Minggu, 26 Februari 2017

Curug Nangka, Hidden Waterfall di Bogor yang Masih Asri

Kalau lagi stress, emang paling enak main air. Bukan terus masuk ke baskom atau bak isi air dan nyelem di situ lho, ya! Hahahaha. Yes, obat stress paling mujarab yang sampai saat ini ampuh untuk aku adalah main-main ke tempat yang ada airnya. Pantai, laut, air terjun atau ke tempat yang bisa hujan-hujanan. Bahkan, aku bisa melepaskan stress lewat audio yang berisikan suara air, lho! Hebat, kan. Tepi, ini tergantung dengan tingkat stress yang aku alami.

Ah, udah udah curhatnya. Kali ini aku bakalan sharing tentang perjalananku ke Curug Nangka yang letaknya di lereng Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat. Awal-awal aku tau tempat ini bukan karena searching di Google. Tetapi, karena aku nanya salah satu teman kantor yang memang asalnya dari kota hujan, Bogor. Andhika Mahendra, namanya.

Berhubung Jakarta ke Bogor masih tergolong dekat, jadilah kota hujan jadi pilihanku untuk 'berlibur'. Singkat cerita, setelah aku nanya-nanya via WhatsApp sama Dhika, dia bilang katanya ada Curug Nangka yang masih masuk di lereng Gunung Salak, Bogor. Sebenarnya aku nyarinya yang bisa ngecamp. Jadi, ngecamp, tidur di bawah ribuan bintang terus keesokan paginya nanjak buat menuju ke air terjun. Ah, jadi keinget pas di nglimut jaman kelas 1 SMK sama teman-teman KIR SMK, deh hahahahah. Kangeeeennnn.

Tiba di hari H aku ke Bogor, aku janjian sama Dhika di stasiun minta jemput *dasartemankantortidaktahudiri* :))). Karena tempatnya rada susah kalo ngangkot, jadilah Dhika bawa motor *inibukanalasanbiaririt* weheheheh. Dan sebelum kami beranjak menuju Curug Nangka, kami makan tekwan terenak versi Dhika dulu.

Udah lama pengen nyobain ini tekwan, sih. Soalnya, katanya si Dhika enak. Kan jadi penasaran ya, kan? Dan ternyata, setelah nyobain di kuah pertama emang aseli enak! Juara, deh. Ternyata memang lidahnya Dhika cukup oke milih makanan XD. Oh ya, tekwanya ini yang jualan aseli Palembang. Tempatnya ada di belakang Pusat Grosir Bogor. Di ruko-ruko situ cari aja nanti pasti nemu hehe.

Racikan tekwannya ada jamurnyaaaaa, jadinya makin mantap. Kalau yang di dekat kosku kan nggak pakai jamur. Yaiyalah, lawong murah mau minta banyak. Kan kurang ajar! Hahahaha.. Harga tekwannya seporsi 22ribu. Lumayan mahal, tapi sebandinglah sama rasanya yang mantap dan nikmat ini. Suegerrr...

Setelah perut kenyang, kami berdua lanjut menuju ke Curug Nangka. Sebenarnya pengennya ke Bukit Alesso, sih. Tapi katannya pas itu Bogor hujan terus, jadi rada rawan kalau nekat ke sana. Eh, qodarullah alhamdulillah pas aku ke Bogor langitnya cerah bukan main. Aku disambut dengann gembira di kota hujan yang tidak sedang hujan tersebut. Hehehe

Rute Menuju Curug Nangka

Curug Nangka letaknya di Ciapus, Bogor, Jawa Barat. Tepatnya, curug ini ada di kaki Gunung Salak pada ketinggian 750 mdpl. Kalau teman-teman mau ke sini, rute yang harus ditempuh adalah rute ke Desa Warung Loa, Kecamatan Tamansari, Bogor, Jawa Barat. Karena naik motor dan di guide oleh anak asli Bogor, ya jadilah aku cuma duduk di bangku belakang sambil pasrah. Kalaupun diculik juga nggak bakalan paham jalan pulang soalnya :)).

Nah, kalau teman-teman mau naik angkutan umum, bisa kok naik angkot jurusan Ramayana (BTM) - Ciapus atau angkot No.03 yang bisa didapat di depan Bogor Trade Mall (BTM). Teman-teman bisa berhenti di pertigaan sebelum pintu gerbang menuju lokasi. Terus, tinggal jalan, deh!

Sepanjang perjalanan rasanya kayak lagi di Semarang wahahah. Cuma, lebih sejuk dan pemandangannya lebih cakep di Semarang soalnya nggak macet. Bogor macet banget, euy! Tetapi aku akui jalanan di TKP lebih cakep di Bogor. Masih bisalah disentuh sama motor, mobil dan angkutan umum.

Lokasi yang Mirip dengan Gedong Songo Semarang

Rasa-rasanya de-ja-vu. Lokasinya mirip banget dengan Gedong Songo Semarang. Ah, jadi pengen pulang, kan :)). Bedanya, di lokasi parkiran banyak sekali warung makan dan oleh-oleh. Pun ada listrik dan kalian bisa nyolokin kalau handphone kalian mati dan butuh banget update di sosial media muehehehe.

