Rabu, 30 Mei 2018

Seru-seruan di Turki Selama 5 Hari Kemana Saja?



Lima hari bukan waktu yang panjang pun bukan waktu yang singkat untuk menjelajahi Turki hanya berdua tanpa seorang guide. Meskipun jauh-jauh hari sudah membuat bucketlist tempat yang harus dikunjungi, tetap saja both of me or Akbar harus bersiap untuk segala kemungkinan yang mungkin terjadi selama kami berdua di Turki. Termasuk, kami harus mempersiapkan diri kami atas waktu yang mungkin bisa molor atau kejadian-kejadian lain yang enak atau nggak enak yang bisa mengganggu perjalanan kami.

Dan bener aja, selalu dalam setiap perjalanan akan ada hal-hal yang menyenangkan dan tidak. Hal-hal yang membuat diri kita bisa tersenyum selebar-lebarnya atau malah menjadi cemberut sejadi-jadinya. Ah. Kalau ingat masa-masa enak dan sulit rasanya tuh ~

Menjadi Turis di Negeri Turki Selama Lima Hari


Menginjakkan Kaki di Cappadocia


Berapa lama Sep di Turki?
Lima hari. Emm, tujuh hari sih, tapi sudah sama perjalanan PP.
Efektifnya ya lima hari lah jalan-jalan di Turkinya.

Kota Goreme

Kami berangkat tanggal 2 April 2018 pada malam hari dan sampai di Istanbul keesokan harinya, tanggal 3 April 2018 waktu subuh Turki sekitar pukul 5 pagi. Kami sampai di Cappadocia pukul 12 siang waktu Goreme. Tahu nggak apa yang bikin amaze ketika sampai di Turki? Suhunya doooonggggggg tembus 7 derajat dan makin turun jadi 0 derajaatttt XD. Aku sueneeeng, ndesooooooooo sekaligus bahagiaaaa hahah norak abis pokoknya. Anginnya kenceng banget hehehehe.

Sampai di Bandara Ataturk, Istanbul kami melanjutkan perjalanan ke Bandara Kayseri, Goreme pukul 9 pagi untuk bisa sampai ke Cappadocia. Yes, tujuan pertama kami adalah Cappadocia sebelum ke Istanbul. Aneh ya? But we did it hehehe...

Hari pertama hingga hari ketiga, kami menghabiskan waktu kami di salah satu kota yang menurutku pribadi kota ini sungguh indah dan luar biasa seindah itu. Selama perjalanan dari Bandara Kayseri ke Cappadocia sungguh menyejukkan mata. Meskipun ada pertanyaan mengapa kota seindah Cappadocia penuh dengan bangunan tua dan rusak, tapi kota ini tetap membuatku terpesona dibuatnya.

Sesampainya di Cappadocia, aku merasakan secuil surga. Lebay, ya? Hahahah biarin biarin biarin aku anaknya emang lebay. Tapi sungguh, ini beneran. Hampir tidak ada sudut di Cappadocia yang akan membuatmu kecewa kalau kamu sudah benar-benar ada di sini.

Mau berjalan sejauh apa, ke sudut manapun kayak oh man, this is damn beautiful!!!! Baguuuussss banget dan emang seindah itu ya Allah. Nggak kuat buat stay di hotel dan nggak kemana-mana. Super baguuuussss banget.

ROC of Cappadocia. Cantik, ya?

Anyway, kami berdua menginap di ROC of Cappadocia. Salah satu cave hotel yang indah banget. Kami menginap di kamar berbeda lho ya, jangan salah paham. Aku mendapatkan voucher hotel yang bisa kami pergunakan untuk memesan dua kamar alhamdulillah. Jadi, kami menginap di ruang terpisah. Meskipun jalan jauh sampai ke Eropa, kami tahu batas kok :)

Cafe Safak - Langganan tiap kali mau makan.

Selama di Cappadocia kami tidak kemana-mana. Kami hanya ikut South Cappadocia tour dan naik balon udara. Yaa paling sambil jalan-jalan cari makan sambil wifi-an, nuker uang, ke masjid dan udah gitu doang. Tapi, meskipun gitu doang, Cappadocia benar-benar membuat jatuh cinta.

Melanjutkan Perjalanan ke Istanbul


Hari ketiga, malam harinya aku dan Akbar menuju ke Bandara Kayseri untuk melanjutkan perjalanan ke Istanbul sebelum pulang ke Indonesia. Benar, kami meletakkan Istanbul di akhir agar kami bisa langsung pulang dari Bandara Ataturk, bukan bandara lain lagi untuk ke Jakarta hehehe.

Ini foto pas badan masih seger belum sakit :(

Sampai di Bandara Ataturk, kondisi badan nggak banget, turun pesawat muntah-muntah. Ketemu sama rombongan dari negara lain yang duh ya Allah harsh banget :(((. Tidur nyempil aja nggak boleh padahal kondisi sudah capek banget dan lemes abis karena muntah tak berkesudahan.

Lalu, kami melanjutkan perjalanan dengan trem dan kereta bawah tanah. Kami menuju ke lokasi hotel yang ada di Istabul lama dan dekat dengan Blue Mosque dan Hagia Sophia. Dan drama benar-benar dimulai di sini.

Setelah menempuh perjalanan dengan berjalan kaki dan naik angkutan umum bersama warga asli Turki selama sekitar 2-3 jam, kami akhirnya menemukan lokasi hotel kami yang tidak jauh dari halte bus tempat kami turun. Tapi, sesampainya di hotel, tahu apa yang terjadi? Nama kami berdua tidak tercatat dan pesanan kami dinyatakan no record, sehingga kami diajak basa-basi untuk dipindahkan hotel.

