Buka Bersama; Rutinitas Bersama Keluarga yang Hingga Saat Ini Masih Menjadi Wacana

Nggak kerasa ya, puasa sebentar lagi..
Masha Allah, sudah masuk Bulan Ramadan..
Aku pengen pulang, merasakan sahur dan buka puasa sama keluarga..

Tidak ada yang bisa menggantikan keluarga saat tiba Bulan Ramadan. Semua orang berbahagia, sebab sebentar lagi masa yang dinanti untuk bisa berkumpul bersama keluarga, makan sahur dan berbuka puasa bersama menjadi momen satu tahun sekali yang aku yakin banyak yang merindukan ini.


Tidak sama seperti kalian yang berbahagia sebab bisa merasakan momen yang langka ini, aku, justru menangis setiap kali menjelang Ramadan, saat Ramadan, hingga tiba waktunya Idul Fitri, hari kemenangan yang dinanti selama satu bulan lamanya. 

Dulu sewaktu aku menjadi anak rantau, aku benar-benar merasakan apa itu sendiri -- sahur sendiri, berbuka puasa sendiri, tanpa keluarga. Kalau bangun kesiangan, ya resiko. Kalau misalkan saat berbuka puasa hanya ada teh hangat yang kubuat dengan bantuan dispenser kantor, ya inilah hidup. Itu yang aku rasakan saat itu.

Dan momen sahur bersama ibu benar-benar menjadi precious thing yang tidak tergantikan. Benar-benar momen yang membuatku menangis sejadi-jadinya di kantor dan di kosan setiap kali aku teringat bahwa aku di tanah rantau sendirian.

Tapi, ada yang lebih menyedihkan daripada sekadar meratapi hidup menjadi anak rantau yang rindu akan pulang untuk bisa bercengkrama dengan keluarga, yaitu bertemu, tapi tidak bisa bercengkrama.

Tahun ini, alhamdulillah aku bisa menikmati segarnya meneguk teh panas atau sekadar air putih di rumah, bersama ibu. Tapi sayangnya, selalu dan tidak pernah bisa untuk merasakan bahagia ini bersama bapak. Sekalipun dalam hidupku hingga tahun ke dua puluh tiga ini tidak pernah aku merasakan berbuka dengan keluarga -- seutuh-utuhnya keluarga.

Puasa di Satu Atap yang Menganut Keyakinan Berbeda


Kalian mungkin sering merasakan berbuka puasa dengan teman yang berbeda keyakinan. Bagiku, itu hal kecil yang memang sudah sewajarnya ada. Tidak ada yang perlu diperdebatkan tentang siapa yang puasa dan siapa yang tidak ikut puasa. Keyakinan memang sudah seharusnya tidak memaksa suatu pihak untuk meyakini keyakinan yang lain.

Tapi, kasusku berbeda. Aku hidup di tengah keluarga dengan keyakinan yang bisa kalian bayangkan rasanya saat orang tua kalian menganut agama berbeda dan mempercayai kitab yang berbeda pula? Saat kalian bisa bersama orang tua kalian menjalani shalat jamaah bersama, puasa bersama, tadabur Al-Quran bersama-sama, tidak demikian dengan aku.

Sejak kecil, aku sudah terbiasa dengan kehidupan masjid dan gereja, tasbih dan rosario, Al-Quran dan Injil serta perbedaan keyakinan-keyakinan yang membuatku entah ada di titik mana. Aku pernah merasakan roti yang diberikan oleh Bapa di gereja dan memakannya saat aku masih berusia anak-anak.

Kata keluargaku, itu adalah berkat dari Tuhan lewat Bapa. Aku pun pernah meraih juara hafalan surat pendek antar masjid, juara mempraktekkan shalat fardhu dan juara lain di dunia muslim. Sebuah kontradiksi yang menyenangkan. Setidaknya, masa kecilku penuh dengan masa-masa bahagia meski banyak pihak yang menentang untuk percaya pada salah satu agama yang ada di kelurga besarku.

Bahkan, awal di mana aku ingin memakai jilbab, Ibuku melarangku. Katanya, jangan dulu. Akan banyak hal yang aku lalui kalau aku benar-benar memutuskan memakai jilbab. Hancur rasanya mendengar ini.

Awalnya aku menyangkal, satu tahun kemudian, aku benar-benar mulai memakai jilbab, lalu tahu apa yang terjadi? Satu bulan kemudian, saat liburan semester, aku membuka jilbabku karena harus rekreasi bersama keluarga dari Bapak ke Bandung. Sulit bagiku yang masih belia mempertahankan jilbab sedangkan aku sendiri di sana.

Untuk shalat saja bahkan terasa sulit, sebab terjebak dalam zona waktu di tengah-tengah mereka benar-benar membuatku berjuang lebih keras dari biasanya. Aku bahkan untuk wudhu harus mencuri waktu. Aku harus benar-benar mencari space kosong untuk bisa menggelar sajadah dan menengadahkan tangan di lima waktu yang harusnya tak boleh aku lewatkan.

Masa laluku berat, bahkan hingga hari ini.

Mendengar bahwa agama yang kupercaya ini hanya mencetak orang bodoh, adalah hal termenyakitkan yang aku tidak tahu harus marah atau harus apa untuk bisa mencernanya. Aku masih ingat betul rasanya, bahkan hingga saat ini. Mau marah, tapi aku bisa apa? Tak ada satupun kalimatku bisa sampai hingga membuat mereka mencerna. Hingga pada akhirnya, aku kalah dengan kalimat "mereka berbuat demikian karena mereka tidak mengerti. mengalahlah..."

