Sabtu, 22 Juli 2017

Gedong Songo, Candi di Tengah-tengah Kabut Pegunungan

Kalau di Bogor  punya Puncak yang selalu diagung-agungkan, maka Semarang, Jawa Tengah juga tak kalah ciamik soal menyajikan pemandangan dari kaki gunung Ungaran. Ibaranya, belum lengkap rasanya kalau main ke Semarang, tetapi belum mnejamah kawasan kabupaten Semarang yang terletak di sekitaran kaki gunung Ungaran. Yes, ada satu kawasan di Kabupaten Semarang yang nggak kalah menyajikan pemandangan yang ciamik dan super cantik. 


Sekilas Tentang Candi Gedong Songo


Kali ini, aku akan sedikit mengulas tentang perjalananku ke Candi Gedong Songo. sebuah komplek bangunan candi peninggalan budaya Hindu yang terletak di desa Candi, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Indonesia tepatnya di lereng Gunung Ungaran. Di kompleks candi ini terdapat sembilan buah candi. (Wikipedia)


Candi ini awalnya ditemukan oleh Raffles pada thaun 1804 dan merupakan peninggalan budaya Hindu dari zaman Wangsa Syailendra abad ke-9, yaitu sekitar tahun 927 masehi. Candi yang terletak pada ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut ini memiliki suhu yang cukup dingin, berkisar antara 19 - 27 derajat celcius.

Lama Tak Jumpa, Candi Gedong Songo Hadir Berbeda


Sudah sekitar 3 tahun lamanya aku tak menginjakkan kaki di kawasan Semarang atas. Kali ini aku yang biasanya membonceng kalau naik ke Semarang atas jadi supir dan guide salah seorang temanku yang jauh-jauh datang dari Bogor. Yaassss, i'm the guide right now. Monggo yang mau jalan-jalan bisa PM PM saya tanya harga wuahahahha (ala ala jualan yaaa).

Sekitar 45 menit lamanya waktu yang kutempuh untuk bisa sampai ke lokasi. Medan untuk bisa menuju ke Candi Gedong Songo cukup memacu adrenalin. Kemiringan sudutnya bisa mencapai 40 derajat. Biasanya yang telat ambil ancang - ancang (duh ini Bahasa Indonesianya apa yaa) akan kalah dan akhirnya satu orang yang membonceng turun untuk berjalan kaki. Sebegitu seramnya memang hihi.

Sampai di lokasi, kawasan ini tampak berbeda. Tempat parkir yang lebih luas dan lebih terkoordinir dan ada semacam welcoming board mmm nggak sih, semacam tulisan Candi Gedong Songo yang besar dan mencolok di sebelah kanan. Waaawwww, aku ternyata sudah jadul sekali yaa sampai sekian tahun lamanya nggak kesini (padahal dekat) dan ketinggalan akan perkembangan kawasan Candi Gedong Songo yang kian ciamik.

Suhu Mencapai 19 Derajat Cukup Membuat Menggigil


Pernah melihat orang-orang dengan jaket tebal, sweater, syal atau penghangat lainnya? Yaa, mungkin pakaian-pakaian inilah yang harus kalian siapkan jika akan menuju ke Candi Gedong Songo. Pasalnya, begitu kami (aku dan temanku) sampai di lokasi, cuaca seperti berubah 90 derajat. Berkabut dan dingin tentu saja. Dinginnya pun tidak sekadar dingi, lebih dingin daripada terakhir kali aku ke sini. Sedikit terlihat seperti mendung dan seolah-olah akan turun hujan.



Meski terletak di pucuk dan cukup jauh dari kota, Candi Gedong Songo dipadati oleh ratusan wisatawan lokal, loh. Entah pergi bersama keluarga, sahabat, hingga pacaar. Rameee pokoknya. Sayangnya, keramaian ini justru membuat Candi Gedong Songo terlihat tidak terlalu bagus. Bayangkan saja bila setiap tempat dikerumuni oleh orang-orang yang berfoto. Mau motret candinya saja Masya Allah, nggak bisa hahahahaha.


Tiket Masuk yang Tidak Terlalu Mahal

Untuk bisa masuk ke wahana Candi Gedong Songo, kalian cukup mempersiapkan uang 10.000 per orang saja. Cukup murah, bukan? Untuk turis lokal ada harga khusus tersendiri tentu saja. Tidak sama dengan harga turis lokal.


Track Cukup Menanjak yang Juga Menjadi Jalur Pendakian


Untuk bisa mendapatkan view seluruh candi, kami harus melewati track yang cukup terjal dan mendaki. Cukup persiapkan fisik saja jika ingin sampai ke puncak dan sampai ke titik awal. Namun, jika dirasa fisik tidak cukup kuat atau ingin merasakan sensasi lain, kalian bisa lho sewa kuda untuk mendaki Candi Gedong Songo. Yaass, kalian akan disambut oleh para pemandu, mmm apa ya sebutannya. Pokoknya bisa banget deh naik kuda sampai ke Candi ke I, II, III atau IV. Harganya tentu berbeda, ya untuk pencapaian ke setiap candi.