Di sini ada 2 curug seingatku. Curug Nangka dan curug yang satunya lupa karena aku nggak naik sampai atas. Untuk bisa ke curug nangka, harus susur sungai terlebih dahulu. Iya, copot sepatu sembari basah-basahan di sungai, lewatin goa gitu. Mendaki lembah, lah ceritanya. Lumayan licin, jadi hati-hati, ya!

Aku sih pakai kaos kaki dan cuma  lepas sepatu, jadi rada aman, lah. Kalau Dhika pakai sandal, jadi aman juga. Oh ya, kalau mau ke sini, pakai sandal gunung aja. Soalnya, medannya lumayan nanjak dan medan bukit gitu, rada terjal gitulah. Kalau aku sih suka karena biasa di gunung dan di hutan. Alias nggak kaget gitu :)).

Sampai di curug nangka, dari kejauhan udah keliatan cakep banget Masya Allah. Sayangnya aku nggak bawa baju ganti. Mungkin kalau aku bawa aku bisa basah-basahan sampai lupa waktu. Eh, nggak juga deng, jaga image juga biar  nggak dikira norak sama orang banyak hahahha. Sok sokan pencitraan gitu ceritanya.

Kayak gini nih, penampakan curug nangka yang sempat tertangkap oleh kamera:





Oh ya, kali ini aku nggak nampang banyak soalnya memang ke sini tujuannya jalan-jalan, bukan ngeksis. Ah, boong deeeh, emang lagi males foto aja jadinya nggak update di sosmed. Padahal biasanya bisa boom foto kalau lagi main main di tempat wisata weheheh maklumin aja milenials soalnya :).

Di perjalanan kali ini aku lebih sering fotoin Dhika. Mayan, soalnya ada subyek buat difoto. So, akunya juga bisa milih sudut pandang sendiri saat framing fotonya dia. Etapi setiap kali mau take foto harus berantem dulu gitu karena dia nggak mau difoto. Yaaaaa, jadilah candid-candidan ala-ala gitu.


Curug nangka semacam hidden waterfall gitu sih buat aku, karena untuk bisa sampai ke TKP harus susur sungai. Daaaannnn tempatnya masih asri belum terjamah sama alay yang suka ngerusak alam gitu. So, aman buat kalian yang pengen menenangkan diri meskipun akan banyak pemandangan orang-orang pacaran di sini.

In the end, sedih karena ternyata handphone-ku kecelup air pas aku lagi terpesona sama bapak-bapak yang lagi main sama anaknya huhuhu. Setengah jam ada kali ya handphone kerendem air sampai nggak bisa nyala dan sempet rada panik. Buru-buru ke warung untuk nge-charge ternyata nggak bisa. Akhirnya sampai beli beras buat ngerendem handphone. Kok beras? Iya, soalnya beras punya kemampuan absorb air yang terlanjur masuk ke gadget ehehe.


Gitu deh gengs cerita perjalanan di Bogor kali ini. Hopefully bisa lagi lagi ke Bogor meskipun entah kapan :)) Ekasi tau dong pengalaman kalian selama di Bogor. Apa aja ya wisata alam yang masih asri yang kira-kira bisa dieksplore dari Bogor?

Salam,

Jakarta Barat

Senin, 13 Februari 2017

Seafood 68 Jakarta untuk Pecinta Kuliner Enak dan Murah di Jakarta

"Orang paling kasihan itu orang yang nggak suka sama seafood" Innes Sabatini

Masih inget banget obrolan santai bareng sama senior konten di kantor beberapa bulan silam setiap kali bahas tentang seafood. Topik tepatnya sih lupa, yang jelas pembahasan kami masih tentang makanan dan makanan. Kebetulan kami berdua adalah pecinta  seafood. Meski tak pernah makan seafood bersama, tetapi setiap kali membahas seafood tingkat kebahagiaan kami seolah sama. Luar biasa! Hahahahaha

Nah, beberapa waktu lalu, tepat setelah aku main ke Ragunan Zoo sama Mas Haris, aku diajakin untuk mampir ke resto seafood terenak yang letaknya di Kelapa Gading. Katanya sih enak banget, tapi karena jarak Ragunan ke Gading cukup bikin sakit punggung dan sakit tulang belakang, akhirnya kami memutuskan untuk googling tempat makan seafood enak di Jakarta. 

Dari 10 list yang masuk di website review, ada satu nama yang terlihat cukup dekat di peta yang menjadi tujuan makan kami berdua. Sederhana, hanya karena alasan dekat akhirnya kami memutuskan untuk ke sana.

Jarak di Peta dan Jarak Sebenarnya

Sewaktu SMP, aku pernah belajar tentang perbandingan. Perbandingan di peta dan perbandingan sebenarnya. Terlihat sepele dulu. Dan aku membuktikannya di dunia nyata bahwa sejatinya jarak itu tentang perspektif. Jauh dekat itu tentang perjalanan yang kita tempuh dan bagaimana kondisi badan saat menempuh hahahaha.

