Selasa, 26 Desember 2017

Tergabut Level Up: Menghabiskan Liburan Akhir Tahun dengan Nonton Drama Korea

Jadi, liburan akhir tahun ini ngapain, Sep?

Udah, jangan nanya. Jangan sampe nanya ini, soalnya sama aja bangunin macan yang lagi tidur wakakka serem! iya, serem! Soalnya taun ini aku nggak kemana-manaaaa huwaaa. Biasanya emang nggak kemana-mana sih, tapi kayak mulai berasa sepi aja. Mungkin karena aku udah tua kali ya *eh ngaku juga akhirnya.

Jadi, liburan akhir tahunku kali ini hanya di rumah saja, seperti biasa nggak kemana-mana. Dan jadwal yang sudah pasti adalah aku akan menghabiskan akhir tahunku dengan marathon nonton drama korea. Sebal? Iya. Mba Uniek dan Mba Novi ini emang yaaaa, pinter banget kalau bikin tema. Aku batal sok-sokan have fun sama liburanku yang suram dong ini gara-gara2 tema nulisnya liburan akhir tahun hahaha. Nggak apa-apa, biar jomblo dan cuma nonton Drama Korea, aku tetap bahagia ditemani oppa dari layar kaca *eh wakakakaka.

Dulu pernah sok jaim banget sama teman-teman. Sok-sok ngomong begini:

"Ih, apaan sih nonton Korea begitu, kan alay tau."
"Ogaaahhh, nggak bakalan terkontaminasi sama film Korea gue"
"Yaelah nonton Korea lagi? Apa bagusnya, siih?"

sampai akhirnya ada yang bilang begini ke aku:

"Yakin deh, Sep. Once lo nonton Drama Korea, pasti lo bakalan kecanduan."

Dan aku masih menolak, menolak dan menolak. Hingga akhirnya, semua teman kantor di Jakarta yang cewe ngomongin tokoh drama Korea, nonton drama pas penat sama kerjaan dan akhirnya aku penasaran dan dicekokin drama. Aku lupa judulnya apa, yang aku ingat gara-gara itu drama, hidupku jadi penuh drama kalau nggak nonton drama. Eh, gimana? Hahahaha

Aku sih nggak bisa ngapalin nama oppa-oppa Korea seperti teman-teman dan aku bersyukur nggak jadi fanatik dan jadi fangirling. Ngefans sama Dude Harlino aja udah cukup. Udah sejak masih SD sampe sekarang hehehe, dah nggak mau nambah daftar manusia ganteng lagi di hidupku. Satu itu aja udah cukup. Iya, udah cukup bikin patah hati sebab Dude milih Alysa daripada Septi. Yaiyalah, plis deh ngaca, Sep, ngaca!!!! XD

Ini apa sih kok jadi bahas Dude hahaha....

Eh, eh, mau tahu list Drama Korea yang aku dapat dari teman Jakarta untuk menemani akhir tahunku, nggak? Mau aja deh, ya. Siapa tahu cocok juga terus jadi nontonin, terus jadi kecanduan kayak Septi, deh. Hahahahaha

Uncontrollably Fond


Sudah sejak tahun lalu, satu tahun mungkin aku direkomendasikan film ini oleh rekan kerjaku. Dia suka sekali, katanya. Dan aku barusan kelar nontoninnya. Emang ya, orang kalau nggak fanatik ya begini, nggak bisa marathon nontoninnya. Hahahahaha.

Kesimpulan cerita yang aku tangkep, sih. Ini kisah si miskin dan si kaya. Bagus? Lumayan, sih. Aku lebih suka yang jadi antagonis. Soalnya cakep huahahah. Tetep ya, mata wanita kalau liat cowok beningan dikit rasanya berair. Untung, selama nontonin karakter antagonisnya aku nggak teriak "Oppa, oppa...."

Doctor Stranger


Kalau ini lagi aku tontonin sekarang ini. Bagus? Bangeeeeeetttt. Pemeran utamanya tu nggak ganteng, tapi aku suka pas dia meranin di sini. Cakep gila karakternya. Dia tu kayak pemeran utama Drama Korea Doctors yang udah aku tontonin beberapa waktu yang lalu.

