Rabu, 30 Agustus 2017

Buku Tuhan Maha Romantis Karya Azhar Nurun Ala Bagai Oase di Tengah Penantianku

Sebab apa-apa yang baik menurut kita
Tak selamnya baik menurut Tuhan

Begitu pula sebaliknya

Ia yang Maha Tahu dan kita bodoh
Jadi, tersenyumlah, resapi segala keromantisan-Nya

Dan menjelmalah kita menjadi apa
yang disebut Muhammad Iqbal "Tuhan Kecil"

Agar ketika Ia mengambil keputusan
Ia akan "mendiskusikannya" terlebih dahulu dengan kita
-Sajak: Tuhan Maha Romantis

Sebagai seorang penulis yang sangat suka menulis, aku merasa bahwa sajak-sajak yang tersurat dalam buku Tuhan Maha Romantis karya Azhar Nurun Ala telah berhasil membuatku menjadi pembaca sekaligus penulis.

dok. Google

Tulisan Azhar Membuat Saya Jatuh Cinta


Aku menemukan kutipan-kutipan manis di Facebook dulu, ketika aku baru saja beranjak dari masa putih abu-abu. Masa-masa kritis di mana aku harus mulai belajar memilih dan memilah rasa, Azhar muncul dengan kalimat yang menenangkan tentang penantian. Bahwasanya,

"yang benar berjuang, akan segera datang memperjuangkan."

Duileehhh, meleleh bacanya ye, kan. Skip hahahha. Jadi, setelah aku membaca satu dari beberapa kalimat manis itu, aku mulai menggali siapa itu Azhar Nurun Ala dan bagaimana perjuangan kisah cintanya sampai ia berani menuliskan seperti itu.

Berkat kemampuan stalker yang agak lumayan, aku mulai mencari tahu tentang siapa itu Azhar, siapa dia dan mengapa dia bisa menuliskan kalimat yang mampu menenangkan gusar dalam dada. Singkat cerita, aku menemukan fakta-fakta tentang perjuangan Azhar yang justru membuatku tertarik untuk mempelajari kisah hidupnya dan menjadi bagian dari hidupnya *eh.

Foto atas: Saat sudah SAH
Foto bawah: Saat belum sah dan sedang dalam masa perjuangan
dok. IG: @azharnurunala

Azhar dan Cintanya yang Kini Menjadi Nyata


Azhar adalah seorang mahasiswa UI yang jatuh cinta kepada Vidia Nuarista, seniornya di kampus. Tidak memilih jalan untuk pacaran, Azhar justru menabung dengan cara menjual buku demi bisa sampai ke rumah Rista, sapaan manis wanita cantik ini. Berawal dari dirinya yang suka menuliskan sajak-sajak puisi, Azhar, dibekali kemantapan dan dukungan penuh dari teman-teman sekitarnya, berhasil mengumpulkan uang yang 'cukup' untuk menemui wali sang pujaan hati.

Kiri: Azhar Kanan: Vidia Nuarista (Foto ini diambil ketika mereka sudah sah menjadi suami istri, ya)
dok. Google

Dan berkat keberaniannya itu, Allah memudahkan urusannya hingga ia bisa menikahi sang pujaan hatinya. Awal menikah, mahasiswa gizi itu masih belum bekerja dan masaih kuliah. Ia fokus menjual hasil karyanya demi bisa memberikan nafkah kepada istri tercintanya. Aih, baper asli dah ini namanya hahahahha.


Tuhan Maha Romantis, Kisah Nyata yang Menyatu dengan Kata

Azhar berhasil merangkumkan kisah penantiannya yang mengagumkan. Perjuangannya yang luar biasa gigih demi bisa meminang pujaan hatinya berhasil membuatku luluh. Jadi pengen satu yang kayak Azhar, yang berani mengetuk pintu dengan teramat sangat pasrah terhadap apapun keputusan yang akan ia terima. Dan taaraaaa!! Sekarang sudah ada si Salman, buah cinta mereka berdua setelah 3 tahun penantian.Gembul pisan euy si Salman hahah.

