Rabu, 20 Juni 2018

Review Film: Memahami Bhinneka Tunggal Ika dalam Film Lima

"aku juga lahir dari rahim mama, mba. Terus kenapa bisa mbak halal dan aku haram?"


Pembuka film Lima terlalu menarik. Bahkan, sebelum aku menonton film ini, salah seorang kawan di Instagram mengirimkan Direct Message kepadaku yang berbunyi: "Sep, lo nonton film Lima, deh. Ada scene yang pas gue lihat, gue keinget sama lo." Kira-kira begitu, katanya.

Aku tertarik, penasaran. Apa yang membuat Lima begitu menarik? Tapi, rasa penasaranku tidak lama. Aku segera menonton dengan kak Kinanti. Impulsif, seperti biasa tiba-tiba saja dari bandara terus pengen nonton aja gitu. Hahahaha

Dan selama beberapa menit disajikan pembuka film Lima, langsung "DAMN!!" Beneran bikin mikir dong filmya. Asem aja baru pertama mulai udah bikin seorang Septi mikir.


Keberagaman Agama dalam Keluarga


Fara, Adi dan Aryo adalah kakak beradik yang tinggal bersama kedua orang tuanya yang berkeyakinan berbeda. Menjadi Fara dan Menjadi Aryo ternyata membuat hubungan mereka rumit. Puncaknya adalah ketika mama mereka meninggal dan mereka harus berdebat tentang cara pemakaman mamanya dengan keyakinan dua agama yang berbeda.

Then, why this story is really related with my life? Some of you may know, but please let me tell you guys again that aku hidup di keluarga dengan agama yang berbeda. Dan ini membuatku kembali berpikir hal yang sama soal pemakaman. Apakah aku akan melalui hal yang sama kelak, atau tidak? Kuharap tidak. Sebab aku ingin semuanya menjadi satu, tanpa perdebatan dan semuanya berjalan dengan lancar.

Sulitnya Menjadi Pribadi dengan Rasa Empati


Aku tidak mengerti bagaimana rasanya menjadi Adi yang bisa diam saja diperlakukan oleh teman-temannya. Ketika temannya berkata "pantesan nyokap lo mati cepet, lo tiap hari nyetel musik itu-itu mulu." Oh, man. Sakit beneran kalo ini bener-bener kejadian di masa sekarang. Mungkin, kalo aku jadi Adi, akan berbeda sikapku ke mereka yang nggak punya rasa empati.

Apa susahnya sih berempati kepada teman yang baru saja kehilangan ibunya? Ditinggal mati lho ini, bukan ditinggal pergi. Apa susahnya mengerti kondisi kehilangan atas seseorang?

Dua Nahkoda dalam Satu Kapal


Aku juga pernah mengalaminya. Mengarungi kapal dengan dua nahkoda di dalamnya. Hasilnya, jangan tanya! Sewaktu kapal oleng dan dalam masa sulit, dua nahkoda yang diharapkan bisa memberikan dua solusi, yang ada malah berkutat dengan masing-masing pikiran dari sang nahkoda. Dan tentu, tidak mungkin dalam satu kapal ada dua keputusan, bukan? Salah satunya tentu akan kalah.

Ego manusia memang tinggi. Selalu ingin menang dari yang lainnya. Dan seringkali, manusia dengan ego yang tak tertahankan mengintimidasi yang lainnya dengan merasa bahwa dirinyalah yang paling superior. Keberagaman pikiran tidak lagi ada. Musyawarah? Apalagi. Semuanya terasa begitu semu dan palsu. Apa-apa yang menurut pikiran baik akan membawa ke pikiran lain bahwa milik orang lain bukan yang terbaik. Entah. Mungkin memang kebebasan berpikir yang dilindungi hanya sebatas dalam undang-undang saja, bukan dalam pelaksanaan.

RAS Masih Menjadi Masalah yang Serius di Indonesia


Pribumi dan non pribumi masih menjadi masalah yang serius di Indonesia. Perbedaan RAS, suku, agama, budaya masih menjadi momok yang tidak ada habisnya. Ketika syarat untuk menjadi wakil Indonesia harus warga asli, sedangkan jelas keturunan lain punya kemampuan lebih membuat saya mengiyakan ketika Fara bilang "pantes aja Indonesia nggak maju-maju."

I know that memang kalau kita ingin mempertahankan Indonesia dengan putra-putri kita. But, can we just being an objective person? Kemampuan untuk mewakili Indonesia di mata dunia itu bukan perkara sempit. Yang hanya untuk nampang saja. Tapi memang untuk pulang dengan membawa juara, membawa nama Indonesia di kancah dunia.