Caranya dia memperlakukan orang lain, easy goingnya dia, pinternya dia di film ini ya Allah bikin gigit jari, Super duper cakep abiiisss. Dan film ini bisa bikin aku ngomong sama layar wakakkaka. Macem emak-emak yang lagi nontonin tokoh antagonis di sinetron tipi. Berasa gila, sih. Tapi beneran deh nontonin film ini jadi belajar banyak hal tentang karakter orang. Btw, cowok yang jadi lawan mainnya juga nggak cakep. Malahan, kalau dia muncul pengen dipites aja. Ehehehe

Dua film itu sih yang nemenin akhir tahunku. Masih ada beberapa Drama di Harddisk yang siap buat ditonton. Tinggal besok aja deh mau yang mana hihi. Btw, kamu suka nonton Drama Korea juga, nggak? Apa cuma aku aja? Kalau suka, rekomendasiin yang cakep buat ditonton, dong hahahah biar  aku punya tontonan XD.

Selamat Liburan Akhir Tahun!
Salam,

Jumat, 15 Desember 2017

Hari Ibu Menjadi Momen Paling Dinanti Untuk Bisa 'Me Time' Bersama Ibu

Kalau dipikir-pikir, meski aku adalah anak bungsu yang kini sendiri di rumah sebab kakak pertamaku sudah menikah dan bekerja di luar Pulau Jawa, aku tergolong jarang memiliki me time bersama Ibu. Bahkan, aku pun pernah lari ke luar kota -- ke Jakarta.

Terima kasih untuk mba Noorma dan mba Chela sudah membuatku akhirnya mengabadikan momen ini. Sebab mungkin tanpa mereka, aku tidak terpikir sama sekali untuk menuliskan tentang ini.

Beberapa puluh tahun silam lamanya aku pernah menuliskan tentang ibuku. Aku pernah menuliskan tentang bagaimana aku menikmati hariku bersama ibu dengan membuat cake durian sebagai bentuk kejutan bahwa aku tengah memberi beliau surprise. Btw, aku ini suka masak, meskipun terlihat tomboy dan bukan anak dapur banget, aku cukup kompeten untuk masak memasak dengan menggunakan feeling. Iya, feeling gimana caranya biar rasa masakan pas dan nggak terpatok sama bumbu resep.

Ini ibu saya, sudah 60 tahun. masih cantik, kan? :))

Btw, di antara hari-hari lain, hari ibu itu momen yang paling aku nanti. Sebab, di hari ibu, aku bisa sok-sokan kasih kue dan bilang sayang gitu. Maklumlah, anak zaman now suka keki kalau kasih cium-cium begitu ehehehe. Dan momen hari ibu itu bisa jadi momen yang pas buat ngajakin ibu jalan-jalan. Yah, tambahin alibi-alibi begitulah biar ibu mau dan nggak nolak. Ibu orangnya susah banget soalnya, bisa bayangin deh batunya Septi itu nurun dari siapa.

Ibu Jadi Satu-satunya Keluarga yang Bisa Diajak Hangout


Ada yang membuatku begitu iri jika melihat orang lain -- teman-teman lain yang suka dan seringkali hangout bersama keluarga. Jelas saja, aku hanya punya ibuku untuk diajak main, dan mungkin teman-temanku. Abangku sudah menikah dan memang sejak dulu kami berdua tidak sedekat itu. Bahkan, kami ada di dua pulau, abangku di Pulau Kalimantan dan aku di Pulau Jawa. Kami tidak saling berkomunikasi, jadi ya begitu deh kalau ada yang nanya kabar abang aku cuma bisa jawab "entahlah......".


Dan Ibu, buat saya beliau adalah orang yang paling berarti buat hidup ku. Dan beliaulah yang membuatku akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumah, Semarang meskipun aku sudah mendapatkan posisi di Jakarta yang bisa membuat karirku menjadi lebih baik di tahun-tahun mendatang. Sebab hanya ibu yang aku punya.

Setiap kali aku punya uang lebih dan uang itu nganggur, aku akan selalu ajak ibu kemanapun. Makan, pergi, belanja atau beli sesuatu yang penting untuk rumah. Meski kadang cuma belanja ke pusat jajanan atau makan ayam penyet, bagiku itu sudah mewah bisa mengajak ibu pergi.


