From Waste to Table: Bijak Mengelola Sampah Mulai Dari Rumah

Rasanya miris sekali membaca begitu banyak berita yang menceritakan tentang betapa menyedihkannya kondisi sampah di Indonesia. Lebih-lebih, pelaku menumpuknya sampah di Indonesia melibatkan seluruh lapisan masyarakat mulai dari sampah rumah tangga, sampah kantor dan perusahaan, sampah industri dan berbagai sektor lainnya yang seolah tidak memberikan celah bagi para tukang bersih-bersih sampah untuk bernapas lega saat mengangkut sampah setiap hari.

Belum lagi, tumpukan sampah organik dan anorganik yang tengah bercampur dan sudah tak lagi bisa dipisahkan. Karena konon meskipun sampah tersebut organik, jika sudah terlanjur tercampur dengan sampah anorganik justru bisa menjadikan sampah tersebut berubah menjadi sampah dengan kandungan gas metana yang membuat bumi yang kita tempati menjadi semakin panas.

infografis Indonesia darurat sampah plastik source: Indonesia Baik

infografis sampah plastik dalam Angka Indonesia source: Samudra News

Yang lebih menyedihkan, sampah yang berlebihan menumpuk bisa mengakibatkan banyak hal, seperti polusi laut, polusi tanah dan polusi udara. Alih-alih marah, aku justru kecewa dan sedih terhadap diriku sendiri yang hingga saat ini tak bisa banyak berkontribusi untuk ibu bumi yang selalu baik terhadapku dan keluargaku. Bagaimana tidak? Masih sulit rasanya untuk tidak jajan di luar dengan kemasan sekali pakai yang justru menambah tumpukan-tumpukan sampah menjadi menggunung. Belum lagi, sampah sisa masak yang tak kubereskan dan kupisahkan antara organik dan anorganik karena alasan klasik manusia kebanyakan. Ya, aku seperti tak sempat. Padahal, kalau menyempatkan, aku rasa aku bisa saja memisahkannya. Tapi itu semua hanya alasanku saja, bukan? Maafkan aku, Ibu Bumi.

Mengenal Polusi Akibat Sampah

Sampah-sampah yang ada di sekitaran kita dan kita biarkan menumpuk akan menimbulkan polusi baik jangka pendek maupun jangka panjang yang tidak hanya membahayakan lingkungan, namun juga akan membahayakan kesehatan manusia. Polusi akibat sampah sendiri terbagi menjadi 3, yakni polusi laut, polusi udara dan polusi tanah.

Polusi Laut

Sampah yang terbawa hingga ke lautan bisa membahayakan binatang yang hidup disana. Hewan tidak memiliki alat gerak dan akal seperti manusia sehingga jika terjebak, ia tidak akan bisa melepaskan diri. Banyak hewan yang lehernya terjerat kantong plastic atau tali dan tak bisa melepaskan dirinya.

Kondisi hewan laut di Indonesia yang untuk makan saja harus bertarung dengan sampah

Infografis 6kg sampah dalam perut paus sperma di Wakatobi. Source: Kompas

Polusi Udara

Pembakaran bahan bakar fosil seperti bensin menghasilkan banyak karbon dioksida. Penggunaan pendingin menghasilkan gas CFC, dan tumpukan sampah menghasilkan gas metana. Ketiga gas tersebut termasuk dalam gas rumah kaca. Gas tersebut membentuk lapisan di atmosfer bagaikan rumah kaca, memerangkap panas dan memantul kannya sehingga merusak lapisan ozon.

Polusi Tanah

Sampah di TPU/TPA akan terus menumpuk dan mencemari tanah sekitarnya. Sampah ini akan mengeluarkan zat berbahaya yang membuat tidak ada tumbuhan dapat tumbuh disekitarnya. Daerah dengan sampah yang menumpuk cendurung kotor, gersang, dan menjadi sumber penyakit.

