Jumat, 24 Juni 2016

Mencemburui Para Pejuang Skripsi


Aku hampir tidak tahu harus bersikap seperti apa untuk menanggapi tingkat stress yang di alami oleh para mahasiswa tingkat akhir. Hidup di tengah-tengah merka menguji seberapa kuat aku menghadapi ujian hidup ini. Sebagai seseorang yang hanya mentok lulus SMK, aku harus siap menerima stereotip di masyarakat yang mengatakan bahwa SMK tak punya cukup skill

Baiklah, jika boleh jujur, aku memang cemburu pada kalian para mahasiswa yang bisa merasakan mengenakan toga dan menyematkan gelar sarjana di belakang nama. Sedangkan aku, bisa apa? Meratapi nasib disini melihat euforia kalian yang berbahagia di luar sana? No, i wont be like that.  Memperdebatkan gelar sarjana hanya akan membuatku tampak seperti manusia bodoh yang terkesan iri. Aku tak mau terlihat demikian adanya.

Meski aku tak tahu banyak tentang skripsi, aku cukup bisa untuk diajak bertukar pikiran mengenai topik yang akan kalian angkat dalam skripsi. Trust me, aku sudah menerima banyak curahan hati kawan-kawan yang berada pada tingkat "REVISI DITOLAK DOSEN". Bahkan, aku pernah membantu mencarikan sebuah case study untuk bahan skripsi teman-teman yang juga sedang berjuang. 


Sedikit flashback tentang studi saya boleh, ya:

Aku adalah lulusan SMK N 7 Semarang, sekolah yang cukup ternama dan cukup terpandang di Indonesia. Yes, almamaterku ini punya nama lain, STM Pembangunan yang cuma ada 4 di Indonesia, dan SMK 7 menjadi salah satunya. Aku sekolah 4 tahun lamanya (bukan karena bodoh, tapi memang aturannya demikian). Setahun lebih telat dari teman-teman seusiaku. Dan aku lulus di tahun 2013 dari jurusan Teknik Komputer Jaringan.

Masuk di jurusan ini, bukan pilihanku. Itulah sebabnya aku tidak bisa menikmati dengan baik segala proses yang aku jalani di sekolah ini. Tapi, jika mengingat sebuah kalimat penyemangat bahwa Tuhan selalu memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan, Aku menyerah. Empat tahun terjebak membuatku tidak bisa berkembang dengan baik. Sampai detik ini pun, aku tidak bisa jika harus mengulang materi yang pernah aku dapat di almamater tercintaku itu. Debian, Linux, Jaringan, HTML, CSS, Animasi, dan beragam materi lain seolah hanya menjadi kenangan manis dalam hidupku.

Lulus SMK, aku tidak mendapat restu untuk langsung kuliah. Kata Ibuku, kuliah itu mahal. Even aku tidak meminta biaya dari Beliau, setidaknya Ibuku paham bahwa aku pasti akan lelah menjalani hari-hari  yang sibuk jika aku kuliah kerja. Negosiasiku berjalan satu tahun. Aku akhirnya memutuskan untuk kuliah di salah satu Top 10 PTS terbaik di Indonesia. Masuk di jurusan favoritku, Psikologi ternyata memunculkan dilema baru bagiku. Klise, aku tak punya cukup uang untuk membayar uang gedung yang lumayan pada saat itu. Meskipun aku masuk sebagai mahasiswa berprestasi, nampaknya Tuhan masih memintaku berjuang  lebih keras lagi. 