Tapi, tahun ini berbeda. Hari Ibu aku nggak ngajakin ibu kemana-mana. Terlalu banyak drama di rumah, Ibu susah sekali diajak keluar. Aku sudah siapkan mobil rental pun rasanya percuma. Susah ngomong sama ibu untuk bisa diajak keluar. Dan aku malas berdebat. Akhirnya, aku pun kota-kota sendiri, ke Jogja, Solo, Boyolali, Salatiga dan kembali ke Semarang dalam waktu14 jam. Gila? Iya, selamat datang di dunia Septi.

Ayah, Kemana?

Pasti ada pertanyaan ini, kan. Ayahku ada di rumah, tapi kami jarang sekali berkomunikasi. Like a ghost aku kalau di rumah, datang, ke kamar, udah. Nggak ada saling ngomong satu sama lain. Kok bisa begitu? Ya, memang begitu adanya. Dan itu sudah terjadi sejak beberapa puluh tahun terakhir. Usiaku yang hampir 1/4 abad ini nggak pernah punya quality time sama Ayah. Makanya, seperti yang aku bilang di atas, Ibu itu segala-galanya buat aku. Karena cuma beliau yang bisa diajak ngobrol, meskipun seringkali mangkir.

Aku, Ibu, Abang dan Ayah apalagi. Jarang banget ngobrol berempat. Selain karena memang tidak dekat, kami memiliki kesibukan masing-masing yang membuat kami jarang punya waktu untuk ngobrol berempat. Nggak tahu persisnya kenapa. Hanya memang sejak dulu saja memang begitu adanya dan aku hanya melanjutkan apa yang sudah ada. Aneh, ya? Sudah, aku juga merasa begitu, kok. Stop judging if you dont know nothing, ya. Aku aja nggak tahu, makanya aku nggak mau blaming my own life and my own fat juga hahhaha.


Dan aku selalu menyemogakan semuanya bisa berubah suatu saat nanti dan naudzubillahimindzalik kalau aku mendapatkan keluarga seperti itu. Aku ingin mengubah semuanya dari keluarga kecilku. Ya, jodohnya sih memang belum kelihatan, tapi ya didoakan saja daripada blaming others, ya to?

Jadi, gimana hari ibumu tahun ini? Sudah bilang sayang ke ibu belum? ^^


Salam

Ternyata Tingkat Kebugaranku Divonis Kurang setelah Mencoba Metode Rockpod. Simak Ceritaku di Sini!

Pernah dengan metode rockpod dalam dunia kesehatan? Aku belum. Baru beberapa waktu lalu ketika sedang mengikuti rangkaian acara dari Dinas Kesehatan di The Wujil Hotel and Convention aku mengenal metode ini. Namanya lucu, ya hahahha. Kebayangnya batu -- soalnya rock. Eh, ngarang deng hahaha cuma menerka-nerka aja, sih.


Jadi, setelah mengikuti rangkaian acara dari Dinkes Semarang beberapa waktu yang lalu dan cukup kenyang dengan materi kesehatan, ada tes kesehatan yang aku jalani bersama dengan blogger kesehatan lain. Dan kali ini aku bilang agak unik tesnya. Kalau biasanya setiap kali acara aku hanya menjalani tes darah saja untuk mengecek kadar kolesterol dan kadar gula dalam darah, maka berbeda dengan kali ini.

Pagi-pagi, kami para peserta sudah diminta untuk berkumpul di lapangan. Konon katanya, kami diminta untuk lari sejauh 1.6km. Whaatt??? Jaraknya bikin encok duluan ya kalau dibayangin hehehe. Tapi, ada pengecualian khusus bagi mereka yang punya masalah dengan kesehatan. Aku, salah satunya. Ada 3 masalah yang aku alami dan membuatku harus memiliki tanda nomor merah. Dan aku tidak diperbolehkan berlari kencang, yaaa emang nggak kuat juga sih kalau lari hehehe.

Singkat cerita, setelah persiapan selesai, pembuatan garis start dan finish selesai, aku dan peserta kloter pertama alias kloter lemah memulai berjalan cepat dan berlari kecil. Aku memutuskan untuk jalan cepat saja, sebab kalau lari aku bisa engap dan sesak napas. Dasar lemah!! Hahahaha

1,6 Kilometer Itu Lumayan Ya Ternyata Hahaha


Ngos-ngosan, capek dan luar biasa perjuangan. Hahaha lebay lebay, nggak kok. 1.6 itu lumayan jauh sih memang kalau jalan cepat. Tapi, karena dilaksanakan bareng-bareng jadinya deket-deket aja. Cuma ya itu, nggak berasa keringetan soalnya waktu itu emang lagi nggak enak badan. Jadinya ya begitu deh, badannya jadi kayak masuk angin. Malahan sempat muntah setelah olahraga itu. Fix, emang lagi sakit sih hehehe. Tapi bersyukur, muntahnya pas sudah selesai, jadinya nggak ngrepotin teman-teman dan panitia.


