Mewaspadai Tongue Tie Pada Bayi Sejak Dini

Hi!

Here i am after all this time. Apaan sih, Sep! Wkwkwk

Huaaaaaa ini udah berapa taon nggak posting ya Allah sampe debu semua isi blognya ini XD. Okay then, lanjoootttt. Jadi guys, aku sudah bukan lagi gadis yang bisa berkeliaran bebas sejak menikah dan ditambah sekarang aku sudah jadi mak-mak. Hihi alhamdulillah banget dikasih amanah langsung. Dan atas sebab hal ini, mungkin postingan-postingan blog setelah ini akan penuh dengan dunia seputar rumah tangga atau tentang anak yang aku alami tentunya. Karena memang Septi bisanya nulis tentang pengalaman yang dirasakan dan diamati langsung wakakaka paan sih!

So, beberapa waktu lalu aku sempat kayak orang stress ketika tahu bahwa Khaula, anak perempuanku ternyata mengalami tongue tie. Sedihnya sampe ubun-ubun, cuy karena tahu di hari ke 35 alias sudah sebulan lebih. Kenapa stress? Karena tongue tie membuat Khaula tidak bisa menyusu seperti anak-anak lain tanpa tongue tie. Jadi kebayang kan 35 hari nggak bisa minum ASI sedihnya mamak kayak gimana :"

Alhamdulillah, kondisi Khaula sudah membaik. Bersyukur banget, meskipun telat tahu, tapi bisa langsung bawa Khaula ke DSA (Dokter Spesialis Anak) untuk diinsisi alias ditindak. Dan sekarang alhamdulillah Khaula sudah bisa nyusu dengan kondisi lidahnya yang demikian. Sungguh kuasa Allah yang bikin skenario kayak gini pokoknya.

Oke, kita kenalan dulu kali ya sama tongue tie. Jadi, mengutip dari laman alodokter:

"Tongue tie atau ankyloglossia adalah kelainan kongenital di mana lidah tidak leluasa bergerak karena frenulum lidah yang terlalu pendek. Frenulum lidah adalah jaringan tipis di bawah lidah bagian tengah yang menghubungkan lidah dengan dasar mulut."

Kalau ditanya apa penyebabnya, aku juga nggak paham. Tapi, sejauh yang aku tahu ini semacam bawaan lahir alias bukan karena ibunya mungkin salah makan atau kebiasaan hamil yang salah. Jadi, tenang ya buibu karena kalian nggak harus menyalahkan diri sendiri, kok. Mungkin akan merasa bersalah aja kayak aku kalau tahunya telat. Thats why aku nulis ini supaya mungkin kalian yang lagi baca jadi tahu dan lebih aware aja sama tongue tie.

Awal Mula Curiga Khaula Mengalami Tongue Tie


Kalau disuruh flashback pas momen ini, duh, rasanya sakit ati banget kenapa bego banget baru tahu setelah anak usia 35 hari. Kesel, sedih, marah sama diri sendiri rasanya. Tapi, sisi lainnya aku jadi lebih aware sama tanda-tanda yang dimunculin sama anak. Yaa itung-itung buat mengantisipasi kalau nanti ada yang mendebarkan. Bismillah semoga nggak ada, sehat-sehat..... Aamiin :)

Mbah dan Utinya Khaula Merasa Khaula Kecil Terus

Believe it or not, doktrin susu formula itu ada untuk ibu baru. Entah dari keluarga sendiri atau orang lain. Aku bisa bilang gini karena aku merasakan langsung. Mereka, mbah-mbahnya Khaula merasa ini anak kok kecil terus, gimana kalau sambung sufor, gimana kalau selang-seling ASI dan sufor, dll. Ditambah, selain kecil, Khaula itu merem terus. Alias jarang banget buka mata dan interaksi sama kami yang momong.

