Senin, 29 Januari 2018

Lunpia Cik Me Me Jadi Rekomendasi Oleh-Oleh Khas Semarang yang Wajib Untuk Dicoba

Ooooooo mengapa lunpia harus terbuat dari rebung, sih?



Aku pernah menyesalkan ini seumur hidupku. Hidup hingga tahun 2017 aku masih asing dengan makanan lunpia yang menjadi icon dan khas Kota Semarang itu. Padahal, jajanan satu ini sangatlah iconic dan luar biasa digemari oleh teman-temanku yang ada di Ibukota, Jakarta. Sedangkan aku, sendirinya ini nggak suka sama makanan yang berbahan dasar rebung. Aih ~

Aku ini sebenarnya hidup dan tinggal dimana, sih? Bisa membawakan oleh-oleh untuk teman-teman dan merekomendasikannya, tapi akunya malah nggak doyan dan nggak suka untuk makan lunpia. Hwahwahwa.... 

Eittsss, tapi itu dulu XD

Septi yang dulu bukanlah yang sekarang. Jangan, jangan nyanyi. Ini bukan lirik dari lagunya Tegar si pengamen itu, kok. Nggak tahu, ya? Yaudah. Kadang emang kita nggak harus ngerti hal-hal yang orang lain ngerti, kok. Cukup baca ini saja sampai selesai, ya. Hwahwahwa. Apaan sih, Sep? XD Gabut banget anaknya dari bahas lunpia sampai bahas Tegar di pengamen jalanan yang namanya bisa mencuat luar biasa.

Lanjut yaaa...

Intinya, aku benar-benar tidak suka lunpia karena ia terbuat dari rebung. Rasanya aneh. Boro-boro rasanya, bahkan baunya pun sudah aneh. Makanya aku nggak pernah mau makan lunpia setiap kali dibawain sama teman. Di manapun itu.

Tapi, Lunpia Cik Me Me Sungguh Berbeda


Beberapa waktu lalu aku diajak untuk mencicipi Lunpia Cik Meme alias Lunpia Delight yang cukup punya nama di Semarang. Awalnya malas, jujur saja karena ya itu tadi, aku tak terlalu suka makan lunpia karena baunya ampun deh. Baunya bisa memengaruhi rasa juga. Jadilah datang ke lokasi dengan angot-angotan.

Dan ternyata kesombonganku nggak mau nyobain kena batunya dong ~ hahahaha. Saat aku memberanikan diri untuk mengambil potongan tester lunpia, yang ada justru aku merasa kurang dan akhirnya aku menghabiskan satu porsi lunpia.

Aku tidak ingat betul rasa lunpia yang aku makan. Aku hanya paham lunpianya enak. Nggak kayak makan rebung dan benar-benar nggak mau rebung yang selama ini bikin aku malas nyentuh apalagi makan lunpia. Karena nyobain satu inilah jadi penasaran sama rasa-rasa lainnya. Mulai lah tangannya nyomotin sana-sini dan nyobain masing-masing rasa kecuali ada satu rasa yang aku sekip. Nanti dibahas di bawah ya :)

Lunpia Cik Me Me Punya Varian Rasa Lunpia Terbanyak dan Semuanya Enak!!!



Standar rasa dari lunpia biasanya yaaa cuma gitu-gitu aja, sih. Manis, gurih-gurih sedap. Katanya begitu. Tapi, beda dengan Lunpia Cik Me Me. Di sini kalian bisa nyicip lunpia dengan berbagai varian rasa dan semuanya enak. Sedap-sedap gurih gitu. Contohnya nih ya yang bikin aku nggak berhenti makan itu adalah Lunpia Raja Nusantara yang di dalamnya mengandung kepiting gitu.

INI ENAK BANGET WAJIB UNTUK DICOBA!!! XD

Jadi, ada varian rasa yang bisa kalian cobain untuk dimakan sendiri atau untuk oleh-oleh saudara dan keluarga di rumah. Ada Lunpia Crab, Fish Kakap, Kambing Muda, Raja Nusantara, dan Lunpia Original. Semuanya pakai rebung. Tapi tenang, semuanya enak. Kecuali yang kambing muda XD hehehe. Soalnya aku nggak doyan kambing. Cium baunya bisa muntah. Alhamdulillahnya, resepnya Cik Me Me ini bisa mengolah daging kambing muda menjadi satu dengan adonan lunpia dan bikin nggak bau gitu. Tapi tetap, aku nggak akan mau nyoba ehehehe.



Aku sudah cukup merasa terpuaskan dengan rasa lunpia selain yang kambing muda. Enak banget soalnya. Apalagi ditambah minum teh uwuh yang uwuwuwuwuw rasanya. Kalau kata Mas Yafi sih, ada sensasi "fuhfuhfuh"nya kalau minum teh uwuh yang penuh dengan ampas itu dan itu yang membuat teh uwuh makin berasa nikmatnya. Aku geli tiap bayangin Mas Yafi ngomongin ini hwahwahwa XD.

Di Store Lunpia Cik Me Me Bisa Lihat Pembuatan Lunpia Secara Live dari Lantai Dua


Aku anaknya suka penasaran dari hal nggak penting sama hal-hal penting. Salah satunya adalah penasaran dengan cara pembuatan lunpia di Cik Me Me. Penting banget, kan? Hwahwahwahwa.. Iyakkkk aku orangnya  skeptis abis. Suka aja gitu kalau jadi tahu banyak hal, termasuk tahu gimana caranya bikin lunpia enak. Kan seru kalau aku bisa praktekin di rumah *plaaakkkkk hahaha.





Nah, di storenya Lunpia Cik Me Me ini, kalian bisa melihat  secara langsung proses pembuatan dan pengepakan lunpia dari lantai dua. Soalnya, dapurnya ada di lantai satu dan kalian boleh naik ke lantai dua karena ada semacam restorannya di sana. Kece abis, deh. Apalagi kalian yang pengen meeting di sini di sediakan ruangan meeting kapasitas minimal 25 orang dengan syarat harus pesan lunpia untuk masing-masing anggota rapat. Ini bukan syarat yang aneh-aneh sih menurutku. Wajar aja karena biar meeting nggak laper, makanya diberlakukan untuk pesan lunpia.