Emang pada saat itu kondisi badan lagi ngedrop-ngedropnya. Apalagi sebelumnya dinyatakan lagi nggak sehat dan harus bed rest, tetapi masih maksain kegiatan. Yaudah deh, fatal ternyata sampai muntah hahahah. Buat pelajaran besok-besok kalau capek dan sakit nggak boleh maksain :")

Hasil Rockpodnya Gimana?


Sebagai insan yang suka dan hobi jalan-jalan, aku merasa gagal karena nggak bisa mendapatkan hasil tes kesehatan yang bagus. Hasil tes rockpodku kurang mameennn!!!!! Dan aku shock banget tau hal ini hahahaha. Padahal biasanya kalau jalan kemana mana bawa beban hidup d pundak sampai naik gunung pun kuat. Lha ini, setelah tes ternyata akumah apa atuh :") LEMAH SUNGGUH hahahaha...


Jadi, dari rekapitulasi catatan waktu tempuh, jarak dan denyut nadi, aku dinyatakan memiliki kebugaran yang kurang. Dan ini bikin aku jadi nggak boleh capek-capek intinya. Faktor penyebabnya adalahhh eng ing eeenggg, tebak dong apaan... YESSSS!! KEBANYAKAN BEGADANG, JARANG OLAHRAGA DAN KEBANYAKAN RADIASI DARI GADKET (LAPTOP DAN SMARTPHONE). Dodol emang kalau udah kerja suka lupa waktu.

Sampai ibunya dari Dinkes bilang:
"Blogger emang gitu sih, ya. Kerjanya di laptop dan biasanya hidupnya malah malam. Makanya kondisinya jelek"
Dyaarrrr menohok sekali yha kata-katanya XD.

Anyway teman-teman, buat kalian yang merasa kurang sehat jangan dikit-dikit ke Rumah Sakit yah. Cobain deh ke Puskesmas gitu. Nggak usah takut antri dan takut kumel. Puskesmas zaman now udah bersih, tenaga kesehatannya udah banyak dan fasilitasnya udah lengkap. Jadinya bisa banget nih kalau teman-teman mau cek kesehatan atau opname penyakit ringan di Puskesmas.

Bahkan, kerennya lagi adalah kalau teman-teman butuh bantuan cepat, sigap dan tanggap bisa banget langsung menghubungi AMBULANCE HEBAT milik Puskesmas. Ambulance ini akan segera melakukan cek dan ricek kondisi yang dilaporkan oleh pelapor untuk segera ditindaklanjuti dibawa di Rumah Sakit. Kalau kondisi dirasa masih cukup ringan, maka ambulance akan mengarahkan ke Puskesmas terdekat atau dengan memberikan pertolongan pertama saja. Tapi, kalau sifatnya parah pasti akan langsung dibawa ke Rumah Sakit terdekat.

Gimana, kualitas kesehatan di Semarang makin kece, bukan?

Salam,


Senin, 04 Desember 2017

Perjalanan Seperti Apa yang Kau Dambakan Untuk Menemanimu Menuju Rumah?


Menjadi anak rantau itu sulit. Apalagi jika setiap bulan sekali harus pulang ke kampung halaman.
Aku harus selalu berebut tiket dengan perantau lain yang ingin pulang dari riuhnya metropolitan.
Pernah bayangin nggak rasanya menempuh perjalanan jauh secara kilat, tetapi frekuensinya luar biasa sering. Aku mengalaminya secara langsung selama satu tahun ini. Dimana setiap Hari Jumat malam pulang ke kampung halaman Semarang dan menempuh perjalanan dengan kereta selama 7 jam, sampai di kampung halaman Sabtu Subuh dan Minggu malam harus kembali ke Jakarta, si kota metropolitan dengan menempuh perjalanan 7 jam lagi. Itupun kalau keretanya nggak delay!