And what I learnt from this movie is, masih ada orang-orang yang baik, masih ada orang jujur, masih ada orang obyektif yang mau melihat permasalahan seperti ini menjadi masalah yang perlu dipertimbangkan. Hingga akhirnya, berkat memperjuangkan kejujuran dan keadilan, Fara bisa membawa putra pribumi dan non pribumi untuk mewakili Indonesia.

Seriously, ini film mikir banget. Quite simple buat made us being a stupid person kalau kita nggak mau mikirin setiap detailnya. Sedari awal aku masih bertanya-tanya mengapa bioskop sepi. Aku jadi ingat ketika sedang menonton film Istirahatlah Kata-kata.

Baca Juga: Istirahatlah Kata-Kata, Dokumentasi Sejarah yang Penuh dengan Makna

Film ini juga peminatnya hanya orang-orang yang memang cinta dengan dunia sastra. Sebab memang pesan moral yang disampaikan berat. Dan orang memang menonton film untuk mencari hiburan. Tapi entah, aku bersyukur masih bisa melihat dunia dari film-film seperti ini. Aku jadi bisa membuka mata dan hati sedikit lebih lebar untuk bisa menyadari bahwa dunia itu luas. Dunia itu memiliki banyak sisi yang tak kita tahu.

Hukum Hanya Berlaku Bagi Rakyat Tidak Mampu


Masih ingat dengan kisah nenek yang harus dibawa ke meja hijau hanya karena mengambil biji kakao? Film lima kembali merangkum kisah ini. Dan kembali, disajikan dengan jelas bahwa hukum selalu membuat pelaku yang tidak mampu merasa dirinya semakin hina. Sedangkan mereka yang punya kekuasaan akan dengan otomatis menang, mereka akan secara otomatis memiliki kuasa penuh atas hidup orang lain yang punya kemampuan di bawahnya.

Miris. Pantas aja Indonesia nggak maju-maju. Lawong hukumnmya saja begitu ya, to?

Semoga semakin banyak film Indonesia yang bisa membuka mata penikmat film tentang luasnya dunia dan luasnya manusia yang tak terbatas.

Salam,

Selasa, 12 Juni 2018

Para Peminum yang Tak Punya Waktu Tidur

Image from: Google with edit

Waktu menunjukkan pukul 23.57 WIB. Iya, waktu sudah larut, hampir menjelang dini hari. Tapi masih saja kampung ramai akan orang-orang yang kenal waktu tidur. Di atas meja dan kursi tempat mereka duduk, seperti biasa ada botol-botol miras yang sebut saja tak pernah absen kulihat setiap kali aku melintas.

Beberapa di antaranya selalu memandang ke arah kami, orang-orang yang tengah menuju masjid saat waktu shalat tiba, termasuk hari ini. Iya, beberapa berdiri, memasang mata mereka, seolah mengunci fokus pada target dan siap melakukan "catcalling" atau sekadar menyapa dengan salam. Eh ini termasuk "catcalling" juga kan, ya?

Benar, lokasi tempat mereka, para peminum biasa berkumpul ada di jalan menuju masjid. Sebelum lorong kecil yang kami lalui, mereka biasa memenuhi halaman salah satu rumah dengan motor berjejeran hingga menutup jalan dan atau memenuhi dengan kursi dan duduk memenuhi teras. Aku tidak melihat kegiatan berfaedah yang mereka lakukan, selain hanya duduk, begadang degan ditemani botol-botol minuman yang seharusnya tidak ada di meja itu.

Ini bukan pertama kali aku melihat. Bahkan, bisa dibilang ini adalah makanan sehari-hariku. Sejak kecil, aku seolah telah terbiasa dengan kelakuan mereka yang tak jarang membuat warga kampung merasa insecure. Tahu kenapa? Ketika mereka hilang sadar, bukan hanya teman minumnya yang jadi korban, namun seringkali warga tak bersalah juga jadi korban. Dan kelakuan mereka beberapa kali menyeret mereka keluar masuk bui. Tapi, apa yang terjadi? Hukum selalu bisa dibeli dengan uang dan mereka kembali dengan aktivitas yang sedemikian membuat warga resah. Aku salah satunya.

Aku masih ingat betul beberapa hal tidak pantas yang aku lihat kala mereka hilang sadar. Dulu, saat aku masih memakai seragam, ada seseorang hilang sadar dan dia duduk, sesekali bersujud, menyembah rumah salah satu kyai di kampung selama beberapa hari dan membuat keluarga sang pemilik rumah takut untuk sekadar keluar rumah. Saat diajak pulang, ia kembali lagi dan begitu terus selama beberapa hari.