Dan tahu nggak, ruangannya GRATIS selama sudah memenuhi kuota minimal 25 orang dan sudah pesan lunpia. Gilaaakkkk enak banget, kan? Di dalam ruangannya sudah ada LCD TV yang lumayan gede bisa untuk nonton video atau presentasi daaannnnn ruangannya sudah ber-AC. Hmmmmmmm, betah abis sih kalau misalkan meeting di ruangan ini pastinya.

Ada Play Ground Untuk Tempat Bermain Anak-Anak


Satu hal yang menjadi pertimbangan untuk membawa anak kecil ke pusat oleh-oleh adalah apakah store cukup aman dan nyaman untuk anak-anak? Dan aku juga punya pertanyaan yang sama. Even aku belum menikah, tapi aku rasa ini penting. Sebab memang kodratnya anak-anak suka bermain dan mudah bosan, maka sudah sepantasnya ada ruang khusus untuk anak-anak yang bisa membuat mereka merasa nyaman dan aman saat diajak pergi oleh orang tuanya. Apalagi kalau bukan supaya mereka nggak nangis dan bikin orang tuanya panik?

Lagi-lagi, store Lunpia Cik Me Me mencuri perhatianku. Di lantai dua ada play ground untuk anak-anak. Dan ada banyak mainan yang bisa dimainkan. Aku saja pengen mainan kalau bisa hahha. Sayangnya aku cuma bisa mainan sama anaknya Mba Marita, kawan blogger yang juga hadir di TKP. Namanya Mila. Aku menghabiskan waktuku di sela-sela ngobrol bersama Cik Me Me bersama Mila. Asyik sekali. Mulai dari mendorong mobil-mobilan, bermain kuda-kudaan hingga main di kolam mandi bola. Aku cuma mendampingi, kok. Nggak usah bayangin yang aneh-aneh hahaha.

Ada Ruang Khusus Untuk Shalat, Mushola yang Sangat Nyaman Untuk Pelanggan



Ini yang paling juara sih dari keseluruhan honest review-ku. Jadi, ceritanya aku datang pukul 10 pagian lebih. Udah kayak hopeless nggak bakalan bisa shalat dhuha gitu di TKP. Eh ternyata, Allah nunjukin plang tulisan mushola dan akhirnya aku konfirmasi ke mas Jo selaku PR-nya Lunpia Cik Me Me. Eh, bener aja dong, memang ada mushola yang disediakan dan ruangannya nyamaaaaannn banget. Bersih banget pokoknya! Ada banyak mukena dan sarung yang wangi yang bisa digunakan oleh pelanggan. Duh, cinta banget pokoknya dan aku senang bisa shalat dhuha di sela-sela mampir ke Lunpia Cik Me Me.



Oh ya, Sempat ketemu dan ngobrol sama Cik Me langsung. Orangnya cantik, tinggi, proporsional. Dan yang nggak kalah penting orangnya mudah senyum. Ajib dah kalau ketemu sama Beliau di sini rasanya kayak bonus. Sayangnya aku nggak foto bareng sama Beliau. Memang karena aku nggak suka masuk frame hihihi. Jadi, cukup foto bersama aja hwahwahwa.


So, inti dari tulisan Septi kali ini adalah kalian nggak perlu bingung kalau mau kemana cari oleh-oleh khas Semarang karena di Lunpia Cik Me Me kalian bisa beli oleh-oleh Lunpia sepuasnya dengan beragam rasa yang menggoda. Serta, kalian bisa menemukan ragam oleh-oleh dan camilan lain yang endolita dan maknyusss tanpa harus pergi ke tempat lain lagi. Dijamin cucok meong, deh.

Kamu sudah pernah makan lunpia belum? Share di kolom komentar, ya! ^^

Jumat, 26 Januari 2018

Mungkinkah Aku Menemukan Kamu di Ujung Penantianku? Biarkan Waktu yang Menjawab



Aku tidak ingin meminta banyak di tahun yang akan membawaku ke usia yang cukup matang, September yang akan datang. Dua puluh empat tahun. Masya Allah, aku sudah hampir seperempat abad hidup dunia dan masih jomblo? *eh maap nyeplos hahahaha.

Hm, kalau bicara soal umur, soal resolusi dan soal masa depan. Aku sudah tidak bisa lagi menjadi pemimpi ulung yang mendambakan bisa menjadi seorang arsitek atau menikah muda di usia 21-22 tahun. Semuanya begitu fana jika melihat kenyataan yang ada. Iya, aku sudah kehilangan dua  mimpi pentingku itu. Sedih memang, tapi setidaknya dalam tahap pencarianku saat ini aku masih berharap aku bisa bertemu dengan seseorang yang nantinya bisa menjadi pendengar dan pendukung setia atas segala impian yang aku panjatkan kepada langit.

Aku tidak tahu akan berlabuh dengan siapa.
Aku tidak tahu akan berlabuh kapan.
Aku tidak tahu kapan aku bisa berjalan berdampingan
dengan seseorang yang tidak akan pergi meninggalkan
sekalipun dilanda rasa bosan

Kalau ditanya "kamu pengen nikah, Sep?" Maka jawabannya adalah iya.



Melakukan perjalanan sendiri selama ini ke tempat baru, bertemu orang baru dan belajar hal baru sendirian memang sudah sering aku lakukan. Tidak hanya satu atau dua kali saja. Hampir tiap bulan aku selalu menuju tempat-tempat baru. Entah tempat itu memang baru aku sambangi atau malah tempat tersebut bisa membuatku kembali. Maklum, anaknya emang nggak betah duduk manis kayak cewek-cewek lain hahaha.

Aku merasa mulai lelah berdiskusi dengan diri sendiri. Berusaha baik- baik saja ketika semuanya terasa rumit atau justru sok-sokan bijak dalam menyikapi setiap masalah yang hadir dalam hidup. Memang semuanya adalah bagian dari proses yang mendewasakan. Tapi, aku benar-benar sudah merasa cukup untuk melakukan semuanya sendiri. Dan sekarang, aku merasa bahwa perjalananku fana saat tak ada teman perjalanan yang senantiasa menemani.


