka sadar bahwa mereka adalah pendidik yang harus bertanggungjawab untuk membuat mahasiswanya mendapatkan ilmu terbaik di bangku kuliahan. So, kenapa harus buang-buang waktu di bangku kuliah kalo lo kuliah cuma buat sekadar absen dan lulus?


Non sense! Gue tau nggak semua kampus kayak gini. Tapi, ada satu, dua atau beberapa diantara kalian yang merasakan hal tersebut, gue mungkin salah satunya. Dan kenyataan-kenyataan tentang dunia kampus dan dunia kerja di Jakarta bikin nyali gue tertantang untuk datang ke ibukota. Sekitar dua bulan yang lalu akhirnya gue apply salah satu medium company di Jakarta dengan ijazah gue yang cuma SMK. Some people said that “Eh, itu kan lowongan buat S1 dan harus punya pengalaman minimal satu tahun.” Yup, bener banget! Memang di lowongan tersebut mencantumkan syarat kalo pelamar harus udah lulus sarjana dan sudha berpengalaman di bidangnya minimal satu tahun.


Tapi, gue nggak pernah mengindahkan itu semua. Karena gue yakin, sebuah company yang bagus tidak akan mendiskriminasi seseorang hanya karena sebuah titel kelulusan. Sempet minder ketika gue interview gue ketemu sama mas-mas lulusan S1 yang sudah punya pengalaman 7 tahun di bidang yang gue lamar. Tapi, gue cuek aja karena gue nggak mau mental gue down. Gue harus punya mindset bahwa gue lulusan SMK yang patut untuk diperhitungkan. Actually, gue dipanggil interview dan diterima.


Disini pikiran gue mulai terbuka bahwa ketika banyak banget company di luar sana yang membuka lowongan khusus untuk sarjana bukan berarti mereka menutup rapat pintu untuk kalian yang cuma punya titel SMA/SMK/Sederajat. Maybe, beberapa diantara company tersebut ingin melihat seberapa bisa lo mendobrak rasa keingintahuan mereka untuk memilih lo datang interview dan di tes tentang bidang yang lo lamar.


Kalo lo berhasil, why not untuk bergabung dengan company impian lo?



For your information, tidak semua company sekolot yang lo pikir. Lo cuma perlu coba, coba dan terus coba sampai pada akhirnya company tersebut mengalah karena kegigihan lo.


Satu hal, lo harus sadar bahwa nggak semua orang sukses itu karena mereka udah jadi sarjana dan punya titel macem-macem di belakang nama mereka. Lihat, deh ada banyak banget kok pengusaha sukses yang cuma lulusan SMA, SMP SD, bahkan nggak sekolah. Tapi mereka bisa buktiin bahwa dunia nggak melulu soal ijazah.


Jadi, gue benci banget sama orang yang punya pikiran mentok bahwa “gue kan bukan sarjana, emang gue bisa kerja di perusahaan sebesar itu?”


Come on! Satu-satunya hal yang bikin lo gagal adalah pikiran lo sendiri. So, kalo sekarang lo masih jalan di tempat, lo harus mulai lari kecil, lari konsisten, dan lari kenceng untuk bisa dapetin semua mimpi lo itu.

Selamat berjuang!

It written by me and also published at Ziliun

Sabtu, 09 Juli 2016

Review Film: Sabtu Bersama Bapak

Apa yang kalian pikirkan pertama kali jika ada pertanyaan tentang ‘Bapak’?

Hari ini, 9 Juli 2016 saya menonton sebuah film yang cukup menyita perhatian saya, “Sabtu Bersama Bapak”. Film yang dari judulnya saja sudah cukup menyiratkan banyak makna bahwa film ini adalah tentang anak dan Bapak. Sekilas, memang terasa seperti itu.


Dan kali ini, saya akan me-review film tersebut. Scene pertama, detik dimulai film ini kalian akan disuguhi dengan scene yang sedih. Ketika Mama harus menerima kenyataan bahwa Bapak ternyata mengidap kanker dan hidupnya tidak akan lama lagi. Klise, mama akan membesarkan anak-anaknya, Saka dan Satya sendiri tanpa seorang bapak.
Menariknya, bapakk dalam film ini punya cara unik untuk terus menemani keluarganya melalui video tentang pesan-pesan kehidupan yang hanya boleh ditonton hanya pada Hari Sabtu. Yes, pesan-pesan ini mengantarkan anak-anaknya untuk menjadi manusia sukses, manusia yang tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan di depan mata.
Ekspektasiku tidak sesuai dengan kenyataannya. Kupikir, film ini akan sangat menyedihkan dengan sosok bapak yang kental di dalamnya. Ternyata, tidak demikian adanya. Film ini menyelipkan komedi melalui Saka, anak kedua dari bapak dan mama. Menarik, pesan bapak yang direkam sampai dan selalu dipraktekkan oleh mereka berdua. Satya, yang akhirnya mendapatkan konflik dalam rumah tangganya bisa berakhir antiklimaks berkat pesan dari bapak.
Aku jatuh cinta pada Saka. Laki-laki, bagiku baru akan kusebut laki-laki jika ia tahu hak dan kewajibannya sebagai anak pada Ibunya. Tentu saja, Saka, dalam peran ini menjadi laki-laki idaman yang luar biasa. Saka, hingga umur 30 tahun masih belum menikah karena satu hal, ia ingin menjaga ibunya dengan baik. Satu poin yang membuatku menggilai sosok Saka dalam peran. Luar biasa! Tidak semua anak bisa demikian rela mengasuh Ibunya dan memastikan Ibunya mendapatkan yang terbaik hingga akhir hayatnya.

Bapak, selalu punya pesan untuk mengatasi masalah anak-anaknya, termasuk dalam rumah tangga mereka. Dan ada satu pesan yang aku suka ketika Saka akhirnya bertemu dengan tambatan hatinya, Ayu:
“Menjadi sempurna bukanlah tugas pasangan kita, itu adalah tugas diri kita sendiri. Karena dengan demikian, kita akan tahu batasan-batasan dan tanggungjawab yang seharusnya kita laksanakan pada pasangan kita. “



Laki-laki senakal apapun, tetap akan menjadi seorang bapak yang menjadi imam bagi istrinya dan menjadi panutan bagi anak-anaknya. Bapak, sosok yang aku rindu, aku cinta, semoga kelak kami bisa sesurga, mohon doanya. Doakan juga, aku kelak bisa menjadi seorang wanita yang bisa menjadi istri dan ibu yang baik untuk anak-anakku nanti, ya. Insya Allah.


Filmnya? Recomended! Siapin tissue, ya!