Selain itu, sampah yang menumpuk juga memiliki dampak buruk bagi kehidupan manusia. Pada sampah yang menumpuk dan membusuk, terdapat banyak penyakit dari bakteri dan virus seperti diare, tifus, disentri, jamur, kolera, dan berbagai macam penyakit kulit. Naudzubillah min dzalik, ngeri banget, ya :"

Setahun Terakhir yang Mengubah Hidup Keluarga Kami

Di tengah-tengah kegalauan tentang sampah terutama sampah rumah tangga kami yang menggunung, setahun terakhir kami menemukan ada begitu banyak manusia yang cinta dengan lingkungan alih-alih tak acuh dengan kondisi bumi yang kian memburuk. Sebut saja @mamariberkebun, @kebunkumara, @tumbuh.garden, @ayo.nandur, @diandariskia, @pekarangan.rinati, @021suarasampah, @kebun.nyempil, @sitapujianto dan masih banyak lagi akun-akun menginspirasi lainnya.

Mereka mengajarkan kami step by step dan istilah-istilah berkebun yang sangat awam bagi kami hingga akhirnya kami membuat kebun kami sendiri yang kami beri nama @kebunkhaula (Khaula adalah nama anak kami). Mereka menunjukkan kepada kami betapa menyenangkannya berkebun dan makan dari hasil kebun sendiri. Jika kita semua bisa swasembada pangan dari kebun sendiri, tentu bisa mengurangi jejak karbon secara signifikan, sehingga sedikit banyak bumi kita akan tertolong dan tidak cepat rusak.

Belum lagi, berkebun menjadikan kita semua menjadi bisa lebih bersyukur atas apa yang kita punya dari rumah. Meski sederhana, makan dari panenan hasil kebun membuat kita semua menjadi manusia yang pandai dan kreatif.

Mereka juga tak sungkan untuk memisahkan sampah rumah tangga mereka agar bisa terurai dengan baik hingga bisa digunakan kembali untuk bisa masuk ke dapur. Betul, dari mereka-mereka inilah aku dan suamiku belajar bahwa apa-apa yang ada di dapur bisa kembali ke dapur tanpa harus menyisakan sampah dan membuang mereka. Lebih-lebih lagi, mereka mengajarkan kami bagaimana cara mengolah bahan-bahan yang ada di dapur untuk bisa dimaksimalkan sebelum akhirnya masuk ke tong kompos  dan dibuang secara percuma begitu saja.

Beberapa hal penting yang kami pelajari dari mereka antara lain adalah kebiasaan baik mengompos, swasembada pangan melalui berkebun, memperpanjang umur sampah sebelum masuk ke TPA, hingga istilah garden to table untuk mengurangi jejak karbon agar tidak membebani Ibu Bumi.


Melalui juga mengajari kami hal awam seperti cara mengolah kulit nanas menjadi tepache, kulit wortel menjadi keripik, kulit bawang menjadi kaldu atau menjadi pembasmi hami alami di kebun, kulit telur menjadi pupuk, air rendaman kulit pisang menjadi fertilizer yang bermanfaat, kulit bawang untuk pembasmi hama dan pupuk alami kebun, kulit buah untuk eco enzyme yang kaya manfaat hingga pengolahan sisa makanan lain yang sangat bermanfaat untuk kami. Jadilah sampah-sampah di dapur kami bisa melalui proses pemaksimalan usia sampah sebelum pada akhirnya berakhir di bak kompos atau masuk ke tempat daur ulang (untuk sampah anorganik).

Kemana Sampah Plastik atau Anorganik dari Dapur Rumah Tangga Kami?

Tidak bisa dipungkiri, kebiasaan jajan di luar yang belum bisa kami stop membuat kami mau tidak mau masih menjadi kontributor sampah tetap kepada Ibu Bumi. Meski malu untuk mengakuinya, tapi benar memang seperti itu faktanya. Namun, sebagai bentuk tanggung jawab dari kami, kami tidak serta merta membuang sampah yang tidak bisa kami daur ulang dengan masuk ke bak kompos. Melainkan, kami mengumpulkan sampah kami untuk pada akhirnya kami sumbangkan ke salah satu komunitas peduli sampah lingkungan di Kudus, kota tinggal kami yakni ke komunitas Kresek Kudus.