Tidak, aku tidak akan memintanya untuk membawakan barang bawaanku. Tak jua memintanya untuk membawaku berkelana jauh ke tempat yang sulit untuk dijangkau. Aku hanya ingin memiliki seseorang yang nantinya bisa membuat perjalananku lebih berarti. Setidaknya, membuatku menyadari bahwa aku tidak sendiri.

Aku tidak tahu apakah ini terlalu terburu-buru atau hanya rasa semu belaka. Mohon doanya ya semoga keinginan ini bukan karena aku iri karena teman-temanku lebih dulu menikah. Karena begitu sulit untuk meluruskan niat ketika lingkungan tidak mendukung segala keputusan yang aku coba ambil. Semoga, kalian yang membaca ini termasuk orang-orang yang mau mendukung segala keputusanku. Bantu doa, ya.

Ada hati yang segera ingin berlabuh,

Menemukan seseorang yang sekilas terkesan sederhana, ternyata memang tidak mudah adanya. Ketika banyak yang berkata "menikahlah, untuk menyempurnakan separuh agamamu," kenyataannya kalimat ini harus ditangkis dengan kalimat "justru karena ingin menyempurnakan separuh agama, maka kita tidak boleh sembarangan memilih calon yang nantinya akan membersamai kita" -- dalam konteks ini adalah tentang aku.

“Menemukan jodoh itu rumit, sejalan belum tentu seiman, seiman belum tentu setujuan, setujuan belum tentu sejalan, sejalan belum tentu sekufu, sekufu belum tentu sejodoh.”
- ― Mutia Prawitasari, Teman Imaji: Tentang Anak Kota Hujan
-
Maka terasa magis betul ketika salah seorang temanku menikah dan dari rangkaian ucapan terima kasihnya ke pada orang tuanya, ia berkata:
-
"Ayah, Ibu, terima kasih sudah mengizinkanku untuk menikah dengan laki-laki pilihanku."
-
"Terima kasih telah memberi restu pada pernikahan kami. Doakan rumah tangga kami agar senantiasa dilimpahi keberkahan."
-
Karena memang menggenapkan separuh agama bukan perkara tentang menyatukan dua kepala saja.
-
Semoga yang tengah menanti segera dipertemukan dengan cara yang baik karena sebaik-baik penjagaan adalah dari Allah.
-
Maka jangan lupa untuk selalu libatkan Allah dalam setiap pengambilan keputusan.
-
Selamat menanti ~

Iya. Pertanyaan tentang "kapan nikah" bukan lagi jadi bahan bercanda yang bisa diterima dengan mudah. Sebab, ada hati yang harus dijaga. Memang benar ya, mudah sekali untuk mengatakan bahwa baik-baik saja meskipun kenyataannya berkata lain. Dan memang saat ini baik dari aku atau dari orang lain harus berhati-hati dengan pertanyaan ini. Sepele memang, tapi kita tidak tahu bagaimana orang tersebut berusaha menjaga hatinya untuk tetap fokus pada tujuan, bukan?

Kok Tumben Bahas Ini Sih, Sep?


Iya, nih. Hahaha... Postingan kali ini pengen banget bahas tentang resolusi 2018. Setelah menulis tentang kaleidoskop pencapaian selama tahun 2017, sekarang pengen menuliskan impian-impian untuk tahun 2018 ini seperti milik kak Lestari dari komunitas Blogger Gandjel Rel. Daaaaannnn semoga resolusi yang sudah masuk list sejak tahun 2016 ini bisa benar-benar terwujud. Aamiin heheheh. Bayangin deh gimana ekspresinya Septi pas nulis ini.

Yang jelas, monggo dibayangkan bagaimana seorang Septi berangan-angan setinggi ini, berkekspektasi sambil sholawat dana istighfar semoga niat kesananya nggak belok hahahahaha. Sebab, tidak mudah bagi seorang Septi yang biasanya ambisius dan terlihat baik-baik saja tiba-tiba bahas hal seperti ini.

Bukan, bukan karena ini obrolan tidak penting. Justru karena ini obrolan penting dan berat, maka agak aneh bila seorang Septi yang selengekan bukan main ini tiba-tiba menuliskannya panjang sekali hahahaha. Karena perkara menikah dan jalan-jalan adalah dua hal yang sangat berbeda. Untuk sekadar dipahami atau memang untuk dijalani. Berat, sungguh.

Kenapa Menikah Muda, Sep? Mimpimu Masih Panjang. Jalanmu Masih Teramat Sangat Panjang


Sebetulnya ini bukan pemikiran yang tiba-tiba muncul untuk menikah muda di usia yang menginjak dua puluh tiga. Aku bahkan sudah memikirkannya sejak usia 17 tahun bahkan ketika aku memakan seragam putih abu-abu. Pertanyaan tentang menikah muda pernah dan beberapa kali aku lontarkan kepada kakak kelas atau seniorku yang sudah jauh lebih matang usianya. Kata mereka, sah-sah saja asalkan niatnya sudah betul. Aku pernah merencakannya, dulu.


Namun, memang manusia hanya ditakdirkan untuk merencanakan. Sedangkan hasil, Allah yang tetap menentukan. Maka, selama beberapa tahun silam aku sendiri (daripada nyebut jomblo wahaha) aku terus belajar menjadi pribadi yang insya Allah semakin baik. Belajar dari rumah tangga muda teman-teman dekat atau belajar dari rumah tangga sekitar yang ada upside down-nya.

Selama aku mengamati, aku jadi semakin bersyukur mengapa aku belum ditakdirkan untuk berdua, melainkan masih sendiri dan berusaha menjaga diri. Bahwa ternyata, menikah bukan hanya tentang pertemuan dan persatuan. Melainkan sebuah langkah awal untuk memulai segala sesuatu dengan baru, bersama orang baru, untuk membentuk kisah baru hingga akhirnya sampai ke tujuan baru, yaitu untuk membangun rumah tangga surga bernama, baiti jannati.