Aku, yang hanya tetangga yang tinggal di samping rumah pun merasa tidak nyaman melintas di depan rumah pak kyai. Sebab, sesekali ia, sang peminum yang hilang sadar berdiri dan berteriak sendiri. Kebayang nggak sih kalau pas aku lewat terus dia datengin aku dan teriak gitu? Hahahaha kan ngeri. Btw, ini hahanya jangan dianggap bercanda, ya.

Bambu yang panjang, balok kayu yang besar kerap kali jadi senjata untuk memukul yang mereka anggap lawan.


Tempat di mana mereka biasa berkumpul, di rumah sebelum lorong menuju masjid, sering terjadi drama. Tiba-tiba ada saja yang berteriak lalu mencari balok kayu atau senjata apapun yang bisa ia genggam, untuk bisa ia pukulkan ke lawan yang ia incar. Siapa lawannya? Entah. Siapa saja tiba-tiba bisa jadi lawan. Parahnya, kalau lawannya sama-sama mabok, yang jadi korban bukan hanya meraka berdua, tetapi orang-orang yang berusaha memisahkan mereka. Ngeri kan? Hahahaha aku pun kalau boleh pergi dari tempat ini, aku akan pergi sejauh yang aku bisa. Menjaga jarak dari mereka.

KDRT Bukan Lagi Hal yang Tabu


Seberapa parah KDRT yang ada di bayanganmu? Kalau di sekitarmu seringkali ada kekerasan dalam rumah tangga saat ada pihak baik dari istri atau suami saling tampar, itu biasa buatku. Di sekitarku, tak jauh dari rumah bahkan sering terjadi KDRT yang sungguh, kamu akan merasa bahwa mati baginya lebih baik daripada harus menanggung siksa yang naudzubillahimindzalik.

Salah satu contoh yang pernah kulihat dari jendela kamarku sendiri malam itu adalah saat ada perempuan yang rambutnya dijambak oleh satu orang laki-laki. Mau tahu kasusnya apa? Jadi, sore hingga malam waktu itu, tersebutlah sekumpulan anak muda sedang berpesta minuman di salah satu rumah. Mereka mengundang satu wanita penghibur yang dibawa oleh salah seorang dari mereka. Dan ketika si A, sebut saja begitu. Membawa sang wanita ke dalam kumpulan mereka dan si B ingin sang wanita juga menemaninya dan si wanita mau, si A yang hilang sadar tidak terima.

Si B dihajar habis-habisan oleh si A. Si B membalas dan terjadilah pertengkaran di antara mereka. Dan yang kulihat dari balik jendela kamar adalah ketika sang wanita, rambutnya dijambak oleh si A dan disalahkan si A, dimaki habis-habisan, diseret karena si A merasa telah membayar si wanita dan ia merasa dikhianati.

Kalau kamu wanita dan melihat hal seperti ini, kamu akan bersikap apa? Warga sekitar bahkan takut melerai. Warga bahkan takut akan ada korban jiwa sebab nyawa selalu jadi taruhan saat mereka hilang sadar. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi untuk bisa berpura-pura betah ada di tengah-tengah lingkungan mereka.

Kebiasaan yang Selalu Menjadi Hal Baru Bagi Mereka


Sungguh, ini sudah lama dan mungkin sudah beberapa generasi. Sejak aku masih kecil, pemandangan lumrah ini sudah ada. Tapi, tidak bagi mereka. Bagi mereka, peminum yang tak punya waktu tidur, ini adalah penyakit musiman. Yang kadang hilang dan kadang timbul. Mereka seringkali membuat zona waktu mereka sendiri.

Dan tahun ini, tren togel sedang marak di sini. Kalau kamu tidak asing dengan istilah HK dan SGP, maka selamat datang di dunia togel yang membuat mereka kecanduan. Hahaha ngomong-ngomong soal togel aku jadi ingat. Kala itu, di pekarangan belakang ruma yang ada pohon kelengkeng berdiri kokoh, ada seorang bapak-bapak yang hilang sadar berdiri di depan pohon. Ia diam, lalu mengobrol, lalu diam, dan ia bercakap-cakap dengan pohon meminta pencerahan tentang nomor togel keberuntungan. Wallahi, sedih liat pemandangan seperti ini.

Aku tak punya kuasa bahkan untuk sekadar bertanya ia sedang berbuat apa dan untuk apa. Aku hanya tahu bagaimana menutup mata, telinga, dan pintu rumah saat harus melihat hal-hal seperti ini terjadi. Hahahaha, iya, ibu selalu memintaku untuk buta dan tuli setiap kali kejadian seperti ini harus membuatku berpikir dan bersedih hati.

