Minggu, 10 Maret 2019

Tentang Perjalanan yang Menemukan dan Ditemukan, Lalu Berlabuh dan Berjalan Beriringan

"Aku adalah tipe orang yang kalau diajak ke gunung hayuk, di ajak ke pantai juga hayuuuukkkk. Selama itu tentang perjalanan, aku akan bersedia melakukannya dengan senang hati."

Apalagi kalo dibayariiinnnn eeehhh hahahaha
tentang perjalanan


Ya, gimana, ya, anaknya memang se-enggak bisa diem itu. Diajakin jalan dikit, mau. Diajakin jalan bentar mau, diajakin jalan lama juga mau. Pokoknya kalau diajakin jalan aja dah pasti mau. Nggak mikir panjang emang anaknya. Bahkan nggak sekali dua kali malam ini pengen, besok paginya berangkat cuuusss tanpa mikir panjang. Gilaaaaa bener memang hahaha. Gampangan dasar! Hahahaha...

Tapi justru ini mungkin yang membuatku bisa sampai kemana-mana. Mungkin, kalau aku nggak berani nekat di awal saat itu, aku nggak akan kenal sama yang namanya Jakarta, Bogor, Bali, Belitung, Lampung, Banten, bahkan sampai Turki segala. Yaaassssss, kalau dibilang nekat, bisa dibilang aku cewek yang nggak punya udel kalau kata orang Jawa yang artinyaaaaaa nggak punya capek.

Saking seringnya jalan tanpa mikir, banyak yang bilang katanya aku gila. Bahkan, parahnya adalah beberapa menolak ajakan jalanku yang suka kayak tahu bulat alias dadakan seenak jidat. Akunya juga bingung, wong memang ngidam jalannya tiba-tiba ya masa harus ditunda ya, kan?
Wkwkwk alibi ae lu, Sep!


Aku nggak ingat betul apa yang melandasi diriku untuk melalang buana dan jadi kayak anak ilang. Yang aku ingat, dulu aku hanya kenal sekolah dan kantor. Pulang sekolah cuma ke kantor buat kerja bahkan di weekend sekalipun. Maklum, anaknya masih introvert dan takut ketemu sama orang asing. Insecurity masih sangat tinggi. Dan bisa dibilang aku nggak punya banyak teman sewaktu sekolah saking jarang bergaulnya.

Hingga tiba di suatu masa, sewaktu liburan semesteran, aku diajak oleh Nico dan Poci anak mapala yang juga temanku sekelas untuk naik gunung merbabu. "Ayo, ikut. Asyik pokoknya." Begitu kurang lebih katanya waktu itu. Karena aku lagi nggak ada tanggungan dan memang penasaran sama rasanya naik gunung, aku mengiyakan ajakan mereka kala itu. Resiko? Duh, nggak mikir sama sekali! Nekat aja udah berangkat gitu hehe jangan ditiru ya yang ini.

Ternyata, meskipun mengalami lelah yang luar biasa ketika mendaki gunung dan kejadian mistis yang menakutkan, aku justru ketagihan untuk naik gunung dan nggak merasa kapok sama sekali. Sampai-sampai, pas pengumuman kelulusan, aku diajak oleh Syahreza, kawan latihan bela diriku untuk ke gunung merapi padahal besoknya pengumuman kelulusan. Dan yaaaa Septi memang gila, bukannya nolak, tapi malah di-iyain gitu aja. Akhirnya, dengan persiapan suffeeerrrr meffeeetttt, kami berangkat keesokan harinya.