Tapi sebagai seseorang yang suka backpack, aku memilih untuk berjalan kaki dengan temanku. Nggg nggak deng, sayang uang sebenarnya buahahahah. Just a little intermezzo, yah XD. Belum pernah selama ke sini aku merasakan naik kuda. Biasanya ya jalan, mendaki, menikmati  alam Candi Gedong Songo tentunya.

Sinyal Lancar Meski di Daerah Pegunungan


Ini nih yang menjadikan kawasan Candi Gedong Songo terbilang ramai. Lokasinya, meski jauh dari kota tetap saja membuat yang datang tetap nyaman. Pasalnya, selama di Candi Gedong Songo, sinyal XL tetep kuat dan lancar. Jadi ada yang mainan IG Story, live Instagram, Live Facebook atau sekadar update status biasa. Menyenangkan deh, pokoknya. Bisa update kapan pun da di manapun yang jelas.


Itu dia perjalanan singkatku dan temanku ke Candi Gedong Songo. Ceritanya nggak lengkap sih, hopefully besok-besok kalo kesana bisa nyobain naik kudanya hihi. Ndeso banget soalnya belum pernah nyobain naik kuda meskipun udah 3x-an kesana.

Salam,

Sabtu, 15 Juli 2017

Menikmati Stasiun Purwakarta dari Balik Jendela Kereta

Kalau kata temanku, aku ini kayak belatung, lompat sana lompat sini alias nggak bisa diem. Well, iya sih kalau dipikir pikir aku jarang betah di satu tempat, duduk berlama lama dan mmmm betah di sana. Seperti keajaiban bisa liat Septi bisa melakukan hal tersebut. Hahahahah

Kecuali nih ya, kecuali kalau aku betaaah banget atau ada sesuatu yang membuatku betah di tempat tersebut, baik lingkungannya kah, teman-temannya kah atau apapun itu. Hm, sulit sekali ya sepertinya untuk seorang Septi bisa duduk manis hahaha.

Aku sedang di kursi kereta dalam perjalanan Jakarta - Bandung saat sedang menuliskan ini. Yes, aku memilih jalur berputar dari Semarang ke Jakarta baru lalu ke Bandung bukan langsung dari Semarang ke Bandung. Alasannya? Yang kenal aku pasti sudah jelas tahu alasannya. Yep, karena aku anaknya emang bolang banget, jalur memutar ini sengaja kupilih agar aku bisa menikmati indahnya pemandangan dibalik jendela kereta Argo Parahyangan di pagi hari 👻



Sepanjang perjalanan menuju Bandung aku selalu dibuat tergila gila. Pemandangannya, selalu juara. Barisan rel kereta yang tersusun rapi, titik buta yang selalu kujumpai dan aku bahkan tidak tahu di mana ujungnya, hingga ambience birinya langit yang selalu berhasil membuatku terpesona. Masya Allah.

Aku selalu memastikan diriku terjaga selama perjalanan agar aku tak ketinggalan sedetikpun momen perjalananku setiap aku menuju suatu tempat. Yes, aku selalu berusaha membunuh waktu dengan beragam hal. Menonton film, mendengarkan musik, membaca buku, hingga streaming Youtube.

Sayangnya, setiap perjalanan selalu kujumpai kendala, yaitu sinyal provider kartu yang tidak stabil selama di kereta. Namun, sejak beralih ke XL semuanya berubah, semua koneksi lancar dan tentu saja, streaming Youtubeku pun tiada kendala.

Bahagianya memiliki catatan perjalanan yang paling tidak bisa kubaca kembali. Kekonyolanku, kenekatanku, keberanianku, hingga kegabutanku selalu punya sisi unik yang membuatku seperti lari ke dimensi waktu lalu saat aku masih bisa seperti sekarang ini. Melalang buana, sendiri, dan menikmati 'me time' ku sendirian.

Salam,

Minggu, 09 Juli 2017

Pertama Kali Kenal dan Akhirnya Jatuh Cinta Pada Monggo Chocolate

Dwi Septia - Munafik kalau aku menolak tawaran yang selalu berkaitan dengan coklat dan kopi. Rasa-rasanya itu bukan aku banget, banget dan banget hahahaha. Imanku begitu lemah kalau membahas tentang kopi dan coklat. Ngomong-ngomong soal coklat, aku jadi ingat kenangan 5 tahun yang lalu bersama kakak kelasku sewaktu SMK. Jadi, kala itu aku diajak ke Yogyakarta olehnya dan mulai diperkenalkan dengan satu tempat yang memang itu adalah surga dunia buatku. Yeps, monggo chocolate, salah satu pabrik atau rumah coklat yang memang sudah mendunia.



Aku diberi semacam surprise ketika sampai di sini. Bagaimana tidak, pengunjung diberikan tester coklat asli yang memang diolah langsung oleh pabrik tersebut. Sesampainya di sana aku masih tidak tahu betul itu pabrik apa karena yang aku tahu hanyalah aku suka coklat dan aku suka sekali dengan tempat tersebut. Aku mencicipi beberapa coklat yang ada di toko. Menyenangkan sekali rasanya XD.