Ini ketika Salman lahir
dok. IG: @azharnurunala

Btw, Salman adalah salah satu nama masjid yang aku harapkan kelak bisa menjadi saksi kunci momen "qobiltu" alias akad nikahku. Berharap boleh kan ya siapa tahu ada yang baca dan ingin mewujudkan hihi. Jomblo mah bebas berimajinasii hahaha.

Koleksi karya Azhar
dok. Google

Hingga sekarang, meski Azhar telah melahirkan banyak buku, tetap saja, Tuhan Maha Romantis menjadi buku yang sangat kurekomendasikan untuk dibaca teman-teman semuanya. Terutama yang masih jomblo *lah. Buku ini teramat sangat inspiratif untuk yang ingin segera berdua, tetapi masih terpisah jarak dan waktu alias belum halal. Buku ini bisa menjadi bacaan yang melegakan hati karena juga diselipkan ayat-ayat penggugah nurani yang bisa membuat teman-teman kembali belajar sebenarnya apa yang harus kita lakukan untuk bisa menjadi sebaik-baik jomblo.

Ada lagi kalimat yang bikin klepek-klepek buat jejombloan atau yang sudah menikah:

"ketika ekspresi rindu adalah doa, semua cinta adalah jalan surga"
-Azhar Nurun Ala

Tulisan yang penuh dengan unsur kejombloan ini akhirnya selesai berkat mba Vita Pusvitasari dan mba Anita Lusiya Dewi yang sangat baik hati memilihkan tema tentang buku favorit di kehidupan sehari-hari. Dan jawabanku masih sama, Tuhan Maha Romantis masih menjadi buku yang ingin kubaca berulang kali. Sebab, membaca kisah cinta Azhar dan Rista itu seperti dibukakan kisah cinta impian yang kelak bisa jadi nyata.

Namun, sepertinya aku harus membeli ulang bila ingin membaca lagi. Pasalnya, buku itu telah berpindah kepemilikan ke anak didikku yang kuharapkan bisa menjadi seperti Azhar, yang mencinta dengan menjaga dan mewujudkan impian dengan tetap bertahan. Semoga laki-laki jomblo bisa ikut membaca kisah romantis mereka, ya. 

Salam,

Senin, 21 Agustus 2017

Menjelajah dan Menikmati Sejuknya Kota Malang Selama dalam 26 Jam

"Aku merasa menemukan tempat labuhan kedua setelah Bandung.
Malang, menjadi kota yang bisa membuat hatiku tertinggal dan ingin kembali mengeksplorasi keindahan alamnya yang membuatku ingin tetap tinggal lebih lama."

Bicara tentang Malang, sama dengan bicara tentang impian. Sudah sejak lama aku mendambakan untuk bisa menjejakkan kaki di kota yang terletak di Jawa Timur ini. Tidak ada sebab yang pasti mengapa aku ingin ke kota yang terkenal akan buah apelnya ini. Aku hanya tahu bahwa kota ini masuk sebagai salah satu destinasi wajib yang membuatku harus bisa menyambanginya suatu saat.

Siapa yang bisa mengira dan memprediksi kapan kakimu akan sampai ke tujuan yang ingin kamu capai jika bukan Allah? Adalah aku yang masih belum percaya bahwa aku baru saja pulang dari Kota Malang. Berawal dari percakapan absurd dengan salah seorang teman SMPku, Fajri ketika aku tengah mengambil izin untuk istirahat karena sakit.

Stress membuatku menjadi pribadi yang boros


Terus terang saja, menjadi pribadi yang stress itu teramat sangat tidak menyenangkan. Bayangkan saja bila setiap kali stress aku harus mencari pelarian menuju tempat terbuka, alam yang entah di mana. Dan ini terjadi ketika tensiku ada di garis 90/60 dan aku harus menelan 4 obat berbeda untuk meredam rasa sakitku.

"Jri, Jogja asik kali, ya.."
"Em, Malang yuk.."

Sesingkat itu ajakannya dan gilanya aku, aku mengiyakan ajakan tersebut. Bagaimana tidak? Malang itu lebih dari sekadar destinasi impian. Malang adalah suatu kewajiban bagiku. Bromo, terutama. Ya, jika bukan karena Bromo, mungkin aku tidak akan pernah memasukkan Malang ke dalam list-ku. Hahahaha...