Kamis, 22 Juni 2017

Suka Duka Menjadi Seorang Content Writer dan Digital Strategist


Sudah hampir 4 tahun aku berkecimpung di dunia penulisan. Yes, meski aku baru lulus 3 tahun dari SMK, aku sudah memiliki pengalaman yang cukup untuk di dunia penulisan karena sejak aku masih memakai putih abu-abu, aku sudah bekerja sebagai seorang freelance content writer. Begitu banyak hal yang aku alami saat menjadi seorang content writer. Meski demikian, profesi ini mengajarkanku untuk menjadi pribadi yang gigih dan selalu update dengan perubahan terutama di era digital.

Sepak Terjang yang Tidak Mudah


Tidak mudah untuk bisa menjadi seorang content writer yang memiliki kredibilitas yang bisa diakui oleh masyarakat, klien terutama. Aku harus menciptakan tulisan dan karya yang baik yang diakuisisi oleh media terlebih dahulu sebelum pada akhirnya aku dipercaya untuk membranding sebuah brand melalui tulisan. Butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa membuat klien pada akhirnya mengakui bahwa akulah yang mereka butuhkan. Bahkan, di kantorku yang 2 tahun lalu, bosku sendiri pernah mengatakan sebuah hal yang membuatku menangis sejadi-jadinya. Kira-kira kalimatnya seperti ini:

"Oke, kamu punya kemampuan menulis yang baik. Tapi apa kamu yakin bisa hidup hanya dengan menjadi seorang penulis saja? Penulis itu gajinya berapa sih? Realistislah sedikit...."

Kalimat ini muncul ketika ia melihatku membenahi tulisan dan blogku saat jam istirahat. Coba bayangkan ketika aku sedang berjuang untuk bisa diakuisisi oleh masyarakat, justru orang yang seharusnya bisa mendukung malah menjatuhkanku dan membuatku down bukan main. Dan sejak saat itu, aku memutuskan untuk resign dan membuktikan bahwa aku bisa menjadi seorang content writer yang andal bukan hanya bisa "omong doang".


Mencari Pengalaman Baru di Jakarta


Aku pun mulai memberanikan diriku untuk melamar kerja di Jakarta, kota yang menjadi sorotan ribuan pasang mata masyarakat Indonesia. Dengan berbekal "cuma lulusan SMK" dengan pengalaman di dunia kepenulisan yang cukup lumayan, akhirnya aku mengirimkan CV dan lamaran ke beberapa perusahaan. Alhamdulillah, aku diterima di Bounche, Digital Creative Agency di Jakarta as a content writer. Bahagianya bukan main karena diberikan kesempatan untuk bergabung dan berhasil mengalahkan mas-mas S1 yang waktu itu pernah meremehkanku saat kami bertemu di ruang tunggu interview.

Aku yang penasaran langsung bertanya kepada managerku perihal mengapa Bounche mau menerimaku yang hanya lulusan SMK. Katanya, tidak penting kamu lulusan SMK atau Sarjana, yang penting itu sudah berapa banyak karya yang telah kamu ciptakan dan tunjukkan kepada dunia. Aku bersyukur sekali kala itu.

Seiring dengan berjalannya waktu, aku mulai belajar hal-hal lain di dunia digital. Tentu saja ini untuk melengkapi kemampuanku menulis agar semakin ciamik. Aku mulai merambah ke dunia Facebook Ads dan Instagram Ads. Aku belajar tentang bagaimana memulai sebuah digital campaign yang baik, bagaimana membaca behaviour audience dan membuat mereka menjadi target iklan yang tepat. Butuh waktu memang, cukup lama sampai akhirnya kini aku juga memiliki title sebagai seorang Digital Strategist, yaitu seseorang yang membantu dalam perencanaan konten digital sebuah brand. Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah.

