Selasa, 31 Juli 2018

Kembalinya Freelancer ke Kantor. Apakah Ini Sebuah Kemunduran?

Well, its been a long time since I update my blog talking about pekerjaan, dunia perkantoran dan dunia digital nomad yang menyenangkan. Yah, i think I wanna share one of my big revolution after being comfort with my daily routine as a freelancer --- I'M WORKING AND JOINING COMPANY now! XD

Hahaha maybe some of you ngakak deh baca prolog dari tulisanku kali ini. But, please stop laughing and let me explain you a story of me. I'll to to explain by myself, so you guys bisa coba lihat dari perspektif kalian sendiri either itu dari perspektif freelancer atau perspektif karyawan full timer.

Satu tahun silam, aku menjalani karir sebagai seorang digital nomad, as a freelancer yang fokus di dunia content marketing, sosial media marketing dan digital ads yang you know guys pasti nggak asing di dunia ini. Yup, dunia ini sudah mendarah daging di aku selama satu tahun terakhir dan membuatku bisa menjadi diriku sendiri -- yang suka jalan-jalan ke luar kota sambil bawa laptop. Atau bahasa sederhana dan kerennya sih, bisa kerja di mana saja as a digital nomaden.

Itu lhooo, orang yang kerjanya pindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain kayak kutu loncat. Nggak ikutan gabung di satu perusahaan, tapi tetap mengerjakan project gituuu. Hihihi sounds fun ya kan? Tapi ya nggak juga seeehhh hahahaha.


Menikmati Indahnya Menjadi Digital Nomaden


Aku bisa bilang bahwa jadi digital nomaden itu salah satu pencapaian yang luar biasa menyenangkan. Bisa kerja kapan saja semaunya, dimana saja, dan yang jelas nggak terbatas ruang dan waktu. Selama jadi digital nomaden, aku biasanya pindah-pindah kota. Mulai dari ke Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Purwokerto, dan sampai ke Turki. Ah, such a wonderful experience, sih. Sungguh pengalaman yang nggak akan pernah bisa aku tukar dengan uang.

Meskipun pernah jadi orang konyol yang bawa laptop ke gunung dan nyoba bukain ads & business manager di gunung, tetap saja aku nggak pernah menyesal sedikitpun jadi orang yang konyol karena sebab tersebut. Hahahaha. Asyik soalnya jadi orang aneh di antara orang yang normal. Eh maap nih, jadi aku ini normal atau nggak sebenarnya? Skip ~

Menjadi digital nomaden juga mempertemukanku kepada banyak hal, mulai dari ketemu klien yang normal sampai aneh-aneh, ketemu sama partner kerja yang kerjaannya rapi sampe super bikin naik darah, hingga dicap sebagai influencer mata duitan karena aku itu jarang banget gabung ke event gratisan. Ya Allah, aku nggak matre kok beneran, deh. Tapi ya emang kalau ada event berbayar mendingan dateng ke event berbayar daripada gratisan *ehhhhh. Kecuali, event itu berupa event untuk belajar bareng-bareng. I mean, aku bisa belajar banyak dari event tersebut. Tsaaahhh ~ Pinter amat kalo ngeles, kayak guru privat aja XD.

Flashback ke Perjuangan Bisa Menjadi Digital Nomaden Alias Freelancer


Kata siapa jadi freelancer itu mudah?
Kata siapa jadi freelancer itu enak?
Kata siapa hm kata siapa?

Monmaap nih yaaaa, yang bisa bilang kayak gini pasti nggak pernah ngerasain jadi freelancer sebenar-benarnya freelancer. Palingan ya kalaupun pernah, dia cuma nanganin beberapa klien aja dan nggak multitasking. Monmaap yaaa, tapi jadi freelancer itu nggak gampang :")

Butuh waktu satu lebih dari tahun untuk bisa membangun personal branding yang cukup kuat untuk bisa mendapatkan klien dan dipercaya perusahaan untuk bisa handle berbagai macam jenis pekerjaan. Dulu, zaman sebelum aku kayak sekarang, bisa laptopan di mana saja, aku juga jadi karyawan di perusahaan Creative Agency di Jakarta, Bekasi, Semarang, dll.

