Rabu, 12 Oktober 2016

Keep Personal Problems, Personal

Moody, sebut saja begitu. Gue dan mungkin kalian semua pernah menjadi personal yang moody. Emosi gampang banget naik turun-kadang bisa menjadi pribadi yang menyenangkan dan open minded, atau bahkan sebaliknya-menjadi pribadi yang seolah-olah memberikan tanda “don’t disturb me!”. Nah, gara-gara sifat moody ini nggak jarang pekerjaan jadi terganggu. Mungkin, beberapa bisa kontrol emosi supaya tetap kalem dan selaw. Tapi nggak bisa dipungkiri juga sih, mood itu kunci penting supaya gue bisa tetap berada dalam kondisi ‘fit’ untuk menyelesaikan job desk gue.

Hasil gambar untuk moody
source:google


Dampak yang ditimbulkan dari sebuah mood itu emang parah banget. Kerjaan bisa nggak kelar, hubungan sama rekan kerja bisa tetiba aja suram tanpa sebab. Ngeselin emang kalau udah ngomongi mood. Terus gimana dong kalau lagi nggak mood?


When you're preoccupied with personal issues, it's difficult to concentrate or be happy at work.
Alison Rhodes


Mungkin nggak cuma gue yang pernah ngalamin tetiba rekan kerja jadi murung, ngeselin dan nggak bisa diajak ngomong sama sekali. Tapi besoknya dia bisa happy se happy-happy-nya karena masalah yang bikin dia murung udah kelar tak bersisa. Hellawwww… Bawa masalah rumah ke kerjaan itu nggak boleh pake banget! Bisa jadi seorang yang profesional itu keren banget, sayangnya nggak semuanya bisa. Ini bukan ngomongin lingkup job desk, ini tentang bagaimana mengelola mood di lingkungan kerja dan lingkungan rumah.


Teman-teman kerja lo itu bukan pelampiasan masalah. Mereka pun bukan dukun. Rasanya kok nggak fair kalau misalkan lo melibatkan mereka untuk ikut menanggung mood lo yang lagi jelek-jeleknya. Jadi intinya, mau lagi ada masalah apapun, lo harus tetap dalam cover yang profesional. Jangan buat orang-orang di kantor lo tahu kalau lo lagi ada masalah di rumah, dan begitu pula berlaku hukum sebaliknya. Jangan libatkan orang rumah untuk tahu masalah lo di kantor.

Hasil gambar untuk office vs home
source: google


Kantor ya Kantor, Rumah ya Rumah
Dua tempat ini tuh beda. Meskipun lo hidup di dua dunia, kantor dan rumah. Tetap saja harus ada porsi untuk menempatkan 2 dunia tersebut baik di kepala atau di hati lo. So, make sure meskipun lo lagi banyak-banyaknya masalah, lo tetap stay calm and stay cool. Lo harus bisa memahami satu hal bahwa:



Realize that nobody's personal life is ever going to be completely problem-free.


Semuanya pribadi memikul masalah yang pada porsinya masing-masing. Bedanya, tiap pribadi tahu bagaimana cara untuk mengatasi masalah tersebut tanpa harus membawanya ke lingkungan yang bukan seharusnya. Nah, pribadi ini nih yang harus lo contoh untuk bisa jadi seorang yang profesional.

Hasil gambar untuk mood
source: google


Dalam beberapa kasus, memang ada yang dari raut wajahnya sudah terlihat sekali kalau dia sedang ada masalah. Ya kalo orang ini adalah teman dekat lo, ya lo berarti yang harus bertindak. Bertindak untuk menjadi seorang pendengar yang baik atas masalahnya. Lo harus berusaha untuk memberikan saran secara perlahan buat dia supaya dia bisa kontrol emosi dan mood biar balance. Intinya sih, jangan sampai mood dia bikin deadline berantakan dan ngerusakin kerja tim yang sudah di build dan tertata rapi sebelumnya.