Sudah lama sekali aku tidak mendengar kabar dari seniorku tersebut. Namun, aku tidak pernah lupa tentang surga coklat yang ia perkenalkan padaku. Mulailah aku penasaran dan mencari tahu dengan kuota internet XL yang aku miliki agar aku bisa berkunjung ke pabrik monggo chocolate lagi, lagi dan lagi.

Sejarah Tentang Monggo Chocolate dan Pembuat Coklat Pertama di Yogyakarta


Dari website resmi monggo chocolate, tertulis bahwa Petualangan berawal di Yogyakarta pada tahun 2001, seorang pria berumur 35 tahun asal Belgia datang ke Indonesia tanpa sebuah perencanaan. Kecewa dengan kurangnya kualitas cokelat yang tersedia di toko - toko di Indonesia sebagai negara ketiga terbesar penghasil kakao, pria Belgia tersebut memutuskan untuk membuat beberapa produk cokelat cita rasa Belgia sendiri dengan sumber daya yang terbatas.

Cokelat “truffle” yang dihasilkan pertama kali diberikan kepada teman - teman Indonesianya dan secara langsung membuat teman - teman Indonesia tersebut merasakan nikmatnya coklat tersebut. “Anda harus membuatnya lagi!” kata mereka.

Kemudian pria itu membuat cokelat lebih banyak lagi dengan mengendarai Vespa tua berwarna pink, yang disulap menjadi sebuah tempat berjualan. Setiap Minggu pagi pria ini berjualan di daerah UGM dan di daerah luar Gereja Kota Baru. Tujuannya hanya untuk kesenangan serta mencari minat dan reaksi dari masyarakat, bukan semata – mata untuk mencari keuntungan. Hal tersebut sangat menarik dan menjadikan pria itu sebagai Pembuat cokelat pertama di Yogyakarta.

Untuk mewujudkan impiannya, maka pria tersebut menggabungkan sumber daya yang terbatas dengan modal yang ada. Ide pertama muncul untuk membuat sebuah toko, namun hal itu gagal dan tidak di lanjutkan.

Namun demikian, pria tersebut tetap melanjutkan rencananya, dengan pembukaan sebuah perusahaan Anugerah Mulia, pada tahun 2005.

Perusahaan tersebut memiliki tim kecil yang penuh kreasi dan akhirnya meluncurkan produknya yang pertama dengan nama Cacaomania yang berupa cokelat praline yang ditujukan bagi kawula muda. Nama tersebut akhirnya ditinggalkan karena nama tersebut terlalu umum dan mereka membutuhkan nama yang khusus untuk dapat diluncurkan di pasaran.

Lahirnya Cokelat Monggo


Sejarah dari pemilihan kata “Monggo” sendiri berawal dari suatu sore yang panas di Yogyakarta. Tim Anugerah Mulia berkumpul untuk mencari inspirasi, yaitu Edo sebagai direktur, Burhan sebagi staf kreatif, dan Thierry sebagai pembuat cokelat.

Mereka berusaha menemukan nama untuk cokelat tersebut yang memiliki tipikal khas Yogyakarta. Nama tersebut harus mudah di dengar, mudah diingat dan unik. Suatu kata dalam bahasa Jawa... Beberapa istilah muncul dalam diskusinya dan tiba tiba salah seorang dari mereka mengucapkan “Monggo”…Yes! Yes! Eureka!



Monggo adalah sebuah kata dalam bahasa Jawa yang berarti “silakan” yang selalu digunakan oleh orang – orang Yogya sambil mengacungkan ibu jari, ataupun ketika kita lewat di depan orang, serta pada saat kita mengundang orang masuk ke rumah atau meninggalkan rumah seseorang.

Namun, meski demikian banyak orang menggunakan kata “Monggo” dan juga orang yang bukan berasal dari Yogya. Nama tersebut sangat menggambarkan budaya Jawa, kota Yogyakarta, serta nama yang tepat untuk cokelat monggo.

Berkunjung Kembali ke Chocolate Monggo


Lama tak bersua, akhirnya aku mampir juga ke pabrik coklat monggo. Ada yang lucu dalam perjalanan kali ini. Sebenarnya aku benar-benar tengah dikejar waktu. Hanya saja, hasrat untuk bisa sampai di pabrik langsung dan membeli dari tokonya langsung membuat raut wajahku yang awalnya panik menjadi sumringah seketika. Just like the power of chocolate I can change my life. Kata temanku,

"wagu ya, ndeleng coklat iso senenge pol..."
alias
"aneh ya kamu, wajahmu bisa seketika berubah hanya karena bisa ke pabrik coklat.."