Kami dijamu sarapan, lalu melanjutkan perdebatan dari yang nada kami selaw hingga nada kami mulai meninggi. Akbar yang awalnya menyabarkan diri pun mulai marah sebab pihak hotel teramat sangat keterlaluan hingga kami yang ingin istirahat lebih awal menjadi terlantar.

Kami ditawarkan ke hotel yang jauh dari lokasi awal kami. 15 menit naik bus. Jauh!!!!! Tapi denagn terpaksa harus kami terima karena kami sudah terlampau lelah dan kami butuh istirahat.

Sorenya, setelah bangun kami menuju ke Grand Bazar dan ke Eminonu untuk melanjutkan perjalanan ke selat bosphorus. Ini gilak sih, kami jalan kaki sekitar 1 jam lebih untuk bisa sampai ke wilayah selat bosphorus yang ada di Istanbul baru. Dan pulangnya kami terjebak di jalanan Istanbul baru yang sepi dan hari sudah malam. Akhirnya kami naik taxi dan disambung dengan bus.

Ini foto di depan Museum Hagia Sophia

Keesokan harinya, kami menuju ke Museum Panorama Topkapi, Blue Mosque, merasakan shalat dhuhur berjamaah di sana, dan mengakhiri di Hagia Sophia untuk melihat jejak sejarah muslim dan non muslim di sana.

Such a amazing journey! Seneng banget 5 hari di Turki bisa semenyenangkan ini. Dan selama jalan ke lokasi-lokasi baru dipikiranku melayang-layang satu nama yang pengen banget aku ajak. Doakan ya bisa ajak mas juga ke sini jalan berdua, bergandengan tangan menikmati senja di Istanbul hehehehe aamiin ya Allah.

Kalau kamu, sudah pernah ke luar negeri?
Negara mana yang paling bikin kamu berkesan?

Salam,

Selasa, 22 Mei 2018

Buka Bersama; Rutinitas Bersama Keluarga yang Hingga Saat Ini Masih Menjadi Wacana

Nggak kerasa ya, puasa sebentar lagi..
Masha Allah, sudah masuk Bulan Ramadan..
Aku pengen pulang, merasakan sahur dan buka puasa sama keluarga..

Tidak ada yang bisa menggantikan keluarga saat tiba Bulan Ramadan. Semua orang berbahagia, sebab sebentar lagi masa yang dinanti untuk bisa berkumpul bersama keluarga, makan sahur dan berbuka puasa bersama menjadi momen satu tahun sekali yang aku yakin banyak yang merindukan ini.


Tidak sama seperti kalian yang berbahagia sebab bisa merasakan momen yang langka ini, aku, justru menangis setiap kali menjelang Ramadan, saat Ramadan, hingga tiba waktunya Idul Fitri, hari kemenangan yang dinanti selama satu bulan lamanya. 

Dulu sewaktu aku menjadi anak rantau, aku benar-benar merasakan apa itu sendiri -- sahur sendiri, berbuka puasa sendiri, tanpa keluarga. Kalau bangun kesiangan, ya resiko. Kalau misalkan saat berbuka puasa hanya ada teh hangat yang kubuat dengan bantuan dispenser kantor, ya inilah hidup. Itu yang aku rasakan saat itu.

Dan momen sahur bersama ibu benar-benar menjadi precious thing yang tidak tergantikan. Benar-benar momen yang membuatku menangis sejadi-jadinya di kantor dan di kosan setiap kali aku teringat bahwa aku di tanah rantau sendirian.

Tapi, ada yang lebih menyedihkan daripada sekadar meratapi hidup menjadi anak rantau yang rindu akan pulang untuk bisa bercengkrama dengan keluarga, yaitu bertemu, tapi tidak bisa bercengkrama.

Tahun ini, alhamdulillah aku bisa menikmati segarnya meneguk teh panas atau sekadar air putih di rumah, bersama ibu. Tapi sayangnya, selalu dan tidak pernah bisa untuk merasakan bahagia ini bersama bapak. Sekalipun dalam hidupku hingga tahun ke dua puluh tiga ini tidak pernah aku merasakan berbuka dengan keluarga -- seutuh-utuhnya keluarga.

Puasa di Satu Atap yang Menganut Keyakinan Berbeda


Kalian mungkin sering merasakan berbuka puasa dengan teman yang berbeda keyakinan. Bagiku, itu hal kecil yang memang sudah sewajarnya ada. Tidak ada yang perlu diperdebatkan tentang siapa yang puasa dan siapa yang tidak ikut puasa. Keyakinan memang sudah seharusnya tidak memaksa suatu pihak untuk meyakini keyakinan yang lain.

Tapi, kasusku berbeda. Aku hidup di tengah keluarga dengan keyakinan yang bisa kalian bayangkan rasanya saat orang tua kalian menganut agama berbeda dan mempercayai kitab yang berbeda pula? Saat kalian bisa bersama orang tua kalian menjalani shalat jamaah bersama, puasa bersama, tadabur Al-Quran bersama-sama, tidak demikian dengan aku.

Sejak kecil, aku sudah terbiasa dengan kehidupan masjid dan gereja, tasbih dan rosario, Al-Quran dan Injil serta perbedaan keyakinan-keyakinan yang membuatku entah ada di titik mana. Aku pernah merasakan roti yang diberikan oleh Bapa di gereja dan memakannya saat aku masih berusia anak-anak.

Kata keluargaku, itu adalah berkat dari Tuhan lewat Bapa. Aku pun pernah meraih juara hafalan surat pendek antar masjid, juara mempraktekkan shalat fardhu dan juara lain di dunia muslim. Sebuah kontradiksi yang menyenangkan. Setidaknya, masa kecilku penuh dengan masa-masa bahagia meski banyak pihak yang menentang untuk percaya pada salah satu agama yang ada di kelurga besarku.