Aku bersyukur karena di usiaku yang masih 22 tahun, usia dimana seharusnya aku masih kuliah dan belajar, aku sudah bisa menghasilkan uang yang cukup untuk bisa membiayai keluargaku dan mencukupi kebutuhan mereka. Tapi, dibalik semua pencapaian-pencapaian tersebut, aku harus merelakan waktuku untuk bisa liburan yang literally liburan. Lha kok? Iya, aku harus standby di depan notebook meskipun tengah liburan. Pernah juga suatu ketika aku camping dan membawa notebook, lalu deliver pekerjaan di kaki gunung. Agak gila, kan? ^^

Sejak saat inilah aku mulai memikirkan karirku di dunia penulisan. Yes, aku harus mulai memikirkan tools pendukung pekerjaanku agar aku bisa berkarya di mana saja tanpa merasa terbebani. Setelah tanya sana-sini, seorang temanku dari komunitas Gandjel Rel mba Uniek Kaswarganti merekomendasikan Asus Eeebook E202 untuk teman nulis dan kerja yang asyik karena memiliki kelebihan-kelebihan mendukungku bekerja menjadi seorang content writer dan digital strategist.



Notebook Elegan yang Bisa Dibawa Secara Mobile


Yaaa namanya kerja jadi freelance dan fulltime mau tidak mau aku harus siap pada segala kondisi. Khususnya ketika liburan aku harus menyelesaikan pekerjaan yang datang tiba-tiba dengan deadline yang tidak bisa dinegosiasi. Untungnya Asus Eeebook E202 ringan banget, bobotnya cuma 1.21kg. Jadi yaaaa, bisa bebas jalan-jalan sambil kerja tanpa mikirin punggung yang bakalan pegel banget, deh.

Dan lagi, ukurannya cukup mini untuk ukuran notebook, yaitu hanya 193 x 297 mm dan tidak lebih besar dari kertas yang berukuran A4. Nggak bakalan deh menuh-menuhin tas carier yang selalu jadi teman setia pas aku lagi pergi-pergi alias nggak bakalan makan space tas kalau dibawa jalan-jalan. Mau bawa camilan atau baju ganti yaa hayukkk atuh! Dan meskipun mini, jangan salah, guys. Asus Eeebook E202 memiliki ruang penyimpanan HDD sebesar 500GB. Ukuran yang bisa aku jadikan ruang untuk koleksi film korea hihihi.

Notebook ini juga hadir dalam versi Windows 10 terbaru dan juga DOS yang bisa diinstal dengan OS sesuai dengan kenyamanan saat digunakan untukbekerja. Oh ya, nggak cuma dalam warna hitam saja, notebook ini tersedia juga dalam pilihan warna Silk White, Dark Blue, Lightning Blue dan Red Rouge.

Dilengkapi dengan Performa yang Luar Biasa, Beragam Fitur Lengkap yang Bisa Diandalkan Setiap Saat


Walaupun memiliki desain yang minimalis, Asus Eeebook E202 memliki fitur yang lengkap yang bisa aku andalkan untuk mendukung pekerjaanku, lho. Ada beberapa USB port, micro HDMI port, dan juga slot microSD. Makin lengkap lagi karena notebook ini juga dilengkapi dengan USB 3.1 type C, konektor USB yang memiliki colokan reversible dan memiliki kecepatan transfer data 20 kali lipat dari USB type 2.0 dengan kecepatan maksimal 10GB/detik.

Notebook ini juga telah dipersenjatai dengan Intel® processor terbaik yang mampu memberikan kapasitas performa dalam berkomputasi. Bisa banget diandalkan saat melakukan pekerjaan multitasking ketika harus buka banyak tab pada browser, editing foto sambil cari materi di internet pun nggak akan bikin notebook jadi nge-lag dan nge-hang tiba-tiba saat notebook sedang panas-panasnya.