Aku belajar banyak dari pengalaman gabung di agensi. Mulai dari anak bawang yang setiap hari cuma dimaki-maki sama senior karena tulisannya jelek, nggak bisa ngomong, nggak berani berpendapat, hingga akhirnya aku jadi Septi yang seperti sekarang ini.

Emang sekarang tuh Septi yang kayak gimana sih, Sep? Hahahaha nggak hebat-hebat banget, kok. Tapi yaaa alhamdulillah sekarang cukup bisa diandalkan dan bisa diajak diskusi perihal content writing, social media marketing, hingga digital advertising. Waaahhh, kayaknya keren, ya? Nggak juga sih, biasa aja sebenernya. Hanya alhamdulillah kebetulan mungkin aku lebih dulu tahu daripada teman-teman yang belum tahu saat ini. :)

Dimaki-maki Senior dan Nangis Setiap Pulang Kerja


Pait sih kalau inget momen beginian. Dulu setiap kali pulang kerja aku nangis di perjalanan pulang ke kosan. Apalagi ya, momen itu terjadi ketika aku baru pindah ke Jakarta. Stressnya itu lho Masya Allah. Peralihan dari anak desa ke anak kota, sampai peralihan dari anak bawang ke sekarang itu cukup makan waktu dan bikin sakit-sakitan. Sedih kalo inget. Sampai aku berkali-kali ke dokter, ganti-ganti dokter dan mereka bilang aku nggak ada gejala penyakit dalam karena semuanya normal. Dan kesimpulannya aku sakit hanya karena stress hahahahah. Sungguh bulan yang berat untuk hidup di Jakarta,

"Kok tulisanmu jelek banget sih. Ini nih yang kamu sebut tulisan? Kayak gini mah nggak usah belajar juga bisa."
"Makanya kalau diajari tu dicatet, diinget di luar kepala. Diajari kok lupa terus, Capek tau ngajarin tuh kalau nggak ada gunanya begini."
"Udah diajarin berapa lama masih nggak ngerti-ngerti juga? Disimak dong kalau ada orang yang ngajarin tuuu, jangan cuma dateng doang tapi nggak disimak."

Deuuuhhhh, banyak banget deh kalau diinget-inget. Nggak guna banget rasanya waktu itu. Berasa kayak gue salah gabung perusahaan ga sih? Apalagi nih yaa, aku cuma pakai ijazah SMK. Kebayang dong mindernya ada di tengah-tengah teman-teman kantor Jakarta yang notabene-nya mereka adalah lulusan dari kampus-kampus keren dan dari jurusan keren di kampus mereka. Ada yang lulusan kampus Jakarta, Bandung, dll. Nah, aku? Remahan doang :")

Yes, sebagai lulusan SMK, aku minder bukan main pada awalnya. Sampai akhirnya, aku ketemu sama dosenku, Pak Algooth dan senior kontenku, Innes Sabatini namanya. Aku bersyukur bertemu dengan mereka. Its like I get a gift from God. Anugrah ketemu mereka. Both adalah orang-orang yang cuek, tapi bener-bener bisa bikin aku tahan banting. Dari dikata-katain tulisanku jelek sampaaiiiiii dikatain karena masih kecil makanya suka labil :").

Dibilang Hidupnya Enak Karena Bisa Jalan-jalan Kapanpun


Hellaaaawwww plissss, aku ini juga kerja, kok. Hahahha. Bedanya hanya kalau kalian mungkin kerja di kantor, terikat jam kerja, aku kerjanya lebih fleksibel baik dari segi tempat maupun waktu. Aku bisa jalan-jalan ketika kalian kerja. Aku bisa bangun siang ketika kalian sudah harus ke kantor. Kayaknya enak, ya?

Padahal, sisi freelancer yang tidak kalian tahu adalah kami ini jam kerjanya lebih gila dari kalian, loh. Kami bekerja saat weekend. Kami bekerja saat kalian tidur. Kami bawa laptop saat perjalanan bahkan membuka laptop di atas motor atau di atas kereta. I did it. Iya, aku pernah buka laptop di motor. Mulai dari nulis, sampai ngeceki iklan yang aktif. Emang nggak capek? YA MENURUT NGANA AJA! Eh maap ngegas :)))

Setelah Hampir Setahun Bekerja Secara Nomaden, Akhirnya.....