Bahkan, awal di mana aku ingin memakai jilbab, Ibuku melarangku. Katanya, jangan dulu. Akan banyak hal yang aku lalui kalau aku benar-benar memutuskan memakai jilbab. Hancur rasanya mendengar ini.

Awalnya aku menyangkal, satu tahun kemudian, aku benar-benar mulai memakai jilbab, lalu tahu apa yang terjadi? Satu bulan kemudian, saat liburan semester, aku membuka jilbabku karena harus rekreasi bersama keluarga dari Bapak ke Bandung. Sulit bagiku yang masih belia mempertahankan jilbab sedangkan aku sendiri di sana.

Untuk shalat saja bahkan terasa sulit, sebab terjebak dalam zona waktu di tengah-tengah mereka benar-benar membuatku berjuang lebih keras dari biasanya. Aku bahkan untuk wudhu harus mencuri waktu. Aku harus benar-benar mencari space kosong untuk bisa menggelar sajadah dan menengadahkan tangan di lima waktu yang harusnya tak boleh aku lewatkan.

Masa laluku berat, bahkan hingga hari ini.

Mendengar bahwa agama yang kupercaya ini hanya mencetak orang bodoh, adalah hal termenyakitkan yang aku tidak tahu harus marah atau harus apa untuk bisa mencernanya. Aku masih ingat betul rasanya, bahkan hingga saat ini. Mau marah, tapi aku bisa apa? Tak ada satupun kalimatku bisa sampai hingga membuat mereka mencerna. Hingga pada akhirnya, aku kalah dengan kalimat "mereka berbuat demikian karena mereka tidak mengerti. mengalahlah..."

Baik, aku menyerah. Aku tidak ingin menjadikan orang lain sebagai tersangka atas ketidakmampuanku memberikan penjelasan paripurna.

Membayangkan Bisa Shalat Jamaah Bersama Saja Sudah Membuat Pipiku Basah, Apalagi Bisa Berbuka Puasa Bersama?


Mungkin, bagi kalian, mudah untuk bisa mengatur jadwal setidaknya satu minggu sekali atau bahkan satu bulan sekali untuk berbuka di rumah bersama keluarga. Lengkap. Tanpa ada seorangpun alpa. Aku belum pernah merasakannya. Sekalipun belum sekali dalam seumur hidupku. Menyedihkan, ya? Padahal, semua anggota keluarga ada. Lengkap. Tapi aku tak bisa menjadwalkan satu haripun untuk bisa bertemu mereka dan menyantap hidangan berbuka bersama-sama.

Tahu alasannya kenapa? Betul, karena kami menganut keyakinan yang berbeda. Sebab itulah, aku tak pernah bisa merasakan bagaimana rasanya nikmatnya berbuka bersama keluarga.

Aku dan ibu. Hanya ada aku dan ibu. Sedari dulu begitu dan aku bosan. Kalaupun harus ada kakak laki-lakiku yang hadir di tengah ritual puasa tahunan yang kami jalani, kami tidak pernah duduk dalam satu meja. Kalau aku di dapur, mungkin kakakku di kamar dan ibu di ruang tengah. Kalau aku di ruang tengah, kakakku di dapur bersama ibu. Seterusnya begitu.

Lalu, kakakku menikah dengan wanita pilihannya. Aku menduga, bahwa ia merasakan kesepian yang sama, sepertiku. Aku tahu betul bagaimana rasanya dan mengapa ia segera untuk meminang gadis pujaannya yang kini menjadi kakak iparku. Sebab, ternyata sepi memang menjadi pembunuh paling kejam dari dalam diri. Kalian percaya? Mungkin tidak, sebab kalian tidak pernah mengalami.

Aku tidak merasa butuh dikasihani. Aku hanya ingin berterimakasih kepada golongan yang selalu membagi bahagianya melalui sosial media dan menceritakan tentang hangatnya hidangan berbuka yang bisa mereka santap bersama keluarga. Terima kasih telah membaginya, kepadaku yang rindu untuk bisa merasakannya meski hanya sekali saja.

Suatu hari, kalau kalian membaca ini dan bertemu denganku, boleh kuminta satu? Jangan pernah mengasihani aku --
yang pernah shalat di gereja,
yang pernah shalat menghadap patung Bunda Maria,
yang sering mendengar kalimat rosario di tengah-tengah doa bersama,
yang pernah melepas jilbab karena tiada seorangpun yang bisa menjadi teman dalam perjalanan.

Aku sudah cukup merasakan pahitnya sendiri selama ini. Tolong, jangan kalian tambahi dengan rasa kasihan yang ingin sekali kalian sampaikan.

Terima kasih, ya, sudah berkenan membaca sepanjang ini.

Salam untuk keluarga di rumah,
Dariku

Minggu, 20 Mei 2018

Mau Jalan-jalan ke Anyer Tapi Masih Belum Tahu Mau Nginep di Villa Mana? Baca Ini!

Hal apa yang paling nekat yang pernah kalian lakukan selama travelling? Pernahkan kalian jalan tanpa itinerary yang jelas? Aku pernah dooongggg.


source image: google images

image source: google images

Waktu itu, aku pengen banget dan sepengen itu ke Anyer, Banten. Pengen banget bisa melihat sunset di Anyer dengan segala macam keindahannya yang luar biasa indah. Apalagi temen-temen yang suka travelling selalu bilang bahwa sunset terbaik itu di Anyer. Ewwhhh makin makin dah pengen ke sana.