Entah akibat jalan-jalan di Ragunan yang cukup luas membuat kami kelelahan keduluan mungkin, perjalanan kali ini rasanya supeeerrr melelahkan. Bisa jadi juga karena tumben kami naik motor. Biasanya kami naik grabcar atau gocar atau uber car yang cuma duduk dan istirahat di mobil lalu sampai ke tujuan. Ah! Itu dia mungkin hahahahah.

Sekitar 1 jam lamanya akhirnya kami berhasil sampai di tujuan. Seafood 68 Jakarta yeay! Warung makan di ruko sederhana dengan tenda memanjang di di depan ruko membuat rumah makan ini seperti warung tenda biasa saja. Karena mepet dengan maghrib, kami memutuskan untuk mencari masjid terdekat dan melaksanakan sholat terlebih dahulu. Setelahnya, kami kembali dan memesan menu di Seafood 68.

Pengunjung Mulai Berdatangan

Kami datang di waktu yang tepat. Kalau kami terlambat 10 menit saja, duh sudah entah rasanya. Yap, sekitar bada maghrib tempat ini mulai ramai dipadati oleh pengunjung. Dari dalam, aku melihat antrian manusia entah bermobil atau bermotor berbaris untuk mendapatkan nomor antrian. "Mas mas, untung kita nggak telat dateng ke sini. Tuh, liat deh antriannya parah," "Woh, ramai juga ternyata," "Iyo,"





Pesanan kami mulai datang. Udang, cumi, kangkung, nasi, es teh dan air mineral sudah siap untuk kami santap. Seperti biasa, aku mencoba kuahnya terlebih dahulu. Daaaannnn UENAK! Yaaaa, nilainya 8 boleh lah. "Rasanya mirip sama yang di Semarang. Baru kali ini ada yang rasanya sama enaknya sama yang di Semarang," "Woo jangan salah! Di Gading lebih enak lagi rasanya! Kapan-kapan kita ke sana," "Mosok?" "Iyo!"





Aku makan cukup lahap. Entah karena memang aku yang lapar atau memang enak ya ini? Wahahahah. FYI, aku nambah nasi setengah porsi. Padahal, biasanya aku makan nasi satu porsi aja sisa wakakakak. Ah, ini enak dan memang enak! Recommended untuk para pecinta seafood!

Harga Murah Rasa Mewah

Oh ya, soal harga bagaimana? Ini pertanyaan paling klasik ya kalo soal kulineran hahahaha. Menurutku, ini termasuk murah! Kami berdua habis 160 ribu untuk makan menu tersebut di atas. Harga lumayan mahal, tetapi untuk sekelas seafood dengan rasa demikian ini cukup murah. Apalagi, soal rasa ini juara. Buktinya  bisa bikin Septi nambah setengah porsi nasi wakaakkakaka.



Pun ada otak-otak yang uenaknya bukan main. Itu kalau perutku masih muat aku mungkin akan makan lebih banyak heheheh. Aku cuma makan 2 karena aku mau menghabiskan seafood yang ada di meja. Jarang-jarang kan makan seafood enak weheheh dasar anak kos!!! XD




Nih, kalau kalian mau nyobain silakan cekiceki ke Seafood 68 Jakarta yang beralamat di:

Jam bukanya maghrib. Tetapi, kalau kalian sampai terlambat sepersekian waktu yaaaa rasakan sendiri antrian yang memanjang di depan warung ini hahahaha.... Kalau mau cepet sih, dateng aja setengah 6, pesan dulu terus nikmati deh. Jadi, pas yang lain datang untuk antri, kalian sudah bisa pulang dengan perut kenyang XD *tipsalasepti* huahahahahahahahah

Oh ya, ini gratis karena aku dibayari hehehe. Honestly, aku jarang  makan begininan (mahal soalnya). Dan alhamdulillah aku punya teman baik hehehe.. Thank you, Mas Haris! :)

Selamat mencoba, ya!

Salam,

Jakarta Selatan - Semarang

Minggu, 12 Februari 2017

Dimensi Waktu di Dua Kota Berbeda Ternyata Sungguh Terasa. Jakarta - Semarang

DwiSeptia - Hidup di dua dunia seperti pada film fiksi yang diceritakan terlihat begitu menyenangkan dan terlihat sangat mudah. Nyatanya, di kehidupan nyata tidak demikian adanya. Boro-boro deh bisa hidup di dua dunia. Hidup di dua kota saja rasanya sudah bikin nyut-nyutan kepala. Yay! Aku merasakan bagaimana rasanya hidup di dua kota dan merasakan perbedaan dimensi waktu yang luar biasa.

source: google


Semarang

Lahir dan besar di Semarang membuatku tidak tahu menahu tentang glamornya kota lain. Iya, aktivitas normal baru dimulai bada subuh dan selesai ketika pukul 9 malam. Damai sekali rasanya. Nggak ada ceritanya pulang malam itu sebuah kewajaran. Bahkan, terlalu sering pulang malam di Semarang akan menimbulkan kesan negatif dari oranng-orang sekitaran. Nakal lah, nggak bener lah, nggak tahu aturan, lah dan lain sebagainya lagi.


