Rahtawu: Potret Alam Kudus yang Masih Asri

Entah siapa yang memulai menanamkan, tetapi image Kudus lekat sekali dengan kota Pantura yang panas dan berdebu. Gersang dan kering. Saking lekatnya, aku pun pernah berdoa untuk tidak mendapatkan jodoh orang Kudus wkwk parah emang!

Setelah resmi akad, mas membawaku ke area gunung di Kudus, tetapi ini bukan gunung Muria. Di sisi yang lain ternyata ada gunung di daerah Rahtawu, Gebog, Kudus. Gunung ini berseberangan dengan Gunung Muria. Jadi, saat di Rahtawu, kami bisa menatap gagahnya Gunung Muria dan sebaliknya.

Medannya yang berbukit dan curam membuat perjalanan ke Rahtawu semakin menantang. Bisa sih naik mobil, tetapi kalau mau ke pucuk, harus rela menempuh ke puncak dengan menggunakan motor. Selain biar bisa menikmati asrinya udara di pegunungan, naik motor bisa membantu kami mencapai puncak dan melewati jalan sempit dengan lebih tenang. Kalau naik mobil was-was banget soalnya hihi ~

Waktu Tempuh dari Kota ke Rahtawu

Dari kota, butuh waktu 45-60 menit untuk sampai ke Rahtawu menggunakan motor atau mobil. Dan semakin ke atas, jalanan yang harus dilalui semakin sempit dan semakin curam. Agak deg-degan, tapi benar-benar puas karena sepanjang jalan isinya hutan, pepohonan, air terjun sambil cuitan burung dan hewan hutan yang masih banyak. Menyenangkan dan menenangkan sekali pokoknya masya Allah....

Sesampainya di Rahtawu, kami disambut dengan berbagai wisata yang indah. Ada kolam renang dengan pemandangan pegunungan, air terjun, makan di warung yang ada di hulu sungai sambil menikmati deburan ombak kecil yang menyegarkan atau sekadar duduk di pinggir sungai sambil menikmati indomie dan es kopi asli Rahtawu.

Kami Menuju Kafe yang Letaknya Ada di Pucuk Rahtawu

Setelah mengantar anak-anak ke sekolah, kami berencana main ke Joglo Dopang, salah satu kolam renang yang pemandangannya langsung ke gunung. Joglo Dopang juga punya kafe yang menjual kopi asli Rahtawu. Makanya, kami kepikiran mampir ke sana sambil menunggu jam pulang sekolah anak-anak. 

Qadarullah, kami belum berjodoh dengan Joglo Dopang. Jadilah kami naik lagi ke puncak dan mampir ke kafe Seribu Batu Semliro. Kafe yang letaknya di pinggir jurang. Menakutkan, tapi pemandangannya bikin betah nggak pengen pulang. Di sini menunya memang sederhana. Indomie goreng/rebus, sosis nuget atau kentang goreng dan minuman sachet serta kopi khas daerah sini.

Bukan menu mahal yang menemani kami, tetapi pemandangan yang tak bisa kami temukan di kota yang membuat kami betah berlama-lama di sini. Rasanya, setiap kali naik ke Rahtawu seperti recharge energi yang mulai habis karena lelah mengurus anak atau penat dengan deadline pekerjaan yang tiada habis. Biidznillah..

Sekalian Jalan-Jalan sekalian Deeptalk sama Suami

Sebagai pasangan yang hampir 24/7 bareng terus bareng sama anak-anak kecuali anak-anak sekolah, kami selalu menyempatkan ngobrol berdua. Entah saat anak-anak sedang sekolah, saat anak-anak main ke playground atau saat menyempatkan main seperti ini. Tidak ada laptop di antara kami. Hanya cemilan, pemandangan dan kami satu sama lain. Allahumma Baarik hihi

Menyempatkan jalan-jalan berdua seperti ini bisa jadi salah satu jalan kami dalam merawat pernikahan yang berjalan selama 7 tahun. Pasalnya, pernikahan tanpa perawatan akan hambar dan kandas karena seiring usia pernikahan kami yang bertambah tentu bertambah pula gejolak yang kami hadapi. Dan sebagai pasangan yang membayangkan surga bersama, tentu kami harus bisa saling kalahkan ego masing-masing dengan merawat pernikahan melalui cara sederhana, salah satunya dengan jalan-jalan tanpa anak seperti ini hehe. Doakan kami yaah