Iya, aku menghabiskan empat belas jam lamanya di dalam kereta ekonomi, berbagi tempat dan ruang bersama penumpang lain, berdesakan dengan tas dan barang bawaan merea hanya demi bisa bertemu dengan keluarga. Dan itupun tidak lebih dari 48 jam lamanya --- tidak lebih dari dua hari penuh. Such a tiring trip. But, i did it!

Semua lelah rasanya tidak sebanding dengan bisa menatap wajah kedua orang tua di rumah yang menanti dan berharap anak perempuannya ini bisa sampai dengan sehat walafiat dan selalu membawa kabar baik. Tidak dengan topik suasana kantor yang menyebalkan atau manusia-manusia metropolitan yang terkenal kejam.


Aku melabuhkan hatiku pada kereta api untuk menjadi armada yang menemani perjalanan panjangku. Tiada sebab lain yang membuatku bertahan pada gerbong-gerbong yang sekilas terlihat sempit itu selain keramahannya. Bagiku, bisa duduk berbaur dengan orang asing itu asyik. Aku jadi bisa melihat sisi lain kehidupan dari perspektif baru.


Di gerbong-gerbong itu selalu terjalin percakapan sederhana antar penumpang yang saling tak kenal sebelumnya. Sesederhana pertanyaan, "tujuannya mau ke mana, mbak?" atau sekadar pertanyaan basa basi, seperti "kerja di Jakarta, mba? Saya juga, lho." Lalu percakapan mengalir dan mulai beranjak ke mana ia menemukan topik ternyamannya. Kamu sudah pernah merasakannya? Aku sering dan itu menyenangkan.


Belum lagi, gerbong-gerbong kereta yang terlihat diam itu di dalamnya ternyata menyimpan kehidupan yang menyegarkan bagi mata dan membukakan perspektif dunia dari sisi yang lain.

Gerbong kereta ternyata menyimpan cerita seorang ibu yang susah payah menghibur anaknya yang sedang rewel di dalam kereta, kisah pasangan kakek nenek yang berjalan bergandengan untuk mencari bangku mereka, kerja keras para porter tengah membantu mbak-mbak atau ibu-ibu yang merasa kerepotan dengan barang bawaan, polosnya wajah balita-balita lucu yang sesekali muncul di balik bangku kereta ke arahku hingga duduk di samping balita yang tidak mau dipangku oleh sang ibu. Lucu sekali tingkahnya.

Dan aku selalu bahagia bisa berinteraksi dengan mereka dan lupa bahwa empat belas jam bukan waktu yang singkat untuk ditempuh dalam keterbatasan waktu -- aku, menikmatinya.

Aku larut dalam ruang dan waktu - menikmati perjalananku bersama orang-orang asing yang menjadi keluarga sementara di dalam gerbong kereta kesayanganku.


Mungkin omong kosong bila aku tidak suka jalur udara – pesawat. Namun, perlu dipahami bahwa jalur udara itu selain harus memiliki uang yang sedikit lebih banyak, aku juga harus memiliki kepentingan yang menuntutku untuk bisa terbang segera agar bisa sampai dengan kilat. Dan kereta, adalah solusi yang tepat bagi manusia sepertiku dengan kantong pas-pasan dengan frekuensi bolak balik kamping halaman-ibukota yang lumayan sering. 

Tetapi, dibandingkan pemandangan pesawat dari ketinggian yang luar biasa menakjubkan itu, ada hal yang tidak bisa dibeli dengan uang bila aku naik kereta api untuk mengantarku dari dan ke kota tujuanku. Ialah kemanusiaan – dimana toleransi, berbagi, keramahtamahan lebih bisa didapatkan dengan mudah jika harus disandingkan dengan penumpang pesawat yang cenderung individualis karena kepentingan untuk lekas sampai ke tujuan.

Di kereta, tak jarang aku tiba-tiba mendapatkan informasi terbaru dari penumpang lain. Saat aku bertemu dengan para pendaki yang baru pulang, aku jadi tahu bahwa gunung itu tidak semenakutkan itu bila kita memiliki niat dan tujuan yang baik. Aku yang tidak tahu apa-apa tentang gunung jadi paham bahwa naik gunung bukan sekadar untuk eksis belaka, melainkan untuk untuk melakukan kontemplasi (perenungan terhadap diri sendiri) sekaligus melakukan tadabur alam.