Kesel juga kan pasti kalau dia jadi bagian dari tim lo kalo kerjaannya nggak kelar dan anggota tim lain harus ikut campur ambil kerjaan yang seharusnya bukan mereka yang menangani. Prinsip ini juga harus bisa diterapkan sama diri kita sendiri juga. Lo nggak boleh menggurui tapi lo sendiri model begini wataknya. Repot dah, yakin!



Just Keep Personal Problems, Personal


Toh kalau orang lain tahu kalau lo ada masalah pun, mereka nggak jamin bisa bantu kan? Kalau memang butuh saran, why don’t you take time for rest? Isitrahat sejenak, refreshing, ajak teman untuk komunikasi, curhat, sampaikanlah semuanya. Kalau itu menyangkut soal pekerjaan, coba ngomong sama anggota tim/atasan yang terlibat. Kalau itu menyangkut soal rumah dan keluarga, lo bisa banget kan minta tolong sama sahabat/teman dekat lo untuk jadi pendengar unek-unek biar lo bisa lega?

Take it all easy, guys. Masalah sepele bisa jadi rumit kalau diri kita sendiri rumit. Took a deep breath, and be wise not only for yourself, but also for the others :)

Tebus STNK di Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan

The day finally comes to my life, yeay! Akhirnya STNK gue balik, guys. Hahahaha agak lebay dikit gpp lah yaa.. Jadi ceritanya sekitar Bulan September lalu gue ketemu sama Pak Polisi yang baik hati banget ngingetin kalo gue salah jalur. Di sekitar jalanan Senopati kayaknya, gue lupa tepatnya di mana sih. Intinya itu jalur mobil dan nggak boleh ada motor masuk. Padahal sih ya, sebelahnya itu jalur motor. Emang dasarnya apes atau emang Polisinya pinter cari momen buat nilang I don;t know deh. Pokoknya gue ketangkep aja sekian detik sebelum lampu hijau. KEZEL ABEEZ!

Hasil gambar untuk surat tilang merah
Beda surat tilang biru dan merah

Karena gue warga negara yang baik, makanya gue minggirin motor tuh sama temen gue, Dimaz. Daaaannn eng ing eng, gue mulai diajak masuk pos untuk penulisan surat tilang. Ada yang aneh dari first impression gue ketemu tuh Polisi. Soalnya, mereka baik-baikin kita berdua. Berempat sih, ada barengan tilang juga hahahaha. Pokoknya sok baik gitu, sok-sokan jelasin kalo jalur ini salah lah terus nggak boleh diulangi lagi lah. Juga, kita diarahin untuk sidang aja dan bayar duit ke negara. Aneh, kan? Hahahha

Actually, gue nggak gitu bisa percaya sama Polantas sih. Terlalu banyak drama! Dan bener aja, setelah beberapa menit ngomong cuap-cuap ngalor ngidul, gue di suruh keluar. Alasannya sih karena gue satu-satunya cewek di ruangan. Kok tambah aneh ya? Pikir gue sih gitu. Tapi yaudahlah gue keluar. Nggak lama setelah itu, bener aja masnya yang satunya juga disuruh keluar. Dan pas gue nanya, mereka disuruh bayar di tempat. YA EMOSI dong pasti ya, kan? Terus gue ngintip tuh, tapi masnya yang di dalem keluar. Yawislah.. Gue nunggu.

Hasil gambar untuk surat tilang merah
Alur kena tilang

Lamaaaaa banget, Dimaz belum nyerah untuk bayar di tempat. Ya, faktor duit juga sih yak hahahaha. Negosiasi lama, gue ngintip di pintu, gue bilang sama Polisinya "LAMA BANGET SIH PAK? PANAS TAUK DI LUAR" - "Bentar". Akhirnya, Dimaz keluar setlah 20-30 menit di dalem. Bener gan, dia di nego untuk bayar di tempat 100RIBU. OMAIGAD! Dalihnya biasa, katanya nitip uang untuk negara, nitip denda gitu. Haaahhh tauk deh gimana jalan pikiran mereka yang harusnya mengabdi untuk negara tapi malah nggak pro rakyat.