Menu Favorit saat Sedang Jalan-Jalan Berdua

Tidak ada pizza atau makanan mewah lainnya. Kami hanya memesan indomie goreng dengan irisan cabe, segelas kopi robusta dan segelas kopi arabica untuk bisa kami nikmati berdua. Dan sepiring indomie berdua ini cukup untuk menemani kami yang sedang bersantai memandangi indah dan gagahnya Gunung Muria. Biidznillahi ta'ala.

Tentu saja dengan menu sederhana ini, kocek yang kami rogoh juga tak terlalu dalam. Indomie harga 10ribu dan kopi segelas 10ribu saja. 50.000 masih kembalian hehe. Murah, kan? 

Kalau kalian punya kesempatan main ke Kudus, kira-kira akan ke Rahtawu juga, nggak? Hihi

24 Comments

  1. Betul, pemandangannya masih terasa alami. Alamnya belum terlalu tersentuh, jadi vibes tenang dan sejuknya kebayang banget

    BalasHapus
  2. Saya sendiri belum pernah ke Kudus. Kayaknya sekali-sekali kudu diagendain 😊

    Btw, tulisannya singkat tapi bikin penasaran. Rahtawu memang seindah itu ya?

    BalasHapus
  3. Ini tuh beneran tulisannya emang sependek ini. Aku belum pernah main ke Kudus sih. Jadi belum tahu gimana kondisi di sana. Cuma memang aku punya teman yang orang Kudus.

    BalasHapus
  4. Ternyata Kudus menyimpan keelokan alam yang masih alami, tenang dengan air yang jernih.
    Ngopi dan makan mie goreng pastinya mantul banget ya, Kak.
    Btw taunya Kudus identiknya dengan jenang-nya, enak soalnya. Ternyata ada alam Rahtawu yang memesona.

    BalasHapus
  5. Ke Rahtawu untuk menghabiskan waktu berdua .. wah idenya menarik. Menikmati alam dengan cara berbeda. Semoga samara selamanya, Mbak.😊

    BalasHapus
  6. Ternyata ada wisata laun selain muria ya mbak, baru dengar ada daerah Rahtawu ini. Suasanamya masih asri sekali. Dan mungkin juga udaranya maaih lebih baik dibanding di kota ya. Kereeen ternyata Kudus ada juga tempat secantik ini.

    BalasHapus
  7. Wah, Rahtawu memang nggak ada duanya! Makan mie goreng dengan irisan cabe di tempat seperti itu pengalaman yang asik banget. Saya malah lebih suka wisata begini daripada yang serba kekinian.

    BalasHapus
  8. Walau ada yang nggak terwujud, tapi ini explore yang seru ya kak, icip² kuliner juga

    BalasHapus
  9. Mbak, tapi Kudus emang panas banget sih asli wkwk. Ternyata ada juga area pegunungan yang indah seperti Rahtawu ini, yaa.

    BalasHapus
  10. Belum pernah ke Kudus, asik yaa viewnya, udah suasana deket-deket musim liburan bisa yaa liburan keluarga kesini. Minumannya penambah suasana jadi asik yaa kopi mantap

    BalasHapus
  11. Baru tahu ada tempat bernama Rahtawu ini di Kudus. Asyik banget pemandangannya masih cukup hijau dengan aliran sungai yang mengalir ya mbak. Bisa main air juga di sana.
    Asyik banget bisa kulineran menu indomie dan kopi dingin. Harganya pun ramah kantong. Udah paling manteb sambil menikmati keindahan alam yaa :D

    BalasHapus
  12. Aaakk kangen ke Rahtawu lagi Sep. Pernah ke sana jaman kuliah, selalu naik truk Brimob pinjaman hehee.. Ngeriii sekali medannya, pinggir2 udah jurang. Kekgimana cobaa dilewati truk gede. Doa ndremimil ga kelar2 deh pokoknya selama perjalanan.