kamu tahu alasanku mendaki? sederhana sebenarnya. aku ingin kembali mengingatkan diriku untuk tidak mudah menyerah pada apa-apa yang membuat lelah dalam perjalanan. - lelah itu pasti, tapi itu tidak bisa kujadikan alasan untuk berhenti. sebab kala aku memutuskan untuk berhenti, mana bisa aku menikmati pemandangan seindah ini? - bukankan puncak akan lebih berarti ketika kita mengalami begitu banyak rintangan di jalan? coba kalau biasa aja -- jalannya datar, tanpa rintangan, tanpa hambatan -- pasti sampai puncak rasanya biasa aja. - tapi berbeda -- perjalanan mendaki adalah proses penaklukan ego diri yang mana aku harus bertempur -- mau lanjut atau berhenti? - aku harus merelakan banyak hal jika aku memutar balik langkahku untuk turun. tiada sunrise tiada negeri di atas awan tiada kenikmatan udara tanpa polusi tiada bahagia sebab mampu meraih titik tertinggi dan banyak hal menyenangkan lainnya tentu saja. - nah, kalau kamu nih, bagian mana yang paling menyenangkan dari mendaki?
Sebuah kiriman dibagikan oleh Dwi Septia (@septsepptt) pada

Sampai di gunung, terjadi lagi tragedi kaki kaku nggak bisa jalan saking karena lelahnya mendaki dan cuaca dingin yang menusuk tulang. Bahkan, aku sempat bilang udahan aja alias nyerah. "Aku tunggu di sini aja, kalian ke puncak aja. Aku nggak kuat." Weh! Udah bilang nggak kuat segala lho, saking beneran kaki nggak bisa gerak.


Sebuah kiriman dibagikan oleh Dwi Septia (@septsepptt) pada

Tapi memang aku salut sama teman-teman naik gunungku karena mereka juga yang membuatku percaya bahwa aku itu nggak papa. Pegelnya bakalan ilang kalau akunya juga bisa ngasih sugesti ke diriku sendiri bahwa aku baik-baik aja. Daaaannnn mereka memang punya prinsip "Puncak itu bonus, inti dari naik gunung adalah kebersamaan dan keselamatan anggota tim." Ah, terharu aku.


Singkat cerita, aku akhirnya mengucap mantra bismillahi tawakkaltu alallah, aku harus bisa dan nggak boleh kecewain teman-teman yang sudah membersamai perjuanganku. Alhamdulillah, mantranya bekerja sempurna. Meski harus tertatih dan tergopoh-gopoh, aku bisa sampai ke puncak dengan selamat. Menyaksikan indahnya sunrise di puncak gunung merapi dan memandangi indahnya cakrawala langit pagi itu dengan latar gunung merbabu, gunung ungaran, gunung andong, gunung sindoro dan gunung sumbing. Mau nangis rasanya kalau inget.

Perjalanan-perjalanan tersebut benar-benar membuat seorang Septi jadi gemar naik gunung dan melalang buana untuk menjelajah ke pelosok negeri dan mengenal dunia kerelawanan. Lagi-lagi hanya karena iseng, aku ikut dalam program kelas inspirasi untuk pertama kali. Memang hanya di Semarang, tapi pengalaman ini membuatku jadi kenal semakin banyak orang. Aku menjadi lebih percaya bahwa dunia tidak sekejam bayanganku di masa lalu -- bahwa dunia tidak sekejam omongan tetangga wkwkw.

Dunia yang awalnya kukira sesempit itu, kini terlihat begitu lebar karena semakin sering aku ikut kegiatan, entah mendaki gunung, menikmati ombak di lautan, atau ikut kelas kerelawanan, aku semakin menemukan diriku yang baru. Bukan lagi aku yang introvert, tetapi aku yang senang bergaul, aku yang katanya asyik diajakin nongkrong atau sekadar cerita haha hihi sama siapapun. Dan dunia bagiku kini tidak sesempit rumah dan kantor yang menjadi hari-hariku.



Aku tidak mengira bahwa ikut kegiatan kerelawanan akan seajaib ini. Kupikir aku hanya akan menemukan secuil bahagia, hingga ternyata aku menyadari ada begitu banyak yang kutemukan dalam dunia kecil bernama kelas inspirasi. Aku jadi mengenal Yogyakarta, Blora, Kudus, Surabaya, Semarang dan Klaten lebih dari sekadar kota besar dengan wisatanya yang membahana.