12 Oktober - Tebus STNK di Kejaksaan Negeri JakSel
Karena gue kena tilang di wilayah Jakarta Selatan, jadilah gue harus mengikuti sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Tapiiiiiiii..... Gue sama Dimaz sama-sama lupa wakakakka.. Jadilah STNK belum terambil dan harus beralih ke Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan.

Ini alamat kantor kejaksaan negeri Jakarta Selatan
Jl. Tanjung No.1, RT.1/RW.2, Tj. Bar., Jagakarsa, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12530
Singkat cerita, hari ini gue ke Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan untuk mengambil STNK gue dari bapak-bapak tersebut.

Hasil gambar untuk kejaksaan negeri jakarta selatanHasil gambar untuk kejaksaan negeri jakarta selatan

Gue nyampe pukul 07.30 dan kantor belum buka. Iya, baru buka jam 08.00. Yaudahlah, nunggulah kita di depan loket. Jam 08.02 belum buka juga, udah suudzon deh pokoknya kalo bakalan molor. Eh, alhamdulillah ternyata 08.04 loket buka dan antrian dimulai. Akhirnya, di panggilan nomor 3 nama Dimaz (tersangka tilang) dipanggil. Bayarlah 80RIBU ke loket dan STNK dibalikin. Kata bapaknya sih, kalau sudah daftar online (sebelumnya emang udah), bisa lebih cepet. Nah, bapaknya aja buka loket jam berapa, emang mau lebih cepet gimane lagi, Pak? Hahahaha

Hasil gambar untuk kejaksaan negeri jakarta selatanHasil gambar untuk kejaksaan negeri jakarta selatanHasil gambar untuk kejaksaan negeri jakarta selatan

Jadi intinya nih buat teman-teman semua, kalo emang kena tilang, mendingan minta surat merah atau surat biru aja, deh. Daripada uangnya masuk ke kantong Polisi, mending uangnya masuk ke kantong negara ye, kan? Nggak lama juga antrinya. Mayan sih 80RIBU. Tapi itu lebih baik daripada harus bayar ke Polisi dan uangnya buat mereka. Jatuhnya malah ga bener ye, kan?

Mari kita dukung pemerintahan yang bersih dan nggak main sogok-sogokan! XD

Salam,
Anak Rantau Jakarta

Rabu, 05 Oktober 2016

Work On What Makes You Happy

“ A job is a job. It’s a way wo pay for a living, but that’s it. Don’t let it define your happiness. You work to live, not live to work. Work on what makes you happy.”

Saya menemukan satu quote sederhana saat sedang berselancar di dunia maya. Tertampar! Itu yang ingin saya katakan pertama kali. Kebetulan, saya sedang merasakan jenuh, berada di tempat yang terlampau nyaman bagi saya. Akibatnya, pikiran saya mulai berkecamuk dan memunculkan pertanyaan “Apakah memang seperti ini dunia kerja yang saya impikan?”

Saya merenungi hidup yang terus berputar. Melewati setiap fase yang berbeda, yang tentu saja memberikan tantangan tersendiri dalam hidup. Saat dulu masih duduk di bangku sekolah dasar (SD), saya masih bisa berandai untuk bisa bermimpi menjadi arsitek. Masuk d bangku SMP, saya mengejar cita-cita dengan masuk ke STM, sayangnya saya tak boleh masuk jurusan arsitek. Dan saat STM, saya menyadari bahwa hidup kita tidak bisa kita kendalikan sendiri. Orang lain ikut andil dan selalu ikut memberikan kontribusi terhadap segala pengambilan keputusan di hidup kita.

Hasil gambar untuk work on what makes

Masuk ke dunia kerja, saya menemukan beberapa part yang menurut saya tepat dan kurang tepat dengan diri saya. Ya, dunia kerja mengajarkan tentang banyak hal. Bukan hanya tentang bagaimana mengaplikasikan apa yang telah kita pelajari di bangku sekolah. Terlalu sempit untuk memahami konteks tersebut. Karena sejatinya, dunia kerja juga mengajarkan tentang bagaimana seharusnya saya menjalani hidup. Tentang bagaimana saya mengerti bahwa hidup itu dinamis, bukan statis.