Saya bersyukur mengenal komunitas peduli sampah dan lingkungan, seperti kresek kudus, sampah muda Semarang yang kini resmi bergabung dengan waste4change ada di hidup saya. Karena melalaui merekalah, sampah dari orang-orang seperti kami yang sepenuhnya belum bisa bertanggung jawab atas sampah sekali pakai, sampah plastik, sampah anorganik lainnya bisa terolah dengan baik, melalui program recycle yang mereka kelola. Dan tentu saja hal ini membuat Ibu Bumi lebih terawat dan terjaga kelestariannya hingga bisa dinikmati oleh anak cucu kita nanti tanpa worry.

Meskipun demikian, kita nggak boleh bergantung sama mereka dan malah memproduksi sampah lebih banyak lagi, ya. Karena bagaimanapun sampah kita adalah tanggung jawab kita.

Mengenal Komunitas Waste4Change Lebih Dekat

Waste4Change adalah kewirausahaan sosial yang memberikan solusi terhadap permasalahan sampah, dengan prinsip perubahan perilaku dan pengelolaan sampah yang bertanggung jawab dengan misi untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang bertanggung jawab atas sampahnya. Empat inti usaha Waste4Change antara lain consult, campaign, collect, dan create.

Mereka memiliki program yang disiapkan untuk perusahaan dan individu. Tapi, karena di sini aku beritndak sebagai individu, maka aku akan bahas dari program individunya saja, ya. Jadi, 2 program keren untuk skala individu, yakni program Recycle With Us yaitu untuk memudahkan kita melakukan daur ulang sampah anorganik secara bertangung jawab agar tidak berakhir di TPA atau laut begitu saja. Beberapa program daur ulang aku coba rangkum dalam infografis sederhana di bawah ini dari webnya waster4change langsung, ya!


Program kedua, yakni Personal Waste Management adalah layanan pengangkutan sampah anorganik langsung dari rumah klien. Jadi, untuk teman-teman yang memiliki sampah anorganik kertas (HVS, Karton, Kardus) dan non-kertas (plastik, kaca, logam, sachet, karet dan tekstil) bisa menghubungi Waste4Change untuk bisa diangkut sampahnya. Teman-teman juga bisa memilih sendiri layanan pengangkutan sampah Personal Waste Management yang ingin dipilih. Mereka menyediakan paket 3 bulan, 6 bulan dan 12 bulan. Pun teman-teman bisa mengatur jadwal pengangkutan sampah sendiri, apakah 1 atau 2 minggu sekali.




Dengan ikut program Personal Waste Management, teman-teman akan mendapatkan pengangkutan sampah setiap minggu dalam kondisi terpilah, 2 recycled trash bag, laporan timbulan sampah yang dihasilkan, dan panduan tata cara pemilahan sampah.


Nah, biaya yang teman-teman bayarkan nanti akan digunakan waste4change untuk meningkatkan kesejahteraan mitra pengelola sampah mereka. Jadi tenang, untungnya bukan semata-mata buat Waste4Change, kok. Lagian, ini semua demi Ibu Bumi, bukan?

Selain itu, teman-teman juga akan mendapatkan benefit jika ikutan program personal waste management in, seperti:
  1. 100% pemilihan sampah anorganik
  2. mengurangi timbulan sampah yang berakhir di TPA
  3. meningkatkan tingkat daur ulang sampah
  4. memperpanjang usia hidup material melalui daur ulang
  5. meningkatkan kesejahteraan operator sampah.
Jadi tuh nggak ada ruginya buat ikutan program Waste4change demi bumi yang lebih baik. Apalagi kita sebagai ibu-ibu yang berhadapan langsung dengan sampah dapur, harus pinter untuk pilah dan pilih sampah agar tidak terbuang dengan sia-sia. Jangan jadi manusia yang jijik-an sama sampah karena bagaimanapun akan lebih menjijikan bila kita menimbun sampah sampai menggunung dan malah membuat sarang penyakit baru. Hiiiiii ~


Belum tertarik bergabung dan ingin mulai dari rumah sendiri? Bisa kok bisa ~ Nggak harus serahin semua sampahmu ke waste4change kalau teman-teman bisa dan mau meluangkan waktu untuk pilah dan pilih sampah di rumah. Cukup mulai saja dengan easy grow compost bag punya waste4change untuk mulai memilah sampah dapur yang bisa untuk dikompos dan nantinya bisa digunakan untuk pupuk di kebun. Selain itu, teman-teman juga bisa membuat ecobrick dari sampah plastik dari sampah rumah tangga sebelum akhirnya dibuang begitu saja ke TPA. Karena bagaimanapun, bumi tempat tinggal kita adalah tanggung jawab kita juga, bukan?