Beranjak dewasa, kegiatan semakin terasa padat dan luar biasanya menyita waktu. Pagi sampai malam rasanya kurang. 24 jam kalau bisa ditambah, pengen deh ditambahin biar bisa melek dan produktif sepanjang waktu tanpa harus mikirin ini itu. Bahkan, dulu pas masih merasakan sekolah-kerja dan kuliah-kerja, hampir nggak ada waktu untuk istirahat dan itu teramat  sangat menyenangkan. Meski terasa lelah, tetapi bisa menyelesaikan banyak hal dalam satu hari benar-benar bisa mengajarkanku tentang manajemen waktu.

Setahun belakangan ini aku mulai pindah ke Ibukota Indonesia, Jakarta. Kota metropolitan yang glamornya Masya Allah ini membuatku sedikit kaget. Ada perubahan hingga seratus delapan puluh derajat yang aku rasakan. Jam kerja yang berbeda, kondisi jalanan yang berbeda, hingga lingkungan yang luar biasa berbeda.

Jakarta (Maret 2016)

Per awal bulan ketiga di tahun 2016, aku resmi pindah ke Jakarta. Kota  nomor satu di Indonesia ini benar-benar membuatku ingin menyerah. Untuk bisa mengikuti ritme kota ini saja membuatku harus konsultasi ke klinik karena beberapa masalah pencernaan.

"Saya sakit apa, dok?"
"Dari recordnya sehat padahal. Yakin nggak salah makan?"
"Enggak kok, normal."
"Tinggal di mana?"
"Saya baru ngekos di Jakarta Pusat"
"Oooh, baru di Jakarta berapa lama?"
"Baru banget pindah. Sebulan belum ada kali. Kenapa?"
"Sakitmu ini karena stress berarti. Obatnya ya satu, adaptasi dan jangan stress!"
Ini adalah percakapan paling absurd, paling bikin malu dan paling ah entah sampe bingung pas dapat jawaban ini. Periksa tanpa dikasih resep obat dan cuma disuruh pulang, rileksin pikiran dan istirahat biar stressnya ilang.

Yes, awal kali ke Jakarta aku stress berat. Macet yang nggak ada abisnya, jam yang rasanya cepet banget. Waktu rasanya gitu-gitu aja. Berangkat pagi, sampai kosan malem, Sampai kosan sudah nggak bisa ngerjain yang lain karena udah capek, mandi lalu tidur. Paginya begitu lagi dan repeat sampai berhari-hari. Kagetnya bukan main!

Setelah satu tahun lamanya beradaptasi aku mulai terbiasa dengan kota Jakarta. Menyenangkan atau tidak itu tergantung bagaimana aku bisa face the world in this metropolitan city. Terutama soal menghargai waktu yang ternyata sungguh mahal harganya.

11/2 2017

Aku pulang ke Semarang. Ada banyak hal yang selalu ingin kulakukan selama aku di Semarang. Kalau bisa nggak tidur untuk memastikan checklistku terpenuhi semua, mungkin aku akan melakukan itu. Hari ini contohnya. Aku kesal bukan main. Sepulang dari camping, aku sudah merencanakan untuk pergi ke Semawis dan ke Tembalang untuk menengok murid lesku dulu. Sudah matang sekali rencananya dan tinggal eksekusi. Tetapi, ada 'sesuatu' yang memaksaku untuk menunggu. Okelah, kalau hanya 1 hingga 2 jam lamanya aku masih bisa menunda jadwalku dan pulang lebih larut.

Sayangnya, pihak yang tak bertanggung jawab tersebut menjadikan 4 jamku terbuang sia-sia tanpa kepastian. Aku kesal bukan main. Rasanya ingin mengatakan kepadanya bahwa seseorang itu dimintai tolong bukan untuk dipermainkan. Hingga malam ini bahkan masih belum ada kepastian darinya. Masya Allah, kedua acaraku gagal dan dia masih tidak ada kabar kapan akan datang. Wanita memang sungguh dengan ketidakpastian.


Sebenarnya yang bikin kesal bukan hanya tentang menunggu 4 jam lamanya. Karena ketidakpastian tersebut, aku jadi batal ke Tembalang dan lebih parahnya aku batal ke Semawis. Kan bisa besok ke Semawisnya. FYI, Semawis Pecinan Semarang hanya buka di weekend saja. Untuk weekdays, Semawis tutup. Kebayang kan kesalnya seperti apa? Waktu tidak bisa diulang begitu saja. Hari Senin Semawis tutup. Tahu kan apa artinya? Aku baru bisa ke sana untuk kepulanganku selanjutnya. Huft....