Terjun dan masuk di dunia kepenulisan yang mewajibkan saya untuk menulis sebenarnya sama sekali tidak ada hubungannya dengan konsentrasi yang saya ambil sewaktu saya masih sekolah. Bahkan, dunia kepenulisan belum pernah terpikir akan menjadi jalan karir saya sebelumnya. Karena saya bermimpi untuk bisa menjadi seorang arsitek. Meski demikian, dunia kerja terus menunjukkan andilnya untuk hidup yang saya jalani dan saya tekuni. Tentang sikap ‘penerimaan’ yang jauh lebih penting dari pada sikap terus menuntut kehidupan yang tidak ada habisnya untuk terus dituntut.

Dunia yang saya jalani terus bergulir seiring berjalannya waktu. Dan semuanya menghadapkan saya pada pertanyaan (lagi) tentang: “kamu hidup untuk bekerja atau bekerja untuk hidup?” dan “apakah bekerja harus sesuai dengan passion atau membiarkan waktu mengantarkan kita ke rezeki yang terbaik bagi diri kita?” Dulu, pertanyaan-pertanyaan ini saya jawab dengan sangat tegas bahwa sejatinya bekerja itu harus sesuai dengan passion dan bidang yang kita minati. Supaya kita bisa terus produktif dalam mengerjakan apa yang seharusnya kita selesaikan.

Tetapi, ekspektasi dan realita harus kembali saya tegaskan bahwa nyatanya, hidup itu soal perspektif. Sudut pandang kita terhadap hidup yang kita paksakan untuk bisa sesuai dengan harapan kita, harus kembali kita luruskan. Dunia kerja itu bermacam-macam. Dan satu hal, mencari “rumah” untuk bidang yang kita sukai itu tidak mudah. Mau tidak mau, kita sendirilah yang harus kembali tegas terhadap diri kita sendiri.

“Apakah kita cukup pantas menemati rumah impian kita, ataukah kita harus realistis bahwa rumah yang bisa menerima kita bukanlah rumah yang kita impikan?”

Memiliki mimpi itu baik, tetapi lebih baik lagi merealisasikan mimpi dalam bentuk senyata-nyata bentuk di hidup kita. Mimpi itu selalu baik, tergantung diri kita membawa mimpi itu tetap terjaga dengan baik. Atau justru membiarkannya lenyap karena kita tak punya cukup kekuatan untuk mempertahankannya. Setelah kita bisa menjawab pertanyaan sederhana ini. Barulah kita belajar tentang bagaimana mendefinisikan kata “happy” dalam kalimat “work on what makes you happy”.

Happy di sini bukan hanya soal uang atau pekerjaan. Kesenangan yang dimaksud bisa lebih dari itu. Ya, kesenangan terhadap rekan kerja yang baik dan jam kerja yang fleksibel juga harus masuk dalam daftar pertimbangan. Ada yang merasa bahagia bekerja hingga larut malam ada pula yang bahagia bekerja sesuai jam kerja pada umumnya. Tingkat “happy” inilah yang tidak bisa didefinisikan secara rinci. Semuanya tergantung bagaimana diri kita menyikapi hal tersebut.

Jangan bersedih jika pekerjaanmu saat ini bukan menjadi pekerjaan yang kamu impikan: pekerjaan yang kamu rasa tidak sesuai dengan apa yang kamu harapkan. Selama kamu bisa berkembang dan belajar hal baru, kamu harus terus mensyukuri hal tersebut. Believe it or not, bekerja itu belajar, mempelajari hal baru untuk bisa kembali diterapkan pada karir yang ingin kita kejar. Kalau memang bekerja hanya untuk mencari uang, tak perlulah kita terlalu “ngoyo” ngomongin passion.

In the end, let me said that whatever work to live or live to work. The things that you have to follow is “work on what makes you happy”