Dan 2017 lalu, aku pernah melakukan perjalanan ke Anyer tanpa pesiapan. Gila siiiiiiiihhh, but I did it!!! Tulisan tentang kegilaanku bisa kalian baca di sini, nih:

Jadi Gini Rasanya Ngebolang Tanpa Persiapan Ke Anyer!


Dan kejadian ini berakhir dengan ngenes karena aku dan temanku nggak dapet tempat penginapan karena kami nggak bawa uang dan penginapan di sana mahal dan super mahal. Beruntungnya, ada teman di Cilegon, Banten yang siap menampung kami berdua. Nggak tau deh kalau nggak ada teman kami itu nasib kami akan jadi seperti apa.

Duh, nggak lagi-lagi deh jalan tanpa persiapan yang jelas kayak gini. Capek, beneran deh! At least, kalau memang nggak punya itinerary yang jelas mau jalan ke mana, mendingan siapin deh budget buat nginep supaya at least nggak tidur sembarangan dan ada gambaran mau nginep di mana.

Kali ini, aku pengen kasih tau ke kalian nih tentang cara cari vila di Anyer yang recomended banget tanpa repot dan tanpa bingung pakai Traveloka. Caranya? Gampang banget!

Masukkan Destinasi Liburan dan Tentukan Tanggal Menginap


Setelah memutuskan untuk berlibur, pastikan kamu sudah menentukan tanggal menginap, ya. Setelah membuka halaman www.traveloka.com, pastikan kamu memilih kategori pencarian hotel dan memasukkan lokasi berliburmu, ya.








Pastikan Pesanan Villa Sudah Sesuai dan Pilih Metode Pembayaran


Setelah mendapatkan beberapa rekomendasi, pastikan kamu memilih villa yang sesuai dengan yang kamu inginkan, ya. Cek fasilitas terlebih dahulu, kalau memang sudah naksir, lanjutkan ke metode pembayaran.




Setelah itu, nanti kamu akan mendapatkan email yang berisi tentang detail pesanan yang telah kamu lakukan di website Traveloka. Cek detail pesanan apakah sudah sesuai dengan yang kamu harapkan, lalu bayar deh. Simpel banget!

Aku sih sudah punya rencana buat jalan lagi di tahun ini booking-nya pakai Traveloka. Selain karena memang referensinya banyak, cara pesannya pun gampang. Nggak pakai tapi, nggak pakai nanti, tapi sudah pasti dapat villa sesuai harapan.

Nah, kalau aku sudah pesan Villa Traveloka, kamu kapan?

Salam

Jumat, 18 Mei 2018

Artjog 2018, Membawaku Kembali Berimajinasi Akan Mimpi yang Tak Sampai

Aku pernah berandai bisa menjadi seniman - atau menjadi seorang desainer - atau menjadi seorang arsitek - atau menjadi siapapun yang bisa memvisualisasikan apa yang ada di dalam kepalanya dalam bentuk seni berupa gambar.
Sayangnya, Tuhan punya cara lain untuk menjadikanku sebagai manusia seperti saat ini.


yaaaahhhh anak halu mah udah ketahuan ya kalau sejak dulu selalu halu pengen ini itu. Aku memang terkenal anaknya agak halu sejak kecil. Dulu, sewaktu SD tiap kali ditanya pengen jadi apa nanti aku selalu lantang jawab "Arsitek!!!" Tapi, yah gimana tetap saja pilihan-pilihan harus didiskusikan bersama orang tua dan orang-orang sekitar. Namanya juga manusia dan nggak hidup sendiri ya, kan?

Mimpiku untuk bisa menjadi arsitek atau desainer grafis pun berlalu begitu saja. Sebab tak ada pihak dari keluarga yang mendukung. Yaaaaa kayaknya mereka memang sudah paham bahwa aku nggak bakat bikin gambar cantik kali ya makanya aku nggak dibolehin. Aku mah apa nurut aja sambil nggrundel2 dikit. Dulu kok duluuuu...... Sekarang alhamdulillah sudah nggak hehehhe.

Beberapa waktu lalu, aku mampir ke Yogyakarta setelah notice bahwa akan ada pameran Artjog 2018. Aku nggak ngerti kenapa sedari dulu memang aku punya kecemburuan sosial sama orang-orang yang terlahir dengan bakat menggambar. Gimana enggak, aku nggak bisa nggambar cooyyy hiiks. Bahkan bikin awan aja gleot gleot huhu. Makanya aku selalu amaze tiap kali ada pagelaran seni atau pameran hasil karya yang tak ternilai harganya.

Dan Artjog berhasil mencuri perhatianku di tahun 2018 ini. Mungkin karena kebetulan aku nggak ada jadwal main dan salah satu kota yang masih bisa aku sambangi untuk sekadar main adalah Yogyakarta. Sudah beberapa waktu sebelum Artjog dibuka, aku sudah merencanakan keberangkatanku ke Yogyakarta. Nggak kok, nggak impulsif. Ini sudah well planned hehehe. Tumben, ya? XD

Artjog 2018 yang Mengangkat Tema Enlightment


Aku nggak terlalu paham akan filosofi seniman visual. Makna tersirat dan tersiratnya tidak seperti di dunia di penulis yang mana harus menerjemahkan setiap makna dari kata yang tertulis. Lha Artjog sendiri itu apa, sih? Nih, kalau dari websitenya bisa dibaca:

ARTJOG is an art experience that provides a melting pot for new ideas and thoughts in art. There, one may find various presentation of interdisciplinary arts. Anyone with the background of visual arts, music, dance and performing arts until creative industry would have the opportunity to meet each other. ARTJOG commits to overcome the boundaries that restrict the practice and the interpretation in art practice, and at the same time developing and maintaining the existing network between artist, market, stake holder, and public. ARTJOG is a space for sharing; sharing knowledge and aesthetic experience and also the latest development in art.
Jangan malas baca lah yaaa, informasi sudah lengkap hahahah padahal aku juga males ngartiin astagfirullah maap maap XD. Yang aku tangkat sih memang enlightment ini untuk mencerahkan pikiran-pikiran orang-orang seperti aku sih. Karya-karya yang ada di Artjog nggak cuma punya visual yang keren, tetapi filosofinya pun beuh bikin jatuh cinta.