Lalu, bagaimana dengan impian-impianmu, Sep?


Aku tidak menutup diri untuk tetap menjadi seseorang yang ambisius. Seseorang yang selalu menggebu soal mimpi dan rencana-rencana jangka panjang. Adanya seseorang yang nantinya kelak bersamaku justru akan aku jadikan sebagai penguat mimpi yang selama ini inigin segera aku wujudkan.

"Sekolah S2 ke luar negeri, memiliki anak dan adik asuh, menjadi seseorang yang dermawan,
memiliki rumah yang bisa menjadi tempat pulang, dan mimpi lain yang terlalu banyak untuk
disebutkan satu persatu."

Bagiku, tidak ada yang mustahil. Prinsipku adalah keridhoan Allah. Jadi, kalau aku sudah mengantongi ridho, untuk saat ini dari Ibuku, maka aku yakin sekali bahwa semua itu akan teramat sangat mungkin. Sedangkan nanti, tentu ridho suami yang akan aku minta. Untuk bisa tetap berkarya baik untuk urusan dunia ataupun urusan akhirat. Semoga, ~

Doakan Aku yang Sedang Menuju Kesana ~

Salam sayang,

Kamis, 18 Januari 2018

Tak Hanya Kopi, Kedai Kopi Mukidi Menjual Keramahan yang Tak Bisa Dibeli dengan Uang

Kalau bicara kopi, aku kalah, deh. Meski nggak ngerti-ngerti banget soal proses pengolahan biji kopi, kalau udah diajakin nongkrong dengan iming-iming kopi, pasti udah pengen iyain aja. Anaknya emang semurah itu, sih hahahaha. Nggak deng nggak, tergantung juga ngopinya di mana dan sama siapa. (((siapa juga yang mau ngajakin ngopi XD)


Aku tidak ingat betul sejak kapan aku suka menyeduh kopi. Aku hanya ingat bahwa memang sedari kecil, aku selalu meminum kopi Bapak yang dibuatkan Ibu di dapur. Sejak saat itu, Ibu selalu membuatkan dua gelas kopi, satu untukku dan satu untuk Bapak. Iya, saking sukanya yang awalnya aku minum seteguk dua teguk bisa berubah menjadi bergelas-gelas. Se-addict itu sejak dulu.


Hanya bedanya, kalau dulu aku bisa minum kopi apa saja alias kopi sachet dengan tingkat kemanisan yang luar biasa dan kini aku terbiasa meminum kopi tanpa gula. Pahit? Ah, nggak juga. Soalnya minumnya pakai rasa, dinikmati sepenuh hati.

Kalau terhitung sejak usia SD aku meminum kopi, maka sudah lebih dari 10 tahun aku menjadi penikmat biji yang identik dengan hewan luwak ini. Hingga dua tahun terakhir ini aku mengenal dunia per-single origin-an yang ada di Indonesia. Iya, biji-biji kopi sachet yang selama ini aku minum ternyata bukan apa-apa bila dibandingkan dengan kenikmatan biji kopi asli dari berbagai daerah di Indonesia.

Aku sudah mencicipi beberapa biji dengan metode tubruk, v60, atau siphon di beberapa kafe. Beberapa menjadi favorit and worth to try. Kopi Mukidi Temanggung salah satunya.

Awalnya Mau ke Yogyakarta, Tetapi Godaan Kopi Memang Selalu Sulit Untuk Diabai Begitu Saja


Punya teman laki itu emang susah, ya. Kalau ngajakin jalan suka dadakan. Eh, ya nggak juga deng, akunya juga free ya jadilah korban ajakan karena teman-temannya dia lagi sibuk kerja. Iya, ini lagi ngomongin Mas Bagus Pulung Vandeka, temen yang ketemu di kantin SMP 1 Semarang sewaktu ada urusan di sana. Dua tahun kenal dia aku nggak banyak komunikasi. Yes, pertemuan kami ya sebatas kenalan, ngobrol, save nomor, udah.

Paling ya kalau pas kebetulan dia cuti dari kerjanya di Kalimantan kita kadang makan bareng sambil cerita-cerita. Dan kali ini, Mas Bagus pengen jalan-jalan, katanya. Tujuannya ke Yogyakarta, mau apa? Ya, ngopi. But, at first we look at the time, nggak mungkin kalau menempuh Yogyakarta - Semarang PP dalam jangka waktu yang sangat singkat. That was really impossible rasanya.


Di tengah perjalanan lalu kami memutuskan untuk beralih ke Ambarawa, nggak tahu deh mau nemu apa yang jelas jalan aja dulu. Lalu, ada yang nyeletuk kalau ada Kopi Mukidi Temanggung yang katanya enak dan rekomen untuk dicoba. Yah, namanya juga Septi, kalau dengar tentang kopi enak ya gasssss aja. Tanpa pikir panjang, mobil yang kami tumpangi mengarah ke jalan menuju Temanggung.

Dengan bermodal maps, kami menuju ke arah rumah Pak Mukidi yang katanya memiliki kedai kopi di rumahnya dengan view gunung Sindoro Sumbing. Sepanjang perjalanan udah bayangin tuh gimana rasanya ngopi sambil lihat view gunung wakakak anaknya emang sehalu itu. Nggak tahu kenapa, bayangin kopi dan nyium aroma kopi itu bisa jadi treatment semenyenangkan itu.

Terjebak Hujan Sesaat Sebelum Sampai ke Rumah Pak Mukidi


Tujuh menit sebelum sampai ke Rumah Kopi Mukidi aku dan mas Bagus terjebak hujan deras di mobil. Dalam perjalanan menuju rumah Pak Mukidi, kami terjebak pada jalan setapak yang kebetulan sepi dan tak ada seorang pun yang bisa kami tanyai. Hingga kami tak tahu harus berbelok ke gang mana, sebab maps sudah mengatakan bahwa kami telah sampai.