Bisa ke Monggo chocolate itu bagian dari liburan yang paling berkesan di bulan ini, sih. Mba Muna Sungkar dan Mba Wuri Nugraeni bisa banget nih cobain liburan ke sini sama anak-anak karena di sini tempatnya luaaasss banget mba bisa banget ajak anak-anak pokoknya ^^

Lingkungan Monggo Chocolate yang Asyik dan Instagramable


Selain coklatnya yang memang asli enak, ada yang begitu menyenangkan ketika datang kesini. Millenials, terutama pasti akan sangat menyukainya, termasuk aku. Iya, aku kan masih muda, kaum millenials juga kok hahaha. Yesssss, tempatnya photoable banget alias instagramable banget banget banget.




Asyiiikk banget tempatnya untuk foto. Sejak awal masuk saja, pengunjung akan disuguhi dengan spot foto yang menarik. Ada vespa pink di depan dengan background berwarna (sayang sekali aku tidak sempat mengambil spot ini secara langsung).


Masuk ke dalam, ada bangku dengan latar monggo tulisan monggo chocolate yang juga asyik dijadikan background foto. Belum lagi, lingkungannya yang asri benar-benar asyik untuk dibuat duduk santai dan berlama-lama di sini. Ada banyak bangku untuk tempat beristirahat juga, lho.




Daaaannn taraaaa ketika masuk ke toko, ada bangku-bangku cantik yang ditata sedemikian rupa dengan bantal-bantal berwarna-warni. Bisa banget buat narsis deh, tempatnya. Foto-foto yang aku cantumkan di blog ini hanya contoh saja, sih. Kalian bisa browsing sendiri dengan koneksi XL foto-foto lain yang diunggah di Google.

Jatuh Cinta Pada Dark Chocolate 69%


Sejak pertama mencoba beberapa coklat dengan banyak rasa, aku menemukan tambatan hati hanya satu, yaitu dark chocolate 69% with coco nibs. Kenapa? Karena rasanya pahit. Lho, lha, kok? Kalau kalian selalu percaya bahwa coklat identik dengan rasa manis, maka berbeda denganku. Aku suka yang bisa memberikan kesan pahit dan nikmat di lidah. Lebih berkesan rasanya.

Kayak mba-mba endorse katanya XD

Ini Dark Chocolate 69% with Cocoa Nibs

Entah mengapa, aku memang tidak bisa memakan coklat manis. Apalagi kalau kandungan susunya kebanyakan. Bisa muntah aku hahaha. Aneh, kan? Iyak! Memang aku aneh. Tapi ya inilah aku, inilah diriku *eyaaaa. Dah ah, dari pada penasaran, mendingan ke monggo langsung aja deh XD. Dijamin, pasti ketagihan!!

Alamat coklat monggo yang aku kunjungi yang di sini, ya:

Jl. Dalem KG III / 978, Purbayan Kotagede, Purbayan, Kotagede, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55173

Oh ya, coklat monggo menyediakan banyak rasa seperti rasa cabe, rasa orange, greentea, macadamia, caramel, coffee, dan masih banyak lagi. Ada juga coklat praline yang memang hanya dijual di pabrik, tidak dijual di outlet monggo lainnya. Kebayang kan betapa originalnya rasa coklat dari coklat monggo ini? Selamat mencoba!!

Salam,

Jumat, 07 Juli 2017

Menyusuri Jejak Sejarah Masjid Menara Layur Semarang

Akhirnya aku bisa merasakan Ramadan tahun ini di kota kelahiranku, Semarang setelah satu tahun lamanya merantau di Jakarta. Ada banyak suasana yang berubah di kota ini. Ada yang begitu berbeda begitu aku kembali. Suasana sepanjang jalan pahlawan yang kian ramai di sore hari. Hiruk pikuk jalanan beserta kemacetan di jam-jam menejelang berbuka puasa, hingga pemandangan lazim yang aku jumpai di masjid-masjid setiap kali jam istirahat siang. Yaa, banyak yang menghabiskan waktu di masjid untuk tidur selepas melaksanakan shalat untuk beristirahat sejenak. Maklum saja, sahur memang menyita waktu tidur. Bahkan aku pun begitu adanya, setiap kali puasa aku suka menghabiskan waktu siangku dengan tidur sejenak hahahaha.



Semarang, Kota yang Penuh dengan Bangunan Saksi Sejarah


Ramadanku tahun ini cukup mendapat sambutan yang baik dari kakakku tersayang, Shafrina, Ina atau Mbem, aku memanggilnya begitu. Ia mengajakku untuk menyusuri jejak sejarah masjid-masjid tua di Kota Semarang. To be honest aku tidak terlalu tertarik dengan dunia sejarah apapun itu. Namun, agaknya aku adalah warga yang kurang baik jika aku tidak tahu tentang sejarah kota kelahiranku sendiri. Akhirnya aku mengiyakan ajakan tersebut dan menghabiskan waktu siang di Ramadanku bersama dia.

Sebagai anak yang lahir dan besar di Semarang, aku cukup beruntung karena kota yang juga menjadi ibukota Jawa Tengah ini menjadi kota yang iconic karena punya banyak banget bangunan bersejarah yang penuh dengan cerita. Mulai gereja, masjid, hingga bangunan-bangunan lain yang dulunya memiliki peran penting di zaman penjajahan Jepang dan Belanda. Mumpung masih suasana Ramadan, aku dan temanku pun memutuskan untuk menyusuri jejak sejarah di masjid. Yes, kali ini perjalanan kami berdua adalah untuk menelisik lebih jauh tentang masjid tua di Semarang yang dulunya memiliki peran penting, namun sayang tidak banyak orang yang tahu tentang ini.