    Semoga kapan2 bisa menikmati Rahtawu dengan cara yang lebih soft gini. Hanya view cantik dan indomie anget, heaven deeeh.. Klo dulu kan ke sana selalu urusannya sama diksar pencinta alam, ga bisa woles sama sekali hehehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahahah seru banget mba bacanya! Masa mudanya menantang sekali ya mba, sambil diksar sambil jalan-jalan hihihi

      Akupun baru tau tentang Rahtawu ini setelah menikah mba, menghapus image Kudus yang hanya pantura panas saja wkkw

      Hapus
  13. Walau hanya indomie dan kopi yang merupakan menu sederhana, tapi kalo dinikmati sama orang tercinta di tempat yang pemandangannya indah pasti terasanya istimewa yaaah

    BalasHapus
  14. abis ini mau explore mana lagi? mweheheh..

    BalasHapus
  15. Aku ke Rahtawu udah lamaaa banget. Baca ini jadi pengen ke sana juga. Dulu tuh pas aliran sungainya gak terlalu besar. Kalau musim hujan kaya gini, pasti lebih segar. Cuma tetap hati-hati ya

    BalasHapus
  16. Masyaallah, bagus banget pemandangannya, mengingatkan aku pada pemandangan di ngarai sianok Bukittinggi, tapi sayangnya akhir november kemaren ada beberapa longsor dan area kafe yang rusak karena banjir bandang. Dengan pemandangan kayak gitu, mie dan kopi udah cukup banget, dan untung harganya masih murah ya, nggak dimahal-mahalin.

    BalasHapus
  17. MasyaAllah tabarakallah
    Mungkin terlambat tapi selamat atas pernikahannya ya mbak.
    Semoga selalu sakinah mawadah warahmah Aamin YRA.
    Buat saya Kudus tu identik sama Jenang,.Krn teman sekosan sering bawakan.
    Baru ngeh juga DA kawasan gunungnya yang seindah ini

    BalasHapus
  18. Saya paling sukaaaa jalan jalan ke alam terbuka seperri ini kaak. Rasanya plong , lega dan pikiran terbuka. Badan juga fresh...apalagi kalau ada kafe diaana dan kita bisa beli makan minum disana...seruu banget

    BalasHapus
  19. Waah, aku belum pernah ke kudus mbak. Setelah lihat Rahtawu aku jadi pengen main-main ke kota Kudus. Nggak nyangka di Rahtawu ada bunga hydragea yang kusuka. Heheheh... Bunga itu terkenal tumbuh di dataran tinggi. Baru kutahu juga kalau Kudus masuk dataran tinggi. Pantas saja kalau lihat postinganmu tuh aku kayak merasa balik ke alam. Sejuk.. :D

    BalasHapus
  20. Kudus? Yang terbayang bukan gunung malahan, Mbak, melainkan jenang Kudus (Mubarok)... heheheee... *malah nyebut merek, kwkwkwk 🙈

    BalasHapus
  21. MashaAllah.. indah niaan..
    Jujur foto pertama aku pikir AI looh... saking aluuss pissan...
    Bisa jalan bareng dan menikmati alam serta menu yang uda pasti semua orang suka.. ini beneran Allahu Akbar siiyh yaa...

    BalasHapus
  22. Ih lihat ini jadi pengen juga diriku jalan berdua aja sama suami. Kalau punya anak tuh memang kita tetap harus meluangkan waktu berduaan aja ya sama suami biar pernikahan juga tetap terjaga awetnya

    BalasHapus
  23. Menikmati indomie bersama pasangan, dari ketinggian terbentang alam yang indah, ah, nikmat mana lagi yang harus didustakan.

    Semoga alam-alam yang indah seperti Rahtawu ini, akan selalu terjaga di masa-masa mendatang ya.

    BalasHapus

Halo!

Terima kasih telah membaca blog www.dwiseptia.com. Semoga konten yang ada di blog ini bisa menginspirasi. Doakan saya bisa produksi konten yang lebih baik, ya!
Oh, ya kalau ada rekues konten silakan tulis di kolom komentar, ya! ^^

Follow Me On Instagram