Aku tidak mengira bahwa perjalananku sebagai "anak ilang" berakhir setelah aku mengenal dunia kerelawanan. Aku yang biasanya tidak pernah percaya dengan cinta pada pandangan pertama, kini berubah seketika hanya karena kelas inspirasi. Dulu aku berpikir bahwa kepercayaan dan harapan itu tidak bisa dibangun hanya dengan satu kali dua tatapan saja. Aku harus tahu orang-orang di sekelilingku lebih dalam dari yang orang lain tahu sebelum aku berani mendeklarasikan bahwa aku memercayainya.

Tapi, semuanya berubah begitu saja ketika aku bertemu dengan salah satu teman relawanku dan ia mengenalkanku kepada sahabatnya semasa kuliah. Katanya, "ia beda." Dan aku hanya terkekeh mendengarnya tanpa berekspektasi apapun. Mungkin bak beli kucing dalam karung jatuh cinta pada pandangan pertama itu, semacam menjebak diri sendiri karena sok tahu bahwa dia yang terbaik. Tapi ternyata, tidak demikian adanya.

Sejak pertemuan malam itu, aku melihatnya dan mendengar suaranya untuk pertama kali secara langsung, tidak dari mulut temanku. Menariknya, aku tertarik hahahaha memang sepertinya aku dilarang sombong sampai hatiku dibolak-balikkan begitu saja seketika, pada malam itu. Ada harapan yang melambung dan harapan itu justru ingin mengajaknya berjalan beriringan bersamaku. Aiihhhhhhh

Nggak, aku nggak genit. Aku justru ingin menertawakan diriku sendiri ketika aku terlalu bersahabat dengan stasiun, bandara, dan terminal kala itu tiba-tiba menjadi ingin berhenti begitu saja. Bukan untuk berhenti berjalan, tetapi ingin dibersamai bersamanya melakukan perjalanan bersama.

Menarik. Kupikir takdir hanya akan mempertemukan kami sementara, namun ternyata tidak begitu adanya. Kami justru terikat dalam satu janji untuk selamanya. Untuk tidak memimpin dan tidak dipimpin, melainkan untuk berjalan bersama beriringan berdua. Sejak saat itulah, perjalananku menjadi semakin berwarna.

Aku tak lagi kenal dengan yang namanya jalan sendirian bak mbak-mbak hilang arah yang membawa kamera dan backpack-nya sendirian, tergopoh-gopoh di stasiun karena membawa terlalu banyak barang atau justru lemah dan tetap berusaha kuat karena terlalu lelah berdesakan dengan penumpang kereta lain yang berlomba-lomba ingin segera meletakkan barangnya. Bahkan tak jarang, aku tertidur di sudut stasiun karena tak ada teman bercakap di saat begitu banyak yang berjalan bersama tandemnya sedangkan aku hanya sendirian saja.



Ternyata, Tuhan mengejutkanku dengan kehadirannya. Kini perjalananku terasa begitu lengkap karenanya yang selalu ada dan bersedia membersamai langkahku yang kadang gontai dan tak tahu arah. Karenanya aku tak lagi merasa iri sebab penumpang di sebelahku bisa bersandar di bahu pasangannya. Pun tak perlu merasa kewalahan membawa banyak barang karenanya yang selalu siap membantuku membawakan backpack-ku dan menggandengku agar aku tak merasa sendirian lagi.

Kini, aku punya teman perjalanan sepanjang masa yang dengan hadirnya, aku berani mendeklarasikan kepada dunia bahwa aku tak takut untuk kemanapun. Asalkan bersamanya, perjalananku akan terasa berharga dan sempurna.

Tidak ada seribu langkah yang dimulai dari satu langkah
Sedari awal kebersamaan kami, mas sudah sadar betul bahwa aku anaknya memang nggak bisa diam di rumah. Aku terbiasa berjalan dan oleh sebab itu, ia bersedia berjalan mendampingi, dan ia menjadi pengingat terbaik ketika aku lepas kendali. Dan kami memulai perjalanan kami dari satu tempat ke tempat lain dengan teramat sangat menyenangkan. Bali, Majalengka, Cirebon, Nusa Penida, Surabaya, Yogyakarta, Bandung, Pati, Jepara dan Kudus pastinya. Dari yang hanya satu langkah berubah menjadi berkilometer jauhnya.



