Mana yang Akan Kamu Pilih, Teman atau Keluarga?
Libur panjang selalu jadi momen berkontemplasi kepada diri sendiri.
Mengapa kamu begini? Mengapa hidupmu sesepi ini?
Aku Menyebutnya Rumah
Panjang perjalanan yang telah kulalui selama ini. Kehidupan sebelum menikahku, Aku bisa menyebutnya 80% yang pernah ada adalah kenangan yang tak ingin aku ulang.
Aku tidak mengatakan semuanya buruk, tetapi banyak ingatan yang pergi, yang jika ditilik dari sisi psikologi, saat seseorang melupa pada suatu momen di masa lalu, itu adalah bentuk perjuangan dari dirinya untuk pulih. Dan tubuh serta otaknya mati-matian bekerja keras untuk membuat sang pemilik tubuh kehilangan memorinya agar memori tersebut tidak merusak setiap inci sel dalam tubuh seseorang.
Membacanya pada suatu postingan membuatku kembali mengingat bahwa aku kehilangan banyak detil dalam memoriku. Kupikir, itu adalah bentuk damai yang bisa kulakukan untuk masa laluku. Ternyata, aku salah. Itu justru bagian dari bukti bahwa ternyata otakku pun tak sudi mengingat karena tahu bahwa ingatan itu akan merusak sel tubuhku perlahan lahan. Bahkan mungkin sampai aku mati esok.
Hidup Penuh Perjuangan yang Tak Kenal Waktu
Hidup yang tak pernah mudah membuatku selalu merasa bahwa tidak ada di dunia ini yang gratis. Selalu ada yang harus dibayar atas suatu hal yang ingin kita perjuangkan.
Sedari kecil, prinsip ini melekat sekali pada dirimu. Saking terbiasanya, aku tak sadar bahwa aku telah menodai dirimu sendiri dengan menjadi sumber kebahagiaan banyak orang dengan tekanan yang diberikan.
Sampai suatu hari, aku bertemu dengan dosen 1 semesterku, yang mengatakan bahwa “kalau kamu mau mengubah sesuatu, maka kamu harus jadi seseorang.”
Prinsip ini semakin kuat ketika aku bertemu dengan suamiku. Laki-laki inilah yang ‘menampar’ku bahwa tidak selamanya hidup harus tentang orang lain, tetapi tentang diri sendiri.
Kedengarannya memang mudah untuk diterapkan. Tapi, luka masa lalu tidak pernah beranjak. Dan karena kita hidup di masa transisi dari kecil-remaja-dewasa, kita tahu betul bahwa lingkungan tak pernah membiarkan kita sendirian. Ia bertumbuh dan melihat bagaimana hidup kita berubah menjadi baik atau buruk, lalu menghakiminya melalui manusia.
Rumah yang seharusnya menjadi tempat nyaman untuk pulang, nyatanya justru yang membuatku paling asing. Dan setelah menikah, aku baru berani melakukan cut-off atas setiap hal membuatku merasa sakit dan justru mengasihani diri sendiri.
Aku tumbuh di tengah lingkungan yang besar dan menuntutku untuk menjadi besar. Alhamdulilah atas izin Allah, aku dikaruniai banyak teman baik yang tidak pernah menuntutku untuk menjadi ini itu. Bahkan, merekalah yang jadi saksi setiap tetes perjuanganku dan setiap upaya yang aku curahkan pada pekerjaanku demi aku bisa mengubah nasibku, yakni menjadi mandiri agar lepas dari keluarga bukan lagi tanggungan.
Kota demi Kota, Aku Diberkahi dengan Teman Baik
Sebagai perempuan mandiri yang sudah mengenal kantor sejak SMK di umur belasan tahun, aku tidak menampik bahwa aku pernah berhadapan dengan banyak orang yang membuatku kesal, sedih, kecewa dan marah. Tapi semuanya selalu diiringi dengan kebaikan dari orang yang lain.