Akhirnya, aku downgrade ke jurusan komunikasi. It's okay. Jurusan ini masuk ke wishlist-ku juga pada saat itu. Satu semesterku berjalan lancar. Sangat lancar malah. Sebagai mahasiswa yang kuliah kerja dan pulang malam setiap hari, tugasku tetap ter-handle dengan sangat baik. Iyaps, IPK-ku 3,5 tergolong lumayan untuk anak yang suka bolos dan titip absen. Bhay! Kadang pekerjaan sedikit menyita waktu kuliah dan mengharuskan untuk bolos. Maafkan Aku, Pak Dosen :D



Masalah muncul saat semester kedua, ketika aku merasa kuliahku terasa nggak worth it. Kenapa? Semua orang yang pernah kuliah pasti merasakan hal yang sama. Jam kosong, dosen nggak datang, dosen suka kasih tugas sewenang-wenang meninggalkan mahasiswanya dan doi pergi ke acara lain dengan dalih MAHASISWA CUMA BUTUH ABSEN. Mungkin beberapa berpikir ini lebay. Tapi, aku yang kewalahan membayar sebegitu mahalnya merasa ini nggak banget! Anyway, saya pernah menulis ini untuk lomba writing competition Kompas dan menang di juara II. Cek tulisan disini, ya!

Singkat cerita, saya memutuskan untuk keluar setelah Dosen sekaligus Kaprodi Jurusan juga resign. Hal yang bukan direncanakan dan kebetulan memang bersamaan waktunya. Saya sedih, melihat sistem pendidikan yang demikian berjalan begitu lama. Hal yang pernah saya alami juga dulu. Dan mungkin sudah dianggap wajar dan rasanya munafik untuk menampik bahwa ada yang tidak suka dengan sistem tersebut. Sebut saja, Aku.


"Dosen itu yaaaaa melakukan kewajiban mengajar dan mendapatkan hak gajinya, dan tentu mahasiswa juga berkewajiban membayar kuliah dan mendapatkan hak untuk mendapat ilmu dari dosen. Nah, kalau gini kan enak, ya to?"

Tolong, hargai prinsipku. Aku hanya ingin merasa kuliahku bukan sekadar absen, ujian, dapat IPK, skripsi, dan lulus dengan gampang. Aku ingin belajar menikmati proses yang manis selama 3,5-4 tahunku yang aku jalani. Sayangnya, aku tak bisa mentolerir hal ini terlalu lama. Memperbaiki sistem yang sudah mendarah daging itu tidak mudah dan salah satu cara yang bisa aku lakukan adalah keluar dari sistem yang kurasa merugikan tersebut.

Sampailah aku pada titik stress. Pekerjaan yang masih belum jelas sebagai seorang freelancer dan status mahasiswa sudah mulai menghilang. Aku seperti orang hilang arah pada saat itu. Empat bulanku terasa hampa. Aku mulai menata diri saat itu, mencoba melamar pekerjaan dan alhamdulillah diterima. Aku bersyukur, bisa melewati semuanya dengan tetap stay cool meskipun batin bergejolak sedemikian parahnya.

Dan sekarang, impian untuk bisa berlabuh ke Jakarta, terpenuhi. Aku ada di kota metropolitan sekarang. Kota yang memang sedari dulu membuatku penasaran. Sehebat apa kota ini hingga banyak orang yang ingin menaklukkan dan menjadi bagian darinya. Rasa penasaranku akhirnya terjawab. Kota ini memang istimewa. Terlepas dari macetnya yang luar biasa atau ego manusianya yang nggak karuan parahnya. Tapi, Aku bersyukur bisa ada disini, bergabung dengan perusahaan yang membukakan mataku lebih lebar lagi.
back to topic

Toga-toga berhamburan di timeline sosial mediaku. BBM, Facebook, Instagram, Twitter, Path dan semuanya berakhir begitu luar biasa ramai. Melihat keceriaan itu, aku turut bahagia, tentu saja. Sekaligus sedih. Aku kapan pakai toga? Tapi ada hal lain yang lebih menyedihkan daripada melihat toga-toa itu terpampang jelas dihadapanku. Aku bersedih atas kesempatan yang disia-siakan. Maksudnya?