Dan yang lebih penting lagi, aku nggak perlu bawa-bawa charger kalau harus kerja di luar rumah karena Asus Eeebook E202 memiliki daya ahan baterai hingga 8 jam sehari. Jadi, kalau mau nongkrong sambil kerja di luar rumah nggak perlu repot-repot cari colokan lagi, deh hahahaha. Ketahuan banget ya anaknya nggak bisa jauh-jauh dari colokan :D

Notebook Telah Dilengkapi dengan Asus Smart Gesture


Salah satu kendala setiap kali mainan  notebook adalah touchpad yang agar seret dan tidak nyaman digunakan. Alhasil, ya harus pakai mouse kabel hahaha. Yes, aku adalah orang yang paling nggak bisa kerja kalau nggak pakai mouse kabel. Tapi tenang, kalau pakai Asus Eeebook E202 karena notebook ini telah dilengkapi dengan fitur teknologi Asus Smart Gesture untuk touchpad yang lebih intuitif dan memiliki banyak fungsi, seperti zoom in/out, drag, page scrolling, hingga execute corana. Beuh, lengkap banget, ya?

Selain intuitif, Asus Eeebook E202 juga memiliki touchpad yang sangat responsif. Jadi, meskipun sedang mainan notebook, rasanya kayak lagi scrolling layar smartphone. Aluuus banget. Dan touchpad Asus Eeebook E202 ini memiliki ukuran 36% lebih besar dibandingkan touchpad pada notebook sejenis yang memiliki ukuran 11.6 inci. Soal akurasi, jangan salah. Notebook ini memiliki tingkat akurasi yang tinggi.

Keyboard yang Enak Banget Buat Nulis


Sebagai seorang penulis, hidupku emang nggak jauh-jauh dari keyboard. Hampir nggak pernah dalam seharipun aku melewatkan menyentuh keyboard notebook untuk menciptakan tulisan-tulisan yang baik. Nah, Asus Eeebook E202 ini cocok banget untuk seorang content writer kayak aku. Keyboardnya memiliki desain one-piecce chiclet keyboard yang mampu membuat pengalaman mengetik menjadi sangat berbeda. Jarak antar keyboardnya hanya 1.66mm dan ini memungkinkan proses pengetikan jadi lebih asyik karena nggak perlu jauh-jauh menjangkau dari huruf ke huruf.

Hal penting lain yang harus di-highlight ketika nulis ditempat umum adalah memastikan bahwa notebook yang aku pakai nggak berisik. Apalagi kalau banyak orang atau di perpustakaan gitu. Dengan desain yang tipis dan fanless, notebook ini tidak akan menimbulkan suara yang bising. Aman deh pokoknya kalau mau pakai di tempat umum, terutama ya di perpustakaan.

Bisa Download File, Film dan Music Sepuasnya di Internet


Yaaah namanya juga penulis, pasti butuh materi  dari internet dan buku. Saat-saat seperti inilah Asus Eeebook E202 sangat diandalkan karena ia telah dilengkapi dengan Wi-Fi 802.11ac yang memiliki kecepatan hampir 3x lipat dari 802.11n, versi Wi-Fi terakhir. Pengalaman browsing dan download film, music dan file-file lain pun jadi makin wuuuzzz wuuuzzzz :D

Apalagi teknologi Asus Splendidnya telah dilengkapi dengan sistem vivid yang mampu memberikan akurasi warna secara otomatis dan mampu disesuaikan dengan display setting optimal untuk semua gambar yang ada. Sudah tahu kan kalau vivid colors itu akan menghasilkan warna yang lebih dalam dan tampilan yang luar biasa HD saat sedang streaming video ataupun nonton video offline lewat aplikasi.

Ada juga lho Asus webstorage, yaitu Asus cloud service yang telah mendukug secara menyeluruh kehidupan online-ku saat ini. Seluruh data bisa disinkronisasi secara lengkap. Jadi segala konten multimedia pendukung tulisanku akan aman tersimpan secara aman di cloud. Ada kapasitas 16GB yang siap untuk digunakan selama satu tahun secara GRATIS. Wiiii asyik banget kan ya kalau ngomongin gratisan hehehe.