Rentetan Karya Artjog 2018



Kalau kalian datang ke sini, kalian akan dimanjakan sejak pertama kali menginjakkan kaki di pintu masuk. Ada semacam kayak mockup karya bawah laut gitu menurutku. Eh bener nggak sih? Maap yak aku bukan ekspertise di bidang DKV jadi aku nyebut dengan bahasa sederhana aja hehehe. Soalnya ada ikan-ikan sama species-species bawah laut yang lucu-lucu gitu lhoooo. Dan yang paling aku suka mereka colorful, tapi nggak bikin bete karena terlalu ngejreng warnanya. Indah lah pokoknya!








Harga Tiket Masuk Artjog 2018 Cuma 50Ribu Saja


Berapa sih biaya masuk untuk bisa menikmati seluruh karya seniman di Artjog? Yes, cuma 50ribu. Tuh, udah aku tulis di judulnya hehehe. Mahal? Nggak, dong. Karena seni itu soal rasa dan karya yang dipamerin di Artjog ini bukan sekadar seni, lho. Masa cuma bayar 50ribu aja mahal hehehe. Dan begitu masuk, dijamiiiiinnnn kalian pasti bakalan suka. Its really worth to watch the exhibition at Artjog. Banyak banget karya yang akan membuatmu berdecak kagum dan berhenti untuk sepersekian waktu, menikmati ambience-nya

Kamu bisa menikmati karya-karya Artjog 2018 ini di:
Museum Nasional Yogyakarta,
Gampingan, Jalan Professor Ki Amri Yahya No.1,
Pakuncen, Wirobrajan, Kota Yogyakarta,
Daerah Istimewa Yogyakarta 55167

Oya, dengan bayar 50ribu, kamu akan mendapatkan voucher yang bisa ditukar dengan kuas GRATIS. Tuh, kalau kamu suka lukis atau mau belajar dunia lukis melukis kan yahut banget tooooo. Sayang seribu sayang, punyaku jatuh. Jadi yaaa aku nggak dapet kuasnya. Kamu jangan teledor ya kayak aku, kamu nggak akan kuat! Hwahwahwa

Salam

Kamis, 03 Mei 2018

Jalan-jalan ke Turki GRATIS Cuma dengan Modal Nulis. Kok Bisa?

Banyak yang kaget ketika aku nge-post story di Instagram tentang perjalananku ke Turki. Banyak dari kalangan followers dan teman-temanku yang tidak tahu menahu tentang keberangkatanku kali ini ke negeri Eropa.. Maklum, aku anaknya memang diem-diem bae kalau ada sesuatu. Nggak pernah cerita-cerita dan hanya bilang ke orang-orang terdekat saja. Jadi ya, wajar ketika aku posting di Instastory bahwa aku sudah di bandara dan menuju Turki nggak cuma satu dua orang saja yang kaget. DM tiba-tiba jadi penuh dan ringtone nggak berhenti bunyi. Anaknya sok artis banget ya Allah, maaf nggak bermaksud gitu hehehe


Jadi, awal April 2018 kemarin alhamdulillah aku dapat kesempatan berangkat ke Turki. Meski terkesan mendadak, sebetulnya perjalanan ini sudah direncanakan sejak Desember 2017 tahun lalu. Hm, lumayan lama, kan? Tapi, kok nggak kelihatan? Yup, aku emang keep secret banget soal perjalananku kali ini ke Turki.

Gimana Awal Mula Bisa Dapat Free Pass Flight dan Hotel ke Turki?


Sekitar 5 bulan yang lalu, tepatnya Bulan Desember 2017 aku mendapatkan notifikasi dari salah seorang temanku yang juga partner desainku, Yohan Bagas (@bagashuft) bahwa aku mendapatkan hadiah grand prize winner dari Traveloka. Yes, beberapa hari sebelum itu aku memang mengirimkan tulisan tentang perjalananku dengan kereta api saat aku tengah menjadi anak rantau.

Demi bisa membuat tulisan yang bernyawa pun aku lalu melakukan perjalanan ke Jakarta yang kebetulan saat itu ada keperluan bisnis juga. Di kereta, aku membuat tulisan tentang perjalanan di kereta dan menulis perjalanan tentang kereta. Eh, bingung nggak? Hahahaha. Ya intinya gitu ngertilah ya :).

Aku tipikal orang yang baru bisa menulis dengan merasakan secara langsung apa-apa yang ingin aku tulis. Termasuk ketika aku ingin menulis tentang perjalananku soal kereta, aku harus melakukan perjalanan agar bisa membuat tulisanku membuat para pembaca berimajinasi seolah mereka mengalami perjalanan seperti yang aku rasakan. Agak ribet emang, tapi aku beneran harus merasakan langsung kalau pengen buat tulisan yang bernyawa.

Back to the topic, saat mendapatkan informasi tersebut aku masih belum percaya. Sebab, kali ini aku mendapatkan hadiah dobel, hadiah juara I di kategori kereta api sekaligus menjadi juara grand prize winner. Alhamdulillah, seneng banget pas dapat kabar soal ini. Nggak ketulungan senengnya.