Kami pernah mendaki gunung bersama, menyusuri semak-semak untuk bisa menikmati debur ombak, hingga mendaki dengan medan yang sederhana untuk bisa sekadar melihat air terjun yang seolah turun dari langit di pagi itu. Kami punya banyak kenangan dan akan menciptakan kenangan manis lainnya. Sebab, kami langkah kami hari inilah yang akan membentuk kami di masa depan agar menjadi lebih baik sebab kami telah berdamai dengan alam tentu saja.

Kalau kalian mengira bahwa melakukan perjalananan berdua adalah soal asyik-asyikan aja, kalian salah! Ada begitu banyak yang rumpang, yang mendadak harus disesuaikan karena tidak lagi bisa sembarangan memutuskan. Ini soal biaya, ini soal dana perjalanan yang tiba-tiba membengkak.

Kalau aku biasanya setiap kali melakukan perjalanan menjadi sok kenal dengan teman-teman relawan agar bisa menginap kapan saja dan gratis, kini semua itu tidak bisa terjadi lagi fergusoooo. Aku harus menghitung dana menginap karena aku tidak lagi sendiri, melainkan sudah berdua. Sebagai pasangan yang baik, aku harus memastikan bahwa kebutuhan travelling kami berdua aman dan terkendali. Dan hotel, yang semula tidak pernah terpikirkan untuk dipesan, kini jadi hal utama sebelum kami sampai ke kota tujuan.


Nggak munafik, nggak mau sok-sokan kaya dan bilang aku nginep di hotel bintang lima karena memang kenyataannya aku nggak seperti itu. Tapi aku cukup bangga karena menemukan hotel sederhana dengan fasilitas yang nggak kalah untuk disandingkan dengan hotel mewah yang fasilitasnya wah!


Pertama kali nyobain RedDoorz sama mas itu sewaktu kami ada di Yogyakarta. Dan sama sekali nggak bayangin kalau hotel dengan harga cuma 99ribu punya fasilitas sekeren itu. Bayangin dong, linennya bersih paraaaahhhh, kamar mandinya pun bersiihh, perlengkapan mandi rapi dan lengkap ada tasnya lucu gituuuu, ada TVnya seperti kamar hotel pada umumnya, disediakan air mineral dan kecenya lagi Wi-Finya kenceeeeenggggg. Yhaaaa sebagai anak milenial zaman sekarang kami begitu merasa diistimewakan karena menginap di RedDoorz.



Karena kebutuhan kami menginap adalah untuk istirahat dari lelahnya melakukan perjalanan, maka bisa kami bilang RedDoorz adalah pilihan yang tepat bagi kami. Apalagi dari semasa jalan sendirian aku ini anaknya low budget banget alias teramat sangat perhitungan sampai detail terkecil. Kalau RedDoorz berani kasih harga murah dan fasilitah mewah, kenapa harus mikir buat nginep di sini? Iya, nggak?



Beberapa kali menginap di RedDoorz, akhirnya aku menemukan cara yang cukup super untuk memilih kamar RedDoorz yang bagus dan nyaman untuk menginap. Sederhana, tapi kamu bisa juga cobain caranya berikut ini!


Gampang banget, kan? Cara ini ampuh untuk mengatasi tipe-tipe pejalan yang suka pulang mepet-mepet waktu kayak aku. Yang mageeeerrrr banget buat nunggu di stasiun, bandara dan terminal lama-lama dan lebih suka eksplorasi alam lebih lama dan baru pulang mepet-mepet, tetapi langsung dapat tempat duduk alias nggak nunggu di waiting room. Meski hal ini beresiko besar, tapi aku yakin teman-teman nggak mau kehilangan waktu semasa jalan-jalan, kan? Hayooo ngaku aja!!