It isn't that easy as you guys can see to decide that FINALLY SEPTI NGANTOR LAGIIIII.  Jujur, nggak ngerti harus seneng atau sedih ketika pertama kali baca email yang intinya adalah "welcome to the team, Septi ^^". Its too warm for me to feel hurt inside of me :"). Dan tepat nggak nyampe 5 menit setelah aku mendapatkan telepon dari CTO kantor sekarang dan email resmi bahwa aku bisa bergabung di kantor, aku nangis dong WUAKAKAKAAK. Nangis? Seorang Septi nangis? Jarang-jarang kan seorang Septi nangis dan ini beneran dong beneran banget nangis nyesek gituuu semacam kayak ada unek-unek di kepala dan kalo ni hati bisa teriak bakalan teriak "GUE BENERAN NGANTOR LAGI,NIH?" :")

Kok sedih? Kan padahal cari kerja itu susah...
Kok sedih? Kan udah enak kerja tapi nggak perlu ngelamar..
Kok sedih? Kan enak kerjanya di Semarang dan deket rumah..

It doesn't about the salary, it doesn't about the time, that is all about the chance. Yap, aku harus melepaskan banyak sekali kesempatan setidaknya dalam tahun 2018 ini. Kesempatan untuk bisa ikut serta dalam Ubud Writer Fest yang aku dambakan selama 3 tahun ini harus kandas juga akhirnya. Belum lagi, aku harus melepaskan kesempatan untuk berangkat ke Slovenia dan Kroasia dengan jalur beasiswa. Kesempatan untuk bisa jadi moderator roadshow ASEAN GAMES 2018 di kota-kota Indonesia dan banyak kesempatan lainnya.

Sedih!
But, this is life. Sometimes we only need to accept about everything in the world for us.

Awalnya Bisa Kerja Company Lagi Gimana Ceritanya?


Doa itu emang sebaik-baik ucapan. Dan tolong, kalanian hati-hati dengan doa, umpatan dan semua keluhan kalian hahahaha. I can say this because this is the part of my dua anyway. Beberapa wakt terakhir sebelum akhirnya ngantor aku dapet klien macem-macem cukup banyak dengan tabiat dan karakter yang Masya Allah bener-bener bikin jantungan, ngelus dada dan istighfar banyak-banyak XD.

Jam kerja jadi berantakan (((emang aslinya udah berantakan sih))) tapi jadi makin berantakan. Terus bener-bener waktu tersita banyak, nggak tenang dan anything else, lah. Then, sering banget kayak ngomong lirih:

"ya Allah, aku capek jadi freelance. Pengen kerja di kantor yang gajinya tetap tiap bulan dan kliennya nggak model-model begini."
"ya Allah, kalau ada kantor agensi atau apa deh yang modelnya kayak agensi Jakarta tapi ada di Semarang asik kali yaa."
"Pengen deh kerjanya nggak sendirian, ada temennya, ada temen ngobrol, temen brainstorming, temen lah pokoknya. Kerjanya nggak di kafe sendirian, jalan-jalan sendirian terus."

Anndddd dooor!!!!!

Beneran kejadian dong :") terus akunya yang sedih! Wakakakaakaka. Ternyata manusia emang gitu ya, nggak bersyukurnya banyak! Padahal udah minta ini itu aneh-aneh dan dikabulin, tapi malah sedih. Sedangkan di luaran sana banyak yang tidak seberuntung aku yang alhamdulillah dikasih kesempatan lagi untuk belajar.

HAH BELAJAR?


Yup.. Pada akhirnya mengapa aku menerima tawaran untuk bisa bergabung dengan kantorku yang sekarang adalah karena aku ingin belajar. Tentang apa? Tentang banyak hal. Tentang sosialisasi, tentang digital marketing again pastinya, tentang society, tentang banyak hal yang nggak akan ada habisnya ilmu itu.