Kualitas Gambar dan Suara Tidak Bisa Diragukan Berkat Adanya Asus Sonicmaster


Nah, kalau cuma mau musikan, front-facing speakersnya mendukung banget, nih. Notebook ini memiliki 2 kualitas audio yang mampu menyajikan suara dari video dan musik yang berkualitas. Beniingg dah pokoknya :D

Ditambah lagi, ada teknologi ASUS Sonicmaster– yang dikolaborasikan dengan ASUS Golden Ear team menciptakan sebuah teknik engineering yang presisi dengan software yang difungsikan untuk mengantar suara yang berbeda dari kebanyakan notebook yang ada pada saat ini, dengan suara yang lebih dalam dan bersih, walau di volume suara yang tinggi.

Itu dia suka dukaku selama menjadi content writer dan digital strategist yang kini jadi profesiku sehari-hari. Kalau teman-teman apa suka duka pekerjaan kalian? Share di kolom komentar, yaa ^^

Blog Competition ASUS E202 by uniekkaswarganti.com

Senin, 19 Juni 2017

Hal-Hal yang Selalu dan Akan Kurindukan Bersama Sahabat

Dwi Septia - Ngomongin tentang sahabat, pasti hampir semuanya memiliki sahabat. Mungkin, beberapa menyebutnya bukan sebagai sahabat, melainkan teman dekat yang dijadikan prioritas dalam hidupnya. Sedari dulu, aku bahkan tidak pernah menyebut bahwa diriku memiliki sahabat karena aku tidak tahu apa definisi dari sahabat itu sendiri. Tapi, memang tidak bisa dipungkiri bahwa sejatinya manusia itu tidak dapat hidup sendiri. Mustahil rasanya kalau benar-benar manusia merasa dirinya bisa sendirian karena sejatinya memang kita terlahir sebagai makhluk sosial.

Seiring dengan berjalannya waktu, aku mulai menemukan kenyamanan bergaul dengan beberapa orang yang bisa disebut sebagai sahabat, mmm aku lebih suka menyebut mereka teman dekatku. Teman yang bisa diajak untuk berbagi tentang cerita hidup. Menyenangkan maupun menyedihkan, apapun itu, mereka bisa mencoba mengerti dan memberikan tanggapan dari perspektif mereka. Dan ini adalah 3 hal yang membuatku selalu rindu ingin bertemu dengan teman-teman tersayangku:

Turun ke Jalanan Sembari Membahas Masa Depan Sama Ngucing di Baiturahman




Jadi, aku punya kebiasaan turun ke jalanan untuk sekadar bagi-bagi teh hangat atau nasi bungkus. Dan melalui kegiatan ini aku menemukan teman baru dari jurusan lain yang juga memiliki passion yang sama. Deddy namanya. Dia adalah teman satu angkatan SMK jurusan Teknik Mesin, sedangkan aku berasal dari jurusan Teknik Komputer dan Jaringan. Tidak pernah tahu dia sebelumnya karena kelas kami memang terpisah.


Aku lupa bagaimana kronologisnya, yang aku ingat karena kami suka turun ke jalanan, lalu kami memutuskan untuk rutin turun ke jalanan bersama-sama. Aku dengan Nia, teman terdekatku di kelas dan Deddy dengan Agus, teman dekatnya di kelas juga. Kami berempat mulai sering turun ke jalanan, lalu pulangnya melipir ke kucingan depan Masjid Baiturahman di kawasan Simpang Lima Semarang.

Biasanya kami turun ke jalanan sore gan pulang hingga larut malam. Sekitar pukul 10 malam hingga 11 malam kami baru bubar dan pulang ke rumah masing-masing. Kami duduk sembari memakan bungkusan nasi kucing dan ngopi di pinggir jalan. Syahdu sekali diiringi suara pengamen atau suara knalpot motor. Kami tidak punya topik khusus karena yang kami paham hanyalah "waktu itu berharga" dan tidak bisa ditukar dengan apapun itu. Kami bisa membahas tentang pekerjaan, jodoh, kehidupan, dll. Sampai pada akhirnya kami lulus dan masing-masing bekerja, semuanya berubah. Aku rindu untuk bisa berkumpul dengan teman-temanku lengkap berempat. Aku, Nia, Deddy dan Agus.