Kami terjebak di halaman rumah warga. Sepersekian jam kami terjebak karena salah satu di antara kami tidak ada yang membawa payung. Akhirnya, karena hujan tak jua berhenti, kami memutuskan untuk berlari di bawah hujan menuju rumah Pak Mukidi berbekal arahan dari warga. Oh ya, tak lupa mobil kami titipkan kepada sang pemilik rumah. Tata krama tetap harus nomor satu, tjoy!

Untungnya aku memakai jaket parasit, jadi aku tak terlalu basah. yo mung anyep sithik, sih XD. Aku membawa kamera, biasa buat gaya-gayaan hahaha. Ngga deng, emang mau foto sama Pak Mukidi :) sama kopinya yang terkenal juga. Penasaran soalnya sama kedai yang terletak agak nylempit di kampung itu.


Disambut Ramah oleh Barista Wanita Kedai Kopi Mukidi

What? Barista cewek?
Iya, aku juga sempat terkejut begitu masuk ke kedai yang juga sekaligus rumah dari Pak Mukidi tersebut. Sederhana sekali, tetapi terasa kehangatan dan keramahannya saat menerima kami berdua. Tak ada pengunjung saat itu, hanya kami berdua dan dua barista yang aku lupa namanya siapa hahaha maafkaannn. Lalu, dari pintu samping dapur pembuatan kopi, Pak Mukidi muncul menyambut kami berdua.



Ramah dan murah senyum. Mungkin ini kata yang tepat untuk menggambarkan bagaimana sosok Pak Mukidi. Kami berkenalan, sambil mencicipi house blend khas ala Rumah Kopi Mukidi. Seperti biasa, aku pesan dengan metode V60, sedangkan Mas Bagus pesan dengan metode tubruk. Sambil menunggu kopi dibuat, kami mengobrol dengan Pak Mukidi. Tentang sejarah kedai, pengolahan biji, hingga pemberdayaan petani kopi di Temanggung. Indahnya dunia ~

Pak Mukidi menceritakan kepadaku tentang bagaimana cara mengolah biji kopi. Dengan metode apa rasa kopi dimunculkan. Aku juga belajar banyak tentang bagaimana cara bersikap ramah kepada pelanggan. Tentang tidak meninggikan ego saat bertemu orang baru.
Ada banyak racikan kopi yang Beliau ciptakan, dan semuanya nikmat. Bahkan, menikmati tahu goreng dan pisang nugget pun terasa istimewa di sini.
Iya, semuanya bisa terjadi karena keramahan yang diciptakan oleh Pak Mukidi.
Dan sebab inilah, aku ingin kembali.

Obrolan bersama Pak Mukidi terasa begitu hangat. Lebih-lebih saat aku dan Mas Bagus diizinkan naik ke lantai dua, menikmati udara gunung yang terasa begitu sejuk. Andai ada meja dan kursi tertata di sana kala itu, mungkin aku akan sedikit lebih lama bersantai. Menikmati sepoi angin yang membelai manja tubuhku.



Sayangnya, cuaca sedang dingin-dinginnya dan kebetulan belum ada atap di balkon lantai dua. Ini artinya, kami berdua harus kembali ke lantai satu. Menghangatkan diri dengan obrolan santai bersama Pak Mukidi.

Pak Mukidi Mengolah Kopinya Sendiri dengan Penuh Cinta


Kalau di kota-kota seringkali aku menjumpai mesin penggiling kopi dan mesin untuk mengolah kopi secara modern, maka berbeda dengan di sini. Aku hanya menjumpai alat-alat sederhana milik Pak Mukidi yang seringkali beliau gunakan untuk meracik kopi. Apa itu bisa memengaruhi rasa? Tentu saja, iya.

Dan Pak Mukidi membuktikan bahwa dengan cinta, rasa kopi yang diolah dengan alat sederhana bisa menciptakan rasa yang luar biasa nikmatnya. Kenikmatan secangkir kopi tidak bisa dinilai hanya dari alatnya saja, kan? Aku bahkan tak melihat banyak pegawai di sini. Seadanya saja. Tapi justru itu yang membuat tempat ini semakin menarik.



Aku bisa melihat langsung biji-biji kopi yang masih setengah kering atau dalam proses pengolahan. Aku juga bisa melihat stiker bertuliskan Kopi Mukidi tengah disusun, digunting, dan dirapikan sebelum akhirnya ditempel ke bungkus-bungkus kopi siap jual. Duh, jadi pengen balik ke sana segera. Btw, aku nulis ini sambil bikin Kopi Mukidi yang aku beli dalam kemasan, lho.

Oh ya, satu hal yang perlu di highlight:

Kalau biasanya rasa kopi di kedai berbeda dengan kopi yang kita buat di rumah padahal kita menggunakan biji yang sama, berbeda dengan kopi milik Pak Mukidi.
Kamu akan bisa merasakan sensasi ngopi di cangkir berbeda dan suasana yang berbeda, namun dengan cita rasa kopi yang sama.
Nikmat sungguh ~

How to Get There?


Cara untuk bisa sampai ke Rumah Pak Mukidi cukup mudah. Cukup cari di maps, lokasi "Rumah Kopi Mukidi" dan turn on navigation. Ikutin aja terus sampai mbak-mbak Maps bilang "Anda sudah sampai di tujuan." Hahahaha

Dusun Jambon, Gandurejo, Bulu, Gandurejo, Bulu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah 56253
www.kopimukidi.com
0877-1905-2174

Aku akan ke sana lagi. Mungkin besok, atau lusa, atau di lain waktu. Tapi pasti, aku akan ke sana lagi menikmati seduhan kopi khas ala kebun yang diolah Pak Mukidi sembari bercengrama dan merasakan kehangatan bersama Pak Mukidi.

Kamu kalau butuh temen buat ngopi, bilang, ya. Aku bakalan seneng banget kalau ada yang mau ngajakin ngopi ke sana lagi :)) 

Rabu, 03 Januari 2018

Tidak Perlu Risau Ketika Ada yang Bertanya "Kamu Lulusan Universitas Mana?" Sebab Akan Selalu Ada Jawaban Untuk Mereka

Keputusan untuk keluar dari dunia perkuliahan 3 tahun yang lalu bukanlah suatu keputusan yang mudah. Ada banyak hal yang berat untuk dilepas, namun tak bisa digenggam agar tak ada pihak yang semakin tersakiti karena ego untuk tetap berada di kampus menjalani masa-masa perkuliahan. Ini mau nulis blog aja galau abis, ya hahahah.