Hadiah Apa yang Didapat Saat Menang Lomba Nulis?



Sebagai juara pertama dalam kategori kereta aku mendapatkan hadiah uang tunai. Dan sebagai pemenang grand prize, aku diizinkan untuk memilih destinasi kemanapun di Eropa. WOW ya? Heheh alhamdulillah. Negara yang terpikir pertama kali adalah Turki. Iya, aku pengen banget bisa ke Istanbul karena cerita-cerita kawan yang sering banget bolak-balik ke sana. Selain karena indah, aku benar-benar ingin menelusuri jejak sejarah Islam di sana.

Sedangkan negara kedua yang ingin aku kunjungi selain Turki adalah Swiss. Aku pengen banget ke Switzerland gara-gara postingan @sabaideter dan @pergidulu yang ciamik-ciamk foto-fotonya. Racun beneran deh kalau follow akun-akun yang suka jalan-jalan heu. Aku bahkan sempat DM Adam dan Susan selaku admin dari @pergidulu karena pengen tahu berapa sih biaya hidup di Eropa. Dan pas mereka jawab kalau aku harus siap sehari minimal 2juta rupiah rasanya DIE! Matik! Aku aja mau beli action figure mikir-mikir, lha ini sehari 2juta. Hayati tak sanggup bang ~

Sambil menahan diri, aku pun mencari informasi mengenai visa schengen untuk bisa hidup di Eropa. Eh, yang bener aja dong visanya pun harganya mahal. Belom harus boking jadwal alias janjian sama kedutaan Ceko di Jakarta. Duit lagi duit lagi yeu kan XD. Baru kali ini aku harus nge-plan perjalanan serinci ini mulai dari persiapan sampai dengan estimasi nanti ketika aku akan hidup di sana.

Dilema Memilih Destinasi Antara Swiss dan Turki Akhirnya Berakhir dengan Drama


Dan nggak kuaaattt, aku menyerah ~~~~~~


Uang yang disiapkan terlalu banyak sampai pada akhirnya aku harus merelakan rencana perjalanan ke Swiss. Emang mungkin disuruh ke Turki dulu sama Allah, Akhirnya, yaudah deh memilih Turki sebagai destinasi untuk ke Eropa kali ini. Rencananya aku mau di sana selama 15 hari, aaakkk ingin sekali jadi manusia Turki dan menjelajah setiap kota di Turki dan merasakan betul pengalaman di sana.

Salah satu sudut di Cappadocia, Nevsehir, Goreme, Turki

Tapi, ada hal yang tidak kuduga dalam perjalanan kali ini. 15 hariku harus kurelakan dan aku harus merelakan untuk menikmati Turki selama 7 hari saja, efektif 5 hari karena perjalanan 12 jam cukup menguras waktu di jalan. Sedih ya? Nggak terlalu sih, sebab sesuatu yang baru itu sesuatu yang lama telah aku nanti. Jadi ya, seneng-seneng aja gitu ngejalaninnya. Beda emang hehehe...

Akhirnya, informasi yang semula hanya tentang Swiss, Swiss dan Swiss bergeser menjadi informasi tentang Turki. Dan first place that i want to see adalah Cappadocia. Rasanya harus banget naik balon udara di Turki hehehe. Bukan apa-apa, nggak semua negara ada fasilitas balon udara soalnya. Pengen banget bisa naik balon udara dan menikmati indahnya ciptaan Allah di Cappadocia dari ketinggian. Nggak bisa bayangin bakalan seseneng apa bisa naik balon udara.

Cave in Capapdocia

Sedangkan destinasi lain yang ingin aku tuju adalah kawasan SultanAhmet, Istanbul lama. Kenapa? Karena di sana banyak sekali jejak sejarah islam yang luar biasa ciamik dan pasti bisa bikin berdecak kagum luar biasa nggak habis-habisnya. Deretan lokasi yang wajib untuk dikunjungi, antara lain Blue Mosque, Hagia Sophia, Topkapi Palace dan Museum Panorama 1453H. Sayangnya, aku nggak sempat ke Topkapi Palace karena waktu yang tidak cukup. Sedih? Banget! But, it's okay. Someday insha Allah i'll be back with my husband eyaaaaaaa spoiler inih XD

Tulisan Kayak Gimana Sih yang Bisa Bawa Seorang Septi Jalan ke Turki Gratis?


Penasaran nggak sik tulisan seperti apa yang bisa bikin seorang Septi jalan-jalan ke Turki Gratis? Pasti iya, kan? Lawong aku aja masih nggak percaya bisa ke Turki Gratis hehehe padahal aku yang nulis. Ada 6 kategori yang dilombakan dan pilihanku berlabuh pada kereta. Aku ingin menuliskan bagaimana struggle-ya menjadi anak rantau yang pulang satu bulan sekali dan kadang dua minggu sekali untuk bisa bertemu dengan ibunya. Dramak pokoknya pas dulu masih jadi anak rantau.

Terus inget banget kalau tiap pulang harus pesan kereta ekonomi jauh-jauh hari karena budgetnya cukup buat kereta ekonomi dan selalu melewati perjalanan sendirian. Dan dari pengalaman inilah aku ingin merangkumnya dalam tulisan tentang cerita bersama kereta yang akhirnya menjadi sebuah judul untuk kuikutsertakan dalam lomba.

Mangga kalau mau baca tulisan yang membawaku ke Eropa boleh cus ke sini:

Perjalanan Seperti Apa yang Kau Dambakan Untuk Menemanimu Menuju Rumah?