Sebab, kalau dari awal niatnya cuma uang, kerjaan pasti jadi setengah-setengah. That's why aku selalu bilang ke diriku sendiri bahwa di manapun aku harus belajar dan dapat sesuatu dari sana alias nggak cuman buang-buang waktu aja dan doing nothing. Duuh, it's not meee XD. Aku dengan curiousity yang bikin orang sering kesel ini paling nggak bisa kalau nggak nanya sesuatu apalagi kalau hal itu baru banget buat aku. Bisa sampe mumpluk nanyanya hahaha

In the end, i would like to said that being a freelancer or full times, both are have the plus and minus. Semuanya tergantung kita banget mau ambil dari perspektif yang mana. Baik buruknya porsinya sama. Tinggal porsi bersyukurnya. Bisa nggak kita jadi orang bersyukur? Dalam hal ini aku -- kadang buat bisa bersyukur itu ada aja godaannya. Padahal, banyak yang pengen bisa dapat posisiku, tapi akunya suka leda-lede bersyukurnya. Astagfirullah :")

And how lucky I am bisa bergabung ke dalam company yang menyenangkan, mulai dari sistem kerja, teman-teman, jam kerja, ambiance dan banyak hal lain yang semenyenangkan itu.

So, it's okay to come back to be a full timer again asalkan jangan sampai lupa bersyukur karena:

Hidup yang kita jalani adalah hidup yang orang lain inginkan.

Jadi, Apakah Sebuah Kemunduran Bagiku dari Menjadi Freelancer dan Kembali Menjadi Full Timer di Kantor?


ABSOLUTELY NO kalau buat aku.


Tidak ada salahnya untuk kembali ke perusahaan, untuk belajar, untuk mengaplikasikan ilmu, untuk kembali mencoba hal baru -- belajar tentang bagaimana caranya berinteraksi, belajar tentang bagaimana caranya bekerja bersama tim, belajar tentang hal teknis dengan case-case baru lagi tentu saja.

Yaaa meskipun tidak ada lagi bangun siang, bobo siang, tidur kapanpun, lembur kapanpun, libur kapanpun, jalan-jalan kapanpun, Tidak akan adalagi nonton drama korea sampe lupa waktu, tidak akan ada lagi ngopi semaunya, tidak akan ada lagi mblayang semaunya. Tidak akan ada lagi cerita enak jadi freelancer wkwkwkw.

Nggak deeeeng nggak gitu banget juga. Kerja juga masih bis amain, masih bisa nongkrong, masih bisa ngelakuin hal menyenangkan lainnya, kok HEHEHEHEHEHE asal pinter manage waktu aja :)))

Salam,
Freelancer yang akhirnya jadi anak kantoran (lagi)

Selasa, 03 Juli 2018

Wajah Baru Bandara Ahmad Yani Semarang

"Horeeeee akhirnya bisa ke Bali dari Semarang, nggak perlu jauh-jauh ke kota lain buat bisa terbang ke Bali, yay!"


Tahu bandara Ahmad Yani Semarang punya wajah baru, aku kegirangan bak anak kecil yang dibelikan mainan lego oleh mamanya. Dan polosnya, aku seneng hanya karena akhirnya bisa ke Bali dari Semarang, kota kelahiranku tanpa harus jauh-jauh ke kota orang, seperti Solo, Surabaya atau Jakarta.



Yep, meski termasuk ibukota, Semarang punya bandara internasional yang tergolong sempit. Tapi, sejak 7 Juni 2018 lalu, bye-bye bandara lama dan selamat datang bandara Ahmad Yani yang baru. I'm so happy being a citizen of Semarang after all of this hahah nggak deng, sejak dulu bangga, kok. Cuma dulu masih gemas kenapa kalau ke Bali harus transit dulu. Kalau sekarang ihiiww bisa banget deh ke Bali lewat Semarang. Jadi hemat ongkos, hemat tenaga dan hemat waktu juga tentunya. Alhamdulillah, punya pemerintah yang keren dan mendengarkan rakyat sepertiku hahahaha.

