Bye Slow Living, Sekarang FORE Siap Meramaikan Coffee Lovers di Kudus

Kamu kalau punya rumah, pengennya dimana?
Aku? Semarang lah hehe. Deket sama bandara dan stasiun.
Misal, Kudus aja gimana?
Hmm, kenapa?
Biar nggak pening sama macetnya ibukota hehe ~

Ini obrolan rumah tangga kami saat membayangkan dimana kami akan tinggal dan menetap ketika suatu saat nanti ada rezeki punya rumah sendiri. Sampai akhirnya, aku sepakat untuk tinggal di Kudus dengan niat sami'na wa'aato'na alias manut sama suami biar dapet ridhonya suami hehe.

Rumah kami saat ini ada di desa yang menurutku masih gelap dan jauh dari ingar bingar kota. Tapi, tidak sejauh itu juga.  Hanya butuh sekitar 10-15 menit dari pusat kota Kudus untuk mencapai rumah tinggal kami. 

Desa yang Gelap dan Jauh dari Keramaian

Bisa dibilang, aku cukup shock ketika tinggal di desa karena memang jam setelah maghrib, di sini sudah tutup dan sepi. Bada isya, hampir kami tak pernah keluar rumah karena memang segelap itu. Tapi ini menurutku ya hehe karena aku terbiasa tinggal di Semarang yang bahkan setiap pulang jam 11 atau 12 malam pun jalanan masih ramai, Sedangkan di sini, untuk pulang saja kami harus melewati jalanan yang gelap karena memang masih sawah dan kebun mayoritas hehe.


Waktu Berjalan, Dunia Berubah

Pelan-pelan, Kudus menjelma bak ibukota. Banyak sekali kafe bertebaran di kota ini. Aku sampai bisa menyebutnya kota seribu kafe saking banyaknya kafe dan tinggal pilih hari ini mau nongkrong di mana. Sampai akhirnya aku merasa bahwa kota ini benar-benar bak metropolitan ketika brand seperti Kopi Kenangan, Dominoz Pizza, hingga Fore sudah masuk ke kota ini.

Bagi warga ibukota Jakarta atau Semarang, mungkin ini biasa saja. Tapi, bagi warga Kudus ini sesuatu yang wah sekaligus kabar baik bagi perantau sepertiku yang memang bukan warga asli sini dan rindu dengan hiruk pikuk kota besar dengan segala gemerlapnya.

Bahkan, satu persatu mulai banyak bisnis di Kudus yang buka 24 jam penuh. Gokil hehehe ~

Sebagai anak kota, aku senang sekali dengan perubahan ini, meskipun akhirnya yaaaa byeee slow living hihihihi karena Kudus mulai macet setiap malam di beberapa titik terutama di kota dan membuat perjalanan gabut kami yang sekadar muter-muter sama anak-anak terasa panjang dan melelahkan wkwk.


Menyadari Bahwa Jiwaku Tertinggal di Kota

Hadirnya kafe 24 jam dan brand seperti Fore membuatku mengingat momen perjuangan ketika sedang merantau di ibukota sendirian. Rasanya, nyes  di hati. Seperti banyak sekali kenangan yang ingin sekali kuulang. Mengejar bus trans Jakarta, berdempetan di KRL, duduk di circle  K atau lawson, nongkrong di indomaret point sepulang kerja atau sekadar cari jalan tikus untuk bisa sampai ke kos dari kantor yang letaknya di dekat Grand Indonesia.

Pasalnya, setelah tinggal di Kudus aku merasa seperti sepi. Tak tahu harus berteman ke mana dan dengan sapa. Yaaa meskipun aku sudah menjadi seorang ibu yang mungkin sudah bukan waktunya lagi untuk beredar bak kutu loncat, tetapi aku perrnah membayangkan tetap bisa produktif dan bertemu dengan komunitas baru untuk menjaga otakku agar tidak tumpul.

Dan, duduk di Fore bersama suamiku yang menjadi teman baikku saat ini, membuatku ingin berlama-lama melamun sembari melihat lalu lalang manusia datang dan pergi dengan kesibukan mereka masing-masing. Lalu, menyadari bahw ternyata aku adalah individu yang suka menyendiri. Hanya saja, sering mencari keramaian agar aku tak terlihat kesepian hihi ~~

Kalau kamu, tipe yang seperti apa? Lebih suka sepi atau duduk di tempat ramai?

Salam,

Dwi Septia

4 Comments

  1. Kondisi ini juga pernah kualami mbak Dwi ketika pindah dari kota besar ke ujung pulau jawa tahun 2003an. Kota ujung itu bener² sepi, setelah maghrib pun di area depan rumah pun. Cuma ada satpam yg keliling. Sementara jalanan pun di tahun² itu jarang ada yang sampai jam 8 malam. Hihihi.. 🫢

    Lalu, ketika 20 tahun lebih berlalu, saya pindah kota lagi dan pulang kampung, ada perubahan. Mulai ramai, banyak tongkrongan, dll. Lama² karena sering mendengar bising, malah lebih rindu di kampung saya yang masih sepi dulu. 😅

    BalasHapus
  2. Butuh sekali adaptasi ditempat yang baru. Karena gk semudah dan terkadang tidak nyaman dari tempt lama ke tempat baru. Begitu juga yang saya rasakan selama ini.

    BalasHapus
  3. Sekarang tuh ya, jangan menganggap di desa bisa slow living begitu saja. Perubahan sudah banyak terjadi di sana-sini, termasuk di desa. Kayaknya, ada semakin banyak desa yang bermetamorfosis menjadi seperti kota. Kayak di Kudus yang sudah mulai menjadi kota ya, Kak.

    BalasHapus
  4. fore kopi dan non-kopinya enak dan tempatnya juga bagus untuk WFC

    BalasHapus

Halo!

Terima kasih telah membaca blog www.dwiseptia.com. Semoga konten yang ada di blog ini bisa menginspirasi. Doakan saya bisa produksi konten yang lebih baik, ya!
Oh, ya kalau ada rekues konten silakan tulis di kolom komentar, ya! ^^

Follow Me On Instagram