Dulu awal mula menginap di RedDoorz nggak kebayang kalau hotel di RedDoorz bakalan ngasih cashback berupa RedCash. Apa itu RedCash? Jadi,  setiap kali menginap di RedDoorz, kita akan dapat cashback berupa saldo deposit di akun kita yang bisa dipakai untuk menginap selanjutnya. Jadi lebih muraaaaahhhh alias nggak perlu khawatir bakalan bengkak budgetnya! Hahahaha dasar perhitungan!

Belum lagi nih, RedDoorz punya DISKON GEDE-GEDEAN yang bisa didapatkan setiap minggunya. Bahkan, untuk yang baru daftar, RedDoorz langsung kasih Rp.100.000,- dan menyenangkannya lagi, kita bisa pakai kode promo NEW20 untuk dapat 20% OFF yang bisa dipakai untuk pemesanan hotel pertama. Gilaaaakkk nggak tuuhhhh?! Jangan khawatir, promonya bukan cuma itu, kita masih bisa main SPIN and WIN dan dapat EARLY BOOKING OFFER lainnya kayak dapetin diskon 25% OFF setiap hari Selasa. Uuuuuuhhh ngiler nggak loh!


Thanks to RedDoorz karena bisa membuatku seakan menjadi Sultan yang kaya raya dan nggak takut keabisan duit wkwkwk. Tiap kali ketahuan jalan sama teman-teman, mereka selalu bilang "Gilaaa ini anak duitnya nggak ada serinya.." "Ini bocah jalan mulu duitnya nggak abis-abis kayaknya..." Dan aku cuma bisa mengaminkan dan meng-wkwkwk-an aja. Mereka nggak tahu aja kan kalau aku ketolong banget sama adanya RedDoorz yang nawarin begitu banyak promo menarik dengan fasilitas yang juga waaah banget.

Jadi sekarang tahu kan rahasia Septi bisa jalan-jalan melalang ke satu kota ke kota lain seolah-olah banyak duit? Nginepnya di RedDoorz shay! Cukup buat istirahat berduaan sama mas dan kalau mau sama teman malah bisa bagi 2. Pilih yang 99ribu, terus dibagi 2! Hahaha seorang cuma bayar 49.5ribu ajaaaa alias 50ribu aja sisaaaaaaaa. Masa iya sih masih perhitungan buat bayar hotel segini murahnya? Keterlaluan itu mah wkwkwk.

Udah, buruan download aplikasinya sekarang, deh! Sudah ada di Android dan iOS, kok! Kalau males download ya buka aja di www.reddoorz.com. Tapi yakin deh kalian bakalan nyesel karena banyak promo yang bisa didapet di aplikasi smartphone daripada di websitenya hihi. Aku aja awalnya mals download, tapi gara-gara banyak promo, akhirnya ngiler juga wkwkwk.

Udah, daripada kalian masih nggak percaya, gih download aplikasi RedDoorz dan rasakan sendiri rasanya jadi Sultan yang bisa jalan-jalan loncat sana loncat sini tanpa takut duitnya abis gitu aja :)


Berkat RedDoorz, kini impian bisa jalan-jalan keliling Indonesia sama suami bukan lagi mimpi karena sama mas aku bisa kemana saja dengan budget yang bisa ditekan karena menginap di RedDoorz. Travelling dengan budget bengkak? Nggak lagi-lagi, deh karena RedDoorz adalah pilihan yang tepat untuk teman-teman yang ingin keliling Indonesia, tapi khawatir dengan budget menginap yang membengkak.

Sekarang, aku bisa mewujudkan list jalan-jalan impian yang sudah kusimpan sejak sekian lama dan ingin kuwujudkan bersama suamiku! :)



Sekarang, aku dan mas menyatakan siap untuk keliling Indonesia untuk melakukan eksplorasi lebih luas sampai ke pelosok negeri bersama RedDoorz. Doakan terwujud, ya!! :)

Salam,

0 comentários:

Posting Komentar

Halo!

Terima kasih telah membaca blog www.dwiseptia.com. Semoga konten yang ada di blog ini bisa menginspirasi. Doakan saya bisa produksi konten yang lebih baik, ya!
Oh, ya kalau ada rekues konten silakan tulis di kolom komentar, ya! ^^