Berkunjung ke Masjid Menara Layur


Sebelum memutuskan untuk pergi, kami berdua mencari informasi yang cukup dulu mengenai masjid-masjid bersejarah di Semarang lewat Google dan review dari beberapa blog lain. Setelah mengantongi beberapa alamat masjid tua di Semarang, kami memutuskan hanya satu tempat yang akan kami ulik sejarahnya. Dan tempat tersebut adalah Masjid (Menara) Layur Semarang.
Seperti namanya, masjid ini tepat berada di jalan layur, di kawasan kota lama Semarang. Masjid ini sebetulnya lebih dikenal dengan nama masjid menara karena memang memiliki menara yang terletak di bagian halaman depan masjid.


Masjid Layur Tampak Luar
  Dari luar, masjid ini tidak terlihat seperti masjid pada umumnya. Bahkan, kami sempat mengira masjid ini tidak lagi aktif karena bangunannya yang sangat tua dan dari luar tidak terlihat ada bangunan lagi di dalamnya. Bangunan gapura masjid ini dibatasi oleh tembok yang berbentuk seperti benteng dan pagar berwarna hijau dan tepat di sampingnya, ada menara yang kokoh berdiri.

Teras Tempat Shalat Pria

Masuk ke halaman masjid, kami cukup dibuat terpukau karena ternyata masjid menara ini memiliki bangunan yang cantik dan cukup memukau dengan warna kombinasi hijau putih. Arsitektur dari masjid ini memiliki gaya Arab yang khas, tidak sama dengan masjid pada umumnya. Bangunan dari masjid menara ini dibuat seperti panggung, yaitu ditinggikan karena kondisi lingkungan sekitar masjid yang sering rob. (Rob adalah banjir air laut atau naiknya permukaan air laut)

Arsitektur Masjid Menara Layur

Aku suka sekali dengan bangunan atapnya yang khas. Kalau diperhatikan mirip dengan Masjid Agung Demak. Entah apakah memang ada hubungannya atau memang hanya kebetulan saja hahahah. Yang jelas, menurut kami bangunan masjid menara layur ini benar-benar bagus dan artistik. Banyak juga ternyata yang menjadikan bangunan masjid ini sebagai background latar foto untuk anak-anak social media yang ingin menjadikan feed Instagramnya benar-benar rapi alias Instagramable. Nggak percaya? Dateng deh ke sini dan  buktikan sendiri :))

Cerita Sejarah di Balik Masjid Menara Layur


Jadi, menurut cerita yang kami berdua baca, dulunya masjid ini adalah kantor pelabuhan Semarang. Dan menara atau mercusuar yang terdapat di latar masjid tersebut dulunya masih berfungsi normal sebagaimananya mercusuar pada umumnya, yaitu sebagai penunjuk atau pemberi navigasi kapal yang tengah berlayar di laut.

Namun, setelah pelabuhan berpindah, mercusuar juga turut berpindah. Kemudian, bangunan mercusuar beserta kantor pelabuhan dialihfungsikan sebagai menara dan Masjid oleh para saudagar Arab yang berasal dari Yaman.

Menara Masjid Layur - Mba Ina - Septi
Kawasan Jalan Layur ini dulunya merupakan tempat bermukim orang-orang suku Melayu asli. Hal inilah yang akhirnya melatarbelakangi lahirnya nama Kampung Melayu di kawasan masjid menara layur. Namun, saat ini hampir tidak ada keturunan asli Suku Melayu yang bisa ditemukan di Kampung Melayu.

Oh ya, area ini dulunya juga sering disebut dengan “Arabische Kamp” karena banyaknya warga pendatang keturunan Arab yang mayoritas berasal dari Hadramut, Yaman.

Tempat Sholat Pria dan Wanita yang Terpisah

Ada yang menarik dan sangat menarik dari masjid menara layur ini. Jadi, pertama kali masuk, perhatian kami tertuju pada satu bangunan yang tidak terlalu besar yang terletak di sisi kanan masjid. Dan ternyata, setelah kami mendekat, bangunan kecil tersebut adalah tempat khusus sholat untuk wanita. Waaaahhh jadi makin menarik yah kalau tempat sholat dipisah.

Tempat Sholat Wanita
Jadi muslimah yang ingin sholat di sini nggak perlu takut akan berbaur dengan jamaah pria karena sudah pasti aman. Dan masjid utamanya ternyata hanya difungsikan untuk jamaah pria saja. Jadi, jamaah wanita tidak diperkenankan masuk untuk menghindari fitnah atau campur aduk antara jamaah pria dan wanita. 