Di kereta, aku jadi tahu bahwa tidak semua anak kecil yang menangis bisa didiamkan hanya dengan cara digendong begitu saja. Beberapa diantara mereka butuh dimengerti bahwa kereta itu memang tempat yang kecil, mereka butuh protes sebab ruang gerak mereka begitu terbatas. Bahkan, beberapa diantaranya lebih merasa nyaman untuk duduk dibangku sendiri daripada harus duduk di pangkuan ibunya yang selama ini digadang-gadang hangat tak tergantikan. Anak kecil, entah mengapa selalu punya sisi unik tersendiri bagiku yang sudah mulai berumur ini.


Dan dalam setiap perjalanan menuju rumah, aku selalu menemukan banyak rumah di gerbong-gerbong kereta ekonomi. Sebab rumah ialah tempat di mana hati berada, bukan hanya sekadar alamat belaka. Pada setiap jiwa-jiwa perantau yang akan pulang, aku melihat jauh ke dalam mata mereka ada binar-binar kebahagiaan yang tidak bisa dideskripsikan.

Aku pernah beberapa kali bercakap pada perantau dari beberapa kota dalam beberapa waktu. Salah seorang diantara mereka mengaku bahwa pulang Jakarta ke Kediri membutuhkan waktu tempuh hingga empat belas jam dan ia selalu pulang dua minggu sekali. Ia pulang untuk anak dan istrinya di rumah yang menantinya.

Seseorang yang lain pulang, mengambi cuti rutin dan sesekali meminta dispensasi untuk bisa lebih lama di rumah agar bisa duduk bercengkrama dengan orang tua mereka. Aku merasa kalah. Tujuh jam perjalananku ternyata masih biasa saja jika dibandingkan dengan mereka.

Dan di dalam gerbong-gerbong kereta yang bisu itu, ada banyak rumah yang dirindukan oleh para perantau dari ibukota. Mereka, para perantau membawa harapan baru bagi keluarga di kampung halaman. Aku makin takjub dengan perjuangan mereka dalam menempuh ruang, jarak dan waktu.

Bayangkan saja, duduk sendiri menjadi orang asing dan bertemu dengan orang asing dan harus duduk menghabiskan perjalanan bersama mereka selama empat belas jam itu sulit. Apalagi, bagi seorang introvert sepertiku, aku akan lebih memilih banyak diam jika tidak ada yang memulai percakapan 

Ada hal yang selalu aku takutkan setiap kaii ingin dan akan pulang. Aku takut tidak bisa pulang karena harus berebut tiket dengan para perantau yang rindu kampung halaman lainnya. Lebih-lebih kalau pas lagi high season, sepertii tanggal merah di Idul Fitri, Natal dan Tahun Baru. Udah deh, tiket pasti sudah habis tiga bulan sebelum Hari H. Gimana enggak coba? Lawong yang hari merah biasa aja rebutannya naudzubillah, gimana kalau pas lebaran kan hahaha. 

Aku pernah merasakan habis tiket tepat saat long weekend dan akhirnya memutuskan pulang ke kampung dengan moda transportasi bus. Lalu, aku menyesali pilihanku sendiri hahaha. Sebab, waktu tempuh empat belas jam yang biasanya aku gunakan untuk pulang pergi hanya habis dalam sekali perjalanan saja. Kalau ditanya bagaimana rasanya, aku lebih baik di kosan nyuci baju daripada harus mengulangi kesalahan yang sama ehe.

Bukan hanya bosan, lelahnya itu lho nggak ketulungan. Itulah sebabnya aku merasa kalah seperti yang telah aku jelaskan di atas. Aku kalah dengan perjuangan pernatau lain yang jauh jauh lebih gigih jika dibandingkan perjuanganku yang baru begitu saja.

Sekarang, betapa bersyukurnya aku hidup di zaman yang serba digital. Dimana aku bisa mendapatkan apa yang aku mau hanya dalam satu genggaman saja. Sejak kenal dengan Traveloka aku teramat sangat terbantu untuk reserve jadwal kepulanganku bahkan ketika high season – ketika semua orang ingin pulang dan berisitirahat dari hiruk pikuk metropolitan. FYI, tiket Idul Fitri selalu habis tiga bulan sebelum Hari H.

Kebayang nggak tuh gimana hecticnya kami para perantau memperjuangkan ego kami masing-masing demi bisa pulang? Hehehe. Bahkan, saat-saat seperti ini, teman pun jadi lawan. Selama aku bisa pulang, ya aku akan mendahulukan diriku terlebih dahulu, baru temanku hahahaha.