Luas Bandara Ahmad Yani Baru 9 Kali Lebih Besar




U guys must amaze with this truth that luas bandara Ahmad Yani yang baru 9 kali lebih besar jika dibandingkan dengan bandara baru. Kebayang nggak sih betapa luasnya? Hihi. Bahkan dari gate tiket hingga ke lobi aja butuh sekian kilometer. Nggak mungkin jalan kaki pokoknya. Dulu mah kalau pas mau pulang dari bandara bisa jalan kaki ke gate depan karena nggak terlalu jauh. Nah, kalau sekarang siap pegel aja kalau mau ngelakuin hal yang sama hihi.

Bangunan terminal baru Bandara Ahmad Yani memiliki luas 58.652 meter persegi, serta apron baru yang mampu menampung 12 pesawat. Selain itu, terminal ini dilengkapi dengan 30 konter check-in, 8 eskalator, 8 elevator, 2 travelator, serta 3 buah garbarata. Tersedia pula gedung parkir yang mampu menampung 1.200 kendaraan. 
(from press release Bandara Ahmad Yani Baru)

Bandara Ahmad Yani Menjadi Bandara Apung Pertama di Indonesia dengan Konsep Eco-Airport




Meski sempat mendapatkan cemoohan karena notabene-nya bandara lama Ahmad Yani adalah bandara internasional dengan fasilitas kurang memadai, kini tidak akan ada lagi komentar semacam itu. Pasalnya, bandara Ahmad Yani baru kini menjadi bandara apung pertama di Indonesia.

Desain terminal baru Bandara Ahmad Yani mengadopsi konsep eco-airport, di mana bandara direncanakan, dikembangkan, dan dioperasikan dengan tujuan menciptakan sarana dan prasarana perhubungan yang ramah lingkungan serta berkontribusi positif kepada lingkungan hidup.

Bangunan terminal sebagian besar berdiri di atas air dan dikelilingi kolam, mulai dari gedung terminal, gedung parkir, dan wetland park area. Hal ini dimaksudkan untuk mengakomodir konteks lahan yang sebelumnya merupakan lahan rawa. Pada area bandara juga ditanami 24 ribu bibit mangrove untuk medukung pelestarian lingkungan yang dapat menghadirkan banyak keistimewaan.

Bandara Ahmad Yani Didesain dengan Konsep Minimalis Modern


Tahu apa yang paling aku suka dari bandara baru Ahmad Yani Semarang? Ya enggaklah, ya lha wong aku belum bilang! Hahahaha. Ada yang aku suka banget dari bandara Semarang yang baru ini. Konsepnya itu modern, minimalis dan uuuuu bersih abiissssss. Dari gerbang masuk aja, udah gagah banget tampilan bandara Ahmad Yani yang baru. Dan pas masuk di hall awal, gedung minimalis udah berdiri kokoh dan konsepnya aduhai banget bikin betah foto-foto gitu deh.



Dan kecenya lagi, sedari gerbang masuk sampai di lobi tunggu tuh ya kecenya abis-abisan. Spot foto banyak! Ada banyak fasilitas yang di bandara lama nggak ada dan di bandara baru ada semua mua muanya!!!

Ada restoran yang terjajar rapi, ada eskalator untuk menuju ruang tunggu dan ruang check in, ada gazeboo yang cakepnya ampuuunn cakep gilak!! Ada musola, ada toilet yang bersih banget, ada playground anak-anak ada komputer untuk browsing sambil nungguin flight di bandara, bahkan nih ya ada garansi untuk bagasi yang rusak alias luggage claim uuuuuuuuuulala ini baru banget sik!


Pokoknya bisa dibilang membanggakan lah bandara Ahmad Yani Semarang yang baru ini. Dan gegara saking bagusnya, kuingin langsung beli tiket ke Bali tapi nggak punya duit wkwkkw. Kesel banget gasik pengen jalan tapi belum ada duit padahal bandara udah bagus. Waaaaaaa nabung nabung nabung biar bisa ke Bali segera ihiw!!!

Kalo kalian liat bandara baru juga pengen bali tiket dan pengen terbang segera gitu gasi? Apa aku doang yang norak? XD

Senin, 02 Juli 2018

Merencanakan Liburan yang Tak Berakhir Jadi Wacana

"Empat setengah jam bukan waktu yang singkat, bukan waktu yang lama pula untuk menghabiskan waktu di dalam kereta dalam perjalanan menuju Semarang-Purwokerto."