Believe it or not, proses menulis di kereta ini benar-benar aku lakukan. Eh, ngetik deng karena di kereta aku buka laptop. While others sleep or eat, i choose to write. Gileeeee workaholic banget emang. Kalau ditanya pusing atau enggak buka laptop di kereta, maka jawabannya iya. Tapi yaaa mau gimana lagi? Hehehehe

Kalian yang sudah pernah melakukan perjalanan sama aku pasti tahu banget kalo aku ini anaknya emang kayak pacaran sama laptop. Alias laptop everywhere and anywhere. Anaknya kayak amplop sama perangko kalau udah disanding sama laptop. Duh duh, kalo kalian main sama aku dan aku bawa laptop harus bener-bener siap-siap aku cuekin malah wehehehe. Maaf maaf, emang seasyik itu kalau sama laptop soalnya heheheh.

Kenapa menulisnya harus di kereta? Aku selalu percaya bahwa apa-apa yang aku rasa dan langsung aku tulis bisa membawa pembaca bisa berimajinasi lebih dalam. Entah bagaimana dengan kalian, tapi aku merasa penulis yang menulis berdasarkan kisah nyata selalu bisa memberikan kesan yang lebih dalam pada pembacanya. And I wish  had it on every single of my story that i've been made.

Oya, aku tidak seberbakat itu dalam dunia tulis menulis. Tapi, ketika dosenku selalu percaya bahwa apa-apa yang telah Allah anugrahkan kepada diri kita itu bukan hanya sekadar gimmick belaka, aku mulai berani mengeksplor dan ikut beberapa lomba. Meski tak jarang juga kalah, aku diajari untuk tidak murah menyerah.

Hadiah kali ini benar-benar berkesan buat aku.

Rasanya memang impian itu harus diperjuangkan. Kita bisa kemana saja melalui bidang apapun yang kita geluti. Asal kita nggak gampang nyerah, asal kita mau terus berusaha.
-Dwi Septia

So, semangat ya teman-teman!! Jangan sampai menyerah karena gagal satu dua kali. Kalau kamu, hal apa yang paling memberikan kesan mendalam?

Salam,

Selasa, 01 Mei 2018

Dimanjakan Oleh Turkish Airlines Selama 12 Jam Perjalanan Indonesia - Turki

I believe I can fly ~


Dulu, aku sering banget baca tulisan ini sambil sok-sokan nyanyi sambil berharap suatu hari bisa terbang. Aku suka main ke bandara hampir tiga bulan sekali. Bukannya gabut, tapi aku suka jemput abang setiap kali dia pulang dari Kalimantan ke Semarang. Seneng aja gitu sampe di bandara terus berharap suatu hari bisa naik pesawat. Kayaknya julukan dream catcher dari salah seorang kawan STM-ku emang bener. Aku anaknya emang suka banget halu dan emang sehalu itu.

Selang beberapa waktu, akhirnya aku benar-benar bisa naik pesawat beneran untuk pertama kalinya dari Semarang ke Jakarta. Meski untuk momen yang menyedihkan karena waktu itu nenekku meninggal dan aku harus segera sampai di rumah dan harus kembali dalam waktu yang singkat ke Jakarta. Tapi, tetap saja mimpi untuk bisa naik pesawat akhirnya kesampaian. What a day! Sedih sama seneng jadi satu pada waktu itu.

Time flies so fast and it has been passed 2 years ago.......


Saat aku masih berusia bocah, 21 tahun wehehehe. Sekarang, aku sudah 23 tahun btw dan udah lumayan sering naik pesawat. Yaaahhh, destinasi memang hanya Semarang - Jakarta dan sebaliknya sih alias nggak jauh-jauh. Tapi alhamdulillah udah seneng karena udah bisa tahu kapan butuh pesawat dan kapan butuh kereta.

Setelah sekian lama berlalu, pemandangan dari atas pesawat yang selalu kunanti pun kian lama kian menjadi makanan sehari-hari. Intensitas sebulan sekali ke Jakarta setelah resmi resign dari kantor apalagi. Aku makin-makin terbiasa naik pesawat. But wait, can you imagine to go abroad with plane? I have ever dream it and i do really wanna make it.

Sudah sejak lama aku memimpikan bisa terbang ke luar negeri, even just for fun or something i have to do there. Yes, karena emang anaknya halu, jadi halunya kemana-mana sampe pengen banget bisa jadi perempuan petualang dengan jilbab panjang dan rok yang dibilang ribet itu.

Setelah 3 Tahun, Akhirnya Pasporku Punya Stempel Juga


Sekitar April 2015, aku membuat paspor yang dibiayai oleh dosenku. Kala itu ada lomba menulis skala internasional dan Beliau memintaku ikutan. Karena harus langsung berangkat ke Thailand kalau lolos, maka paspor jadi syarat utama bagi peserta lomba. Eh, beneran aja dong aku disuruh buat dan dibiayain oleh Beliau. Ah, cintak!

Tapi sayangnya, aku kalah lomba dan em, yaaa paspornya mangkrak karena belom pernah dipakai sekalipun ke luar negeri. Duitnya nggak ada coy hahahah, pun aku masih belum terlalu yakin untuk keluar Indonesia sendriri. But, again.. Time flies so fast. Jauh sebelum aku kuliah, aku yang sering mendapati cerita tentang indahnya Istanbul memiliki mimpi besar suatu saat bisa ke Istanbul dan melihat sendiri keindahan yang ada di sana. Akkkk ~~~~



Dan 2018 ini, Allah mengabulkan mimpi-mimpiku yang lama itu. Si anak halu bisa terbang ke Eropa dengan biaya GRATIS alias tiada sepeserpun kukeluarkan uang untuk pembiayaan pesawat Indonesia - Turki. Alhamdulillah, aku akhirnya benar-benar bisa terbang jauh untuk pertama kali ke Eropa tanpa biaya pula. Alhamdulillah wasyukurillah. Seneng nggak? Uuuu ya seneng banget pastinya. Nggak nyangka.