Perjalananku untuk bisa mewujudkan mimpiku bisa menempuh pendidikan sampai S3 tidak semulus kawan-kawan seangkatan. Sejak SD aku sudah dibiasakan untuk mandiri dengan mencari uang sendiri. Uang saku dari jual makaroni dan jajanan ringan lainnya. Sewaktu SMP, aku juga jarang sekali ke kantin. Memang tidak ada uang saku yang cukup untuk dihambur-hamburkan. Dan selama SMK, aku sudah mulai bekerja apapun yang aku bisa, mulai dari menjadi admin, freelance content writer, ustadzah, hingga menjadi seorang freelance animator yang bekerja selepas sekolah dan pulang larut hampir setiap hari.



Hingga suatu ketika, aku jatuh sakit hingga harus diboyong ke Rumah Sakit karena harus menjalani opname. Iya, aku terkena penyakit Tipes. Penyakit yang siapa saja bisa kena karena terlalu lelah dan pola makan yang nggak karu-karuan. Gajiku pun mau tak mau harus terpakai untuk biaya pengobatan.  Sedih sekali perjuangan waktu itu, memang.

Belum selesai sampai di situ, aku harus kembali struggle dengan keadaan ekonomi yang memang tidak memungkinkanku untuk melanjutkan ke bangku kuliah dan belajar seperti teman-teman lain. Aku dilarang untuk kuliah oleh ibuku. Bukan tanpa sebab. Biaya masuk kuliah yang tinggi membuat ibuku was-was aku akan semakin sakit dan kerepotan untuk menanggungnya sendiri. 

Aku mencoba untuk mendaftar ke beberapa Universitas unggulan pada tahun itu, namun ditolak. Nasib jadi anak STM, ada saja program pemerintah untuk uji coba program bahwa SMK tidak boleh masuk ke Universitas dan hanya bisa masuk ke Politeknik. Sungguh program yang sangat-sangat tidak menguntungkan siswa sepertiku ini.

Pentingnya Restu Orang Tua Untuk Bisa Menjadi Sarjana


Do you believe that ketika orang tua bilang enggak, lalu hidupmu akan jadi kacau balau?

Aku percaya. I did believe it. Sejak ibuku tak memberi restu untuk kuliah, aku tetap nekat berusaha daftar sana-sini. Hingga, akhirnya aku diterima di salah satu Universitas Swasta terbaik di Jawa dan aku bahagia sekali. Sayangnya, tidak ada restu membuatku kembali dirundung kesulitan soal biaya. Aku tak punya cukup uang untuk membayar biaya masuk kuliah, uang gedung. Padahal, aku mendapatkan potongan biaya 75% karena ranking 1 di jurusan tersebut.

Akhirnya aku pinjam sana-sini dan harus downgrade ke jurusan lain. Awalnya Psikologi, lalu ke Komunikasi. Sedih sih, tapi aku belum menyerah. Selama enam bulan kuliah, aku tak pernah mendapatkan nilai buruk. Meski suka telat dan kadang titip absen karena tuntutan kerja, IPK-ku cukup tinggi, yaitu 3.5. Yah, meski nggak sempurna, ini IPK mayan banget untuk anak yang kadang masuk kadang enggak.

Aku bertemu dengan seorang dosen, Algooth Putranto namanya. Seseorang yang nyentrik dan memang asli cerdas. Aku suka dengan cara mengajarnya di kelas. Keras, disiplin dan tegas. Dia adalah dosen, teman, bapak, mungkin pacar buatku. Teman curhat yang paling bisa bikin kedewasaanku terbuka dan membukakan insight bahwa kuliah itu nggak melulu soal IPK. Fokusin aja ke belajar, cari insight baru karena nanti di luar itu sebenar-benarnya duni yang mana IPK nggak akan lagi kepake.

Aku seringkali mendapatkan project dari Algooth Putranto, dosen kesayangan selama dua semester. Bahkan, aku sering berangkat jam 6 pagi sudah sampai di kampus untuk mengerjakan tugas analisis berita dari Beliau. Beliau juga pernah membayariku untuk ikutan seminar kepenulisan dari Kompas Gramedia dan untuk menghormati Beliau, aku akhirnya ikutan lombanya dan alhamdulillah menang juara 2 se-Jawa Tengah tentang Pengalaman paling berkesan di sekolah.

Tulisan ini mewakili segala gundah gulana semasa kuliah di mana dosen seringkali meninggalkan mahasiswanya dalam kelas kosong. Aku berusaha menuliskannya menjadi sebuah karya dan alhamdulillah aku menjadi juara. "Pak, anakmu dapat juara II, Pak." begitu isi WA-ku ke Beliau. Dan seperti biasa jawabannya datar -_- hahahaha...

Hanya Dua Semester Saja, Aku Lalu Pergi Menjauh dari Hingar Bingar Perkuliahan


Setelah semester 1 berarkhir, aku mendengar rumor bahwa Algooth Putranto, dosen tersayangku akan pergi, resign dan tak lagi mengajar.

Lalu, akan dengan siapa aku berdiskusi?
Siapa lagi yang akan peduli dengan isi otakku?
Akan dengan siapa aku mencurahkan isi hatiku?
Bagaimana kau bisa bertahan tanpa dirinya?

Aku marah. Aku kecewa. Aku sedih bukan main tahu Beliau akan pergi. Aku mengajar Beliau makan, berdua seperti biasa. Aku melakukan interogasi agar si bapak mau jujur tentang motifnya. Aku lemas mendengar kabar Beliau akan pergi dan tak lagi  mengajar. Kataku, "Aku akan dengan siapa di sini kalau bukan sama Bapak?" Suasana mengharu biru.