Tempat Wudhu Masjid Menara Layur
Berdasarkan penelusuran kami, masjid ini masih berfungsi secara aktif, terutama untuk kegiatan sholat lima waktu. Meski tidak seperti masjid besar lain yang padat akan kegiatan masjid, masjid menara layur ini tetap semarak karena banyaknya pengunjung yang mampir saat sholat. Terutama pada saat Ramadan, masjid ini tetap menyajikan hidangan untuk buka puasa bersama.

Itu dia perjalanan kami kali ini di masjid menara layur Semarang. Lumayanlah yaa meskipun sebentar dan hanya sehari, aku jadi sedikit tahu tentang bangunan bersejarah masjid menara layur ini. Dan baru ngeh juga ternyata ada kampung melayu di Semarang hehehehe agak 'ndeso' sih ini emang sebagai anak Semarang. Mau tahu perjalanan berikutnya? Pantengin terus blog dan channel YouTube aku yah ^^

tulisan ini diikutan sertakan dalam lomba blog Pesona Ramadan Jawa Tengah yang diadakan oleh GenPI Jateng

Salam,

Minggu, 02 Juli 2017

Cerita Andong: Lebih dari Sekadar Mendaki, Ini Adalah Proses Penemuan Jati Diri

Bagiku, mendaki adalah proses penemuan jati diri.
Tentang siapa kita, seperti apa diri kita dan bagaimana kita jika tengah menjalani sesuatu
- Dwi Septia
Septi - Reza - Anggit

Sudah lama aku tidak melakukan perjalanan yang panjang. Barangkali kalian melihatku melakukan perjalanan, itu hanya kusebut sebagai persinggahan karena di dalamnya aku hanya tahu tempat yang akan dan harus aku tuju, tetapi jarang sekali memikirkan bekal di perjalanan untuk menghadapi setiap kemungkinan-kemungkinan yang mungkin akan datang. Dan kali ini, aku akan menceritakann tentang pendakianku di Gunung Andong, Ngablak, Magelang, Jawa Tengah.

Perjalananku kali ini sama dengan perjalanan-perjalananku yang sebelumnya. Tidak ada rencana matang, pun persiapan pendakian yang mumpuni. Bahkan, perjalanan kali ini hanya berawal dari percakapan di DM Instagram dengan seorang adik kelas, Anggit Indra  yang bahkan aku bertatap muka secara langsung saja belum pernah. Dari membahas tentang tempat kerja, hingga berujung pada pertanyaan "kamu kapan lagi muncak, le?" kepadanya.

Entah memang dia anak gunung atau gabut aku juga kurang paham XD yang jelas kami memutuskan malam itu, Rabu (29/6/17) sekitar pukul 11 malam untuk membuat kesepakatan esok hari. Dan esoknya, Kamis (30/6/17) pukul 07.32 WIB aku langsung kirim pesan WA ke Anggit, "nang, nanti  gas yaah..." dan jawabannya jelas "Okey, mba siap gas tapi prepare seadanya yaa.." Hahahaha kayak nggak ada beban ya jawabnya? Iyak... Ini yang bikin aku suka bergaul sama teman-teman yang fleksibel.

Preparation memang penting, tapi sebaik-baik prepare itu ya prepare mental untuk menghadapi apapun yang terjadi dalam perjalanan.

Pesan Dadakan dari Syahreza yang Membuatku Begitu Bahagia


Ajakan dadakan itu tidak berujung padaku untuk langsung menyiapkan apa yang sekiranya akan aku butuhkan untuk menemani bekal perjalananku. Sepagi itu aku masih harus menyelesaikan laporan-laporanku, aku masih harus nge-gym dan sepulang dari olahraga kecil-kecilan aku masih pergi dengan teman dekatku, Dewi Rosdiana untuk berfoto box sebelum ada sesuatu yang mungkin kelak di masa yang akan datang membuat kami berdua 'berjarak'.

Yes, cukup menyita waktu. Sedari pukul 6 pagi sebelum aku mengirim pesan ke Anggit hingga pukul setengah dua siang aku masih 'ngider' menclok sana sini hahahaha. Hingga ada pesan WA dari temanku yang sudah 3 tahun tak bersua setelah dia menikah, Syahreza Qurania Putri.

"Sep, Prau yok.. Kangen halan-halan..."
Aku seketika yang tengah berada di jalan bersama Dewi seketika melakukan panggilan telepon ke Reza, sapaan akrabnya.
"Za, aku sore ini ke Andong. Kamu belum pernah kan? Ikut yok, bada ashar ini berangkat..."
Andong itu apa?  Di mana? Oke aku prepare, yaaa.
"Gunung Andong, za di Magelang tempatnya nggak sejauh kalau ke Prau.. Aku tunggu di rumah yaa masih inget kann?"
"Inget, sep. Oke nanti aku biar diantar ayah ke rumahmu. Tunggu yaa..."

Sesingkat  itu perencanaan perjalananan kami. Dan aku bahagianya bukan main mendapati temanku yang juga mengenalkan Gunung Merapi dan Sindoro kepadaku itu meneleponu dan mengajakku melakukan perjalanan bersama lagai. Huwaaaa bahagia  yang tidak bisa dideskripsikan pokoknya, deh. Lebih menyenangkan dari sekadar dapat THR. Aku langsung mengabari Anggit dan akhirnya kami memutuskan untuk melakukan perjalanan bertiga.