Menekuni bidang kepenulisan hingga akhirnya berani untuk ikut lomba setelah sekian lama butuh waktu dan penyesuaian yang tidak mudah. But, i did it karena aku selalu berpikir, "sampai kapan takut? sampai kapan mau jalan di tempat? kapan mau maju kalau hanya begitu-begitu saja?" And Allah make it true. Keputusan untuk ikutan kontes menulis nggak pernah salah. Allah lead me to write and join the contest dan Allah pula yang membawaku terbang sejauh itu.

Tulisan tentang cerita menang lomba bisa di baca di sini ya, manteman.

Perjalanan Seperti Apa yang Kau Dambakan Untuk Menemanimu Menuju Rumah?

Terbang Pertama Kali Bersama Turkish Airlines


Yeu, karena aku anaknya cupu dan nggak pernah ke luar negeri, jadilah kutak tahu maskapai mana yang harus kupakai. Tapi, dari pihak penyelenggara ternyata telah menyediakan maskapai terbaik yaitu Turkish Airlines. Uuuuuuuuu nama pesawatnya aja udah bikin aku senang bukan main. Turkish men Turkish!!! Dan akhirnya aku bisa naik pesawat Turkish dengan tujuan ke Turki. Aaaakkk senengnya mak bukan main ya Allah.

Tapi, 12 jam? Tunggu-tunggu. Ini 12 jam di pesawat? Hahahahah... Kusempat kaget bukan main karena perjalanan terpanjangku baru pernah kutempuh dengan kereta, bus dan motor. Belum pernah kepikiran di pesawat selama itu. Dan pertanyaan-pertanyaan aneh pun mulai muncul di kepala:

Nanti kalau kebelet pipis gimana? Maklum, selama naik pesawat belom pernah kebelet pipis ~
Nanti kalau mabuk udara gimana?
Nanti kalau pegel dan panas pantatnya gimana?
Nanti kalau bosen gimana?
Nanti kalau laper gimana?
Dan pertanyaan tentang kekhawatiran anak cupu lainnya..

Lalu aku menertawakan diriku sendiri. Akbar, yang juga menjadi kawan perjalananku pun menjelaskan bahwa kalau naik Turkish nggak perlu khawatir sama hal-hal kayak gitu. Soalnya, Turkish Airlines ini punya fasilitas entertainment yang luar biasa keren, seluruh penumpang pun juga akan dimanjakan dengan enaknya makanan khas Timur Tengahan dengan cita rasa yang sudah dijamin lazis, pun kebersihan pesawat yang sudah pasti akan membuat nyaman.

Gara-gara Turkish Airlines, Aku Jadi Penumpang Norak


Aku bahkan baru tahu kalau naik pesawat Turkish Airlines itu dapat bantal dan selimut wakakka. Norak dasar emang. Seneng gitu, aku kan emang kalau perjalanan bawa bantal leher ya, kan jadinya berasa mubazir karena bantalnya double. Kalau selimut memang buat jaga-jaga kalau penumpang kedinginan. Ya nggak kepake juga sih, soalnya aku masih excited mau terbang jauh jadinya dingin sama capek nggak berasa behehe gaya emang yeu ~

Terus nih, nanti ada waktunya penumpang akan diberikan handuk hangat untuk membasuh wajah supaya lebih segar. Bayangin dong 12 jam perjalanan itu lamaaakk banget dan pasti wajahnya kering


Ngomongin makanan, aku speechless banget sih. Ternyata si Turkish Airlines ini bener-bener manjain si penumpang. Bayangin aja dong, dari appetizer, main course sampai dessert disediakan semua-muanya. 12 jam perjalanan? Nggak akan kelaperan dah dijamin hahahha. Apalagi, makanan yang disediakan oleh Turkish Airlines emang aselik enak. Sayangnya aku yang tak doyan susu dan daging merasa sedikit tersiksa karena nggak bisa ngabisin makanan huhu. Tapi really, kalau kalian suka makan dan nggak ada pantangan, dijamin bahagia deh kalau perjalanan jauh pakai Turkish Airlines XD.





Oyaoyaoya, selama di pesawat kan aku bosen dan bingung yak mau ngapain wong orang-orang pada tidur. Yaudah deng yeu aku nyalain aja layar monitor yang ada di depanku. Terus nih ya, aku baru notice kalau banyak film kece yang bisa ditonton wahahhaha. Aku nemu film Coco, itu lho film yang sempet heboh dan bikin nangis orang-orang. Aku sih udah nonton, tapi for second time, aku nonton lagi uwuwuwuwu enaa sekali hidupku di pesawat. Damai ~


Oya, jangan khawatir nggak nyaman pas nonton film karena kamu akan diberikan headphone buat dengerin audio yang ada di layar. Ena pokoknya ehehehe.


Bersyukur banget bisa naik Turkish Airlines dalam perjalanan kali ini. Next time kalau ada rejeki lebih, insha Allah kalau jalan jauh aku pengennya naiknya Turkish Airlines biar ena dan nyaman selama perjalannya. Si Turkish ini emang juarak. Beruntung, pertama kali ke luar negeri, ke Eropa dan bisa menikmati enaknya fasilitas Turkish Airlines ini. Alhamdulillah. Terima kasih ya Allah.



Bisa kalian lihat sendiri kan manteman betapa Turkish Airlines memanjakan penumpangnya luar biasa seperti ratu dan raja?

Kalau kamu pernah naik maskapai apa selama jalan-jalan ke luar negeri? Sharing dong ~

Salam,