Aku heran dengan orang-orang yang seperti ini. Membuat janji lalu membiarkan semuanya seperti tidak terjadi apa-apa. Membatalkan sepihak tanpa kepastian. Padahal, yang diajak janjian bisa jadi memiliki 'hal yang lebih utama' tetapi tetap mengutamakan teman yang sedang butuh bantuan. Cmon guys, hidup bukan tentang keegoisan untuk bisa mendapatkan sesuatu yang kita inginkan.

Aku menyadari satu hal bahwa, menjadi tegas itu perlu. Menjadi baik itu memang nggak boleh pilih-pilih, tetapi menjadi terlalu baik hingga mengorbankan kepentingan pribadi itu juga nggak baik, sih. Tulisan ini adalah pelipur lara, untuk mengingatkan diri ketika  lupa agar kejadian yang sama tidak lagi terulang.

Salam,
Semarang

Sabtu, 11 Februari 2017

Main-Main ke Petak Sembilan, Kawasan Pecinan di Glodok Jakarta

Imlek tahun ini aku ngotot banget pergi ke klenteng. Bukan untuk merayakan, tetapi aku suka nuansa Imlek yang penuh dengan merah. Aku tidak terlalu suka warna mencolok, tetapi aku suka sekali dengan lampion. Iya, lampion yang digantung setiap kali menjelang dan setelah Imlek selalu memanggilku seolah ingin kutatap lama-lama. Indah sekali.

Sayangnya, Imlek yang jatuh pada tanggal 28 Januari 2017 tidak menuntunku untuk bisa melihat secara langsung prosesi peribadatan umat Tionghoa di klenteng. Alasannya klasik, hujan. Memang, hujan disaat Imlek dan Cap Go Meh dianggap lumrah oleh yang merayakan tahun tersebut. Rejeki, katanya. Semakin deras, maka akan semakin baik pula rejekinya. Wallahualam, semua kan sudah tertulis jauh di sana.

Hari ketika Imlek, aku hanya duduk di kos, mengerjakan apa yang bisa kukerjakan sambil menikmati beberapa film yang telah kuputar sebelumnya. Menyenangkan, tetapi aku cukup kecewa karena pembatalan acara yang dilakukan secara sepihak. Tak apalah, toh itu juga sudah terjadi.

Keesokan harinya, Minggu (29 Jan 2017), aku tetiba diajak untuk ke kawasan Glodok, Kota, Jakarta. Tanpa pikir panjang aku mau. Antusiasmeku masih sangat besar untuk ikut menyaksikan jajaran lampion merah yang indah tersebut. Akhirnya, tepat setelah aku izin pulang lebih dulu dari gath Blogger Jakarta, aku menuju ke stasiun Cikini untuk bisa sampai ke stasiun Kota.

Sesampainya di sana, aku telah ditunggu oleh Mas Haris, tersangka yang membatalkan sepihak dan mengajak secara mendadak. Kami makan terlebih dahulu sebelum kami melakukan perjalanan jauh *halah*. Setelah cukup kenyang, kami menuju ke kawasan Petak Sembilan, Jakarta berjalan kaki. Ini tidak direkomendasikan untuk yang tidak suka berjalan jauh, ya. Jaraknya lumayan jauh jika dari Stasiun Kota. Cukup melelahkan.

Akhirnya, Jejak Membawa Kami Sampai ke Tujuan

Pertama sampai, aku tidaak pernah membayangkan akan menyusuri gang-gang kecil. Kupikir, kelentengnya sebesar Sampookong di Semarang. Ternyata, lebih kecil. Untuk bisa ke sanapun, kami harus melewati pasar yang lumayan sempit dan gelap karena waktu sudah menjelang maghrib. Obyek foto terlalu gelap.

Kupikir daerah ini istimewa, ternyata biasa saja. Bagiku, masih keren wilayah pecinan Semarang, sih. Ya mungkin karena aku asli Semarang dan sedang rindu pulang juga. Biasalah, sudut pandang subyektif selalu mengikuti, itu pasti. Mas Haris menunjukkanku klenteng pertama.





"Kita sudah sampai," katanya. Lah, kok biasa saja, pikirku waktu itu. Kami diizinkan masuk oleh warga sekitar yang ada di klenteng. "Masuk saja, tidak apa-apa, kok," sambut mereka ramah. Iya, kami dibebaskan untuk masuk sekadar melihat-lihat atau mengambil gambar orang-orang yang tengah beribadah. Dengan sedikit ragu, aku pun masuk ke dalam.


Memang naluri fotografer kali, ya. Aku ditinggalkan dan Mas Haris asyik membidik obyek foto. Aku yang memang masih merasa kikuk di dalam, akhirnya duduk mengobrol dengan salah seorang bapak2 paruh baya yang sepertinya keturunan China asli (terlihat dari wajahnya, sih hahaha). Aku menanyakan ini dan sekarang aku lupa apa  yang telah aku tanyakan XD. Blogger macam apa saya ini hahahaha.


