Tentang Sudut Pandang

Ngomong-ngomong soal privilege, aku pernah mengutuki hidupku sendiri dengan begitu banyak pertanyaan, umpatan dan penyesalan.

Kenapa aku nggak lahir jadi anak orang kaya

Kenapa aku nggak lahir berkecukupan

Kenapa aku nggak bisa pinter kayak temen-temenku

Kenapa aku harus kerja sejak masih sekolah

Kenapa aku nggak bisa kuliah

Kenapa aku harus mengorbankan waktu mainku untuk cari duit

Kenapa begini

Kenapa begitu

Ingin ini ingin itu banyak sekali

Laaah malah nyanyi ~


Waktu itu, rasanya berat sekali. Otak cilikku mana ngerti bahwa nggak semua orang hidup dengan enak, berkecukupan dan sesuai ekspektasi. Ngertinya ya cuma "enak ya jadi dia" tanpa mau tahu sudut pandang lain yang orang lain alami. Bahasa gampangnya yaaa bodo amatlah "hidup gue aja susah ngapain mikirin hidup orang".

Anak kecil itu rasanya masih egois. Belum ngerti dunia. Umurnya masih seuprit. Pengalamannya masih sedikit. Tapi mintanya dingertiin melulu. Siapa? Akulah. Siapa lagi hahaha kan ini lagi nulis tentang aku wkwkwk

Tapi makin tua, makin berumur, nggak mau nyebut makin dewasa ah karena dewasa kan nggak bisa dipatok berdasarkan umur yak. Wong ya masih umur 20an ini, masih unyulah yaw ehehehe. Ya makin ngerti aja kalau everybody had their own struggling moment yang nggak pernah dia ceritakan ke khalayak umum. Karena ya buat apa? 

Karena pada akhirnya, tiap2 struggle itu membawa diri orang ke stage baru di hidupnya. Entah makin berantakan atau makin tertata, setidaknya masing-masing dari diri kita pernah belajar untuk menjadi kuat meskipun dunia nggak pernah tahu betapa beratnya masa-masa itu 😗

Bahkan, kalau lagi kumat, sampai sekarang pun masih suka kebawa bawa tentang beratnya hidup yang harus kujalani dengan merelakan banyak hal sampai hari ini. Sedih, kecewa, marah, ada semuanya. Tapi setidaknya, berkat adanya masa lalu yang berat itu aku jadi belajar banyak hal.

Bahwa untuk bisa sampai di titik ini, titik yang jauh lebih dewasa, aku memang harus mengalami sepahit-pahitnya duniaku.

Nggak cuma sekali dua kali mikir kalau hidup nggak adil. Tapi memang untuk bisa jadi keramik cantik, harus siap dibakar berulang kali ya, kan?

Sampai akhirnya semakin kemari, Aku semakin mengerti...

Bahwa hidup nggak selalu baik-baik saja.

Yang kamu lihat sempurna di matamu, barangkali punya sisi lain yang kamu tak tahu.

Barangkali tolok ukur bahagia yang kamu sematkan pada orang lain, belum tentu jadi bahagianya,

Seperti kata Aan Mansur dalam puisinya, ada orang yang merindukan malam disaat kita merindukan pagi untuk datang.

Artinya apa? Yo ngono kui :)

1 komentar

Halo!

Terima kasih telah membaca blog www.dwiseptia.com. Semoga konten yang ada di blog ini bisa menginspirasi. Doakan saya bisa produksi konten yang lebih baik, ya!
Oh, ya kalau ada rekues konten silakan tulis di kolom komentar, ya! ^^