Salam,

Dwi Septia



Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Blog Waste4Change Sebarkan Semangat Bijak Kelola Sampah 2021
Nama penulis: Dwi Septianingsih

13 komentar

  1. Wah, mantap! Semoga selalu semangat daur ulang ibook khaula! Keren banget, menginspirasi ibook ibook lainnya ini! :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Doakan supaya kami bisa istiqomah terus ya buuuukkk hihi

      Hapus
  2. Haaa baru tau tentang waste4change campaignya keren-keren banget! Aku tiap buang sampah sekali pakai juga ngerasa bersalah banget huhu makasih banget infonya mbaaa😍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa super keren banget mereka, kalau mau gabung bisa langsung ke website mereka yah!

      Hapus
  3. Gue juga concern banget sama masalah sampah ini sih. Cuma prakteknya yang masih syulit ya. Karena ujungnya pas kita buang sampah ke luar rumah tetep aja dijadiin satu. Emang kalo bisa ya kita juga ikut mengolah sampah jadi sesuatu yang lebih bermanfaat gitu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Teori emang selalu lebih gampang ya dari praktek. Tapi gimanapun, sesedikit apapun coba untuk berkontribusi lebih ya untuk bumi. Semangat!

      Hapus
  4. miris sekali melihat bumi kini, tapi saya sendiri sering on off rajin untuk pilah pilah, dan composting jugaa nah 'EASY GROW COMPOST BAG' dari W4C inceran sekali, biar bikin semangat gitu hehe ibuk septi menginsipirasi sekaliiii, semoga istiqamah buk :) doakan semoga bisa on-the-track dari langkah kecil agar sisa konsumsi tidak mubazir dan terpilah :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aaak terima kasih doanya. Jadi malu karna masih sering males untuk pilah pilih sampah karena alesan capek, ribet dll :"

      Hapus
  5. Sedih yaaa lihat binatang laut yang terperangkap sama sampah, khususnya sampah plastik. Malahan banyak yang mati karena mereka kira sampah itu adalah makanannya. Kita memang harus bijak banget sama pengolahan sampah. Terutama sampah rumah tangga yang setiap hari sebisa mungkin harus kita olah.

    Tapi lw keren ya sept, udah peduli banget sama sampah da bisa memanfaatkannya.. salut liat emak-emak yang aware sama sampah.. semangatttt

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya Allah, iya ya mba aku udah emak-emak :"
      doain ya mba istiqomaaahhh hehehe

      Hapus
  6. Selalu suka sama campaignnya Mba❤ bener bangeet mba, paling mudah dimulai dari sampah dapur yang bisa diolah jadi pupuk��❤ aku sampe sekarang selalu pake pupuk sampah dapur dan tanamannya malah tumbuh subur bangeeet daunnya juga seger-seger. Ditunggu campaign-campaign yang lain yaa mba��

    BalasHapus
  7. Tetap semangat buk, semoga kita semua trus komitmen berusaha menghindari sampah plastik.. biar bumi kita gak menangis

    BalasHapus
  8. Luar biasa, ditengah kesibukan ngurus anak, mamak masih bisa menyempatkan waktu utk berkebun sembari memanfaatkan sampah rumah tangga buat mengurangi polusi akibat sampah. Semoga gue bisa ketularan rajinnya buat menyortir sampah yg ada di rumah supaya ga menambah polusi lingkungan akibat sampah 😁

    BalasHapus

Halo!

Terima kasih telah membaca blog www.dwiseptia.com. Semoga konten yang ada di blog ini bisa menginspirasi. Doakan saya bisa produksi konten yang lebih baik, ya!
Oh, ya kalau ada rekues konten silakan tulis di kolom komentar, ya! ^^