Oh ya, pertama kali masuk ada yang bikin keki dan kzl abis. Aku datang dengan menggunakan kacamata. Tetapi, ketika masuk ke klenteng Mas Haris bilang, "lepas saja kacamatamu itu, biar sama dengan mereka (Orang China)," -_________________________- Ini buka kali pertamanya sih aku diperlakukan seperti ini oleh orang-orang di sekitaranku. Mungkin, karena memang aku sipit  dan sometimes sangat sipit kali, ya hahahaha.

Villa Dharma Bhakti, Petak Sembilan

Setelah cukup puas, kami menuju ke klenteng selanjutnya. Aku masih penasaran dengan sekitaran kawasan ini. Rasa-rasanya memang kawasan pecinan. Hanya saja, kalau dibandingkan dengan Semarang kawasann ini lterlihat  lebih kumuh dengan gang-gang yang sangat sempit. Bahkan, ketika ada dua mobil berpapasan pun salah satu harus mengalah untuk 'mojok' supaya yang dari arah berlawanan bisa lewat.

"Ini, klenteng yang lebih besar dan lebih bagus," kata Mas Haris setelah kami sampai di Villa Dharma Bhakti. "Aku lebih suka  yang tadi," kataku. Bagiku, klenteng sebelumnya yang aku lupa namanya memiliki kesan magis tersendiri. Memang kecil, sih. Tetapi, klenteng ini punya daya magis yang membuat mereka yang datang bisa langsung terhipnotis, sakral sekali.


Dan di klenteng ini, kami berdua bertemu dengan Mas Deli dari TelusuRI dan Mas Randy yang pernah menjadi pengacara di acara Sekoolah TelusuRI. Wah, dunia sempit, ya! Atau memang Jakarta yang terlalu sempit? Ah, mungkin aku yang mainnya kurang jauh, jadi ya ketemunya yang itu-itu saja wakakaka.

Di tulisan kali ini, aku pengen nulis tentang sejarah Imlek dll. Tapi, aku tak tahu banyak tentang itu. Jadi ya, batal aja deh hahahha daripada aku salah XD. Oh ya, tepat 15 hari setelah acara Imlek, akan ada perayaan Cap Go Meh yang jatuh papda  tanggal 11 Februari, lho. Dan kata bapaknya yang aku ngajak ngobrol di atas, akan ada arak-arakan di kawasan Kota dan sekitarnya sebagai bentuk sukacita Imlek.

"Jalanan akan ditutup karena akan ada pawai. Ke sini saja, mbak," kata Bapaknya.

Pengen lihat sih, tetapi sayangnya aku nggak bisa ke TKP huhu.. Sedih amat yak hahah. Its okay. Pasti akan banyak pengalaman lain yang bisa aku ceritakan di blog ini. Tunggu saja! :)


Oh ya, ternyata nuansa Imlek sama saja dengan lebaran, ya. Ada cara bagi-bagi angpao XD. Jadi, kawasan klenteng di Petak Sembilan benar-benar penuh dengan pengemis huhu. Sedih sih, liatnya. Tapi, mungkin memang sudah tradisinya seperti ini kali, ya.

Salam,

Jakarta Pusat

Selasa, 07 Februari 2017

Sudah Pernah Main ke Wisata Ragunan? Intip Keseruannya, Yuk!

Ternyata, menghabisakan waktu di sudut kota jakarta itu menyenangkan, ya? Rasa-rasanya mungkin aku akan sangat jarang bisa menikmati pemandangan seperti ini di Jakarta. Ya, Ragunan menjadi labuhanku untuk menghabiskan akhir pekanku di hari Sabtu lalu (4/2/17). Sebelumnya aku ingin ke Serpong untuk bertemu dengan kawanku yang sebentar lagi akan pulang. Tetapi ternyata, hari itu takdir tidak membawaku ke stasiun Tanah Abang dan menuju Serpong. 

Mungkin karena memang dasarnya aku suka jalan, maka aku akan dengan otomatis melakukan switching jadwal tanpa pikir panjang. Ragunan! Ya, aku ingin sekali ke sana. Bukan apa-apa, aku hanya ingin menghabiskan waktu saja di Jakarta. Karena masa depan, aku tidak tahu akan membawaku ke mana. Aku hanya tahu satu hal tentang,

Menghabiskan waktu itu menyenangkan

Aku mengajak Mas Haris yang kosnya dekat dengan ragunan. Baru kali ini aku naik motor di sekitaran Jakarta sejauh itu. Biasanya aku paling malas jauh-jauhan di Jakarta. Terlebih lagi, aku tidak tahu arah jalan ke sana. Modal nekat dan berteman dengan Maps, aku memberanikan diri. Alasannya sederhana, aku tidak ingin menghabiskan banyak uang hanya untuk ongkos menuju dan pulang dari Ragunan.

Singkat cerita, akhirnya aku naik motor ke daerah Pasar Minggu Baru dan kami menuju ke Ragunan naik motor. Ternyata, cukup jauh sekitar 30 menit lah dari daerah stasiun Pasar Minggu Baru. Oh Jakarta, mau menikmati jalanan saja sulitnya bukan main. Yah, setidaknya aku tetap bisa merealisasikan ke Ragunan naik motor dan saving beberapa rupiah, lah.