Perjalanan dengan Persiapan Seadanya


Tidak banyak yang kami bawa, hanya satu set pakaian ganti untuk pulang, alat mandi dan tentu saja jas hujan kalau-kalau nanti hujan. Senter pun Reza nggak kepikiran untuk bawa hahaha parah emang perjalanan kali ini. Dan juga, kami tidak membawa tenda, matras, SB atau semacam-semacamnya. Kami menyewa matras dan SB di basecamp, tanpa tenda. Rencana kami naik dan sampai puncak bikin kopi, lalu turun ke basecamp dan pulang.

Selama perjalanan, kami membeli bekal logistik seperti air dan jajanan untuk dimakan di puncak. Yes, kami tidak membawa bekal apapun untuk kami bawa. Untung ada minimarket yaa, penyelamat untuk kami-kami yang malas prepare daari rumah ini hahah. Dengan bekal 3 liter air mineral, roti tawar dan kacang-kacangan kami mulai packing tas kami sebelum melanjutkan ke basecamp.

Sampai di basecamp sekitar pukul 9 malam, kami bercerita sampai hampir pagi, tidur sebentar dan memulai perjalanan pukul 2.30 pagi. Estimasi perjalanan kami paling lama 3 jam sudah dengan istirahat karena memang Andong terkenal pendek. Dulu aku juga pernah dan memang tergolong dekat, hanya butuh waktu 3 jam sudah dengan istirahat yang sangat-sangat cukup.

Mencoba Jalur Baru yang Berujung Salah Jalur


Kebetulan aku dan Anggit sudah sama-sama pernah naik ke Andong meski lewat jalur yang berbeda. Dan kali ini, kami dibawa oleh seorang anggota kampung ke basecamp dengan jalur Gogik, jalur baru bagi kami. Sambil membawa peta sebelum berangkat, kami, aku terutama mencoba membaca namun ternyata gagal. Kami memilih jalur yang kami anggap jalur memutar di awal.

Butuh waktu hampir 4 jam untuk kami sampai di puncak. Ini karena jalur yang kami tempuh 'salah', terjal untuk ukuran Gunung Andong yang kami anggap cukup landai. Belum lagi, baru naik sekitar setengah jam, perutku sakit bukan main karena memang sudah masuk tanggal si merah. Tiba-tiba saja merasa pusing dan kandung kemih rasanya sakit  sekali. Kami berhenti beberapa kali sampai akhirnya ada pertanyaan "yakin mau lanjut? masih kuat? mumpung masih dekat, kita bisa lho balik ke basecamp..." kata teman-temanku.


Aku merasa malu karena mereka harus melihat ini, tetapi bagaimana lagi perut memang tidak bisa dikondisikan. Akhirnya aku meminta waktu tenggang untuk beristirahat lebih lama dan bernapas lebih panjang sambil menatapi taburan bintang di langit malam yang begitu indah. Andai aku memiliki alat yang bisa menangkap keindahan malam itu. Tuhan memang sempurna, menciptakan mata yang bisa menangkap indahnya warna yang tidak bisa ditangkap dengan kamera seadanya.

Aku beberapa kali mengeluhkan perutku yang tak kunjung membaik. Sampai akhirnya Reza memberiku minyak kayu putih. Dengan sedikit tersengal, kami melanjutkan perjalanan pelan tapi pasti. Satu jam berlalu dan perut masih dengan sakit yang tertahan, tetapi aku tetap tidak mau menyerah. Bagiku, terlalu egois jika aku menyerah dan membuat teman-temanku kecewa karena batal untuk sampai ke puncak. Bukankah ini perjalanan bersama?

Semuanya mulai membaik setelah aku merasakan mual dan ingin muntah. Aku pada akhirnya muntah. Untuk kali keduanya aku muntah di gunung setelah di Gunung Ungaran yang membuat aku trauma. Lega sekali rasanya setelah muntah. Meski masih lambat, aku bisa melanjutkan perjalananku, perlahan tapi pasti. Anggit membantuku membawa tas, super dia bawa tas depan belakang hahaha dan akuuu tanpa tas karena dibilang lambat sama dia. Jahat emang XD




Kami sholat subuh di pendopo yang kami temukan. Ada  yang aneh selama perjalanan kami menuju puncak. Tidak ada rombongan lain yang lewat bersama kami. Sepertinya kami salah jalur hahaha. Sampai akhirnya kami menemukan 1 rombonga lain, kami merasa lega, tetapi sungguh sepertinya kami salah baca jalur dan salah baca peta hahahahha. Yang benar saja sedari tadi kami bersama rombongan lain di basecamp kami hanya naik tanpa tersalip oleh rombongan lain XD Ini konyol sih, pantas saja rasanya ada yang aneh dengan medannya yang super terjal. Lawong ternyata kami ini salah jalur kok wkwkwkw.

