Dwi Septia

content specialist | dream catcher | digital strategist

Review Film: Dilan 1990, Penyebar Virus Rindu yang Katanya Berat di Kalangan Millenials

1 comment
Dilan, aku rindu.
Jangan rindu, Milea.
Kenapa?
Berat. Biar Aku saja

Rasa-rasanya virus rindu yang disebarkan oleh Dilan belum usai. Aku yang ingin menuliskan ini sejak lama, lalu malas dan hingga akhirnya aku ingin menuliskannya lagi karena di dunia  mayaku masih banyak yang ter-Dilankan, mulai dari tata bahasa, gaya pakaian hingga gombalan yang buatku cenderung biasa saja.



Baik, karena ini adalah review film, maka biarkan aku bercerita dari sudut pandangku tentang film yang diprakarsai oleh Ayah Pidi Baiq ini, ya.

Sebetulnya, hasrat untuk nonton Dilan sudah lama muncul sejak mulai ada teaser film Dilan 1990  bertebaran.  Akupun juga sudah punya novel Dilan 1991, masih tersegel, hadiah dari salah seorang teman di Jakarta. Namun, meski demikian, hasratku untuk menonton Dilan 1990 adalah karena aku ingin melihat seromantis apa sih seorang Dilan dibandingkan seorang Sarwono?

Iya, aku ingin sekali menonton Dilan 1990 karena ingin membandingkan dengan film Hujan Buli Juni karya Sapardi Djoko Damono yang sudah membuatku jatuh cinta lebih dulu. Maka sebelum nonton film Dilan pun, aku sudah memiliki ekspektasi tentang bagaimana diksi karya Ayah Pidi akan membuatku jatuh cinta.

Dilan 1990 dan Gombalan Mautnya yang Biasa Saja

Bisa dibilang, film Dilan ini boom karena ia muncul di generasi Z, di mana anak zaman sekarang yang menjadi penerus generasi millenials ini sangat mudah terpengaruh oleh dunia maya. Share dikit, kepo, nonton, deh. Terus nih ya, anak zaman sekarang kan hidupnya digital, beberapa memang memilih dengan matang-matang film yang akan ditonton. Tapi percaya nggak bahwa sebagian yang lain gampang sekali tertarik karena kutipan-kutipan kata Dilan yang tersebar di internet tanpa peduli dengan whole of storytelling suatu film tersebut.

Karena hal inilah, banyak sekali bioskop yang membiarkan studionya dipenuhi dengan fans Dilan eh Iqbal maksudnya. Yes, yang paling mendominasi adalah penikmat novel Dilan dan fans Iqbal si mantan personel cowboy junior itu. Sisanya, ya orang-orang kayak aku gini kali, ya. Orang-orang yang memang penasaran dengan jalan cerita yang akan dibawa di film yang berhasil mendapatkan satu juta penonton dalam waktu satu minggu ini.

Aku ketinggalan banyak kalau ditanyain soal novel Dilan. Sebab, aku memang tidak suka membaca novel dan aku bukan tipe yang gampang terpengaruh dengan "eh, katanya novel DIlan bagus, lho..."

Nah, menurutku pribadi, kekuatan film ini justru bukan pada di plot twist ceritanya. Melainkan karena memang sebelum film ini muncul, hype terhadap Dilan sudah diciptakan melalui penjualan novel yang meledak dan because of social media yang menampilkan banyak kutipan novel Dilan. Alhasil, gombalan yang dianggap maut dan digadang-gadang bikin meleleh para cewek zaman now itu jadi viral. Hmmmm

Soal gombalan-gombalan maut Dilan di film sendiri aku lebih menilainya dengan gombalan tengil. Sepanjang nonton film memang bikin senyum-senyum sendiri. Tapi rasanya nggak kaget aja gitu. Soalnya aku orangnya juga setengil itu kalau soal pergombalan. Contohnya pas Dilan bilang ini ke Milea di pasar;

"Milea, aku mau bilang aku sayang kamu. Tapi, nggak jadi deh.
Kenapa?
Nunggu kamu aja yang bilang
Loh, aku kan cewek. Nggak mau ah. Kamu dong yang harusnya bilang
Bilang apa?
Aku sayang kamu
Yaahhhhh keduluan, kan."
Ini tengil banget sumpah hahaha. Ya emang sih manis, tapi bener-bener rasanya tuh gilaaakkkkkk klise abeessss wahahhaha. Dan tau dong, partner nontonku langsung bilang "kok kayak kamu persis ya kalo gombal gini". Kebayang dong aku tengilnya kayak gimana? XD

Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

1 komentar:

  1. Kalo aku suka sama filmnya. Aku belum baca novelnya dan ga tau bahasa di novelnya gimana, tapi nonton ini jadi bikin senyum-senyum sendiri geli geli geleuh gimana gitu hahaha. Ada beberapa hal yang ngingetin sama jaman sekolah terutama pas smp sih, kayak ditelfon terus yang angkat bokap, atau janjian ketemuan tapi di kantin doang. dari segi pemain menurutku iqbal sukses memerankan dilan.

    BalasHapus

Halo!

Terima kasih telah membaca blog www.dwiseptia.com. Semoga konten yang ada di blog ini bisa menginspirasi. Doakan saya bisa produksi konten yang lebih baik, ya!
Oh, ya kalau ada rekues konten silakan tulis di kolom komentar, ya! ^^