Lihat, berapa banyak yang mengeluh tentang tugas yang banyak dan tiada henti. Berapa banyak mahasiswa yang tidak bersyukur bisa diberikan kesempatan untuk duduk di bangku kuliah, dan berdinamika dengan proses. Aku menyesali sikap pesimis mereka. Mengapa mereka harus mengeluh? Apa yang mereka butuhkan lagi dalam hidup? Kuliah difasilitasi orangtua, transportasi masih ditanggung, uang jajan masih lancar, dan tidak perlu memikirkan bagaimana mereka harus berjuang untuk tetap bisa kuliah tanpa biaya dari orangtua.

Halo, mahasiswa yang masuk kategori tersebut, jika aku diijinkan masuk ke dalam dimensi yang sama dengan kalian. Aku akan sangat bersyukur. Aku akan teramat sangat berusaha mendapatkan IPK yang terbaik, pengalaman lomba yang luar biasa (karena beberapa lomba hanya bisa diikuti oleh mahasiswa saja) dan terus menggali ilmu dari dosen yang tiada habisnya. Sayangnya, dimensi kita berbeda. 

Kalian duduk disana dan aku duduk disini. Kalian menghabiskan waktu untuk membuat tugas dan aku berkutat dengan deadline. Kalian masih bisa makan enak tanpa mikiir biaya dan aku harus berusaha mati-matian irit supaya akhir bulanku tidak sengsara. Hahaha.... Alangkah lucunya negeri ini.
Wahai para pejuang skripsi, berjuanglah. Kalian pasti bisa menyelesaikan setiap lembar dengan baik. Janganlah terlalu terburu-buru. Skripsi yang cepat tak lantas jadi jaminan karir yang melesat. Berdamailah dengan proses. Jika sampai saat ini dosenmu masih membuatmu merasa sulit untuk segera bertemu toga, berprasangka baiklah. Ada proses yang ingin Tuhan tunjukkan kepadamu. Sebuah proses yang akan selalu kamu ingat ketika kamu sudah berada di atas dan menuliskannya rapi dalam biografimu.

Aku cemburu pada kalian para pejuang skripsi karena aku belum bisa masuk pada tahap itu. Tapi aku akan tetap seperti ini, belajar berdamai dengan proses yang tiada henti membuatku terus belajar dan belajar tentang kehidupan yang memberi banyak arti. Skripsimu hanya sebagian kecil dari ujian Tuhan untukmu. Bersiaplah, mentalmu akan lebih diuji lagi pada jenjang setelah ini. Dan percayalah, topik skripsi dan proses untuk membuat skripsimu, menunjukkan seberapa serius kamu berusaha untuk bisa mengenakan toga dengan perasaan bangga yang tidak akan pernah terlupa.

Jakarta Pusat,
24  Juni 2016

Senin, 20 Juni 2016

Berteman dengan Komunitas: Local Guides Jakarta

Hidup di tanah rantau mewajibkan kami, aku salah satunya yang berasal dari daerah untuk bisa bersahabat dengan Jakarta. Terhadap lingkungan, teman-teman, budaya, cuaca, dan segala macam hal-hal yang saling terkait di dalamnya. Apalagi, jika datang ke tanah rantau benar-benar sendiri. Maka wajib hukumnya bagiku untuk bisa beradaptasi dengan cepat.


Belum lagi, datang ke Jakarta sendirian membuatku akrab dengan yang namanya nyasar aliass kesasar nggak tahu dimana. Hahaha. Ya itu, memang begitu kondisinya. Itulah bagian dari adaptasi. Untungnya, kita hidup di jaman yang serba mudah dan teknologi serba ada. Dan Google Maps, ada untuk membantu kita semua saat kita tidak tahu ada dimana kita sedang berada.


Google Maps, aplikasi besutan Google ini memang diciptakan untuk para buta jalan seperti saya. Lengkap. Mau cari jalan dari rumah ke kantor, kantor ke rumah, ke mall, ke manapun kamu mau bisa banget pokoknya. Nggak ada lagi takut-takut nyasar. Mau sampai ke pelosok manapun juga bisa, terpercaya, deh!