Merah Putih Berkibar di Puncak Gunung Andong


Semangat kami hampir hilang ketika puncak tak kunjung kami raih. Reza mulai merangkak karena lututnya mulai pegal. Aku mulai tersengal-sengal lagi. Yang paling cool kali ini cuma Anggit hahaha yaiyalah dia cowok. Eh nggak juga, Reza juga juara bisa anteng dan jalan terus meskipun sempat beberapa kali berteriak untuk minta didorong dari belakang hahah. Lutut-lutut lemah!!!XD 2 tahun adalah waktu yang cukup lama bagi aku dan Reza untuk beradaptasi lagi dengan jalur gunung.


Aku sejenak menatap ke belakang dan melihat matahari yang mulai menampakkan warna emasnya. Kammi memutuskan beristirahat sejenak. Lalu ada banyak pikiran yang berkecamuk dalam diriku tentang perjalanan kali ini:

Bagaimana bila tadi aku menyerah? Apakah aku bisa melihat ciptaan-Nya seindah ini?

Bagaimana perasaan teman-temanku bila sampai aku memutuskan untuk kembali?

Apakah hakikat perjalanan hanya tentang menuju puncak? Nyatanya tidak demikian. Perjalanan adalah tentang komitmen kepada diri sendiri untuk menyelesaikan apa yang telah aku mulai.

Pada akhirnya aku menyadari bahwa dukungan dari orang-orang di sekitarku itulah yang penting. Mereka lah yang berjasa atas segala pencapaian dalam hidupku. Tanpa mereka, aku tidak akan pernah sampai ke tujuan. Lalu, mengapa aku masih saja sombong?

Perjalanan selalu membuatku tahu siapa saja yang mau berjuang dan berjalan beriringan bersama atau justru meninggalkanku yang mulai kehilangan semangat dan mulai terlihat lemah.

Yaa, perjalanan kali ini membuatku sadar bahwa ada begitu banyak hal yang harus aku tanyakan kembali ke pada diriku sendiri terutama tentang "ini perjalanan bersama, jangan egois. jangan berhenti hanya karena aku lelah atau tidak kuat. coba lihat teman-temanmu yang berusaha membantu agar aku tetap bisa sampai ke puncak, bersama-sama.." Aku menyebutnya komitmen terhadap diri sendiri. Komitmen yang sedari awal aku camkan untuk tidak memutuskan sepihak tentang perjalanan kali ini.


Akhirnya, kami meraih puncak. tanpa basa basi kami langsung menggelar matras, meletakkan barang bawaan dan segera Anggit memasak air untuk membuat kopi. Alhamdulillah, lega sekali bisa menikmati udara segar di atas puncak. Ada cerita lucu dalam setiap perjalanan kami kali ini. Reza, satu-satunya dari kami yang telah menikah ini berkali-kali mengecek smartphone-nya untuk melihat apakah ada sinyal atau tidak. Hal ini ia lakukan karena ini harus selalu memberikan kabar kepada suaminya bahwa "everything went well".

Untung saja dia pakai XL, jadi sinyal sampai di kaki gunung masih lancar. Kebetulan pada hari itu suaminya yang tengah berada di rumah Bandung tengah berulang tahun. Jadi, ia berusaha semampunya untuk memberikan momen terbaiknya mengucapkan selamat ulang tahun kepada suami tersayangnya dengan selembar kertas yang diabadikan dengan foto dan video. Jomblo yang tabah ya kalau baca ini hahaha XD


Oh ya, FYI, di Gunung Andong untuk beberapa provider, XL terutama sinyalnya kuat. Jadi, kalau memang mau kasih kabar tentang keadaan kita ke suami, istri atau orang tersayang bisa-bisa saja. Jomblo? yaaaa liatin pemandangan aja yaa daripada lihat notif smartphone jadi tambah sedih hahahaha.

Rok Bukan Jadi Penghalang Untuk Bisa Sampai ke Puncak

Oh ya, kali-kali teman-teman penasaran, kami, aku dan Reza pakai rok selama mendaki. Kami berdua memutuskan untuk tetap memakai rok dan jilbab lebar selama perjalanan. Apa itu mennyulitkan kami? Alhamdulillah tidak karena Allah memudahkan perjalanan kami. Dulu, waktu aku mendaki memakai celana dan melihat mba-mba pakai jilbab syari aku sempat membatin bahwa itu adalah perjalanan yang sulit. Namun, aku paham mengapa mereka melakukan itu pada saat itu.  Mereka belajar untuk taat, tentu saja.

Setelah mengalaminya langsung pun, aku paham bahwa ternyata yang mneyulitkan proses hijrah itu adalah lingkungan kita, stigma-stigma negatif yang kadang melemahkan dan membuat kita ingin menyerah. Terima kasih Reza yang menjadi partnerku pakai rok selama perjalanan. Terima kasih Anggit yang mau menemani mbak-mbak ini sampai ke puncak dengan segala kerempongannya ini, aku terutama.  Terima kasih karena kalian aku bisa menemukan kembali untuk apa seharusnya aku melakukan perjalanan.

Salam,