Tapi, semua berubah sejak aku kenal Traveloka. Aku yang biasanya ‘nitip pesan jadwal’ ke temanku jadi nggak perlu takut kehilangan kursi. Sebab, aku bisa memesannya sendiri, meskipun aku sendirian ataupun tengah malam di kamar kosan. Hanya dengan satu aplikasi saja, aku bisa melakukan reservasi tiket kapanpun sesukaku.

Aku pernah mengalami bagaimana rasanya bingung nggak bisa pulang, sendirian di tanah rantau dan kehabisan tiket kereta atau moda transportasi lain saat ingin sekali pulang. Sedih, udah anak rantau, anak kosan, sendirian pula. Mending kalau kosan ramai, kosan kan juga sepi, hahahaha kasian banget ya aku kayaknya XD.


Nggak apa-apa, deh soalnya sekarang kan aku sudah aman-aman aja hehehe. Jadinya, sudah anti bingung lagi kalau misalkan mau pesan-pesan tiket entah buat pulang PP kampung halaman metropolitan atau untuk beli tiket bakal jalan-jalan ngebolang hahahaha.

Sekarang mah udah rebes banget mau pesan bangun tidurpun udah langsung bisa bisa aja. Lagi ngojek di atas motor pun bisaaaaaaaa banget hahahhaha. Sambil menyelam minum air kalau aku mah. Jadinya sambil naik motor menempuh perjalanan, sambil pesan tiket untuk perjalanan yang lain. Anaknya emang sekalian banget gitu nggak mau repot huahahahaha. Simpel banget lah pokoknya!


Ditambah lagi, aku sudah memiliki m-banking dan e-banking yang mana membuatku bisa langsung melakukan pembayaran saat itu juga tanpa harus ke minimarket terdekat. Jadi, kalau ada yang bilang anak zaman sekarang itu terlalu gandrung dengan gadget, maka aku ingin tertawa saja rasanya hahahha. Karena mungkin jika aku bukan anak zaman sekarang, aku nggak akan pernah aware dengan aplikasi Traveloka dan kemudahan-kemudahan yang bisa aku nikmati di dalamnya.


Sekarang, setiap kali aku butuh tiket, aku cukup buka aplikasi, isi stasiun awal dan stasiun tujuan, tanggal keberangkatan, memilih kursi yang aku ingin singgahi, menyelesaikan pembayaran daaaannnnn bayar, deh. Praktis abis sekarang. Malahan bisa bantu teman-teman atau orang asing yang sedang kesulitan memilih tiket.

Aku pernah nongkrong di Indomaret point di Pandanaran Semarang. Aku melihat bapak-bapak tengah kesulitan memilih tiket untuk Beliau pulang. Karena aku pernah merasakan betapa menyedihkannya nggak bisa pulang kampung dan kebetulan aku paham, maka aku mendekati bapaknya dan bertanya kepada Beliau.

Lalu, tanpa banyak basa-basi aku membantu beliau untuk pesan tiket melalui Traveloka. Taraaaaa!!! Tiket yang awalnya nggak ada di minimarket itu dengan keterangan “Kereta Habis atau Kursi Tidak Tersedia” bisa- bisa aja tuh dicari di Traveloka. Iyes, beda banget dan aku pada saat itu jadi makin bangga sama Traveloka sebab dia punya banyak stok kursi dan real time untuk ditampilkan. Jadi makin cinta deh, ah hahaha.

Asyiknya pakai aplikasi Traveloka itu hemat waktu dan hemat tenaga. Kalau zaman baheula harus antri ke stasiun untuk bisa pesan tiket, sekarang cukup buka aplikasi, masukin tujuan dan tanggal, konfirmasi, bayar, deh! Jadi makin hemat, kan? Hihihi

Apalagi kalau harus melakukan perjalanan tiba-tiba dan tak terduga. Bisa banget tuh pakai Traveloka. Kayak dulu, pas waktu masih pertama kali merantau ke Jakarta dan dapat kabar nenek meninggal di Semarang. Duh, udah gatau lagi tuh mau gimana, dan akhirnya yaudah pesen aja tiket d Traveloka biar cepet.