Meski rasanya berjuang melelahkan, tetapi ada banyak yang mengapresiasiku dengan baik. Menemaniku duduk di meja kafe sambil berbagi cerita tanpa marah karena aku sambil sibuk bekerja, menyambutku yang baru sampai dari Semarang di kafe Jakarta dan menanyai kabarku setelah aku pindah atau bahkan yang masih merindukanku karena kami pernah duduk di meja yang sama saling tukar pikiran tentang pekerjaan yang setiap detiknya selalu saja ada yang baru.
Teman-teman inilah yang menyelamatkanku dari kesepian. Setidaknya, meski mereka tidak tahu bagaimana latar belakangku, mereka tetap berteman baik denganku dan hanya melihatku sebagai seorang Septi yang beginilah adanya di depan mereka. Yang sibuk dengan laptopnya, yang sibuk dengan pekerjaannya, dan yang sibuk dengan gelas-gelas kopinya.
Saking dekatnya aku dengan teman-teman, aku bahkan lebih sering menghabiskan waktuku bersama teman-teman daripada dengan keluarga. Ini karena saat dengan teman, aku tidak perlu mendapatkan penghakiman atas apapun. Sedangkan di keluarga, selalu ada tuntutan dan dibandingkan. Yah, meski itu berlangsung saat kecil, tapi aku tidak menampik bahwa meski aku sudah berkeluarga, tuntutan itu masih teramat sangat membekas dan berpengaruh terhadap perilaku maupun emosiku.
Teman atau Keluarga?
Hingga suatu hari aku berpikir dan merenung saat membaca cuitan dari salah satu teman di Twitter (sekarang sudah berubah menjadi X),
Saat kamu mengalami sesuatu kejadian, mana yang lebih dulu kamu beri kabar? Teman atau keluarga?
Kalau normalnya, tentu otomatis akan menjawab keluarga yang akan dihubungi pertama. Tapi, tidak denganku. Aku memikirkannya berhari-hari. Bahkan, aku bertanya-tanya, siapa keluarga yang paling berhak dan paling mau menerima kabarku? Ibu bisa, tetapi ibu bukan pilihan terbaik karena usianya yang tak memungkinkan untuk berkomunikasi dengan HP atau melalui daring, sedangkan aku tidak punya anggota keluarga yang lain. Sedih ya? Hahahaha
Lalu aku sampai pada keputusan untuk memilih memendamnya sendiri dan saat semuanya selesai aku akan berusaha bersikap sebiasa dan sebaik-baik mungkin di depan teman atau keluarga. Ini bukan karena aku egois, tetapi aku tahu aku tak cukup berharga untuk bisa masuk ke dalam pikiran mereka. Tetapi jika memang tetap harus memilih, aku akan lebih condong untuk memilih teman karena keluargaku hanya tinggal nama yang hanya ada di kepala saja.
Salam,
Dwi Septia

17 Comments
Dilema klasik tapi selalu relevan. Nggak semua pilihan punya jawaban enak, kadang dewasa itu berani kehilangan. Tpi setelah dewasa aku lebih memilih keluarga ;')
BalasHapusGlad to know thaat, artinyaa keluarga mba bisa jadi tempat pulang hihi
Hapusada orang yang setengah mati berusaha lupa namun tak mampu, namun sebaliknya, ada orang yang setengah mati untuk mengingta namun tak bisa. hidup memang begitu, kita yang jalanin, orang lain yang ngomentarin. kita? tutup kuping, saatnya healing!
BalasHapusBetull, mari kita kemana?
HapusMenjadi dewasa adalah impian ketika anak-anak, padahal menjadi dewasa adalah harus mampu menanggung semua konsekuensi seperti permen nano nano yang berjuta rasa.
BalasHapusSetiap orang selalu punya trauma masa kecil yang mana kaitannya erat dengan trauma dengan keluarga sendiri. Dan benar, kadang kita lebih nyaman ngobrol dengan teman karena kita bebas menjadi diri sendiri.
