Jumat, 17 Juni 2016

Jakarta, Kota Penuh Peluang yang Miskin Ruang


Suara klakson memecah belah jalanan Jakarta yang macet sore itu. Aku menghela napas panjang, mencoba bersabar membiarkan pada pengguna jalan mengekspresikan rasa kesalnya yang mungkin dengan membunyikan klakson dianggap bisa menyelesaikan masalah. Mataku melirik jarum pada jam tanganku. Waktu menunjukkan pukul 17.15 WIB. Aku terjebak di jam sibuk Kota Jakarta.


Perempatan stasiun karet terasa sangat sesak. Semua kendaraan memblokade jalan, bak sedang berada di tengah demo harga BBM. Macet. Total. Aku melihat sekeliling mencoba bersabar dengan keadaan. Sayangnya, kendaraanku pun tak juga lantas bergerak. Aku menyerah. “Selamat datang, di Jakarta,” batinku mencoba menghibur.


Sejauh mata memandang tak kudapati celah yang bisa kumasuki agar kendaraanku bisa melaju. Nyatanya, ke empat sisi dari arah jalan tak kunjung memberikan ruang untuk kami pengendara agar bisa cepat pulang. 20 menit lamanya kendaraanku tak bergerak.


Jakarta, kota metropolitan yang sesak.
Jangan kaget, jika kau temui macet di seluruh persimpangan jalan.
Jangan marah bila nanti tak kau temui celah.


Nampaknya peribahasa: “Ada gula, ada semut” cocok untuk ibukotaku ini. Yes, Jakarta adalah ibukota yang menyimpan sejuta iming-iming untuk para perantau yang ingin mengubah nasibnya. Aku mungkin menjadi salah satunya. Memang, tak bisa dipungkiri bahwa Jakarta cocok untuk dijadikan tujuan meniti karir.


Lihat saja gedung-gedung pencakar langit di jalanan ibukota yang berdiri kokoh itu. Mereka adalah bukti konkret tentang status ibukota yang menjadi pusat segala macam bisnis mulai dari lokal hingga tingkat dunia.


Perantau berbondong-bondong datang ke ibukota, mengalahkan pesaing lain yang juga punya visi dan misi sama. Hingga hanya beberapa yang tersisa dan mendapat tempat di kursi yang diinginkan. Aku akui, Jakarta memang tempat untuk mereka yang gigih dalam menggapai impian. Terlepas dari bagaimana ego masyarakatnya yang telah menjadi duri dalam daging.


Sayangnya, kota metropolitan tersayang yang penuh peluang ini tak punya cukup ruang untuk menjadikan aku, kamu, kita dan semua yang hidup di Jakarta bisa hidup tenang.


Jangan menyesal telah menjadi bagian dari Ibukota Jakarta tercinta. Bahkan, jika boleh melihat ke belakang, sebenarnya salah siapa? Bukankah Melky Goeslaw pernah menyindir kita dengan lagunya yang berjudul “Sapa suruh datang Jakarta?”



Jadi, jika kita mengumpat, menghujat Kota Jakarta ini sebenarnya salah siapa? Bukankah sudah sejak dulu kita tahu bahwa Jakarta memang macet dan keras?

Salam,
Jakarta Pusat - 17 Juni 2016

7 komentar:

  1. hahaha.... this is jakarta mba'. iya mau bagaimana lagi... semalam saya juga kejebak macet di pulo mas... weleh-welhhh hampir satu jam... pusing udah cpek kerja pulg kena macet hadehhhh.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. sapa suruh datang Jakarta, mas? hehe. Selamat menikmati pemandangan lazim di Jakarta, ! :)

      Hapus
    2. Alhamdulillah bisa bertahan 2 tahun mbak, dan menghasilkan hehe jd nga' sia²... :-d

      Hapus
    3. wuih mantap sekaliiii, terus berkarya di Jakarta dan bawa perubahan yang baik ya, mas!! :)

      Hapus
  2. tulisan nya bagus.. enak di baca..

    BalasHapus

Halo!

Terima kasih telah membaca blog www.dwiseptia.com. Semoga konten yang ada di blog ini bisa menginspirasi. Doakan saya bisa produksi konten yang lebih baik, ya!
Oh, ya kalau ada rekues konten silakan tulis di kolom komentar, ya! ^^