Jumat, 03 Februari 2017

Istirahatlah Kata-Kata, Dokumentasi Sejarah yang Penuh dengan Makna

Istirahatlah kata-kata/
Janganlah menyembur-nyembur/
Orang-orang bisu.
Tidurlah kata-kata/
kita bangkit nanti/
menghimpun tuntutan-tuntutan/
yang miskin papa dan dihancurkan.
Bicara tentang sejarah, kaum milenial seperti aku tak banyak yang tahu. Salah satu sosok sejarah yang membuatku tergelitik penasaran adalah Wiji Thukul. Meski aku begitu tertarik di dunia sastra dan mencintainya, ternyata pengetahuanku masih terlalu minim tentang tokoh-tokoh bersejarah di bidang sastra. Wiji Thukul atau Widji Widodo ini lahir di Surakarta, Jawa Tengah pada tanggal 26 Agustus 1963. (sumber: Wikipedia)

istirahatlah kata-kata
source: google

Mungkin, jika Beliau masih hidup saat ini usianya 53 tahun. Sayangnya, Wiji menghilang dan tidak tahu keberadaannya di mana sejak 27 Juli 1998 pada usia 34 tahun. Beliau ini adalah sastrawan dan aktivis hak asasi manusia berkebangsaan Indonesia. Dan Wiji merupakan salah satu tokoh yang ikut melawan penindasan rezim Orde Baru mpada masa itu.

Kehidupan Wiji dalam film Istirahatlah kata-kata begitu gamang. Aku mendapati dirinya begitu tertekan. Dalam mimik wajahnya tergambar ada sesuatu yang ia simpan, namun tidak bisa ia ceritakan. Ada hal yang membuatnya tidak bisa singgah di satu tempat dan terus-terusan berlari ke sana ke mari tanpa tujuan. Asal tempat yang ia tuju itu aman, maka ia akan tinggal di sana untuk sementara waktu.

Seperti buron. Wiji harus mengganti namanya berkali-kali untuk bisa tetap hidup. Ia menjadi buron karena terlalu kritis menyikapi pemerintahan yang tidak sesuai dengan seharusnya. Dan yang lebih menyesalkan adalah ia ditangkap hanya karena ia adalah seorang perangkai kata. Benar, Wiji ditangkap karena terlalu sering bermain sastra yang menyuarakan tentang kebebasan dan kondisi negara Indonesia pada waktu itu. Sungguh, kondisi yang sangat memperihatinkan.

Jika dibandingkan dengan kondisi saat ini, ketika semua orang bisa bersuara dan menyuarakan haknya dengan bebas, dulu sangat berbeda. Rasanya, tak pantas bila generasi sekarang terlalu mengekspos pikiran melalui tulisan tanpa memikirkan dampak-dampak yang akan ia timbulkan. Nyatanya, zaman dahulu banyak sekali pejuang kebebasan pikiran melalui tulisan dan kata-kata dan Wiji Thukul adalah salah satu pejuangnya.

Semasa hidupnya, Wiji Thukul telah menerbitkan sejumlah buku kumpulan puisi. Di antaranya ada Puisi Pelo dan Darman dan Lain-lain (keduanya diterbitkan Taman Budaya Surakarta pada 1984), Mencari Tanah Lapang (Manus Amici, Belanda 1994) dan Aku Ingin Jadi Peluru (Indonesia Tera, 2000). Namun, di luar itu sebenarnya masih banyak lagi karya Wiji Thukul yang tersebar di berbagai selebaran, majalah, koran mahasiswa, jurnal buruh dan media lainnya. 

Gramedia Pustaka Utama, pada Maret 2014 lalu menerbitkan kumpulan puisi lengkap Thukul dengan judul Nyanyian Akar Rumput yang dirangkum Okky Madasari dan Arman Dhani. Total ada 171 puisi yang dibagi dalam 7 bab, yakni bab Lingkungan Kita si Mulut Besar (1), Ketika Rakyat Pergi (2), Darman dan Lain-lain (3), Puisi Pelo (4), Baju Loak Sobek Pundaknya (5), Yang Tersisih (6) dan Para Jendral Marah-marah (7). 

Film ini menggambarkan sudut pandang kehidupan Wiji yang sederhana dan apa adanya. Tentang bagaimana ia hidup dan bagaimana seharusnya kita hidup. Film ini pun berhasil membuatku merasa malu dengan sajaknya yang berbunyi:

“Apa guna banyak baca buku, jika mulutmu bungkam melulu."
Percuma menjadi sarjana bila kau tak bisa berkontribusi ke pada dunia. Dunia bukan serta merta tentang alam semesta karena dunia bisa kau mulai dari kontribusimu yang nyata bukan hanya kata-kata. Ah, jadi ingat. Dulu, beberapa tahun lalu aku pernah menyuarakan sebuah opini yang berujung pada kegemparan satu jurusan di sekolahku.

source: google


Iya, dulu semua hal terasa begitu sensitif meski hanya lewat kata-kata. Film ini seperti menggambarkan kondisi di mana lewat akta-kata saja, sebenarnya kita bisa membunuh banyak orang, meski kita tidak bersenjata. Mengerikan, ya?

Tetapi dibalik semua itu, generasi saat ini banyak yang tidak terlalu paham tentang memaknai kata-kata.

Berpikir sebelum bertindak. Think before doing.
Anak-anak zaman sekarang banyak yang lupa bahwa dulu ada reformasi 1998 dan Wiji Thukul yang berusaha memperjuangkan kebebasan beropini yang mana saat ini bisa kita nikmati tanpa perlu rasa khawatir yang berlebihan.

source: google


Sayangnya, tidak banyak yang bisa menangkap pesan dari film ini. Amat teramat sangat disayangkan. Semoga aku , kamu dan kita tidak termasuk menjadi manusia-manusia yang tidak mau tahu tentang sejarah yang mendunia.

Salam,
Jakarta Pusat

2 komentar:

  1. gw hanya nge-highlight beberapa scene antara wiji tukul dan sipon di filem ini, soalnya gw lebih suka scene-scene antara wiji tukul dan sipon di banding scene dengan teman-temanya / pada saat pelarian.
    ada satu scene yang menceritakan saat wiji tukul terpaksa buang air besar didalam rumah, karena tempat "mandi, cuci, kakus" jaraknya lumayan dari rumah wiji tukul dan banyak petugas yang berpatroli. kemudian wiji tukul mengatakan "mambu tai". *bau tai

    lalu sipon membalas "mambu tai! hihi", sambil tertawa.
    mungkin, pada scene ini ingin menyampaikan "betapa sederhananya rasa cinta antara sipon dan wiji tukul". sesimple sipon menemani wiji tukul buang air besar dan rela mencium bau feses dari wiji tukul"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha ayo Bapak Dadang kapan kita nonton film bareng dan mereviewnya? wkwkw

      Hapus

Halo!

Terima kasih telah membaca blog www.dwiseptia.com. Semoga konten yang ada di blog ini bisa menginspirasi. Doakan saya bisa produksi konten yang lebih baik, ya!
Oh, ya kalau ada rekues konten silakan tulis di kolom komentar, ya! ^^