Hahhh sudah hampir 4 tahun kami tidak bisa berkumpul lengkap karena aku sempat ke Jakarta, Agus di Cilegon, Nia di Semarang dan Deddy terbang ke Jepang. Rindu sekali rasanya bisa bersama mereka untuk sekadar bernyanyi di ruang tamu rumahku. Saling cerita tentang gebetan atau hanya sekadar makan camilan seadanya.

Berkumpul, Bercengkrama Membahas Kuliah




Kalau yang ini lain lagi. Ini tentang geng sarden, geng kelas kuliahku yang tercetus karena kami pernah seranjang bertiga, umpel-umpelan sambil bercerita. Yes, kami terdiri dari tiga wanita, Aku, Cilla dan Tita. Dua orang teman dekatku dari bangku kuliah ini adalah teman-teman yang masih 'terjaga' setelah aku DO dari kampus karena bekerja.

Tidak ada yang khusus dari mereka berdua. Aku hanya paham bahwa mereka berdualah yang masih bisa menerimaku yang sudah tidak lagi duduk di bangku kuliah. Tidak banyak yang peduli denganku setelah aku tidak lagi kuliah dan merekalah yang masih suka menanyai kabarku hingga saat ini. Ah, ini bikin mewek sih, terima kasih ya, Cilla dan Tita. Kalian luar biasa.

Setiap kali kami kumpul meskipun jarang, kami selalu membahas tentang perkuliahan, dosen hingga teman-teman dan tugas. Suka duka kuliah yang tidak sempat aku rasakan mereka ceritakan. Aku seolah menjadi bagian dari kampus ketika sedang berkumpul bersama mereka. Ada rasa ingin tinggal dan kembali ke kampus, namun tidak bisa. Ah, pokoknya terima kasih yaaa, sardenkuu. Luvv

Doing Nothing with Nia and Hardi


Kalau yang ini teman-teman yang agak-agak nyebelin, sih. Tapi, meski demikian mereka ini adalah teman-teman yang paling nggak bisa kebeli kehadirannya karena saking sibuknya mereka. Meski aku sendiri yang nggak kuliah diantara kami bertiga, tapi aku suka godain mereka yang tak kunjung lulus dari bangku kuliah. Kadang juga baper sih karena aku nggak bisa seperti mereka yang bisa berkesempatan menikmati bangku kuliah.



Kami suka sekali bercengkrama tentang kehidupan kami masing-masing. Cerita tentang suka duka yang kami alami. Diantara teman-teman yang lain, mereka berdua ini yang paling tahu tentang aku. Hal yang lebih mendalam dan intim seperti bagaimana kondisi keluargaku, ya mereka ini yang tahu. Pun sebaliknya. Kami pernah tertawa bersama sampai habis kata. Kami pernah saling bungkam sampai tak bisa bicara, lalu menangis bersama. Indah pokoknya.


Dan aku pribadi paling suka berkumpul dengan mereka dan doing nothing. Literally doing nothing karena buatku, berkumpul dengan Hardi dan Nia itu precious banget. Keduanya sibuuuukkkkk banget. Super sibuuuukkkkkkk pokoknya. Its like a jackpot bisa berkumpul bertiga sama mereka pokoknya. Miss them so bad lahhh.

Dan ini adalah ujung dari kuliah mereka. Mereka lagi skripsi, akunya fokus ke kerja dan mereka fokus cari kerja. Ada ketakutan kalau kami jadi susah kumpul. Karena bakalan kangen sok sibuknya Nia dan super puelitnya Hardi. Btw, Hardi ini pinter banget masak dan masakannya superrrrr, juaraaakk pokoknya. Dan Nia, doakan dia segera menemukan tambatan hatinya biar nggak galau-galau lagi ya, temans. Aamiin

Itu dia ceritaku tentang sahabat, tema yang diingikan oleh mba Agustina dan Mba Nunung, teman komunitas Gandjel Rel ini. Makasih ya mba-mba sudah membuatku menuliskan kisahku dengan teman-teman baikku ini. Semoga kebaikan selalu menyertai kalian jugaaa.

Salam,