Awalnya cuma tahu sekadar itu, ternyata, ada yang lebih dari sekadar itu di Google Maps. Yes, you can be a Local Guides. Kamu, bisa berbagi tempat, iku me-review, nambah info, foto, dll lewat Local Guides. Dan serunya lagi, ada komunitasnya! Aku baru tahu awalnya juga dari teman sekantorku, Aveline. Dia yang pertama kali bawa aku ke event di Bank Indonesia malem-malem. Dan it’s awesome!


Dan kemarin, Sabtu, 18 Juni 2016 adalah kali keduanya aku mendengar event Local Guides. Waaaaaa, dateng dong pastinya karena ini bisa jadi ajang cari teman baru meskipun masih ada ketakutan bakalan ada yang kenal apa nggak, heheu. Alhamdulillah pas datang masih ada yang ingat muka saya. Jadi, nggak kikuk-kikuk banget ehehehe. Anyway, anak-anak komunitasnya ramah dan asyik banget lho, guys!


Nggak cuma teman baru, kamu bisa saling tukeran informasi gitu sama teman-teman di Local Guides. Bagi kalian yang mau gabung, cek aja kesini langsung >> Komunitas Local Guides Jakarta!








Minggu, 19 Juni 2016

Ironi Ramadan dan Alibi Puasa

Jalanan masih terpantau padat ketika Aku dan Hani beranjak meninggalkan kantor menuju ke arah Masjid Bank Indonesia. Seperti biasa, klakson masih saling bersahutan antara kendaraan satu dan kendaraan yang lain. Seolah-olah mereka saling memamerkan kendaraan mana yang berhak untuk maju duluan. Kendaraan mana yang berhak pertama sampai tujuan. 

Ramadan menjadi momen pengendara jalanan untuk brutal dengan dalih mereka harus segera sampai ke rumah untuk bisa menikmati momen buka bersama keluarga. Ironinya, hal ini tidak diimbangi dengan kesabaran yang setimpal. Semuanya tidak mau mengalah, akibatnya jalanan menjadi padat. Mobil, motor, truck, bus, bajaj dan segala kendaraan lain sulit untuk melakukan putar balik. Bahkan, ironinya beberapa mereka rela untuk merelakan motor kesayangan mereka terluka demi bisa memotong jalan di sela-sela kepadatan jalan.

Aku berusaha masuk ke dalam sela-sela antara mobil mengikuti motor yang ada di depanku. Nekat! Kalau mau cepat sampai tujuan ya harus nekat. Sesampainya di masjid, Aku dan Hani masuk untuk segera mendapatkan tempat di ruang shalat wanita. Ternyata, sudah cukup ramai. Banyak wanita dari segala usia, ibu-ibu, anak-anak duduk di depan pintu. Ada yang masih berbaris, ternyata memang ada buka puasa gratis dari pihak masjid. Alhamdulillah. Masih banyak kebaikann bertebaran di Bulan Ramadan.


Adzan berkumandang....

Petugas mulai masuk, meminta semuanya untuk keluar, jika hanya ingin makan. Karena ruang shalat akan kotor dengan makanan-makanan yang berceceran di sajadah tempat kami untuk bersujud. Aku dan Hani tetap duduk di tempat, bersama beberapa jamaah yang lain, ketika kami memutuskan untuk makan setelah shalat maghrib. Awalnya, kupikir banyak diantara kami yang berpikir demikian. Sayangnya, lebih banyak yang bubar daripada yang tinggal.

Aku menunduk malu,
Apakah memang tujuanku kesini sama dengan mereka yang hanya ingin mendapatkan buka puasa gratis dari masjid lalu pergi begitu saja ketika tujuanku sudah terpenuhi? Apakah memang, puasa hanya soal menahan makan dan minum saja? Sedangkan ibadah hanya sedikit alasan untuk bisa ikut menjadi bagian jamaah yang emndapat jatah makan?