Dan aku tertipu. Beliau harusnya keluar di akhir tahun. Tiba-tiba sejurusan dikumpulkan di Ruang Theater dan Beliau berpidato. Baru masuk ke ruangan, air mataku sudah jatuh. Saat Beliau berbicara pun aku sudah sesenggukan bukan main. Jahat memang. Dia jahat! Hahahahahha

Sebelum Beliau ke Jakarta, kami breakfast berdua, lalu kami bercakap-cakap.
A: Aku
B: Bapak

A: "Gue mau keluar kuliah aja, ngapain di sana tetep kuliah kalo lo ga ada, Ga ada seorangpun kecuali elo yang peduli biaya kuliah gue. Ga ada yang bakalan bantuin gue untuk bisa  survive dapat uang untuk bayar kuliah."
B: "Yakalo itu pilihan terbaik yaudah, gpp."
A: "Kenapa sih pak harus pergi?"
B: "Ya karna ga ada yang perlu diperjuangin di sini."
A: "Gue pengen kuliah, tapi gue gabisa kalo ga sama kerja. Terlalu rumit"
B: "Lo udah gede, lo pasti bisa tentuin mana yang prioritas, kok. Gue percaya lo bisa jadi orang suatu saat."

Tidak lama setelah itu, aku kabur dari kampus. Aku hanya berpamitan pada satu dosen saja, tidak pada teman-temanku. Sulit sekali rasanya menerima bahwa aku tidak bisa lagi menjadi bagian dari kampus dan tidak bisa mewujudkan cita-citaku untuk bisa jadi sarjana.

Namun, aku selalu bersyukur mengenal Algooth Putranto sebab banyak sekali hal yang Beliau ajarkan kepadaku, baik secara langsung atau tidak. Katanya,

Hidup itu ya emang penuh masalah, kalau nggak ada masalah ya kamu nggak hidup. 
Kuliahlah, cari jaringan, cari network yang bisa bikin kamu jadi lebih baik. 
Jangan kepentok sama status sarjana, lo cuma butuh jadi orang cerdas dan beradab aja untuk bisa diterima. 
Lo harus siap segala kondisi ketika lo dibandingin sama sarjana lain. Tapi, bercayalah sama gue, once lo sudah punya portfolio, orang nggak akan pernah mempermasalahkan ijazah lo.

Berbekal dengan prinsip-prinsip tersebut, aku jadi semakin berani menghadapi dunia. Iya, berkat dosen tercintaku itu. Dan meskipun kami jarang bercakap dan kadang berdebat, Beliau selalu  mengajarkanku lewat sikap. Bukan hanya sekadar kata-kata belaka. Ah, pokoknya kalau nulis tentang Beliau nggak akan ada habisnya, deh. Beliau itu istimewa. Hahahaha

Dan sebab aku menganut prinsip dari Beliau, kini di mana-mana banyak yang bertanya "Kamu Lulusan Universitas Mana?" dan aku hanya tersenyum, sebab aku bersyukur meskipun hanya lulusan SMK, aku punya kualifikasi yang membuatku dikira lulusan sarjana :))

Aku rasa mba Relita dan mba Yuli bukan tanpa sebab memilih tema guru untuk tulisan kali ini. Karena guru memanglah seseorang yang meskipun kita berjumpa sekali, tetapi ilmunya akan selalu kita terapkan berkali-kali. Betul, kan? ^^

Salam,

2017 Penuh Cerita, Mulai dari Dapat Kamera Hingga Bisa Liburan ke Eropa

Siapa sih yang nggak bahagia kalau satu-persatu impiannya tercapai dengan jalan yang begitu indahnya digariskan oleh Allah?

Adalah aku yang teramat sangat banyak bersyukur karena tahun 2017 diberikan berbagai banyak limpahan berkah dan rezeki yang kalau disuruh bersyukur udah nggak ngerti harus bersyukur kayak gimana lagi. Yes, ada banyak kejutan yang teramat sangat membuat bahagia di tahun yang juga menjadi target untuk menikah dan harusnya nggak jomblo lagi. Lho eh gimana, Sep? Hahahah


Aku mendapatkan beragam kemudahan dan pencapaian yang kalau dirupiahin itu besar banget nikmatnya. Meskipun di tahun sebelumnya isinya galau melulu karena masih transisi dari masa bocah ke usia yang cukup matang, bersyukur sekali tahun ini jadi semakin waras menyikapi dunia yang kadang entah.

Mempercayai bahwa Allah akan memberikan apa yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan memang sulit ternyata. Namun, sulit bukan berarti tidak bisa, bukan? Kuncinya adalah sabar dan tekun dan tentu saja tetap berprasangka baik. Jika memang tidak hari ini, mungkin Allah sudah menyiapkan hal yang lebih besar besok dan besoknya lagi dan besoknya lagi. Hal-hal tidak terduga yang akan membuat kita merasa menjadi hamba yang luar biasa.

Impian Bisa Punya Kamera dari Foody Tanpa Harus Beli Akhirnya Tercapai, Yay! Alhamdulillah


Alhamdulillah, Bulan Agustus 2017 lalu bisa jalan-jalan bawa kamera. Iya, akhirnya Septi punya kamera sendiri. Dan keinginan itu terwujud tanpa harus membeli alias secara cuma-cuma gratis di kasih sama Allah lewat kompetisi nulis bareng Foody yang diadakan di Bulan Mei 2017. Such a best gift karena nggak nyangka bisa dapat barang yang sudah lama jadi impian.

Sedari dulu pengen banget punya kamera. Bawaannya kalau lihat dan minjem kamera temen udah dishalawatin aja gitu. Dielus-elus terus sambil mbatin "Ya Allah, pengen tapi nggak punya duit buat bayar ya Allah" gituuu terus hahaha.


Allah Maha Baik, ya. Akhirnya aku dikasih unjuk lomba nulis yang hadiah utamanya kamera. Dengan segenap tenaga dan optimisme yang membumbung tinggi *halah hahah akhirnya tulisanku masuk ke ke 14 tulisan terbaik dan masuk final. Alhamdulillah. Senang bukan main, sekaligus sedih sih sebab waktu itu masih harus berjuang :").