Durasi Nyusu Khaula Lama dan Sering

Sebagai ibu baru, kupikir nggak ada masalah sama Khaula yang hobi nyusu dan sering ini sampe bikin ibuknya lemes banget. Tapi, ternyata selama ini Khaula nyusu lama itu karena setiap nyusu dia nggak bisa ngenyot maksimal. Jadi ASInya nggak keluar. Ya Allah.... Sedih banget ini... Bener-bener kalau lepas tu anaknya nangis. Sedih banget pokoknya!

Puting Lecet Sejak Pertama Kali Menyusui

Ada yang bilang, katanya kalau anak nggak ada masalah sama lidahnya, nggak akan ada kasus ibunya lecet puting. Iya, katanya gitu. Entah mitos atau bukan. Yang jelas, hari pertama Khaula nyusu, lecet doong sampe berdarah dan bernanah :))) udah nggak usah dibayangin. Aku aja yang ngerasain udah XD. Dan bodohnya aku, lagi-lagi aku nggak tahu kalau itu adalah gejala tongue tie.

Sebelnya lagi, pas kontrol ke DSA 5 hari setelah lahiran, si dokter anak ini nggak ngecek apakah Khaula memiliki tongue tie dan cuma bilang "anaknya dah mau kuning ini bu, harus rajin disusuin lagi..." yhaaaa pengen marah rasanya kenapa pas kontrol itu dokternya nggak ngecek apa-apa alias ngecek bb anak doang. Tapi yaudahlah, khusnudzon aja mungkin dokternya nggak ngerti soal tongue tie. 

Puncaknya Demam Karena Dehidrasi

Ini nih titik dimana aku nangis-nangis udah teriak-teriak kayak orang kesetanan gitu dan menyalahkan diri sendiri. mata udah sembab nggak karu-karuan pas tahu anak demam tinggi. Dan suami harus ke luar kota. Yes, Khaula demam tinggi dan lemes banget. Aku udah balurin bawang merah, skin to skin, dll tapi anaknya makin lemes. 

Dari demam ini besoknya aku bener-bener curiga kalau Khaula ini tongue tie. Ngomong sama mbah sama utinya mereka masih menolak karena mereka melihat bahwa Khaula ini masih bisa melet-melet normal. Tapi akunya ngeyel dan nangis-nangis. Akhirnya, aku nekat telpon suami untuk minta izin ke DSA. Dan benar saja, Khaula tongue tie level 3. Ya Allah.... Sedih banget aku nggak aware ini dari awal. Rasanya tuh asdfghjkl. 

Saking merasa bersalahnya, aku selalu minta maaf ke Khaula, bisikin dia di telinganya. "Maaf ya sayang, ibuk masih belajar. Khaula sabar ya, sayang." Berulang-ulang sampe tiap nyusuin masih sama nangis saking merasa bersalahnya.

Sejak diinsisi, dan sejak Khaula bisa mulai minum, aku masih insecure banget dan akhirnya aku panggil konselor ASI untuk curhat dan minta ditangani dan didampingi. Sambil minum jus daun katuk yang nggak pernah bayangin sebelumnya, aku komunikasi sama konselor ASIku.

Dan aku disuruh perbaikan gizi dooong alias nggak boleh cuma makan nasi sama gorengan. Harus ada nutrisinya. Nggak boleh kaleng-kaleng. Akhirnya aku ngungsi ke rumah mertua wakakak. Karena suami sudah kerja di Kudus dan LDM itu nggak enak. Anak sakit pas jauh dari suami itu stressnya Masya Allah.

Semoga kalian yang baca ini sehat selalu, ya :)

Salam,

1 komentar

  1. Aamiin. Semoga mba sep dan bayi nya sehat selalu ya. Seneng baca tulisan mba sep tentang mengurus bayi gini. Bermanfaat sekali meskipun aku blm punya anak hehe.

    BalasHapus

Halo!

Terima kasih telah membaca blog www.dwiseptia.com. Semoga konten yang ada di blog ini bisa menginspirasi. Doakan saya bisa produksi konten yang lebih baik, ya!
Oh, ya kalau ada rekues konten silakan tulis di kolom komentar, ya! ^^