Wallahu alam bishawab. Semoga kita tidak termasuk hamba yang demikian. Semoga Ramadan tetap bisa menjadi bulan yang kita rindukan karena Allah telah menyiapkan ruang untuk hambaNya yang berfastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan).

Mari kita berdoa bersama:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ وَ عَلَى طَاعَتِكَ
YAA MUQALLIBAL QULUUB, TSABBIT QALBII 'ALAA DIINIKA WA ‘ALAA THOO'ATHIK.
Artinya : Wahai yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu dan di atas ketaatan kepada-Mu.

Salam,
Jakarta Pusat - 19 Juni - 14 Ramadan 1437 Hijriah

Jumat, 17 Juni 2016

Jakarta, Kota Penuh Peluang yang Miskin Ruang


Suara klakson memecah belah jalanan Jakarta yang macet sore itu. Aku menghela napas panjang, mencoba bersabar membiarkan pada pengguna jalan mengekspresikan rasa kesalnya yang mungkin dengan membunyikan klakson dianggap bisa menyelesaikan masalah. Mataku melirik jarum pada jam tanganku. Waktu menunjukkan pukul 17.15 WIB. Aku terjebak di jam sibuk Kota Jakarta.


Perempatan stasiun karet terasa sangat sesak. Semua kendaraan memblokade jalan, bak sedang berada di tengah demo harga BBM. Macet. Total. Aku melihat sekeliling mencoba bersabar dengan keadaan. Sayangnya, kendaraanku pun tak juga lantas bergerak. Aku menyerah. “Selamat datang, di Jakarta,” batinku mencoba menghibur.


Sejauh mata memandang tak kudapati celah yang bisa kumasuki agar kendaraanku bisa melaju. Nyatanya, ke empat sisi dari arah jalan tak kunjung memberikan ruang untuk kami pengendara agar bisa cepat pulang. 20 menit lamanya kendaraanku tak bergerak.


Jakarta, kota metropolitan yang sesak.
Jangan kaget, jika kau temui macet di seluruh persimpangan jalan.
Jangan marah bila nanti tak kau temui celah.


Nampaknya peribahasa: “Ada gula, ada semut” cocok untuk ibukotaku ini. Yes, Jakarta adalah ibukota yang menyimpan sejuta iming-iming untuk para perantau yang ingin mengubah nasibnya. Aku mungkin menjadi salah satunya. Memang, tak bisa dipungkiri bahwa Jakarta cocok untuk dijadikan tujuan meniti karir.


Lihat saja gedung-gedung pencakar langit di jalanan ibukota yang berdiri kokoh itu. Mereka adalah bukti konkret tentang status ibukota yang menjadi pusat segala macam bisnis mulai dari lokal hingga tingkat dunia.


Perantau berbondong-bondong datang ke ibukota, mengalahkan pesaing lain yang juga punya visi dan misi sama. Hingga hanya beberapa yang tersisa dan mendapat tempat di kursi yang diinginkan. Aku akui, Jakarta memang tempat untuk mereka yang gigih dalam menggapai impian. Terlepas dari bagaimana ego masyarakatnya yang telah menjadi duri dalam daging.


Sayangnya, kota metropolitan tersayang yang penuh peluang ini tak punya cukup ruang untuk menjadikan aku, kamu, kita dan semua yang hidup di Jakarta bisa hidup tenang.


Jangan menyesal telah menjadi bagian dari Ibukota Jakarta tercinta. Bahkan, jika boleh melihat ke belakang, sebenarnya salah siapa? Bukankah Melky Goeslaw pernah menyindir kita dengan lagunya yang berjudul “Sapa suruh datang Jakarta?”



Jadi, jika kita mengumpat, menghujat Kota Jakarta ini sebenarnya salah siapa? Bukankah sudah sejak dulu kita tahu bahwa Jakarta memang macet dan keras?

Salam,
Jakarta Pusat - 17 Juni 2016