Waktu itu aku pesan tiket kereta eksekutif, karena memang butuh waktu yang lebih cepat dari kereta ekonomi. Dan eng ing eeeennggggg gampang banget dooooong caranya. Praktis abiiissssss. Apalagi aku juga pakai m-banking kan, jadinya bisa langsung transfer tanpa repot saat itu detik itu juga hihihi.

Btw, temen2 udah pernah nyoba Traveloka belum? Kalau belum, ini ada infografis sederhana deh bisa dilihat dulu. Gampang banget, kok! Nggak pake ribet-ribet. Coba deh dilihat dulu.

Gimana manteman? Super gampang, kan pesan tiket di Traveloka? Jadi, udah cucok banget nih kalau si Traveloka ini dibawa kemana mana dan dikantongin di saku celana. Bahkan, kalau punya aplikasi Traveloka di smartphone itu bisa banget buat bantuin orang lain yang lagi susah ataupun emang butuh bantuan untuk beli tiket dadakan.

Kalau aku sih, selain buat sendiri aku juga suka pesenin buat temenku karena dia masih kurang paham kalau pesan tiket itu bisa lewat aplikasi. Dan biar sekali kerja, biasanya aku pesan dari aplikasi dan akun Travelokaku.

Mayan kan, dengan makin banyak pesan makin banyak benefit. Ah iya, kalau pesan di Traveloka itu ada keuntungan lain juga, lho! Poin! Iya, kamu bakalan dapat poin setiap kali pesan tiket kereta di Traveloka. Nantinya, poin yang terkumpul ini bisa ditukar dengan tiket atau promo lain yang sedang berlaku. Jadi bisa tambah ngirit deh ehehehe anaknya irit banget ya aku. Gimana, asik banget, kan?


Terus nih terus, nggak cuma bisa pesan tiket kereta aja kalau pakai Traveloka. Alias, bisa pesan banyak tiket sekaligus di Traveloka jadinya irit banget nget nget nget. Apalagi ada promo bundling dari Traveloka kayak pesan Tiket Pesawat + Hotel bisa lebih murah. Ada juga nih promo pulsa internet. Cucok meong buat kalian yang kayak aku gini, cari diskonan mulu kerjaannya hahahha.

Dan kecenya di Traveloka ini, kamu jadi bisa pesan tiket event yang on going atau mendatang gitu. Jadinya yaaa begitu, deh. Praktis abeesssss. Nggak ada tu ngantri-ngantri buat bisa dapat tiket event yang murah atau gratis malahan. Pakai Traveloka aja udah beres, kok!

Kalau aku sih yang sering banget kepakai beli tiket kereta sama hotel. Gakuat beli tiket pesawat shay! Hahahah. Nih, buat teman-teman yang masih galau install Traveloka, lihat grafis ini dan pertimbangkan sendiri deh betapa menguntungkannya Traveloka. Dijamin nggak akan nyesellllllll XD.



Waaaahh nggak nyangka bisa nulis sepanjang ini kek kereta beneran hahaha. Abisnya kalau nyeritain tentang perjalanan dan kereta nggak akan ada habisnya, sih. Pasti pengen cerita lengkap gitu soalnya Traveloka bantu aku banget untuk jadi bisa ke mana-mana dengan kereta. Mau ke luar kota dari atau menuju ke Jakarta pun gampang dan nggak ribet. Tinggal klik aja, selesai, deh!

Apalagi aku kan anaknya nggak mau ribet banget, yak. Jadinya yaaaaa ngapain gitu maksudnya pake empet-empetan atau antri di event. Males ke warung juga btw kalau harus beli pulsa meskipun butuh heheheh. Dasar emang ini bocah malesnya naudzubillah banget XD. Tapi yaa mumpung jomblo lah yaaa males-malesannya di puas-puasin sek sebelum nanti akhirnya nggak jomblo lagi.

Lhooo ini apa ini kok bahas kereta jadi sampai jomblo? Hahaha. Udah udah udah, udahan aja sampe di sini. Intinya, kalau belum install Traveloka, gih, install! Gih cobain sendiri betapa praktisnya pakai Traveloka dan buktikan sendiri kalau aplikasi Traveloka #JadiBisa bikin teman-teman serasa punya kantong Doraemon karena bisa ngapa-ngapain hihihi.

Ini cerita perjalananku teman-teman, kalau kalian gimana? Share, dong! ^^

Selamat mencoba!

Salam