Baik, aku menyerah. Aku tidak ingin menjadikan orang lain sebagai tersangka atas ketidakmampuanku memberikan penjelasan paripurna.

Membayangkan Bisa Shalat Jamaah Bersama Saja Sudah Membuat Pipiku Basah, Apalagi Bisa Berbuka Puasa Bersama?


Mungkin, bagi kalian, mudah untuk bisa mengatur jadwal setidaknya satu minggu sekali atau bahkan satu bulan sekali untuk berbuka di rumah bersama keluarga. Lengkap. Tanpa ada seorangpun alpa. Aku belum pernah merasakannya. Sekalipun belum sekali dalam seumur hidupku. Menyedihkan, ya? Padahal, semua anggota keluarga ada. Lengkap. Tapi aku tak bisa menjadwalkan satu haripun untuk bisa bertemu mereka dan menyantap hidangan berbuka bersama-sama.

Tahu alasannya kenapa? Betul, karena kami menganut keyakinan yang berbeda. Sebab itulah, aku tak pernah bisa merasakan bagaimana rasanya nikmatnya berbuka bersama keluarga.

Aku dan ibu. Hanya ada aku dan ibu. Sedari dulu begitu dan aku bosan. Kalaupun harus ada kakak laki-lakiku yang hadir di tengah ritual puasa tahunan yang kami jalani, kami tidak pernah duduk dalam satu meja. Kalau aku di dapur, mungkin kakakku di kamar dan ibu di ruang tengah. Kalau aku di ruang tengah, kakakku di dapur bersama ibu. Seterusnya begitu.

Lalu, kakakku menikah dengan wanita pilihannya. Aku menduga, bahwa ia merasakan kesepian yang sama, sepertiku. Aku tahu betul bagaimana rasanya dan mengapa ia segera untuk meminang gadis pujaannya yang kini menjadi kakak iparku. Sebab, ternyata sepi memang menjadi pembunuh paling kejam dari dalam diri. Kalian percaya? Mungkin tidak, sebab kalian tidak pernah mengalami.

Aku tidak merasa butuh dikasihani. Aku hanya ingin berterimakasih kepada golongan yang selalu membagi bahagianya melalui sosial media dan menceritakan tentang hangatnya hidangan berbuka yang bisa mereka santap bersama keluarga. Terima kasih telah membaginya, kepadaku yang rindu untuk bisa merasakannya meski hanya sekali saja.

Suatu hari, kalau kalian membaca ini dan bertemu denganku, boleh kuminta satu? Jangan pernah mengasihani aku --
yang pernah shalat di gereja,
yang pernah shalat menghadap patung Bunda Maria,
yang sering mendengar kalimat rosario di tengah-tengah doa bersama,
yang pernah melepas jilbab karena tiada seorangpun yang bisa menjadi teman dalam perjalanan.

Aku sudah cukup merasakan pahitnya sendiri selama ini. Tolong, jangan kalian tambahi dengan rasa kasihan yang ingin sekali kalian sampaikan.

Terima kasih, ya, sudah berkenan membaca sepanjang ini.

Salam untuk keluarga di rumah,
Dariku

7 komentar:

  1. :( :( tengah malam mbaca beginian jadi meleleh mb.semoga Allah sll menguatkan mb septi yaa,Aamiin

    BalasHapus
  2. sepi itu emang satu hal yang paling tidak menyenangkan bagi semua umat manusia di dunia.
    make sense kenapa apa aja bisa lu obrolin. sama kaya gw hahahhaha

    BalasHapus
  3. Hatiku gerimis baca ini. Keep istiqomah adindaku Septia. InsyaAllah apa yang sudah kamu jalani selama ini berbuah jannah

    BalasHapus
  4. The positive side, kamu jadi bisa belajar bertoleransi Sept..dan kamu tidak akan pernah sendirian di saat2 seperti Ramadahan ini. Ada tangan2 tak kasat mata yg memelukmu dalam doa. Jangan pernah bosan hanya buka puasa bersama Ibu, di luar sana bahkan mungkin masih ada orang yg tidak diizinkan berpuasa krn kondisi yg sama

    BalasHapus
  5. Semangat nceptiiiiiiii.. Buka puasa dirumah gw yokkk. . Ntr gw bikinin terong😘

    BalasHapus
  6. Kemarin gue pulang kantor telat jadi pas di jalan udah azan maghrib, tapi gue gak bisa ngebatalin karena naik ojek ya kali mau minum bisa keselek juga kan. Terus pas lagi mikir "sebel banget jam segini masih di jalan, mana belom gajian jadi ga bisa buka di luar mau gak mau harus buka di rumah" gue ngelewatin Java Mall dan ngeliat seorang ibu lagi gendong anaknya dengan wajah lelah dan penampilan yang lusuh. Kayak disentil pelan, terus gue jadi ngerasa bersyukur.

    BalasHapus
  7. Dari sini gw tau betapa tegarnya elu

    BalasHapus

Halo!

Terima kasih telah membaca blog www.dwiseptia.com. Semoga konten yang ada di blog ini bisa menginspirasi. Doakan saya bisa produksi konten yang lebih baik, ya!
Oh, ya kalau ada rekues konten silakan tulis di kolom komentar, ya! ^^

Instagram (Follow @septsepptt)