Mengapa aku menyebut mereka para peminum yang tak punya waktu tidur? Sebab hingga hari ini, sejak aku masih bayi, hingga pagi bahkan saat aku membuka mata, mereka selalu terjaga. Entah apa yang mereka lakukan, tapi sungguh ini bukan kabar baik untukku. Aku dan warga lain yang merasa tidak nyaman ini butuh perlindungan dari orang-orang yang seringkali bebas, meski seringkali keluar masuk bui.

Kenapa Nggak Lapor Aparat Berwajib Saja?


Well, cara ini sudah berkali-kali dilakukan oleh warga. Dan hasilnya selalu sama. Yang tertangkap, berhasil diciduk, selalu bisa lolos, dengan uang jaminan yang diberikan. Lalu, kebiasaan seperti tersebut di atas kembali terjadi, begitu dari aku tidak mengerti hingga kini sampai lelah hati.

Salam,
12 Juni 01.20 WIB
dari aku yang baru saja melintas di depan konferensi para peminum yang tak punya waktu tidur

Jumat, 08 Juni 2018

Bikin Visa Turki Ternyata Gampang Banget!

Sebelum memutuskan untuk akhirnya menjadikan Turki sebagai tujuan, aku yang galau dengan Swiss sempat galau saat diajak ke Prague. Ya gimana dong, bikin visanya aja mahal, harus janjian dulu sama kedutaan Prague yang ada di Jakarta. It means, nggak bisa makbedunduk dateng ke Jakarta dan antri kayak bikin paspor yang harus subuh banget cari nomor antrian.

Ada kali sebulan lamanya galau dan sempat agak stress mikirin biaya dan waktunya. Beloman aku kan di Semarang ya, otomatis agak ribet kalau ke Jakarta -- harus naik kereta atau pesawat -- masih harus janjian -- balik lagi ke Semarang. Duh, capek banget pasti. Belom lagi approval visanya lama banget. Iya kalau diterima, kalau enggak? Kan die! Hahahahaha

Dan kekhawatiran ini kebawa banget pas lagi bikin visa Turki.

Ternyata, Bikin Visa Turki Bisa Online dan Gampang Banget!


Eh ternyata, emang kita tu nggak boleh menyamaratakan kesulitan suatu hal ke hal yang lain lho, gaes. Kenyataannya, bikin visa Turki itu murah banget dan emang gampang banget nggak banyak makan waktu. Apalagi nih, kalian bisa bikin visa Turkinya lewat online aja alias nggak perlu tuh ke kedutaan Turki yang ada di Jakarta. It's so simple ~

So, let's start. Pertama-tama kalian bisa buka situs e-Visa Republic of Turkey gaes.  Terus, klik Apply Now untuk apply visa Turki kalian. 


Nanti, akan muncul halaman seperti gambar di bawah ini dan kalian tinggal input data yang diperlukan saja. Lalu, Save n Continue ~




Sampai sini, kalian sudah selesai input data gaes. Langkah selanjutnya adalah cek inbox mail kalian karena ada surat cinta yang berisikan langkah selanjutnya.


Setalah kalian mencet tombol Approve, nanti kalian akan diarahkan ke halaman jumlah total yang harus dibayarkan. Biaya yang perlu kalian bayar untuk pembuatan visa Turki adalah 25.70 USD, dengan perincian 25 USD untuk biaya visa dan 0,70 USD untuk biaya servis. Yaaa rupiahin sendirilah yaaa hehehe. Oh ya, sekali bikin visa bisa berlaku untuk 3 bulan. Jadi, kalau kalian mau berlama-lama di Turki juga bisaaaa ~


Nah nah nah, kalau sudah bayar, cek surat cinta lagi di inbox mail kalian dan taraaaaa!!!! E visa sudah jadiiii yaayyy!!! Dan kira-kira ini penampakannya.


Kalau Nggak Bikin Visa Online, Bisa Bikin Visa On Arrival, Lho!


Ini penting nih gaessss. Jadi, pembayaran dilakukan dengan kartu kredit alias CC. Nah, kalau nggak punya CC gimana dong? Ya nggak bisa bayar kan, ya? Kecuali kalau temen ada dan boleh pinjem. Tapi tapi, kalau ternyata nggak bisa pinjem juga, gimana? Yaudaaahhh tenangggg, hehe. Karena eh karena visa turki bisa dibuat ketika kalian sampai di bandara.

Jadi, kalian bisa bikin Visa on Arrival alias VOA, yaitu visa yang on the spot langsung bisa kalian buat di loket yang telah disediakan oleh bandara. Harganya lebih mahal 100 ribu kalau dirupiahkan. Tapi, it's worth lah nggak mahal banget. 

Gimana, gampang kan bikin visa Turkinya? Jangan lupa sebelum berangkat, e-Visa nya dicetak untuk pengecekan paspor di bandara, ya! Selamat jalan-jalan ke Turki!! ^^

Salam,