Ngomongin rute ke Ragunan, bisa dicek langsung di website official-nya, kok. Cekki di sini Ragunan Zoo Jakarta , ya! Informasi lengkap seputar Ragunan bisa diakses di web tersebut. Kalau di blog ini sih, aku hanya ingin menceritakan tentang bagaimana rasanya kembali ke alam bebas.

Masih ada ya ternyata daerah seperti ini di Jakarta | Hooh

Memang, sedikit mengesankan bila di Jakarta masih menemukan alam yang masih asri seperti di Ragunan Zoo. Aneh, tapi juga menyenangkan. First impression aku sih masih biasa-biasa saja. Sampai pada akhirnya aku menyusuri wilayah di dalam kawasan Ragunan dan menemukan betapa indahnya ekosistem yang dibentuk di sana. Adeeeeeemmm banget pokoknya!






Dari awal masuk, ada petunjuk arah yang bisa aku pilih. Aku mau ke mana-mana pun sudah jelas arahnya. Mungkin, sedikit membingungkan bila tak suka menghapal sepertiku. Hanya berpedoman pada petunjuk arah membuat sedikit tersesat. Untung aku bawa teman! Hahahah setidaknya yaaa kalau nyasar ada temennya gitu XD.

Pertama kali masuk, ada sekawanan burung pelikan di kolam yang lucu. Semuanya putih, berbaris rapi dan beberapa di pinggiran menunggu untuk diberi makan. Masuk lebih jauh, ada kawasan primata seperti bekantan, kera, dan lain-lain. Di sisi lain ada pula ular-ular sanca yang bisa dinikmati daari balik layar kaca. Dan ini bagian paling menyenangkan, sih soalnya Mas Haris nggak bisa ketemu ular dan aku suka godain dia huahahahaha. Seru ya ternyata godain mas-mas sama ular wkwkwkw.

Oiya, ada toilet gratis di kawasan Ragunan yang bisa dinikamati pengunjung, lho! Dan ini sungguh GRATIS! Jadi, kalau mau pipis berkali-kali pun tetap tidak akan pernah ada masalah hahaha. Pun, ada pujasera dan jajaran pedagang di sana. Jadi, aman-aman saja kalau misalkan lapar di tengah jalan.


Oh ya, di Ragunan udaranya masih alami sekali. Rindang pepohonan bambu, rawa-rawa dan air terjun mini masih mengalir begitu alami. Aku suka udara di Ragunan. Setidaknya bisa membuat pikiranku sedikit lebih jernih ketika sedang jenuh-jenuhnya. Sepanjang perjalanan menyusuri Ragunan, pikiranku melayang-layang entah ke mana. Rasanya begitu banyak kegalauan yang ada di kepala dan ingin segera menyelesaikannya. Semoga, segera.

Ragunan, sebagai kebun binatang di Jakarta kubilang masih belum terlalu cantik untuk mengelola wilayahnya. Masih banyak satwa yang sendirian seperti bekantan, banteng dan beberapa hewan lain. Rasanya, kasihan sekali melihat mereka sendirian tanpa teman. Pun, kandang-kandang mereka masih begitu bau untuk bisa dinikmati dengan tenang. Terutama, kandang primata.

Melihat satwa-satwa itu terperangkap di kandang yang bau rasanya kasihan sekali. Mereka seharusnya butuh tempat yang lebih layak dari ini, bukan?

Baiklah, aku tidak boleh judge sesuatu tanpa tahu sebenar-benarnya sistem yang ada, bukan? Setidaknya saat bosan di Jakarta bisalah main ke Ragunan sekali-sekali untuk menjenguk makhluk hidup lain sambil bertadabur. Ya, kan?



Kuy, mari main ke Ragunan! Tapi ingat,

Jangan buang sampah sembarangan
Tetap jaga sikap dan kebersihan
Jangan menyiksa hewan
Pastikan tidak berisik

Satwa yang ada di Ragunan juga makhluk hidup yang butuh dicintai dan disayangi. Jadi, kalau main-main ke sana, pastikan untuk tidak mengganggu mereka, ya! ^^

Salam,
Jakarta Selatan - Jakarta Pusat

Jumat, 03 Februari 2017

Istirahatlah Kata-Kata, Dokumentasi Sejarah yang Penuh dengan Makna

Istirahatlah kata-kata/
Janganlah menyembur-nyembur/
Orang-orang bisu.
Tidurlah kata-kata/
kita bangkit nanti/
menghimpun tuntutan-tuntutan/
yang miskin papa dan dihancurkan.
Bicara tentang sejarah, kaum milenial seperti aku tak banyak yang tahu. Salah satu sosok sejarah yang membuatku tergelitik penasaran adalah Wiji Thukul. Meski aku begitu tertarik di dunia sastra dan mencintainya, ternyata pengetahuanku masih terlalu minim tentang tokoh-tokoh bersejarah di bidang sastra. Wiji Thukul atau Widji Widodo ini lahir di Surakarta, Jawa Tengah pada tanggal 26 Agustus 1963. (sumber: Wikipedia)

istirahatlah kata-kata
source: google

Mungkin, jika Beliau masih hidup saat ini usianya 53 tahun. Sayangnya, Wiji menghilang dan tidak tahu keberadaannya di mana sejak 27 Juli 1998 pada usia 34 tahun. Beliau ini adalah sastrawan dan aktivis hak asasi manusia berkebangsaan Indonesia. Dan Wiji merupakan salah satu tokoh yang ikut melawan penindasan rezim Orde Baru mpada masa itu.