29/6 -- Pagiku kali ini cukup berbeda. Ada rasa bahagia yang membuncah luar biasa ketika pada akhirnya aku bisa kembali menyusuri rel kereta, melihat hamparan sawah hijau yang membentang dari ujung ke ujung menghiasi balik kaca jendelaku. Birunya awan pun menjadi pemanis pemandangan selama aku duduk di kereta kursi 2-2 yang cukup sepi.

Ini adalah perjalanan pertama dan terjauh setelah berbulan-bulan lamanya aku vakum dari dunia nomaden yang suka pindah dari satu kota ke kota lain. Ada banyak sebab yang menjadikan seorang aku menjadi betah di rumah, tidak seperti biasanya yang melalang buana setidaknya setiap satu bulan sekali. Biasa melakukan perjalanan dengan frekuensi tak terhitung setiap bulan membuatku memiliki julukan sebagai kutu loncat. Ya, kutu loncat - julukan untukku yang bisa berpindah tempat dalam waktu yang singkat. Kalau kata temanku sih, semacam belut tetapi bisa lompat -- ngaaahh terserah kalian aja ~


Aku menyukai setiap detik perjalanan yang aku rasakan. Meski sering tak punya tujuan, aku selalu bisa melakukan apapun. Meski hanya dengan duduk menikmati lalu lalang kendaraan bermotor, menyeruput kopi hangat yang kupesan dan berbincang dengan barista yang baru saja kukenal, atau sekadar menikmati gemericik air mengalir dari sungai atau pantai di kala sore sembari menanti senja tiba.


Bagiku, semuanya selalu punya kesan yang tak ternilai harganya. Dan pengalaman inilah yang membuatku selalu ingin dan terus mengeksplorasi seluruh pelosok negeri hingga ke luar negeri dengan cara apapun.

Perjalanan Membuatku  Belajar Menjadi Pribadi yang Tangguh


To push the limit ~
Aku suka menantang diriku sendiri untuk bisa hidup berpindah-pindah dalam berbagai kondisi yang belum pernah aku temui. Dulu, ketika di Lampung, aku harus memaksa diriku yang tidak bisa berenang untuk berani snorkeling melihat indahnya ikan dori dan nemo yang tidak akan kujumpai sekalipun daratan. Ketika di Ijen, aku juga memaksa diriku untuk bisa sampai ke lokasi blue fire dengan melakukan pendakian maksimal 3 jam.

Tidak hanya itu, ketika aku harus merasakan kakiku mengalami mati rasa saat melakukan pendakian di Gunung Merapi, aku harus bisa bernegosiasi dengan diriku sendiri untuk bisa tetap sehat dan sampai di puncak bersama-sama dengan teman seperjuangan. Sebab, menyerah dan membuat teman-teman perjalananku berhenti hanya karena aku adalah cara yang egois dan jahat. Hahahah, sesederhana aku yang tak suka dibuat kecewa ketika melakukan perjalanan. Maka aku berusaha untuk tidak mengecewakan teman-teman yang juga mendambakan indahnya sunrise di ketinggian Merapi.

Tapi, semua orang tahu -- aku dan kalian juga pasti paham betul bahwa jauh dekat jarak dan baik buruk konsekuensi dari perjalanan, hingga teman-teman yang mengiringi perjalanan akan selalu menjadi bumbu yang akhirnya membuat perjalanan selalu  memberi kesan.
Terlepas dari apapun kesan yang didapatkan, tetap saja perjalanan selalu membawaku lebih jauh, menjadikanku seorang pribadi yang lebih terbuka dengan dunia sekitar dan tentu saja lebih bersyukur sebab bisa diberi kesempatan untuk bisa menikmati alam yang sedari dulu hanya bisa aku dambakan.

Aku punya cara cukup unik untuk bisa terus melakukan perjalanan dan membuat teman-temanku menganggap bahwa hidupku hanya soal jalan-jalan dan tak pernah pusing memikirkan soal kerjaan. Yhaa orang lain akan selalu menganggap rumput tetangga lebih hijau, bukan? Padahal, ada banyak cara yang sering aku lakukan untuk bisa terus berjalan-jalan menjadi gadis petualang ala-ala.