BalasHapusMemang ya kadang keluarga tak selalu menjadi rumah bagi setiap orang. Dan Beruntung sekali kalau kemudian kita dipertemukan dengan teman-teman yang bisa menjadi rumah dan keluarga untuk kita
BalasHapusAku gak punya banyak teman, dan mereka juga pasti punya urusan dan kesulitannya sendiri. Keluarga, aku ngerasa gak bisa benar-benar pulang juga. Jadi ya sering ngempet dan nyimpan di hati. Semoga nanti bisa dapat tempat pulang, tempat di mana kita hanya jadi diri sendiri
BalasHapusPeluk jauh, semoga Allah kuatkan selalu langkah dan bahu mbak yah
HapusPertanyaan pilihan itu kok jadi ngingetin aku sama konsep moral dilema ya mbak. Kayak kalau ada sesuatu milih A atau B. Sejujurnya aku kurang suka dengan pertanyaan itu sih? kok kayaknya kita terkungkung pada dua pilihan aja padahal realitanya ya nggak ada pertanyaan yang 'sesempit' itu. Ini menurutku sih.. :(
BalasHapusSelalu ada alternatif dan selalu ada banyak pilihan kalau kita bebas memilih. Karena toh ketika kita hidup juga nggak mungkin ada dua pilihan aja, selalu ada pilihan lain. Yuk semangat mbak.. ;)
Hihi, betul mba. Kadang-kadang kita yang mengkotak-kotakan pertanyaan di kepala yang bahkan belum tentu relevan dengan kenyataan. Pertanyaan ini murni karena pernah ada utas dari teman saya lalu membuat saya berpikir "hmmmm, iya juga ya, kalau disuruh milih, milih siapa?"
HapusSemangat mbak Septi.
BalasHapusTeman pun bisa laksana keluarga juga.
Lagipula setelah menikah, InshaAllah kita membangun keluarga baru.
Untuk saat ini, setelah aku dewasa, aku memilih keluarga dan itu suamiku. Kemudian baru adikku
BalasHapusSemangat mbak Septi, teman rasa saudara pun banyak, saudara rasa teman pun juga banyak.
Tidak semua keluarga bisa jadi teman. Namun teman bisa menjadi keluarga. Itu menurut saya. Jadi kalau saya dua² nya bisa jadi tempat pertama kalau saya dalam kondisi darurat. Yaitu teman yang dekat seperti keluarga dan keluarha yang dekat seperti sahabat.
BalasHapusPeluk online buatnu ya mbak. Apreciate banget berani cut off hal hal yang nyerimpeti hidup selama ini. Setelah menikah, berumah tangga sendiri rasanya sepertk terbebas dari pusaran hitam hmm
BalasHapusRasanya, setelah menikah aku baru bisa menyadari arti "kedekatan" dengan Ibu.
BalasHapusSelama di rumah ((karena aku gak pernah merantau)) , aku selalu merasa "aman" sehingga bisa jadi kurang menghargai makna keluarga.
Antara teman atau keluarga?
Buatku, family come first yaah.. soalnya aku anak rantau yang kalau dibilang "teman" aja, in syaa Allah ada. Tapi yang bisa memahami aku, aku rasa kalau gak pasangan, yaa... orangtua dan mas-masku yaa..
Ya kadang hubungan baik antar keluarga atau pun pertemanan seharusnya bisa menjadi ruang aman, bukan sumber luka. Dan apa pun pilihan yang kita ambil, selama itu punya niat baik dan batasan yang sehat, kita layak memilih kok
BalasHapusHalo!
Terima kasih telah membaca blog www.dwiseptia.com. Semoga konten yang ada di blog ini bisa menginspirasi. Doakan saya bisa produksi konten yang lebih baik, ya!
Oh, ya kalau ada rekues konten silakan tulis di kolom komentar, ya! ^^