Lalu, segala persyaratan pemenang aku pelajari satu persatu dan aku memaksimalkan segala upaya untuk bisa mendapatkan kamera. Mulai dari pasang iklan (hehe mumpung profesinya digital strategis kan jadinya sekalian), teleponan Jakarta-Semarang rutin sama mas Ichsan, ketua Blogger Jakarta periode 2017 yang juga aktif di dunia permiliteran. buat bisa naikin traffic, share ke seluruh kontak WhatsApp dan Instagram ke teman-teman baik yang dekat atau jauh. Share terus di sosmed sampai pada bosen.

Dan finally!!! The day has come!!! Aku dapat video call dan panitia dannn eng ing enggg kata mereka AKU JUARA SATU DAN BERHAK DAPAT KAMERA HEHE.. Alhamdulillah, seneng banget nggak sih rasanya bisa dapat hadiah impian yang sudah dicita-citakan sejak lama dan berhasilll XD. Ya Allah bukan main sih senengnya. Allah memang da best, deh.

Temen-temen kalau memang ada hajat, nggak usah ragu minta sama Allah, deh. Allah itu ya, keliatannya kita diuji, tapi Allah tu pengen lihat seberapa besar upaya kita untuk bisa ngedapatin apa yang kita mau. Iya, kalau emang kita pantes, Allah bakalan kasih, kok. Mungkin nggak sekarang, tapi pasti :)).

Akhirnya Resign dan Bisa Berkarya Dimana Saja


Tepat Oktober 2017 lalu, setelah alot memaksakan diri untuk bergabung di dunia peragensian di Semarang, akhirnya aku memutuskan untuk berhenti dan keluar dari lingkaran tersebut. Aku resmi resign! Tanpa bekal, tanpa rencana yang pasti dan tanpa tujuan ke mana aku setelah ini. Freelance juga waktu ini masih kacau dan hasilnya nggak seberapa. Nekat banget sih waktu itu.

Hal yang membuatku resign dari kantor adalah karena aku tidak bisa bebas berkarya dan melakukan apa saja yang bisa membuat hidupku berkembang. Aku suka sekali belajar, learn something new yang bisa membuatku jadi orang yang lebih baik dari sebelumnya. Dan aku orangnya memang bukan tipikal yang suka stuck dengan satu hal alias harus achieve more and more. Nggak boleh cuma sampai di situ aja karena aku bakalan bosan banget.


Dan atas dasar itulah aku akhirnya memantapkan diri untuk berani keluar dari zona nyaman kantor untuk menemukan zona nyamanku sendiri di duniaku. Dunia yang tidak orang lain harus tahu karena duniaku itu milikku. Selama aku bisa hidup di sini dengan segala ketenangan yang ada, maka aku akan melakukannya. Dunia yang bisa membuatku selalu bersyukur atas apa yang aku miliki. Iya, duniaku yang saat ini aku jalani, yaitu menjadi seorang independent digital strategis, content planner dan content producer.

Dimana kerjanya? Di rumah. Di mana saja selama ada laptop, wifi dan colokan hidupku akan aman-aman saja Insya Allah. Doanya, ya! ^^

Akhir Tahun yang Indah Dapat Kabar Bisa Jalan-Jalan ke EROPA dari Traveloka


Dan akhir tahunku ditutup dengan kebahagiaan yang benar-benar tidak bisa diuangkan serupiah pun. Bahagia sekali rasanya mendapatkan kabar bahwa aku menang juara pertama dalam kontes menulis di Traveloka. Kabar yang lebih membahagiakan lagi adalah aku menang grand prize jalan-jalan ke Eropa. GRATIS dari Traveloka PP Pesawat Turkish Airlines dan Voucher Hotel uwuwuwuw. Bahagia bangeeetttt. Yaaah, meskipun masih harus puyeng-puyeng karena harus memikirkan biaya untuk hidup di sana, untuk makan, untuk jalan-jalan dan untuk senang-senang, tapi Allah emang baik banget.



Aku memilih Turki. Negara  yang sedari dulu ingin sekali kujamah. Sebab seseorang pernah menceritakan tentang Al-Fatih, tentang Hagia Sophia. Aku ingin tahu mengapa Istanbul menjadi kiblat yang menarik untuk belajar tentang islam. Aku ingin tahu negara yang dipimpin oleh seorang Erdogan, yang begitu dermawannya untuk para orang-orang terdhalimi dari Palestina. Aku ingin menjamah negara yang berbatasan langsung dengan Laut Merah. Aku ingin ke sana dan Allah mewujudkannya. Sungguh, nikmat yang tak akan pernah bisa kudustakan sampai kapanpun.

Dulu, pernah ada yang bilang padaku bahwa menulis bukan suatu hobi yang tepat, bukan suatu hobi yang tidak akan pernah menghasilkan dan tidak akan pernah membuatku menjadi siapa-siapa. Tapi, seorang Septi bukanlah seseorang yang mudah untuk dijatuhkan. Aku percaya bahwa selama kamu mencintai hobimu dengan sepenuh hati, maka akan selalu ada jalan yang bisa membawamu untuk menjadi lebih baik.

Melalui menulis, aku bisa mendapatkan juara-juara dari yang hadiahnya biasa saja hingga merambah ke hadiah yang luar biasa nilainya, seperti mendapatkan kamera, dan kini jalan-jalan ke Eropa. What a wonderful journey in my life. Mungkin, kalau aku bisa bikin draw my life bakalan seru kali, ya. Tapi, ya karena aku cuma bisa  nulis, jadi aku ceritakan saja di sini :)

Sederhana, namun indah.

Cerita singkat tentang kaleidoskop 2017ku semoga bisa menginspirasi ya, teman-teman. Terima kasih untuk mba Tanti dan kakak Nuzha untuk tema yang sangat membahagiakan. Doakan aku bisa mencapai hal-hal baik di tahun depan juga, ya!

Kalau kamu, apa cerita serumu selama tahun 2017? Share di kolom komentar, yuk! ^^