Bertualang Itu Murah, Kok! Aku Bisa Membuktikannya!


Sudah dianggap hidupnya cuma tentang jalan-jalan doang, aku juga sering dibilang suka buang-buang uang karena sering melakukan perjalanan. Padahal nih ya, aku adalah iriters dan peliters yang perhitungan banget kalau ngomongin soal uang dan jajan. Iya nih, uang dan jajan lagi musuhan makanya dipisah biar nggak berantem. Euuuuu receh~ seterah Septi deh yaaa...... XD

Meskipun aku adalah tim jalan dadakan alias tanpa itinerary, tetapi aku harus memastikan setiap ada kesempatan aku harus menuju ke suatu tempat. Untuk apalagi kalau bukan buat stress relief. Iya, sebelum terlambat, aku selalu mengantisipasi stress bisa muncul kapanpun -- entah karena pekerjaan, karena urusan teman, karena urusan rumah atau urusan-urusan lain yang bikin pusing tujuh keliling.

Jauh-jauh hari sebelum postingan di media sosialku bertebaran, aku sudah mempersiapkan tanggal dan segala keperluan yang kubutuhkan untuk bisa jalan-jalan. Even I am not so well prepared, at least aku sudah harus dapat tanggal dan siap-siap budget yang akan dikeluarkan saat jalan-jalan. Nggak traveller banget sih, tetapi aku punya tips untuk kalian yang ingin bertualang alias jalan-jalan dengan budget murah.


Siapkan Tanggal Cuti

Kenapa tanggal cuti? Karena weekend terlalu mainstream untuk dibuat jalan-jalan. Bagiku, jalan-jalan saat weekend atau pas tanggal merah itu kurang greget. Saran, kalau memang mau jalan-jalan dan benar-benar cari momen, siapkan tanggal cuti baik-baik. Simple-nya begini, jalan-jalan itu kan untuk melepaskan diri dari stress, kebayang kan kalau jalan-jalannya justru pas weekend atau tanggal merah? Dijamin bukannya lepas dari stress yang ada malah tambah stress hahahahaha.

Beli Tiket dan Range Budget Jauh-jauh Hari


Percaya nggak percaya aku sudah siap-siap jalan sejak 3 bulan sebelum hari keberangkatan tiba. Yes, misalkan aku mau jalan bulan Juni, aku sudah harus prepare at least bulan April. Selain untuk cari cuti, aku harus range budget dan beli tiket jauh-jauh hari. Termasuk pesan penginapan, dll. Kalau mepet-mepet konsekuensinya nggak cuma bengkak biaya, tetapi bisa kehabisan tiket murah dan penginapan murah.

Kalian tahu nggak sih pesan penginapan mepet hari H itu bikin harga jadi mahal? Jadi ya, mending pesan jauh-jauh hari aja dan ingat! Cari diskon sebelum pesan! Ehehehe it is a must kalau buat aku. Anti bengkak-bengkak biaya club lah pokoknya kalau jalan sama aku XD.

Gabung Sama Komunitas Backpacker


Punya banyak teman dan banyak kenalan itu kasih manfaat yang super banyak, lho. Selain bisa jadi tempat tuker pengalaman, kalian bisa saling sharing lokasi mana yang bisa dijangkau dengan budget terbatas. Kalau aku gabung di salah satu komunitas backpacker gitu, jadi di grup biasanya banyak informasi jalan dengan budget terbatas. Say no to bengkak-bengkak biaya deh! Nggak akan ada lagi drama bengkak biaya karena jalan jauh dan terus menerus. Cobain aja! :)

Ikut Open Trip


Nah, solusi lain untuk teman-teman yang mau jalan murah, tapi nggak mau ribet nggak mau bikin itinerary sendiri adalah dengan ikutan open trip. Pengalaman yang sudah-sudah, ikutan open trip tu enak banget. Semuanya sudah dibantu oleh penyelenggara. Jadi sistemnya ikut open trip itu kira-kira begini:

Pilih destinasi yang aku inginkan -- Input tanggal keberangkatan -- Input berapa orang yang akan berangkat -- Selesaikan booking -- Bayar, deh!
Salah satu situs open trip yang aku rekomendasikan untuk kalian adalah Vizitrip. Kenapa? Sebab di sini kalian bisa mewujudkan liburan hemat dan menyenangkan karena dengan Vizitrip, Liburan Jadi Mudah. Good bye deh sama teman-teman perjalanan yang udah rencanain jauh-jauh hari tapi mendadak cancel di hari H. Daripada kesel, mendingan kalian Trip Bareng Vizitrip.

Destinasinya nggak cuma banyak, kalian pun bisa jalan kapanpun kalian mau. Mau ke Bali, ke Gili Ketapang, ke Bromo, ke Kawah Ijen, atau ke manapun kapanpun bisa banget pakai Vizitrip. Mau berbanyak atau privta trip cuma berdua, bisaaaa banget!!!! Seru lah pokoknya. Udah nggak repot juga, semuanya sudah diorganisir dengan baik oleh panitia. Liburanmu pasti akan semakin menyenangkan :)

Bawa Logistik Sendiri Supaya Hemat


Beruntungnya menjadi aku adalah aku tipe orang yang nggak suka makan banyak terutama makanan-makanan berat. Yups, aku ini paling susah diajak kulineran tiap kali jalan-jalan. Nggak ngerti ya, tapi nggak laper aja gitu. Tapi kalau kalian juga kayak gini, tetep jaga kondisi dengan makan ya! Dan tips hemat dari aku biar biaya nggak bengkak adalah bawa logistik sendiri.

Aku biasanya masak dulu sebelum berangkat jalan ke suatu tempat. Aku masukin ke kertas nasi terus dibungkus atau dimasukin ke kotak makanan buat dibawa. Biar hemat aja gitu heheheh. Selain itu kalau laper selama perjalanan bisa tinggal makan aja wehehehe anaknya nggak mau rugi banget kan yak. Jadi pas teman-teman lain jajan, aku bisa hemat sekian ribu rupiah XD. Ini sepele tapi penting lho wakakakaka.

Jadi, Kapan Nih Mau NgeTrip?


Nggak cuma satu atau dua kali aku gagal jalan karena terlalu banyak rencana dan wacana di grup atau sama teman-teman yang pengen diajak jalan. Duh kalau udah gini kan kesel tuh, jadi aku lebih baik jalan sendiri sama mas atau sama temen yang bener-bener nggak kebanyakan wacana alias kalau emang ada rencana jalan ya beneran jalan. Thats why, as I say, Vizitrip bisa banget jadi teman perjalanan supaya liburan jadi mudah, teman-teman. Kalian pasti kalau liburan males ribet dan males bikin itinerary kan? Wes to, ngaku aja! Hahahha aku juga gitu soalnya XD.

Nah, jadi, tunggu apalagi? Gampang banget kan ternyata buat bisa jadi travel bloger ala ala yang hampir tiap hari posting keindahan alam Indonesia seolah mereka jalan-jalan terus. Padahal mah aslinya nggak gitu banget gaesss. Mereka itu juga ada waktu di rumah, istirahat dan leha-leha, kok! Pan mereka juga kerja ehehehe. Tapi, mereka pandai memenej waktu di media sosial dan membuat seluruh mata terpana akan kisah perjalanan mereka.

Aku sudah coba, dan it works! Aku selalu dikira gabut dan tiap hari jalan melulu karena rajin jalan-jalan. Padahal mah ya, kalau tiket kereta lebih dari 200ribu aku udah CORET CORET CORET! Hahahahha kantong cekak shay! Aku nggak mau bikin kantong cekak. Makanya aku pakai Vizitrip yang jelas tujuannya, harganya dan kenyamanannya. #LiburanJadiMudah, asyik dan seru tentu saja. Pengalaman? Jangan tanya. Pasti ada bahan cerita selepas pulang trip bareng Vizitrip. Buktiin aja sendiri. XD

Kalian kapan nih mau ajak aku ngetrip bareng Viztrip?