Kehidupan Wiji dalam film Istirahatlah kata-kata begitu gamang. Aku mendapati dirinya begitu tertekan. Dalam mimik wajahnya tergambar ada sesuatu yang ia simpan, namun tidak bisa ia ceritakan. Ada hal yang membuatnya tidak bisa singgah di satu tempat dan terus-terusan berlari ke sana ke mari tanpa tujuan. Asal tempat yang ia tuju itu aman, maka ia akan tinggal di sana untuk sementara waktu.

Seperti buron. Wiji harus mengganti namanya berkali-kali untuk bisa tetap hidup. Ia menjadi buron karena terlalu kritis menyikapi pemerintahan yang tidak sesuai dengan seharusnya. Dan yang lebih menyesalkan adalah ia ditangkap hanya karena ia adalah seorang perangkai kata. Benar, Wiji ditangkap karena terlalu sering bermain sastra yang menyuarakan tentang kebebasan dan kondisi negara Indonesia pada waktu itu. Sungguh, kondisi yang sangat memperihatinkan.

Jika dibandingkan dengan kondisi saat ini, ketika semua orang bisa bersuara dan menyuarakan haknya dengan bebas, dulu sangat berbeda. Rasanya, tak pantas bila generasi sekarang terlalu mengekspos pikiran melalui tulisan tanpa memikirkan dampak-dampak yang akan ia timbulkan. Nyatanya, zaman dahulu banyak sekali pejuang kebebasan pikiran melalui tulisan dan kata-kata dan Wiji Thukul adalah salah satu pejuangnya.

Semasa hidupnya, Wiji Thukul telah menerbitkan sejumlah buku kumpulan puisi. Di antaranya ada Puisi Pelo dan Darman dan Lain-lain (keduanya diterbitkan Taman Budaya Surakarta pada 1984), Mencari Tanah Lapang (Manus Amici, Belanda 1994) dan Aku Ingin Jadi Peluru (Indonesia Tera, 2000). Namun, di luar itu sebenarnya masih banyak lagi karya Wiji Thukul yang tersebar di berbagai selebaran, majalah, koran mahasiswa, jurnal buruh dan media lainnya. 

Gramedia Pustaka Utama, pada Maret 2014 lalu menerbitkan kumpulan puisi lengkap Thukul dengan judul Nyanyian Akar Rumput yang dirangkum Okky Madasari dan Arman Dhani. Total ada 171 puisi yang dibagi dalam 7 bab, yakni bab Lingkungan Kita si Mulut Besar (1), Ketika Rakyat Pergi (2), Darman dan Lain-lain (3), Puisi Pelo (4), Baju Loak Sobek Pundaknya (5), Yang Tersisih (6) dan Para Jendral Marah-marah (7). 

Film ini menggambarkan sudut pandang kehidupan Wiji yang sederhana dan apa adanya. Tentang bagaimana ia hidup dan bagaimana seharusnya kita hidup. Film ini pun berhasil membuatku merasa malu dengan sajaknya yang berbunyi:

“Apa guna banyak baca buku, jika mulutmu bungkam melulu."
Percuma menjadi sarjana bila kau tak bisa berkontribusi ke pada dunia. Dunia bukan serta merta tentang alam semesta karena dunia bisa kau mulai dari kontribusimu yang nyata bukan hanya kata-kata. Ah, jadi ingat. Dulu, beberapa tahun lalu aku pernah menyuarakan sebuah opini yang berujung pada kegemparan satu jurusan di sekolahku.

source: google


Iya, dulu semua hal terasa begitu sensitif meski hanya lewat kata-kata. Film ini seperti menggambarkan kondisi di mana lewat akta-kata saja, sebenarnya kita bisa membunuh banyak orang, meski kita tidak bersenjata. Mengerikan, ya?

Tetapi dibalik semua itu, generasi saat ini banyak yang tidak terlalu paham tentang memaknai kata-kata.

Berpikir sebelum bertindak. Think before doing.
Anak-anak zaman sekarang banyak yang lupa bahwa dulu ada reformasi 1998 dan Wiji Thukul yang berusaha memperjuangkan kebebasan beropini yang mana saat ini bisa kita nikmati tanpa perlu rasa khawatir yang berlebihan.

source: google


Sayangnya, tidak banyak yang bisa menangkap pesan dari film ini. Amat teramat sangat disayangkan. Semoga aku , kamu dan kita tidak termasuk menjadi manusia-manusia yang tidak mau tahu tentang sejarah yang mendunia.

Salam,
Jakarta Pusat